Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
64. Kamu bagaikan buku baru



Mengerti maksud Dara, Abhay pun menarik kedua sudut bibirnya. Ia sangat tersindir dan mengacak puncak kepala Dara dengan gemasnya. "Kalo sekarang kan udah beda," ucapnya.


Diperlakukan seperti itu di depan penjaga kasir, tentu saja Dara yang merasa malu. Ia segera menepis tangan Abhay dari kepalanya dan kembali melototi Abhay. "Kak! Malu tau!"


Bukannya mikir, Abhay malah nyengir. Ia sama sekali tak memperdulikan keberadaan penjaga kasir yang kini tengah tersenyum geli melihat mereka.


"Ini kembaliannya. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami," ucap Mbak itu ramah dengan sisa-sisa senyum gelinya.


Lantas Abhay segera mengambil kembalian itu, lalu mereka berjalan keluar dari toko buku.


"Makan dulu yah," ajak Abhay tiba-tiba saja.


Dara menengok sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan jam sudah memunjukkan pukul 04.18. "Udah sore Kak."


Abhay berdecak, ia merasa kecewa dengan jawaban yang tak ingin dia dengar. "Gak adil banget. Gue aja ngeluangin waktu buat lo, giliran gue minta gak mau," ucapnya dongkol.


Dara menoleh sekilas melihat raut wajah Abhay. Nampak jelas raut cowok itu terlihat begitu kecewa. Ia menjadi berpikir dua kali untuk menerima ajakan Abhay. Apakah seharusnya ia meluangkan waktunya untuk Abhay? Dan setelah dipikir-pikir Dara pun merasa jahat juga, karena Abhay pun bersedia mengantarkannya ke toko buku, masa iya dia bersikap egois.


"Ya udah deh," ucap Dara akhirnya mengiyakan.


Wajah kusut itu dalam hitungan detik berubah menjadi lebih berseri-seri. Abhay tak jadi marah kepada Dara. "Gitu dong."


...****************...


Mengerti situasi yang semakin sore, Abhay dengan kesadaran dirinya membawa Dara ke suatu mini resto yang tak jauh dari toko buku tadi. Dengan keadaan tempat yang sudah ramai, membuat mereka mau tak mau hanya bisa mengisi meja yang tersisa di luar ruangan saja. Untung saja Dara tipikal cewek yang tidak ribet, jadi ia dengan senang hati bersedia makan di tempat mana pun. Begitu pula dengan Abhay.


"Kak Angel beneran tobat gak yah?" tanya Dara disela-sela makannya. Tak bisa dipungkiri, kejadian tadi siang sedikit mengganggu pikirannya.


Abhay menelan sisa makanannya, hendak menjawab sedikit kebingungan Dara. "Gue kasih tau. Ular walaupun gak berbisa tetep aja ular. Jadi saran gue lo lebih baik tetep waspada," ucapnya memberi saran. Karena sejak dulu ia tak pernah percaya dengan cewek ular itu, sekalipun mereka satu kelas.


"Tapi keliatan dari ekspresinya sih kaya yang bener-bener tulus," tambah Dara.


"Dah ah jangan ngomongin orang gak penting. Mendingan kita ngomongin yang lain," sanggah Abhay, ia tak suka dengan tema obrolan mereka.


"Ya terus mau ngomongin apa?" tanya Dara.


"Ya ngomongin tentang ... kita."


Dara mengangkat kedua sudut bibirnya merasa geli. Semakin ia mengenal Abhay, mengapa cowok itu semakin bersikap terang-terangan? Contohnya saja di toko buku tadi. Abhay dengan terang-terangannya bersikap manis di depan orang lain sekalipun. Walaupun kesal dan malu, namun di dalam hati Dara ... ah pasti tahu sendiri bagaimana rasanya.


"Ya udah, Kakak mau ngomong apa?"


Abhay menatap dalam manik mata Dara untuk mencari bahan obrolan di sana. Namun tak lama, ia mengangkat kedua bahunya. "Gak tau."


Seketika Dara melunturkan senyumannya. Gagal romatis everybody! Dia kira Abhay akan berbicara manis, dan Dara pun sudah siap-siap untuk mendengarkannya. Namun Abhay baru berencana saja?


"Ya udah deh gue yang duluan nanya." Dara pun akhirnya menawarkan diri dahulu.


"Ini bukannya gue kepedean yah." Dara mengucapkan kalimat pembukaan terlebih dahulu.


"Kok Kakak bisa suka sama gue? Gue kan aneh. Kakak sendiri biang kalo gue cewek gila. Tapi kok bisa suka?" Dan akhirnya pertanyaan itu pun terucap dari mulut Dara.


Abhay sempat tersenyum simpul mendengar pertanyaan Dara yang terdengar begitu menggemaskan. Tak lama Abhay pun menengadahkan kepalanya ke atas, mencoba mencari tahu jawabannya.


"Hm ... Gue juga gak tau pastinya. Tapi rasanya percis sama kaya gue masuk ke toko buku tadi."


Dara menggerutkan dahinya tak paham. Mengapa Abhay sekarang malah membahas toko buku? Apakah ada hubungannya?


"Maksud?" tanya Dara singkat.


"Gue baru pertama kali masuk ke toko buku. Lo liat sendiri reaksi gue gimana tadi pas baru masuk. Penciuman gue langsung keganggu, dan gue gak suka. Tapi setelah gue hirup lebih lama lagi, kok lama-lama gue penasaran sama omongan lo yang katanya bau coklat itu. Dan ternyata bener. Aroma buku baru itu emang kerasa unik dan emang kaya bau coklat. Terus lama-kelamaan gue jadi terbiasa dan aroma itu justru bikin gue tenang. Dan akhirnya gue malah suka."


Dara sangat tertegun mendengar penjelasan Abhay yang begitu mendetail. Ia pun tak menyangka, ternyata Abhay begitu mahir dalam hal perumpamaan. Tanpa bertanya maksud aslinya, sudah cukup bagi Dara untuk mengerti semuanya. Jadi apakah Abhay baru saja menyebut dirinya unik?


"Terus pas Kakak mau nganter jemput gue ke sekolah, apa Kakak udah ada rasa di situ?" tanya Dara lagi begitu serius.


"Kayanya. Soalnya gue aslinya gak peduli sama kehidupan orang, apalagi bantu orang. Jadi yah gak tau kenapa gue malah seneng aja gitu nganter jemput lo."


Dara kembali tertegun. Ia jadi teringat, ternyata jawaban Abhay sama percis seperti apa yang pernah Vano katakan padanya. Karena hal itu, mulutnya tak terasa bergumam. "Bener kata Kak Vano."


"Apa? Vano?!" Abhay sangat terkejut karena tiba-tiba saja nama temannya itu disebut Dara.


Menyadari kebodohannya, Dara jadi ikut terkejut. Ia lupa bahwa ia sudah berjanji kepada Vano untuk merahasiakan itu. "Hah ap-apa?"


"Lo tadi bilang bener kata Vano. Maksudnya apa?"


"Hah. Eng-gak kok. Kakak salah denger kali," Dara berusaha menutupi kebodohannya dengan tersenyum smirk.


"Gak. Orang jelas gitu. Jadi Vano udah ngomong apa sama lo?"


Abhay masih teguh dengan pertanyaannya. Ia sangat ingin tahu maksudnya apa. Karena masalahnya adalah Vano, orang aneh itu. Ia takut Vano sudah berbicara aneh-aneh kepada Dara.


"Gak-Kak. Kakak salah denger!"


"Enggak! Gue gak salah denger. Lo tuh gak bisa bohong. Jujur aj-" ucapan Abhay terpotong, karena tiba-tiba saja datang segerombolan orang tak di undang yang tiba-tiba memutuskan obrolan mereka berdua.


"Woohoo!" Orang itu bersorak ria. Ia begitu senang melihat keberadaan Abhay yang sudah begitu ia nantikan.


"Guys liat! Siapa orang yang ada di depan kita!" seru orang itu, mencoba memancing kehebohan kepada semua teman-temannya.


Dalam hati Abhay, ia begitu murka. Di saat seperti ini, mengapa mereka harus muncul!


Anjing! Bajingan itu!