Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
96. Inikah takdir kita?



Saat Dara menangis, jiwa Abhay turut merasa bergetar. Selama ia bersama Dara, baru kali ini dia melihat Dara menangis tersedu-sedu. Janji untuk tak membuat Dara menangis, seketika pupus saat ia melihat pemandangan ini.


"Dara liat gue," pinta Abhay. Namun tak didengarkan oleh Dara. Gadis itu masih terisak. "Liat gue sekarang," ulangnya lagi, dan hasilnya tetap sama. Dara tak mau menenggakan kepalanya.


Karena seruannya tak didengar Dara, Abhay meraih lengan Dara lalu menggenggam telapak tangannya. Dan kali ini berhasil, Dara berhenti terisak. Perlahan Dara pun menenggak kepalanya dan pelan-pelan menatap balik pada Abhay dengan mata yang sudah membengkak.


Melihat sisa-sisa air mata yang masih menempel pada pipi gadis itu, membuat Abhay tak tahan untuk melihatnya. Abhay pun mengangkat satu tangannya lagi untuk mengusap air mata itu. Dengan hati-hati Abhay mengusap air mata Dara sampai air mata itu benar-benar hilang dari pipi gadisnya.


Saat selesai, Abhay menautkan kedua netranya tepat pada manik mata milik Dara. Ia menatap Dara dengan penuh kehangatan. "Kenapa lo nyalahin diri lo sendiri?" tanya Abhay begitu dalam.


"Karena gue udah tau, Kak. Ibu Kakak meninggal karena Abang gue," jawab Dara jujur.


"Tapi Abang lo, kan? Bukan lo?"


"Tapi sama aja. Hidup Kakak hancur karena keluarga gue," sangkal Dara terus menyalahkan dirinya.


Lalu Dara memutuskan koneksi matanya dan melemparkan pandangannya pada langit sore yang mulai menjingga. Ia mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal akibat menangis. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba memenangkan pikirannya. "Gue pantes dibenci Kakak. Gue pantes dijauhi Kakak," ucapnya lirih.


Abhay menatap Dara penuh rasa kasihan. Terlihat jelas bahwa Dara juga begitu merasa bersalah. Sungguh Abhay menjadi tak tega saat melihat Dara seperti itu. Karena ia tahu, sebenernya Dara tak salah apa-apa. Namun walau begitu, Dara juga turut terkena getahnya.


"Dara. Jujur aja. Setelah gue tahu semuanya, gue bener-bener ngerasa hancur. Gue hancur melebihi apa yang lo rasakan. Gue gak pernah berpikiran bahwa ini terjadi di dalam hidup gue. Gue juga benci. Tapi bukan membenci lo. Gue benci takdir yang terjadi diantara kita berdua. Gue juga mikir, dari jutaan banyaknya orang di dunia ini kenapa harus keluarga lo. Kenapa takdir begitu jahat sama gue," tegas Abhay begitu menyayat hati di setiap perkataannya.


Dan Dara, walaupun pandangannya menatap lurus ke depan, namun telinganya ia pasang dan turut menyimak perkataan Abhay. Ia pun tersenyum getir dengan mata sedikit berkaca-kaca. Ia sangat membenarkan kalimat terakhir dari Abhay. Ia juga turut kesal mengapa takdir begitu jahat terhadap mereka.


"Tapi mengenai Abang lo. Gue juga manusia Dara. Gue belum bisa nerima dan bersikap normal seperti dulu. Apalagi gue udah punya janji sebelumnya, kalo gue akan membayar orang yang udah nyelakain ibu gue. Sulit buat gue untuk ngelupain hal itu," lanjut Abhay. Ia tak segan untuk berkata jujur kepada Dara bahwa dirinya masih belum bisa menerima Andra. Ia tak mau berpura-pura dengan hal itu.


Dara mengangguk-anggukan kepalanya paham. Sangat paham dan sangat wajar jika Abhay belum bisa memaafkan semuanya. Walaupun Dara adiknya, Dara sangat rasional, memang perbuatan kakaknya sangat salah. Dan tentunya sangat sulit untuk memaafkan perbuatan seseorang apalagi sudah menyangkut dengan nyawa, bahkan sebagian orang mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan, karena masalahnya memang sangat besar.


"Untuk itu, gue juga mau ngasih tau sesuatu sama lo," ucap Abhay tiba-tiba.


Dan ini lah saatnya. Saat dimana Abhay akan memberitahu tujuan ia memanggil Dara. Saat dimana keputusan sulit itu akan ia beritahu kepada Dara. Entah apa respon Dara nantinya, yang jelas ia sudah teguh dengan pilihannya. Ia akan menyampaikannya sekarang.


"Setelah ujian selesai, gue akan langsung pergi. Karena gue udah memutuskan untuk..."


Abhay menjeda ucapannya cukup lama. Sebelum ia melanjutkan ucapannya, Ia menyempatkan untuk mengatur nafasnya lebih dulu. Dan ia pun kembali berucap.


"Kuliah ke Amerika."


Keputusan besar sudah terdengar di telinga Dara. Untuk sesaat, jantung Dara berhenti berdetak, ia juga sempat menahan nafasnya. Dara tak berbohong bahwa ia sangat terkejut. Lalu, bagaimanakah respon Dara selanjutnya? Apakah dia akan marah atau murka?


"Yah gue tahu, gue emang jahat. Gue emang pecundang. Gue ke makan sama janji gue sendiri. Gue-"


"Kuliah ke Amerika memang pilihan yang tetap. Kakak gak usah-usah repot-repot ngejelasin ke gue. Karena gue ngerti," ucap Dara penuh arti. "Kakak butuh waktu, kan? Dan Amerika pilihan yang sangat tepat buat Kakak."


Abhay tertunduk, dan mulutnya pun berucap. "Maafin gue Dara."


"Kenapa Kakak minta maaf? Kakak gak salah apa-apa. Harusnya gue yang minta maaf sama Kakak karena gue udah mempersulit keputusan Kakak," tutur Dara, tak menerima ucapan maaf dari mulut Abhay.


"Dan gue gak tahu, kapan gue akan balik lagi. Mungkin setahun, dua tahun, tiga tahun. Gue gak tahu itu," kata Abhay.


"Emang kenapa? Bukannya wajar? Namanya juga kuliah di luar negeri," balas Dara dengan mudah.


Mendengar jawaban Dara, sepertinya gadis itu belum mengerti dengan maksud perkataannya. Abhay pun kembali menenggakan kepalanya dan menatap Dara dalam. Dan kini sepasang mata mereka saling terkoneksi.


"Maksud gue. Setahun dua tahun bukan waktu yang pendek. Gue gak mau buat lo bingung dengan keputusan gue yang gak pasti ini. Dan gue gak mau buat lo menunggu," tutur Abhay menjelaskan. "Untuk itu, mengenai hubungan kita. Lo mau putus atau terus, gue serahin keputusan itu sama elo," lanjut Abhay.


Sebuah keputusan tak masuk akal baru diperdengarkan oleh Abhay. Dara tersenyum kecut, ia tak mengerti mengapa Abhay menyerahkan keputusan besar itu pada dirinya. "Kenapa? Kenapa Kakak serahin sama gue? Harusnya Kakak yang nentuin," ucap Dara.


"Karena kalo gue sendiri, gue gak mau putus sama lo. Gue mau bertahan sama lo," ungkap Abhay sangat yakin.


"Alasannya apa Kakak mau bertahan sama gue? Bukannya udah sepantasnya Kakak mutusin gue. Gue juga bakal nerima kok, karena alasannya pun udah sangat jelas."


"Menurut gue, gak ada alasan buat gue untuk mutusin lo. Lo gak tahu apa-apa tentang masalah ini. Lo gak salah."


Sungguh. Dara merutuk di dalam dirinya. Mengapa bisa dirinya memiliki seorang lelaki yang terlewat baik! Dara tak mengerti lagi bagaimana bisa Abhay masih ingin mempertahankan dirinya. Padahal lelaki itu tahu, ia adalah adik dari seorang pembunuh ibunya. Dan mengapa juga di dalam situasi yang sudah seperti ini Abhay masih bisa-bisanya mengkhawatirkan dirinya. Mengapa?


"Kenapa sih Kak? Kenapa Kakak baik banget sama gue? Kenapa?" tanya Dara dengan suara yang sudah bergetar.


Kini kedua matanya sudah sangat berkaca-kaca. Dara tak lagi bisa menampung air matanya. Ia kembali tertunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Untuk kedua kalinya Dara menangis terisak-isak. Ia menangis bukan karena sedih akan ditinggal Abhay, tapi ia sedih mengetahui kebaikan hati Abhay yang sudah kelewat batas.


Abhay meratapi Dara yang sedang menangis. Ia lemah. Ia selalu tak bisa melihat Dara menangis, apalagi menangis terisak-isak seperti sekarang ini. Perlahan, Abhay pun mendekatkan dirinya dengan Dara, ia menggeser duduknya untuk lebih dekat gadisnya, hingga tak ada lagi jarak yang membatasi mereka.


Lalu, di tengah tangisan Dara yang masih begitu kencang, Abhay menggerakkan kedua tangannya, kemudian ia lingkarkan pada kedua bahu Dara. Ia menggerakkan tubuh Dara untuk jatuh ke dalam pelukannya. Dan mengusap-usap puncak kepala Dara dengan lembut. Ia mencoba menenangkan Dara.


"Pokoknya, kalo suatu saat lo bosen nunggu gue atau suatu saat lo punya lelaki lain yang lo suka, lo tinggal hubungin gue. Nomer gue tetep sama," ucap Abhay di tengah tangisan itu.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah Dara semakin mengencangkan tangisannya. Kata-kata terakhir yang diucapkan Abhay malah membuat tangisan Dara semakin pecah. Ia pun meremas baju Abhay, ia geram. Ia benci perkataan Abhay. Tak pernah sedikit Dara berpikiran untuk berpaling dengan lelaki lain, karena Abhay terlalu berharga bagi dirinya.


Dan di atap itulah, semua kisah mereka terjadi. Atap rumah sakit yang sudah dijadikan rumah bagi mereka. Semua momen penting terjadi di sana. Dari meresmikan hubungan, canda, tawa, sedih, sudah mereka lalui di sana. Bahkan saat mereka berpisah pun itu terjadi di tempat yang sama. Entah kapan lagi mereka akan merangkai kisah mereka di atap itu, karena kini salah satu penghuninya akan pergi. Dan entah kapan dia juga akan kembali, karena hanya waktulah yang bisa menjawabnya.