Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
32. Kontras kehidupan



Bunda Iis yang sudah selesai beres-beres, ia pun ikut-ikutan nimbrung. Walaupun beliau tak ikut dalam obrolan mereka sebelumnya, namun ia bisa dengan jelas menangkap apa yang sudah mereka bicarakan.


"Ayah jangan nakutin dia ah. Lagian Bunda yakin Abhay ini bisa dipercaya. Iya, kan?" tanya Bunda Iis. Lalu Bunda Iis menatap Abhay dengan senyum manis diberikan kepadanya.


Abhay pun semakin terpojok. Ia sampai meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa kering. Ditambah dengan dukungan bundanya Dara, membuat ia semakin sulit tuk bersuara.


Abhay pun hanya bisa nyengir kuda, mencoba menutupi kebingungannya. "Hm... Iya-Tante," jawab Abhay sedikit gagu.


Kemudian Abhay berpura-pura menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan ia tiba-tiba mendapatkan angin segar saat mengetahui jam menunjukkan pukul enam sore.


"Om, Tante. Kayanya mau malem. Saya langsung pulang aja yah, Om, Tante," pinta Abhay. Ia semakin tak kuat berada di tempat itu yang tiba-tiba saja menjadi sangat menyesakkan.


"Oh udah mau pulang aja. Kenapa gak lebih lama aja di sininya?" tanya Bunda Iis heran.


"Gak Tante. Takut dicariin," ucap Abhay berbohong. Nyatanya tak ada seorang pun yang menantikan kepulangannya.


"Orang tua kamu yah? Yaudah, Tante juga gak bisa ngelarang kamu."


Abhay mengangguk. Ia pun buru-buru memakai jaketnya. Lalu saat Abhay melakukan kegiatannya. Dara pun keluar dari kamar mandi yang ada di ruang makan.


"Kebeneran. Nih Abhay mau pulang, anterin sana," pinta Bunda Iis pada Dara.


"Ya elah. Pulang yah pulang aja kali Bun. Biarin dia keluar sendiri," ceplos Dara sembarangan.


"Dara! Kamu ini!" kesal Bunda Iis. "Udah cepetan anter!"


Dara hanya mendegus kesal. Lagi-lagi dia yang kena. Kenapa kehadiran Abhay malah membuatnya menjadi seperti anak tiri? Dara tak habis pikir.


...****************...


Sesuai apa yang Bunda Iis minta, kini Dara benar-benar menghatarkan kepergian Abhay. Mereka pun kini berjalan beriringan menuju pintu utama. Saat mereka sudah keluar, Dara langsung menimpa Abhay dengan pertanyaan yang sedari tadi ingin sekali Dara tanyakan.


"Gue heran. Kakak kok pinter banget cari perhatian orang tua gue sih?" tanyanya.


"Gue mah apa adanya. Orang tua lo aja yang suka sama gue," jawab Abhay dengan kepercayaan dirinya.


"Masang muka sok alim. Heh. Pengen gue tampol. Beneran deh," ujar Dara geram. Apalagi saat ia kembali mengingat bagaimana wajah Abhay saat berhadapan dengan kedua orang tuanya tadi. Sok-sokan masang muka bayi. Tentu saja hal itu sangat aneh, karena Abhay belum pernah menunjukkannya saat di sekolah.


"Namanya juga di depan orang tua. Masa iya diajak gelut," timpal Abhay tak mau kalah.


"Ya udah sana gih, pulang," usir Dara saat mereka sudah tiba di depan motor Abhay.


Abhay pun segera menaiki motornya. Saat ia hendak memakai helmnya, namun tiba-tiba diurungkan, karena ia ingin mengucapkan sesuatu kepada Dara.


"Tapi sebelumnya, gue serius, gue seneng banget bisa kenal sama orang tua lo. Mereka semua asik," ungkap Abhay.


"Emang orang tua Kakak gak kaya gitu?"


Abhay membatu. Entah kenapa pertanyaan Dara sangat menohok di hatinya. Ia sangat tak berniat tuk menjawab pertanyaan itu dan lebih memilih untuk memakai kembali helmnya. "Udah yah gue pulang," ujar Abhay mengalihkan pembicaraan.


"Eh bentar!" cegah Dara.


"Apa? Katanya gue suruh cepet-cepet pulang," ujar Abhay heran.


"Pokoknya Kakak harus tanggung jawab!" tegas Dara.


Mendengarnya, Abhay semakin bingung. "Tanggung jawab apa? Emang gue ngapain elo?"


"Ya tanggung jawab lah! Gara-gara Kakak tadi gak langsung pergi, masalahnya jadi rumit begini, kan!" ungkap Dara.


"Rumit gimana?"


"Ya Kakak liat sendiri tadi. Bang Andra, Bunda trus Ayah juga. Semuanya udah percaya sama Kakak. Kalo udah gini gimana?"


Abang membuang nafas kasar. Ia sendiri pun tak tahu solusinya. Karena kejadiannya mengalir begitu saja. Jadi yang bisa Abhay katakan hanya...


"Ikutin arus aja dulu," ucapannya santai. Tanpa melihat reaksi Dara, Abhay pun menjalankan motornya.


The real laki-laki tak bertanggung jawab! geram Dara menghantarkan kepergian Abhay.


...****************...


Saat Abhay hendak menaiki tangga atas di mana kamarnya berada, sekilas Abhay melihat sosok yang paling ia hindari sedang duduk di sofa ruang keluarga. Ia hanya melirik sebentar lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa ada niatan tuk menghiraukan orang itu. Namun langkahnya terhenti saat sosok itu ternyata menyadari kedatangannya.


"Jam segini baru pulang! Kemana aja kamu?!" tanya orang itu keras.


Sekali lagi, Abhay hanya melihat sekilas orang itu dan berniat untuk kembali berjalan.


"Abhay! Kamu tidak dengar Papahmu sedang bicara!"


Ya. Orang itu adalah papahnya Abhay. Pak Arief. Kini beliau tengah menatap tajam pada Abhay dengan emosi yang mulai terbangun.


Abhay pun mendesah berat saat papahnya sudah berteriak padanya. Jadi mau tak mau ia harus merespon. Setidaknya, itu membuktikan bahwa ia masih punya telinga.


"Kemana saja kamu?" tanya Pak Arief setelah meredakan emosinya.


"Main," jawab Abhay sekenannya.


"Main? Udah kelas 12 masih main?!" tanya Pak Arief geram.


"Emang apa pedulinya anda?"


"Abhay kamu-" Pak Arief tak melanjutkan perkataannya. Ia memilih tuk mengatur nafasnya agar bisa lebih sabar menghadapi anak tunggalnya.


"Bagaimana pun, kamu itu masih tanggung jawabnya Papah. Kamu itu anak Papah," jelas Pak Arief dengan intonasi suara yang lebih lembut berharap Abhay akan mendengarkannya.


Namun nyatanya, hal itu tak berhasil membuat Abhay luluh. Kini ia malah tertawa kecil, seakan-akan apa yang baru saja papahnya katakan hanya sebuah lelucon.


"Anak? Kalo ada masalah gini aja, baru ngakuin anak. Kemarin-kemarin kemana aja?" tanya Abhay dengan senyum sinis terbentuk di bibirnya.


"Abhay! Kamu kan tau sendiri, Papah jarang pulang karena-" ucapan Pak Arief terpotong.


"Cari pengganti Mamah?"


"ABHAY!"


PLAK!


Sebuah telapak tangan berhasil mendarat mulus ke pipi sebelah kiri Abhay. Pak Arief tak bisa lagi menahan amarahnya lagi saat mendengar omongan Abhay sudah sangat kelewatan. Raut wajahnya pun kini sudah sangat merah karena emosinya sudah benar-benar mendidih.


"Jangan buat Papah jadi jahat yah!" tukas Pak Arief.


Perlahan Abhay memegangi pipi yang menjadi sasaran empuk tangan papahnya. Kemudian ia pun tersenyum miris. "Anak? Masa ke anak kaya gini," ujarnya.


"Abhay. Sekali aja nurut sama Papah. Jadi anak bener, walaupun sekali aja. Bisa, kan?" pinta Pak Arief.


"Gimana mau jadi anak bener, bapaknya aja gak bener," timpal Abhay.


"Abhay, kamu-" ucapan Pak Arief kembali terpotong.


"Udahlah... Anda ke sini cuma mau ngambil sesuatu, kan? Udah langsung ambil aja. Gak usah peduliin kehidupan saya," jelas Abhay.


Bukan tanpa alasan Abhay berani berkata seperti itu. Karena ini bukan kali pertama ia mengalami hal tersebut. Ia tahu, di mana papahnya pulang, pasti ada maksud tertentu. Entah itu mengambil pakaian, uang atau barang-barang yang tertinggal. Lalu tak lama, papahnya pun pergi lagi ke apartemen yang biasa ia tempati. Hanya sebatas itu. Dan ocehan-ocehan papahnya terhadap dirinya, ia hanya anggap sebagai pemanis saja.


"ABHAY! TUNGGU!" teriak Pak Arief saat melihat Abhay yang hendak pergi ke kamarnya.


"Ada apa lagi sih?" tanya Abhay semakin malas.


"Mau sampe kapan kamu kaya gini terus?!"


Abhay kembali mendesah berat. "Mau sampe kapan? Yang bikin saya kaya gini juga karena anda. Jadi tanyakan pertanyaan itu pada diri anda sendiri," ungkap Abhay. Setelah itu ia lebih yakin untuk menaiki anak tangga lagi.


"ABHAY! ABHAY!"


Abhay tak bergeming, ia lebih memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya. Masa bodoh jika papahnya mengganggap dirinya tak memiliki telinga. Setidaknya ia sudah merespon papahnya, walaupun ia sangat malas untuk menanggapi papahnya yang sok peduli terhadapnya.


Saat Abhay tiba di kamarnya. Abhay pun langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk. Ia menghembuskan nafasnya beberapa kali dan memejamkan matanya. Lalu ia tersenyum miris saat ia tak sengaja membandingkan kehidupan keluarga Dara dengan kehidupan keluarganya sendiri. Dan munculah perbedaan yang sangat kontras di sana.


Andai...


Hanya kata itu yang ada di otak Abhay saat ini.