Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
21. Satu kata lekat diingatan



Di malam hari Dara sudah disibukkan dengan tugas sekolah yang diberikan oleh bu Desi. Dengan berkutat di meja belajarnya, kini pikirannya sedang terbagi dua, antara mencari jawaban dari deretan angka-angka yang sangat mengerikan dan juga mendengarkan ocehan Ruby yang tak ada hentinya di balik telepon. Dara sengaja menyalakan mode pengeras suara pada gadget nya agar ia bisa lebih leluasa mengerjakan tugasnya sambil meladeni ocehan Ruby.


"Dara! Lo yakin gak pacaran beneran sama kak Abhay?" tanya Ruby di balik telpon.


Dara mendengus kesal. Ia sangat bosan mendengar pertanyaan Ruby yang selalu sama. Dari ia masih di sekolah sampai ia sudah di rumah, Ruby selalu menanyakan hal yang sama. Jika berhadiah, mungkin Ruby sudah mendapatkan piring cantik saking seringnya bertanya.


"Ruby... Mau sampe kapan lo nanya gini terus? Percuma. Jawaban gue tetap sama," timpal Dara frustasi.


"Tapi gue gak yakin, Ra!" seru Ruby. "Nih kalo lo gak percaya."


"Udah, By. Cukup-" Dara hendak menjegal ocehan Ruby namun tak jadi karena mulut Ruby sudah seperti jalan kereta yang tak bisa terputus. Ia pun bernafas pasrah.


"Tadi waktu lo pingsan, gue itu bingung banget harus ngapain. Ngebopong lo mana kuat. Pak Herman lagi ke air." Pak Herman adalah guru olahraga mereka.


"Trus ngandelin temen laki malah pada nonton. Disitu gue super bingung sekaligus kesel banget!" kesal Ruby tak tertahan sampai deru nafasnya terdengar di balik telepon Dara.


"Tapi tanpa di sangka-sangka... " Ruby berhenti sejenak untuk menelan tenggorokannya yang kering. Lalu ia pun melanjutkan kembali ocehannya.


"Entah muncul dari mana, datang seorang lelaki tampan tak berjubah. Lalu lelaki itu dengan wibawanya dia bilang "Awas!" ke gue. Kemudian tanpa basa-basi dia dengan gagahnya mengangkat tubuh lo yang sudah lemah tak berdaya, lalu dengan cepat membawa elo UKS," jelas Ruby.


Dara menarik nafas kasar. "Lo lagi ngedongengin gue apa gimana sih?"


"Ih... Orang gue lagi menceritakan kisah nyata juga!" kesal Ruby.


"Ya lagian, lo lebay banget sih pake bilang tak berjubah lah. Wibawa lah. Tak berdaya lah. Kalo lo ada di sini, udah gue tabok congor lo!" maki Dara yang malah membuat Ruby terkekeh.


"Hehehe... Maap. Lagian gue sampe detik ini masih belum yakin. Takutnya elo main rahasia sama gue."


"Rahasia apaan sih, By?!" tanya Dara sedikit geram.


"Ya bilangnya gak pacaran tapi aslinya pacaran," ungkap Ruby.


Dara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa frustasi. Sudah dibuat pusing oleh tugasnya ditambah ia diharuskan mendegar ocehan Ruby yang sudah tak berarah.


"Udah yah. Kalo gue bilang enggak ya enggak. Lo jangan tanya lagi. Paham?" ujar Dara dengan sisa kesabarannya.


Dara pun kembali mengguratkan alat tulisnya di atas kertas putih. Ia akan melanjutkan bergulat dengan soal-soalnya yang tadi sempat terabaikan, karena ia harus meladeni ocehan Ruby.


"Pokoknya gue gak mau tau. Kalo lo udah pacaran beneran sama kak Abhay, lo wajib lapor sama gue!" perintah Ruby yang sudah seperti pak pol yang siap melayani Dara 24 jam.


"Iya," jawab Dara tanpa memberhentikan aktivitasnya.


Mendengarnya, Ruby otomatis terkejut. "Hah? Iya? Serisan? Gue gak salah denger, kan? Lo udah ada rencana mau jadian sama kak Abhay? Apa iya, Ra? Yang bener?" cecar Ruby dengan rentetan pertanyaan.


Otak Dara tiba-tiba ngebug. Ia belum paham dengan apa yang Ruby pertanyakan. Selang 5 detik, Dara baru sadar, ia pun membulatkan kedua matanya lebar-lebar.


"Eh gak maksudnya-" ucapan Dara terpotong.


"Hayo loh. Ketauan lo," goda Ruby dibarengi tawa jahil.


"Sumpah gue gak sadar lo ngomong apa. Gue asal jawab aja tadi!" ucap Dara ngegas. Mencoba meyakinkan Ruby bahwa ia salah bicara.


"Hm... Udah gak usah ngeles. Ternyata diam-diam punya rasa nih."


"Eh kampret! Udah tau gue lagi ngerjain tugas, ya gue gak fokus lah!"


Ruby semakin mengeraskan tawanya saat mendengar temannya sudah sangat panik. Kapan lagi coba ia bisa membuat Dara panik seperti ini. Biasanya ia yang selalu dibuat panik oleh Dara.


Dara pun diam, membiarkan temannya menertawainya dirinya. Ia hanya bisa pasrah. Dan ia pun lebih memilih kembali mengerjakan tugasnya.


Tak lama, Ruby pun memberhentikan tawanya. "Iya iya Dara... Padahal kalo emang punya rasa juga gak papa. Karena setelah gue liat kak Abhay kayanya udah berubah juga. Jadi bakal aman kayanya."


"Berubah apanya?" tanya Dara heran.


"Iya berubah. Kayanya gak akan jahat lagi sama lo. Buktinya aja dia tadi pas ngebawa lo ke UKS, mukanya kak Abhay keliatan khawatir banget loh."


Tangan Dara yang sedang menggurat angka-angka langsung terhenti setelah Ruby mengatakan satu kata itu.


Khawatir. Satu kata yang sama percis dengan apa yang ibu Sekar katakan. Setelah sebelumnya ia menentang apa yang ibu Sekar katakan, namun saat Ruby mengatakan hal yang sama, apakah ia akan menentang juga? Pasti rasanya akan aneh.


"Jangan-jangan kaya di drakor-drakor lagi. Awalnya benci eh lama-lama cinta," lanjut Ruby.


"By. Udah. Lo ngomongnya jangan kemana-mana deh. Lebih baik lo kurang-kurangin nonton drakornya trus kerjain PR nya!" tegas Dara yang sudah tak tahan lagi mendengar omong kosong Ruby.


"PR mah kecil. Sepuluh menit juga selesai," jawab Ruby enteng.


Dara menarik salah satu sudut bibirnya. "Pinter banget lo ngerjain matematika cuma 10 menit."


"Ya iya lah."


"Caranya gimana?"


"Sebelumnya gue mau nanya dulu, Lo udah belum?" Ruby malah balik bertanya.


"Gue mah satu soal lagi," jawab Dara


"Good. Habis ini lo potoin tugas lo ke gue. Trus selesai deh," ucap Ruby tanpa beban.


"IH DASAR! TEMEN LAKNAT LO!" Dara geram. Ia sangat menyesali dirinya yang sudah berprasangka baik pada Ruby.


"Ayo dong, Ra. Lo gak kasihan sama gue?" ucap Ruby memelas.


"Lo sendiri gak kasihan sama gue?!" timpal Dara dengan ngegas.


"Iya kasihan sih.. Tapi-" Ruby menggantungkan ucapannya, ia sepertinya sibuk mencari cara agar Dara mau membantunya. "Gue bayar deh, tapi pake doa," lanjutnya.


"Doanya apa?"


"Hm... " Ruby kembali berpikir. Namun tak lama, hal yang ia ucapkan adalah, "Semoga lo dan kak Abhay bisa langgeng deh."


Dara berdecak. "Makin gue gak mau ngasih."


"Oke oke, gue ganti deh. Semoga lo bisa hidup bahagia dan ngerasain gimana indahnya cinta!" ucap Ruby penuh semangat.


Dara tersenyum simpul mendengarnya.


"Lo kenapa sih? Seneng banget kalo ngomongin cinta. Ada apa dengan cinta?" tanya Dara.


"Ada Cinta dan Rangga lah!" jawab mereka serentak. Lalu mereka pun sama-sama terkekeh.


Wajarlah mereka bisa kompak seperti itu. Sudah 2 tahun mereka menghabiskan waktu bersama. Jadi sudah cukup bagi mereka untuk bisa menerima karaktek mereka masing-masing. Contohnya saja tadi. Walaupun Dara dibuat kesal oleh ocehan Ruby yang tiada henti, namun tetap, Dara masih dengan setia meladeninya.


"Jadi gimana nih. Gue dikasih apa enggak PR nya?" Ruby masih mempertanyakan nasibnya.


"Heeh," jawab Dara tanpa kata.


"Seriusan dikasih?"


"Iya, Ruby."


"Thank you very much, Dara! I love you pake banget pokoknya!" tutur Ruby yang begitu senang.


"Ada maunya baru bilang gitu. Dasar udel sapi," maki Dara.


Bukannya marah Ruby malah terkekeh.


"Tapi gue serius Ra tentang kak Abhay yang mukanya khawatir banget! Feeling gue kayanya bentar lagi deh," Ruby kembali membahas hal itu, dan membuat Dara mendesah berat.


"Ruby... Apa perlu gue tarik omongan gue?" ancam Dara.


"Eh iya ya... Ampun bestie!"


Sudah cukup lama mereka berbincang-bincang di balik telepon. Karena semakin larut dan Dara pun sudah selesai mengerjakan tugasnya, tak ada alasan lagi bagi mereka tuk mempertahanakan obrolan itu. Dan akhirnya mereka pun mengakhiri malam mereka dengan obrolan yang sebenarnya penting tidak penting.


Lalu Dara bergegas untuk bersiap tidur. Namun sebelumnya, ia membereskan buku-bukunya terlebih dahulu yang berserakan di atas meja. Akan tetapi di tengah ia melakukan aktivitasnya, Dara jadi teringat kembali satu kata yang dilontarkan oleh Ruby.


Khawatir? Masa iya? gumam Dara dalam hatinya.


Setelah cukup lama termenung ia mengerjapkan matanya, tersadar dengan apa yang ia pikirkan.


"Ih ngapain juga gue mikirin itu. Gak penting Dara! Gak penting!" Dara meyakinkan dirinya.