
Di hari pekan ini, Dara tak ingin kemana-kemana. Mengingat ulangan semester yang akan diadakan besok, ia akan memfokuskan dirinya untuk belajar. Kini ia pun sedang memilah-milah buku pelajaran yang akan dipakai belajar dirinya.
Ditengah Dara yang sibuk mencari buku, ponsel yang ia simpan di meja belajarnya bergetar, ia melirik dan mengetahui nama 'Kak Abhay' yang sedang meneleponnya. Yah. Dara sudah mengganti nama kontak itu.
Dara memencet tombol telepon dan mengaktifkannya mode loud speaker. Ia akan menjawab telepon Abhay tanpa memberhentikan aktivitasnya. "Ada apa Kak?" tanyanya langsung.
"Keluar yuk," ajak Abhay di sebrang telepon.
"Gak mau."
"Kenapa?"
"Kak. Besok itu kita mau ulangan semester, untuk hari ini gue mau fokus belajar," ungkap Dara.
Penolakan Dara membuat Abhay sangat kecewa. Terdengar dari balik telepon pun Abhay langsung berdecak kesal. "Udah lah ... Biar apa sih belajar?" jawab Abhay enteng sekali.
"Biar nilainya gak malu-maluin banget!" jawab Dara ngegas. "Udah yah untuk akhir pekan kali kini kita lewat dulu." Dara meminta pengertian Abhay.
"Gak bisa! Pokoknya gue harus ketemu sama elo!" tegas Abhay sangat memaksa.
Begitulah Abhay. Semenjak ia resmi berpacaran dengan Dara, ia menjadi seseorang yang benar-benar disebut budak cinta. Ia tak ingin melewatkan satu hari pun tanpa melihat Dara. Entahlah. Mungkin karena ini kali pertama Abhay berpacaran. Namun Dara pun sama, tapi Dara tak sebucin Abhay. Lalu apa sebabnya?
"Tapi guenya mau belajar Kak."
Seketika suara dari telepon itu tiba-tiba senyap. Dara melihat menit diteleponnya ternyata masih berjalan, itu artinya Abhay masih ada di sana. Dara bisa menebak bahwa Abhay sedang memikirkan rencana.
"Ya udah gue ke rumah elo, nemenin lo belajar." Akhirnya Abhay membuat rencana seperti itu.
"Jangan nemenin doang, ikut belajar juga! Kalo cuma nemenin, yang ada gue malah gak fokus."
"Oh iya yah. Wajah gue kan mengalihkan dunia," ujar Abhay sangat kepedean.
"Pokoknya terserah Kakak. Kalo gak mau belajar, lebih baik jangan ke rumah gue," ucap Dara mengancam.
Telepon itu kembali senyap, sepertinya sangat berat bagi Abhay hanya untuk menjawab iya. Namun Dara tak peduli, toh yang ia minta juga baik untuk Abhay. Jadi ia tak harus merasa kasihan telah memberikan pilihan yang berat bagi cowok itu.
Terdengar Abhay mendesah berat sebelum ia menjawab. "Ya udah iyah gue mau belajar," jawabnya pasrah.
Mendengar jawaban Abhay yang terdengar begitu tertekan membuat Dara menarik kedua sudut bibirnya. Ia merasa puas saat Abhay menuruti perintahnya.
"Berarti gue ke rumah lo sekarang."
"Iy- JANGAN!" Bagai memiliki dua kepribadian ganda, dalam secepat kilat Dara mengubah keputusannya. Ia teringat suatu hal.
"Tuh. Apalagi sekarang?"
"Gue lupa kalo hari ini ada arisan ibu-ibu di rumah. Temen-temen Bunda pada dateng, pasti bakal banyak orang. Kita batalin aja," kata Dara seenak jidat.
"Gak bisa! Pokoknya harus ketemu!" tegas Abhay. Tak ingin dengar alasannya, Abhay bersikukuh untuk tak membatalkan pertemuan mereka.
"Ya gimana lagi?" tanya Dara.
"Kamar lo kan-"
"KAK ABHAY!" sanggah Dara sangat keras.
Belum sempat Abhay menyelesaikan ucapannya, namun Dara sudah tahu apa yang akan Abhay maksudkan. Kak Abhay kurang asem!
"Ya terus dimana?" Kali ini Abhay mulai frustasi.
Kini Dara yang memutar otaknya. Dimanakah tempat yang paling cocok itu? Tempat yang tidak ramai, namun tidak sepi juga. Dan yang paling efektif itu ya rumah. Namun rumah siapa?
Selang beberapa detik, lampu bohlam muncul di kepala Dara. "Kalo di rumah Kakak gimana?" tanyanya memberi saran.
"Rumah gue? Boleh juga. Ya udah gue jemput lo yah sekarang," ujar Abhay menawarkan dirinya.
"Ngapain? Gak usah. Gue aja yang ke sana pake taksi." Dara pun menolak.
"Beneran gak papa?"
"Gak papa."
"Ya udah gue tunggu yah. Awas kalo gak dateng!" ancam Abhay serius.
"Iya iya."
Pada akhirnya keputusan diambil. Dara bergegas mengambil buku-buku yang akan dibawa ke rumah Abhay. Setelah selesai, ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap pergi ke rumah Abhay.
...****************...
Pagar besi berukuran super jumbo berada di depan mata Dara. Ini kedua kalinya ia pergi ke rumah Abhay. Sekelebat ia merasakan sebuah keraguan saat ia hendak masuk ke area dalam rumah bak istana itu. Mungkin ia merasa tak pantas, karena rumah yang ia tempati luasnya sepuluh kali lipat dari rumah Abhay. Dara benar-bener merasa kecil.
Dari jauh seorang satpam berjalan mendekat dan membukakan gerbang itu untuk Dara. Tanpa berbasa-basi Pak Satpam mempersilahkan Dara masuk karena sang pemilik rumah sudah memerintahkan kepada Pak Satpam itu. Karena sudah dipersilakan, Dara pun masuk dan berjalan menuju pintu utama. Ia pun memencet bel.
Tinong.
Baru beberapa detik pasca ia memencet bel, sang pemilik rumah langsung menampakkan batang hidungnya.
"Beneran dateng?" tanyanya langsung.
"Iya iyalah. Kakak gak percaya sama gue?"
"Kita mau belajar di mana?" tanya Abhay.
Dara menatap Abhay heran. "Kok nanya? Harusnya gue yang nanya. Ini kan rumah Kakak."
"Oh iya yah," timpal Abhay sambil memasang wajah begonya.
Dara menghentikan langkahnya, karena matanya menangkap tempat yang sepertinya cocok untuk dijadikan tempat belajar mereka. "Di situ oke kayaknya. Di situ aja deh," ucapnya sambil mengarahkan pandangannya pada sebuah ruang keluarga.
"Ya udah deh."
Dara meletakkan buku-bukunya di atas meja, dan mendudukkan tubuhnya di atas karpet berbulu yang begitu lembut. Mereka akan belajar lesehan di sana.
"Buku Kakak di mana?" tanya Dara heran karena melihat Abhay yang malah ikut duduk tanpa membawa satu buku pun.
"Buku apa?"
"Buku buat belajar lah."
"Gak ada."
"Sama sekali?!" tanya Dara ngegas.
"Iya."
"Buku yang Kakak tulis?"
"Ya ada. Tapi gue jarang nulis, jadi gak bisa dipake belajar," jawab Abhay tanpa beban dan tanpa ada rasa malu.
Dara membuang nafas kasar, ia menahan rasa kesalnya. Abhay ini benar-benar menguji kesabarannya. Katanya mau belajar, tapi gak ada buku sama sekali! Terus belajarnya pake apa Bambang!
Dara mengelus dadanya berulang kali, saat sudah meredakan emosinya, Dara kembali menatap Abhay penuh harap. "Buku yang kemarin beli. Pasti ada kan?"
"Balok kayu itu! Gak ah. Liatinnya aja gue-"
Abhay tak jadi menyelesaikan ucapannya karena melihat Dara yang malah berdiri dan mengambil buku-buku itu. Dara sepertinya akan pergi.
"Gue pulang aja deh. Kakak udah bohongin gue!" tukas Dara, ia sungguh tak bisa lagi meredam emosinya. Dan baru saja Dara melangkahkan satu kakinya, lengannya langsung dicengkeram oleh Abhay.
"Ya udah gue ambil," ujar Abhay menurut. Buru-buru Abhay beranjak dari duduknya dan pergi menuju lantai atas untuk mengambil buku itu.
Tak berselang lama, Abhay turun dengan membawa buku jumbo itu. Lalu Abhay meletakkan bukunya di atas meja dengan raut yang begitu tertekan.
"Dah. Coba baca-baca buku itu aja," ujar Dara.
Abhay pun membuka buku itu dengan kasar. Sembari membuka-buka buku itu, berulangkali Dara mendengar dengusan nafas kasar dari Abhay. Cowok itu terlihat begitu kesal. Namun kembali lagi Dara tak peduli. Malahan raut kesal Abhay dijadikan hiburan olehnya. Kini Dara tak henti-hentinya tersenyum geli melihat Abhay yang terlihat begitu menggemaskan.
Senyum Dara tiba-tiba buyar saat datang Bi Wati yang membawakan minuman untuknya. "Mari diminum dulu Non," ujar Bibi itu.
"Makasih ya Bi," timpal Dara. Ia dengan sigap menerima minuman itu dengan sopan.
"Non bukannya yang waktu itu numpang neduh yah?" tanya Bibi. Beliau sangat ingat wajah anak perempuan itu adalah wajah yang pernah ia lihat pada saat itu.
"Iya Bi."
"Dia pacar saya Bi," tambah Abhay.
Mendengar pengakuan Abhay, Bi Wati langsung tersenyum. Beliau turut merasa senang mengetahui anak laki-laki yang ia urus sejak kecil kini sudah beranjak dewasa dan malahan sudah memiliki seorang kekasih. Bi Wati begitu merasa bahagia.
"Ya sudah. Bibi tinggal yah," pamitnya.
Setalah Bi Wati pergi dari hadapan mereka, Dara pun segera membuka bukunya untuk mulai belajar. Begitu pula dengan Abhay. Walaupun terpaksa, ia tetap mau membuka buku itu hanya sekadar untuk baca-baca saja. Mengerti atau tidak itu urusan belakangan, karena yang terpenting bagi Abhay, ia telah mengikuti apa yang diinginkan Dara.
Sudah hampir dua jam mereka diam tak bersuara apalagi saling melempar omongan. Mereka sama-sama fokus dengan apa yang ada dihadapan mereka. Namun karena sudah terlalu lama, akhirnya membuat Abhay tak tahan. Ia pun mengalihkan pandangannya dari buku itu dan memilih menopang kepalanya dengan tangannya dengan manik mata yang menatap Dara yang sedang serius belajar.
"Ngeliatin nya buku. Bukan gue," ujar Dara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kok lo tau? Katanya belajar."
"Ya tau lah. Orang keliatan dari sudut mata gue."
"Lo gak pusing apa ngeliatin buku terus? Udah hampir dua jam lo gitu terus," ungkap Abhay masih setia menopang kepalanya.
"Namanya juga belajar," jawab Dara enteng.
Kemudian Abhay menutup buku itu dengan kasarnya. "Gak. Gue gak sanggup lagi. Gue nyerah! Baca buku ini malah bikin gue mabok!" tegas Abhay lugas.
"Ya udah." Dara menimpalinya dengan santai.
"Udahan lah belajarnya lanjut nanti malem."
"Kalo malem gue suka ngantuk," ungkap Dara jujur.
"Mau berapa jam lagi? Gue udah bos-"
Abhay menggantungkan pembicaraannya, karena ia melihat kedatangan seseorang yang paling tak ingin ia lihat apalagi di saat-saat seperti ini.
"Ada siapa ini?" tanya orang itu dengan suara berat khas bapak-bapak.
Dara pun turut mengalikan pandangannya saat orang itu mengeluarkan suaranya. Sempat ada keterkejutan dari raut Dara saat ia sudah melihat sosok orang itu. Sosok berumur empat puluh tahunan dengan badan tinggi besar berbalutkan jas yang begitu berwibawa. Dan Dara bisa menebak bahwa seseorang yang ada di hadapannya ini adalah ayahnya Abhay.