Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
54. The real relationship



"Dara bangun!" teriak Bunda Iis sembari menggedor-gedor pintu kamar Dara yang terkunci.


"Dara!!" Bunda Iis kembali meneriaki Dara karena Dara yang tak kunjung terdengar suaranya.


"Emang sekarang jam berapa sih, Bun?" tanya Dara dengan suara parau khas bangun tidur.


"Jam enam kurang lima belas. Udah cepetan bangun!" seru Bunda Iis.


Dara pun berdecak. Biasanya masih ada lima belas menit lagi untuk dirinya tidur. Namun mengapa Bunda nya sudah membangunkannya?


"Belum juga jam enam. Biasanya juga jam enam," balas Dara, masih dengan mata yang terpejam.


"Tapi Abhay nya udah nungguin kamu," ungkap Bunda Iis.


"Ngapain sih pagi-pagi Kak Abhay udah ke sini? Biasanya juga-"


Dara tak jadi melanjutkan ucapannya, karena ia baru saja merasakan hal aneh saat dia menyebut nama orang itu. Untuk beberapa detik, Dara mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul. Saat nyawanya sudah terkumpul, dengan cepat Dara langsung membangkitkan tubuhnya menjadi duduk.


"Kak Abhay udah ke sini?!!" tanya Dara keras.


"Dari tadi kan Bunda udah bilang, kamu gimana sih. Udah sekarang kamu siap-siap," perintah Bunda Iis.


Setelah berhasil membuat putrinya bangun, Bunda Iis pun meninggalkan kamar Dara dan melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda.


"Oh God. Gue lupa kalo sekarang gue sama Kak Abhay udah ..." Dara tak menyelesaikan ucapannya, karena ia masih belum terbiasa menyebutkan statusnya sekarang.


"Terus kenapa Kak Abhay pagi-pagi udah nyamperin gue coba?" tanyanya seorang diri.


Tak ingin berlama-lama dengan kebingungannya, Dara langsung menegakkan tubuhnya.


"Ah bodo amat. Sekarang gue harus siap-siap," ucapnya. Lalu Dara segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah hampir 10 menit Dara menghabiskan waktunya di kamar mandi, Dara bergegas memakai seragam putih abunya, lalu dilanjutkan dengan memakai dasi dan sabuk sekolahnya. Setelah selesai, Dara pun bersolek diri untuk mempercantik wajah dan rambutnya. Saat semuanya sudah beres, Dara pun menggendong tasnya.


Sebelum turun ke bawah, Dara menyempatkan lagi untuk berkaca di cermin raksasanya. Untuk terakhir kalinya, Dara hendak memastikan bahwa dirinya benar-benar siap.


"Rapih gak sih?" tanyanya sambil melenggak-lenggok tubuhnya di depan cermin.


"Dasinya kayanya agak miring," ucapnya sambil membetulkan dasinya yang sedikit miring.


Lalu Dara beralih melihat rambutnya. "Rambut gue kayanya mending digerai deh," ucapnya. Ia tiba-tiba merasa aneh melihat kuncir kudanya, dan Dara pun segera melepaskan ikat rambutnya.


Setelah sudah digerai, Dara kembali bercermin. Tak lama kemudian, Dara kembali merasa aneh saat ia melihat dirinya di cermin dengan rambut yang digerai.


"Tapi kayanya aneh banget kalo digerai, kaya gembel."


Dan Dara pun akhirnya bimbang hanya karena perkara rambut. Sadar akan apa yang terjadi pada dirinya, Dara pun terdiam, dan memahami dirinya yang begitu aneh.


"Tunggu! Kenapa gue jadi ribet gini yah?" tanyanya bingung.


"Emang ada apa Dara? Apa karena mau ketemu Kak Abhay? Lagian kan ini bukan kali pertama elo nemuin Kak Abhay! Kenapa lo jadi aneh gini sih! Bersikap biasa aja bisa gak sih!" seru Dara memaki pada bayangan dirinya di dalam cermin. Jika ada yang lihat, mungkin Dara sudah dianggap tak waras.


"Bodo lah, dikuncir aja," ucapnya lagi. Dan pada akhirnya, pilihan awal selalu menjadi pilihan akhir. Dengan cepat, Dara kembali menguncir rambutnya, dan bergegas turun ke lantai dasar.


Sebelum menemui Abhay yang kata bundanya ada di luar, Dara menyempatkan dirinya untuk sarapan terlebih dahulu. Saat ia sedang melahap nasi gorengnya, Bundanya tiba-tiba berbicara.


"Itu kok tumben Abhay jemput kamu pagi-pagi banget. Kaya pasangan baru pacaran aja," ucap Bunda Iis tanpa basa-basi.


Mendengar penuturan Bundanya, spontan Dara terkejut hingga membuat mulutnya tersedak oleh nasi gorengnya. Ia pun langsung terbatuk-batuk.


"Haduh, kalo makan hati-hati dong," ucap Bunda Iis sembari menyodorkan segelas air putih kepada Dara.


Buru-buru Dara mengambil air itu dan meminumnya sampai habis.


"Bunda aku langsung berangkat yah," ucapnya langsung. Takut-takut bundanya akan berbicara yang aneh-aneh lagi.


"Tapi itu belum diabisin," ujar Bunda Iis saat melihat nasi goreng itu baru habis setengah.


"Dara udah kenyang. Aku pamit Bunda," ucapnya.


Dengan tergesa-gesa Dara segera menyalami bundanya dan bergegas pergi.


Saat Dara hendak membuka pintu utama, tiba-tiba saja Dara merasakan reaksi aneh di dalam dadanya.


"Kenapa gue tiba-tiba deg-degan gini yah?" tanya Dara bingung.


Karena rasa tak nyaman itu, Dara berusaha merilekskan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam. Setelah selesai, Dara meyakinkan dirinya untuk bersikap tenang.


"Dara! Biasa aja Dara! Biasa aja!" ujarnya.


Saat sudah berhasil tenang, Dara membuka pintu yang ada dihadapannya dan langsung mendapati Abhay yang tengah duduk di kursi teras.


"Udah?" tanya Abhay setelah melihat Dara yang sudah keluar.


"Ya udah, berarti langsung berangkat," timpal Abhay sembari membangkitkan tubuhnya dan berjalan menghampiri motornya.


"Kakak kenapa pagi-pagi udah nyamperin gue?" tanya Dara. Mencoba mencari tahu kebingungannya tadi.


"Pengen cepet-cepet liat lo aja," jawab Abhay enteng. Tak peduli dengan anak orang yang pipinya sudah blushing berkat ulahnya.


Anjir, kenapa Kak Abhay jadi manis gini? tanya Dara dengan pipi yang sudah memanas.


Melihat jelas merahnya di kedua pipi Dara. Abhay pun dengan sangat gatal ingin menggoda Dara.


"Udah jangan lama-lama baper nya," ucap Abhay seenak jidat.


"Apaan sih Kak. Siapa juga yang baper?" timpal Dara ngeles.


Abhay hanya tersenyum tipis mendengar Dara yang tak mau mengaku, walaupun sudah sangat jelas di matanya bahwa Dara memang sedang tersipu malu. Namun ia memilih diam, tak mau membuat Dara kembali malu jika ia mengungkapkan buktinya.


"Siniin helm nya," pinta Dara saat mereka sudah dekat dengan motor Abhay.


Abhay pun segera mengambil helm yang tersimpan di atas jok penumpang. Setelah terambil, Abhay tak menyodorkan pada Dara, namun ia memakaikannya langsung kepada Dara.


Dibuat seperti itu, Dara pun membelalakkan matanya, karena Abhay tiba-tiba bertindak seenaknya.


"Kenapa dipakein? Biasanya juga pake sendiri," tanya Dara saat Abhay sedang memakaikannya helm.


"Kan sekarang kita gak kaya biasanya lagi. Kemaren aja kita udah ci-" ucapan Abhay terpotong karena Dara yang lebih dulu berteriak.


"STOP!!!" sergap Dara. Tanpa menunggu Abhay berbicara full, Dara sudah menduga Abhay akan berbicara yang akan membuat dirinya malu.


"Kakak gila yah. Kalo ada yang denger gimana?" ujar Dara geram.


Lalu bagaimana respon Abhay? Dan Abhay pun menjawabnya dengan, "biarin aja. Yang gue cium juga pacar gue, bukan pacar orang lain."


Deg.


Untuk kedua kalinya Dara mendapatkan serangan hati. Tiba-tiba saja dadanya seperti sedang dimekari oleh ribuan bunga-bunga yang tumbuh di hatinya. Dara baper? Ya jelaslah. Wanita mana yang tidak akan terbawa perasaan saat lelakinya berbicara seperti itu.


Saat melihat pipi Dara yang kembali memerah, Abhay pun mengangkat kedua sudut bibirnya. Tiba-tiba saja ia selalu ketagihan untuk menggoda Dara lagi.


"Ternyata bikin lo baper gampang yah. Gue kira, singa itu susah buat ditaklukin," goda Abhay.


Tak terima dibilang singa, Dara pun meninju bahu Abhay dengan geramnya.


"Aduh, kok mukul?" ringis Abhay. "Emang gue salah ngomong? Lo kan emang singa. Leon kan nama elo?" ungkap Abhay sekalian mengeles.


"Udah deh jangan ngomong terus. Gak berangkat-berangkat jadinya," ucap Dara mengalihkan pembicaraan.


Melihat Dara yang sudah kesal, Abhay merasa sudah cukup puas untuk menggoda Dara. Lalu ia pun memilih untuk menyalakan motornya.


Saat motor sudah menyala, buru-buru Dara menaiki motor itu. Namun niatnya terurungkan saat ia tiba-tiba saja ia teringat sesuatu.


"Oh iya. Awas loh kalo Kakak bersikap kaya gini di sekolah," ujar Dara terdengar seperti mengancam.


"Emang kenapa?" tanya Abhay.


"Gue masih belum siap. Apa kata orang nanti kalo kita kemakan sama permainan kita sendiri," ungkap Dara.


Mendengar penuturan Dara, Abhay pun jadi ikut tersadar. Ia lupa bahwa sebelumnya ia sedang memainkan permainan dengan Dara. Pasti orang-orang di sekolah akan gempar saat mengetahui status mereka yang kini sudah berbeda konsep.


"Oh iya yah. Ya udah, Oke." Dan Abhay pun menyetujuinya untuk menyembunyikan status asli mereka.


...****************...


Motor ninja merah itu sudah sampai di parkiran sekolah. Dara dan Abhay pun segera turun dari motor itu dan berjalan beriringan memasuki area sekolah.


Saat mereka sedang berjalan di koridor kelas, tangan Abhay tak sengaja terus-menerus menggesek tangan milik Dara. Karena sudah tak tahan, dan melihat koridor kelas yang terbilang sepi, dengan mantap Abhay langsung menggenggam tangan milik Dara dengan eratnya.


Merasakan telapak tangannya sedang digenggam, Dara pun reflek melihat tangannya yang ternyata sudah digenggam oleh Abhay.


"Kak! Gue kan udah bilang untuk bersikap biasa aja," ucap Dara dengan volume suara kecil. Takut-takut ada yang mendengarnya.


"Gue juga ngeliat keadaan kok. Lagian lagi ga ada orang ini," balas Abhay dengan santainya.


"Kalo tiba-tiba ada orang gimana?"


Baru sedetik Dara menanyakan hal itu, tiba-tiba saja dari belakang punggungnya terdengar seseorang yang memanggil namanya.


"Dara!!" panggil Ruby keras.


Mendengar panggilan itu, dengan reflek Dara membulatkan matanya lebar-lebar. Ia membeku di tempat, ia benar-benar sudah tertangkap basah, karena Ruby tiba-tiba melihatnya.


Mampus, baru juga diomongin!