Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
77. Ruby!



Adara Leona.


Kemana?


^^^Me.^^^


^^^Duduk-duduk di depan aja. Cari angin. Mau enggak?^^^


Cukup lama Dara tak segera membalasnya. Abhay tahu, pasti kini Dara sedang menimang-nimang ajakannya. Dan beberapa saat kemudian ponsel Abhay kembali bergetar, buru-buru Abhay membaca balasan dari Dara.


Adara Leona.


Oke.


Jawaban Dara seketika membuat Abhay kegirangan. Ia dengan cekatan langsung beranjak dari kasur itu dan bergegas keluar kamar.


Mungkin karena saking semangatnya, Abhay terlalu cepat untuk tiba di sana. Karena hal itu, ia menjadi cukup lama berada di luar. Ia termangu sendiri terduduk di sebuah kursi kayu panjang. Dalam kegelapan dan kesunyian, ia menanti kedatangan Dara. Hingga saatnya ia tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang dengan tanpa permisinya langsung duduk di sampingnya.


"Aish. Duduk kok gak bilang-bilang," ujar Abhay merasa kaget.


"Hehehe. Maaf," kata Dara merasa bersalah.


"Temen lo udah tidur?" tanya Abhay.


"Habis bakar-bakaran dia mah langsung tidur."


Kemudian Abhay teringat suatu hal. Ia sempat lupa bahwa kaki Dara tengah terluka. Hal itu terjadi karena Dara bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Kaki lo udah gak sakit?" tanya Abhay lembut.


"Dari awal juga gak sakit. Kan langsung diobatin sama ... " Dara menggantungkan ucapannya cukup lama, sengaja ia ingin menggoda Abhay sesekali.


"Sama siapa?" tanya Abhay.


"Sama ... Manusia." Dan Dara malah menjawabnya seperti itu.


Abhay berdecak kesal. "Puji gue sekali aja bisa gak? Gue bakal seneng banget loh," tuturnya merasa dongkol.


Dara pun tertawa kecil. Jadi ini alasannya Abhay senang sekali menggoda dirinya. Ternyata saat mencobanya sendiri, rasanya memang menyenangkan.


"Iya iya sama Kak Abhay," ucap Dara dengan kekehan kecil. Kemudian ia memperdalam tatapannya pada Abhay dan tersenyum penuh ketulusan. "Makasih yah."


Abhay menatap balik Dara. Walau tanpa suara, mereka seolah sedang berkomunikasi lewat bahasa batin mereka. Untuk beberapa detik, pandangan mereka terus terkoneksi. Lalu Tak lama kemudian, Abhay meletakkan kepalanya pada pangkuan Dara. Ia pun mengerak-gerakkan kepalanya mencari posisi yang nyaman. Dirasa sudah nyaman, ia pun memejamkan matanya dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ahh ... Enaknya kaya gini," gumam Abhay dengan mata yang terpejam.


Abhay tak berbohong bahwa kini ia benar-benar nyaman dengan keadaannya sekarang. Di bawah gelapnya malam, dan bintang-bintang yang berserakan di atas langit, situasi seperti itu sungguh sangat sempurna baginya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Dara. Namun di balik kesempurnaan itu, lebih sempurna lagi karena tak ada pengganggu di sana.


"Gue mau tidur kaya gini sampe besok yah?" izinnya pada Dara.


"Mau jadi santapan nyamuk? Trus gue gimana? Jadi bantalnya Kakak sampe pagi?" tanya Dara beruntun.


"Kalo udah kaya gini, bener kata Gilang. Gue kepengen liburannya seminggu. Tapi berdua doang,".


"Seminggu? Berdua doang? Ngaco."


"Kok ngaco?"


"Ya Kakak pikir aja. Masa iya kita tinggal dalam satu atap dan diisi sama kita berdua doang. Emangnya pasutri," jelas Dara.


"Kan latihan dulu," jawab Abhay enteng.


Sebenarnya Abhay asal jeplak saja mengucapkan penyataan tadi, dan niat awalnya pun hanya ingin bercanda saja. Namun sepertinya candaannya itu dianggap serius oleh Dara, karena melihat respon Dara yang tiba-tiba saja menarik hidupnya kuat-kuat.


"Makanya kalo ngomong jangan sembarangan!" pekik Dara kesal.


Abhay hanya tersenyum. Keheningan kembali datang menyelimuti mereka. Terlihat Abhay yang terus memejamkan matanya dengan tenang. Bahkan Dara sempat mengira bahwa Abhay benar-benar terlelap di pangkuannya. Pada kesempatan itu, Dara jadi bisa leluasa menatap baik-baik struktural bentuk wajah Abhay dengan jelas. Hidung mancung, alis tebal, dan bentuk bibir yang merona, semuanya begitu sempurna menempel pada wajah Abhay. Ciptaan tuhan memang begitu indah. Karena keindahan itu, Dara terdorong untuk menyentuh wajah itu. Namun saat baru saja Dara mengangkat tangannya, Abhay tiba-tiba bersuara. Spontan Dara pun segera menarik tangannya kembali, dan mengurungkan niatnya.


"Nanti suatu saat kita kaya gini lagi yah," ujar Abhay tiba-tiba.


Masih terbawa-bawa dengan ucapan Abhay tadi, Dara kembali dibuat overthinking. "Kakak seriusan sama omongan tadi?! Gak Kak!" tegas Dara.


"Ya enggak sampe nginep juga. Maksud gue, kita sering-sering kaya gini. Ngabisin waktu berdua, liburan bareng," jelas Abhay. "Karena cuma itu satu-satunya cara yang bisa buat gue bahagia," lanjutnya.


Sepasang mata yang sebelumnya tertutup, perlahan Abhay membukanya kembali. Ia menatap langit lepas dengan pikiran jauh melayang.


"Sebelumnya gue gak pernah seseneng ini. Jangankan seneng, hidup gue aja berasa mati. Makanya gue kepengen kehidupan gue lewat gitu aja sampai saatnya gue bener-bener mati. Alasannya, karena gue gak punya tujuan hidup dan gak ada sesuatu yang gue harapin di dunia ini," jelas Abhay.


Kemudian Abhay memutuskan pandangannya, dan beralih menatap Dara dari bawah.


"Sampai akhirnya gue ketemu sama lo, gue jadi gak mau mati cepet-cepet. Gue mau hidup lebih lama lagi. Karena setiap detik waktu yang gue habisin sama lo, semuanya terasa berharga. Karena lo, gue jadi punya tujuan hidup. Dan karena lo, gue jadi merasa hidup lagi."


Lalu Abhay membangkitkan kepalanya dari pangkuan Dara, karena ia ingin lebih intens lagi menatap Dara. Ia menatap tepat pada manik mata milik Dara dengan sangat lekat. Kemudian ia pun membuka suaranya.


"Makasih udah hadir dihidup gue ... Adara Leona."


Suara Abhay terdengar begitu hangat di telinga Dara. Seketika ia langsung kehilangan kata-kata. Tak ada yang bisa ia ucapkan karena jantungnya tiba-tiba berdegup begitu kencang.


Keheningan itu semakin menjadi. Rasanya Dara ingin sekali mengakhiri situasi itu. Bukan tanpa alasan, karena semakin ia membiarkan keheningan itu terus terjadi, semakin pula jantungnya dibuat tak sehat. Namun sialnya, Dara juga tak mau memutuskan koneksi pandangan itu. Karena tatapan Abhay begitu candu, hingga membuatnya ingin terus menatap Abhay.


Membiarkan keadaaan itu terus terlarut, menyebabkan keadaan semakin tak terkendali. Karena situasi yang sangat mendukung itu, hasrat Abhay kembali terbangun. Ia tak bisa lagi menahan diri.


Dengan perlahan, sedikit demi sedikit Abhay memajukan wajahnya. Ia beberapa kali melihat pada bagian bawah dari wajah Dara seperti sedang berancang-ancang.


Saat wajah Abhay yang sudah semakin dekat, jantung Dara seperti ingin lompat dari tempatnya. Degupan jantungnya sudah tak wajar. Dan di saat wajahnya hanya menyisakan beberapa senti lagi dengan wajah Abhay, dengan reflek Dara langsung menutup matanya. Ia pasrah membiarkan Abhay melampiaskan hasratnya.


Namun ternyata, ekspektasi tak selamanya selaras dengan realita. Karena niat mereka seketika berubah diakibatkan sebuah suara yang mengagetkan mereka.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Dara langsung menyadari bahwa suara itu berasal dari ponselnya. Spontan Dara membuka matanya kembali dan memundurkan wajahnya dari Abhay. Buru-buru ia mengecek ponselnya untuk mencari tahu siapa pelakunya. "Sorry Kak. Ruby nelpon," ucapnya pada Abhay.


"Iyah ada apa?" tanya Dara to the point saat sudah menerima panggilan itu.


"Gue lagi di depan. Ada barang gue yang ketinggalan pas makan-makan tadi," jawab Dara menjelaskan.


Dari seberang telepon, Ruby segera menjelaskan maksudnya.


"Iyah. Gue balik sekarang."


Saat Ruby sudah selesai menyampaikan maksudnya, Dara pun segera menutup panggilan itu.


"Kenapa?" tanya Abhay langsung.


"Ruby tidurnya kebangun, trus dia liat gue gak ada jadi sekarang dia lagi ketakutan di kamar," jelas Dara.


Abhay membuang pandangannya asal kemudian berdecak. Abhay kesal? Tentu saja. Ia pikir sudah terjadi sesuatu yang sangat penting menimpa Ruby, namun ternyata hanya takut. Sungguh Abhay menggerutu dalam hatinya, apalagi saat mengingat momentum tadi yang sudah sangat pas dan hampir saja terjadi. Abhay sungguh geregetan.


Dengan rasa kecangguan dan sedikit rasa tak enak hati, Dara tak bisa leluasa pergi begitu saja. Ia jadi tergagap hanya sekedar ingin mengucapkan kata pamit. "I-ya udah gu-gue ... balik ke kamar yah. Dah," pamit Dara pada akhirnya.


Saat sudah mengucapkan kata pamit, Dara bergegas pergi dari hadapan Abhay dengan keadaan jantung yang tak sepenuhnya normal.


Melihat punggung Dara yang semakin menghilang, Abhay mengepal genggamannya kesal. Ia memukul kursi panjang itu dengan geramnya.


Ruby!!! Emang kampret lo!! Sialan lo!!