
Jam kegiatan belajar mengajar sudah akan dimulai. Bu Desi pun sudah masuk ke kelas 11 IPA 1 untuk bersiap memberi materi kepada anak-anak didiknya.
Saat Ruby hendak mengambil buku yang berada di dalam tasnya, tak sengaja ia melihat Pak Sugito berjalan melewati depan kelasnya.
Loh Pak Sugito! Trus Dara sama siapa? Ruby terheran-heran. Baru saja Dara pergi menemui Pak Sugito, namun orang yang harusnya ditemui oleh Dara malah sedang berjalan-jalan di luar ruangan.
Wah gak beres nih!
Ruby pun tiba-tiba memiliki firasat buruk, sontak ia pun segera menghubungi Dara untuk memastikan bagaimana keadaan Dara. Ia mencoba mengirim pesan teks secara diam-diam di bawah meja.
Dara lo dimana? Gue baru saja liat Pak Sugito jalan di depan kelas kita.
Send to Dara.
Drett.
Baru saja Ruby memencet tanda kirim, ia langsung mendengar suara getaran HP berada di dalam tas Dara. Untuk mengecek, Ruby membuka tas Dara, lalu mendapati gadget Dara yang ada di dalamnya.
"Anjir. Hpnya gak di bawa lagi," geram Ruby lirih. "Gimana ini. Kok perasaan gue gak enak."
Ruby semakin gelisah, ia pun berusaha memutar otaknya agar bisa mengetahui keadaan Dara. Dia tak mungkin izin keluar kelas, mengingat sebentar lagi ulangan harian akan segera dimulai. Jadi cara apakah yang tepat untuk memecahkan masalah ini? Seketika nama Abhay terbesit di otak Ruby.
Apa gue kasih tau Kak Abhay aja yah, kali aja dia mau denger, pikirannya dalam hati.
Ruby pun mengambil gadget Dara, untung dia tau kata sandi ponsel Dara. Lalu tanpa pikir panjang, ia langsung mengotak-atik ponsel itu di bawah meja. Ia mengetik nama Abhay, namun sialnya tak ada nama Abhay dalam daftar kontak Dara.
"Mana lagi nomernya. Masa Dara gak nyimpen nomernya."
Ruby pun mencoba mengscroll scroll layar, memerhatikan satu persatu nama-nama di kontak Dara. Namun tetap tak ada nama yang berhubungan dengan Abhay. Tak lama ibu jari Ruby berhenti menggulir saat matanya menangkap nama yang sangat aneh di sana.
"Penagih hutang? Siapa ini penagih hutang?" tanya Ruby heran.
Ruby pun mengingat-ingat lebih dalam lagi saat mengetahui nama itu. Karena istilah itu sangat tidak asing di otaknya.
Hutang hutang hutang, Ruby mengulang-ulang kata itu di otaknya.
Kemudian bola mata Ruby membulat saat ia baru saja mengetahui arti kata itu. Ia ingat, Dara pernah bercerita padanya kalau Abhay ingin Dara menjadi pacarnya hanya untuk menagih hutang. Jadi ia bisa menyimpulkan bahwa si penagih hutang itu adalah Abhay.
Tanpa pikir panjang Ruby menekan fitur chat, untuk menghubungi si penagih hutang itu.
Permisi, Kak. Ini Ruby temennya Dara. Gue mau ngasih tau kayanya ada yang ngejailin Dara deh. Soalnya tadi Dara disuruh ke Pak Sugito sama anak yang gak dikenal. Tapi anehnya gue baru aja ngeliat Pak Sugito lewat di depan kelas. Kalo Kakak mau, tolong mastiin di mana keberadaan Dara yah. Kalo Dara udah balik ke kelas, gue kasih tau Kakak.
Send to Penagih utang.
Semoga gak terjadi apa-apa sama Dara, harap Ruby.
...****************...
Drett.
Saku celana Abhay tiba-tiba bergetar. Saat mengetahuinya, Abhay seraya mengambil gadgetnya untuk mengetahui siapa yang telah mengirimkannya pesan teks. Dan Abhay sedikit tak percaya, saat mengetahui nama 'mainan gue' yang telah mengirimkannya pesan.
Abhay membaca pesan itu dengan teliti. Saat sudah selesai, ia menutup gadgetnya dan berdiri untuk meminta izin pada Pak Dadang yang sedang mengajar di kelasnya.
"Pak, saya izin ke belakang," izin Abhay. Lalu langsung diberi anggukan oleh Pak Dadang.
"Silahkan."
Tanpa berlama-lama lagi, Abhay langsung beranjak pergi dari bangkunya.
"Bhay, ikut Bhay. Abhay!" seru Gilang lirih saat Abhay berjalan melewati bangkunya.
Namun Abhay tak menghiraukan permintaan Gilang, ia memantapkan langkahnya untuk pergi dari sana seorang diri.
"Anjir Abhay nyuekin gue!" geram Gilang karena ia baru saja dicueki oleh Abhay.
Dari belakang, Vano yang menimpali kekesalan Gilang.
"Udah lo jangan ikut. Dia lagi punya misi," ujar Vano.
"Misi?" Gilang kebingungan. Apa misi yang Vano maksud?
Vano hanya tersenyum tipis. Biarlah dia yang tahu kejadian sebenarnya. Kenapa Vano bisa tahu? Tentu saja ia ikut-ikutan melihat saat Abhay sedang membaca isi pesan tadi.
Kini beralih pada Abhay. Dengan langkah setengah berlari Abhay pergi menuju ruang BK, untuk memastikan apakah Dara benar-benar ada di sana. Namun sayang, saat ia sudah sampai di sana, ia melihat dari jendela tak ada satu orang pun yang ada di dalam sana. Hal itu meyakinkan dirinya bahwa memang ada sesuatu yang sedang menimpa Dara.
Ia pun mencoba mencari Dara di ruangan-ruangan di sekitar sana. Ia mencoba mencari di laboratorium, namun tak ada Dara di sana. Lalu ia beralih mencari di ruangan lainnya, namun tetap tak ada. Sampai ia melirik-lirik ke arah toilet wanita, namun Dara tetap tak ada di sana.
Hingga mata Abhay seketika terhenti pada sebuah gudang biologi yang tak jauh darinya. Perlahan Abhay mendekati gudang itu yang tiba-tiba sangat menarik perhatiannya.
Saat ia mendekati pintu yang terbuka itu, betapa terkejutnya Abhay saat melihat Dara yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di keningnya.
"Dara!"
Tanpa pikir panjang, Abhay segera menghampiri Dara dan membopong tubuh itu untuk segera dibawa ke ruang UKS.
...****************...
Setelah hampir 15 menit terpejam, kini kedua netra Dara perlahan membuka. Ia langsung mendapati pemandangan yang sangat tidak asing di matanya. Karena ia ingat, belum lama ini ia juga mengalami hal serupa. Jadi ia bisa langsung tahu bahwa ia sedang berada di UKS.
Dara langsung memegangi keningnya. Dia ingat terakhir kali keningnya itu berdarah, namun kini ternyata keningnya itu sudah terbalut oleh perban.
Kemudian Dara menoleh ke arah kanannya, dan langsung mendapati Abhay yang tengah duduk di sampingnya. "Kak Abhay."
Lalu Dara memaksakan dirinya untuk duduk.
"Gue udah baik-baik aja kok," timpal Dara.
"Lo lagian lagi ngapain sih di sana? Trus kok bisa kening lo berdarah-darah kaya gitu?" tanya Abhay.
"Gue dijebak."
"Sama?"
"Angel ReSe,"
"Hah? Rese?" tanya Abhay tak paham.
"Iyah. Angel, Rere dan Selly. Mereka kayanya niat ngunciin gue di gudang. Tapi mereka kayanya gak sengaja dorong gue ke lemari, trus patung yang ada di atas lemari itu jatuh deh ke kepala gue," jelas Dara.
Abhay langsung meng-oh ria. Pantas saja tadi mereka bertiga telat masuk kelas, ternyata sedang menjaili Dara dahulu.
"Kenapa mereka ngelakuin itu?"
"Kakak pikir? Ya karena cemburu lah," jawab Dara.
Abhay termenung. Apa sebegitu sukanya Angel padanya, sampai Angel berani melakukan hal seperti itu? Abhay tak habis pikir.
"Trus lo mau ngelaporin mereka?" tanya Abhay lagi.
"Gak."
"Kok gak?" tanya Abhay heran.
"Karena gue gak ada bukti," kata Dara. "Udahlah biarin aja. Gue nya juga masih hidup."
Abhay langsung tersenyum miring setelah mendengar pernyataan Dara. "Aish. Lo bener-bener cewek freak. Masih bisa-bisanya lo bilang kaya gitu."
"Nih yah. Kalo lo enggak buru-buru gue selametin, mungkin sekarang lo masih ada di sana," tambah Abhay.
Dara pun mendesah berat. "Iya deh. Terima kasih udah nyelametin gue," ujar Dara dengan wajah datarnya.
"Tapi tunggu. Kok Kakak bisa tau?" tanya Dara tiba-tiba. Karena setelah pikir-pikir, ini kan masih jam belajar. Jadi kok bisa Abhay masih berkeliaran di luar?
"Orang temen lo ngechat gue," ungkap Abhay.
"Ruby? Kok bisa? Emang dia punya nomer Kakak?"
"Pake nomer lo."
Dara pun tersadar, ia lupa bahwa ia meninggalkan ponselnya di dalam tas. Kalau saja dia tadi membawa ponselnya, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.
"Tapi kok Kakak peduli?" tanya Dara lagi.
"Lo udah gue selametin malah banyak nanya lagi," geram Abhay.
"Ya gue penasaran aja."
Abhay kembali termenung. Apa ia harus memberi tahu alasan sebenarnya kepada Dara?
"Gue dikasih beban sama bokap elo," ungkap Abhay.
"Ayah? Beban gimana?"
"Katanya gue disuruh ngejagain elo selama di sekolah. Ya gue mau nggak mau," ujar Abhay.
"Tapi kenapa Kakak mau ngedengerin ayah gue. Kan Kakak bisa gak peduli. Lagian gak ada yang tahu ini," balas Dara.
Mendengarnya, Abhay pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia juga tak tahu, mengapa ia menuruti permintaan ayahnya Dara? Dan benar juga kata Dara, lagi pula tak akan ada yang mengetahui tindakannya. Jadi untuk apa Abhay peduli?
Untuk menutupi kebingungannya, Abhay pun berdecak kesal. "Nyesel gue nolongin elo, banyak ngomong," ujar Abhay mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang gue gantian nanya," kata Abhay tak mau kalah.
"Lo nyimpen nomer gue? Gue kira lo gak sepeduli itu sama gue. Kenapa?" tanya Abhay.
Dara pun menyikapinya dengan santai. "Ya supaya gue tahu aja kalo itu nomer Kakak. Semisal Kakak nelpon gue, gue gak perlu ngejawab dulu. Gue langsung biarin aja," ungkap Dara.
"Wah... Lo licik juga ternyata," ucap Abhay dengan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ya dong."
"Udah, karena lo udah bangun, sekarang lo pulang. Kata Bu Sekar lo harus pulang, takutnya nanti pusing lo kumat lagi," jelas Abhay
Berhubung tadi Bu Sekar sedang ada kelas, jadi beliau tak bisa berlama-lama menunggu Dara. Jadilah Abhay yang menawarkan diri untuk menemani Dara. Dan Bu Sekar pun menyetujuinya lalu meminta Abhay untuk menyampaikan pesannya tadi.
"Tapi hari ini gue kan ada latihan," seru Dara.
Abhay kembali berdecak mendengar perkataan Dara.
"Gak nyangka, lo masih mikirin itu sekarang," ungkap Abhay. "Udah lo sana pulang. Apa mau gue anterin?" tawar Abhay.
Dara seraya tersenyum licik. Memangnya ia tak tahu maksud terselubung dari tawaran Abhay.
"Ngarep! Gue tau supaya Kakak bisa sekalian kabur, kan?" tebak Dara. "Gue pesen taxi online aja," lanjutnya.
Abhay terdiam saat mendengar tebakan Dara. Padahal ia sendiri tak berpikir ke sana. Karena sesungguhnya, tawaran itu datang dari keinginannya sendiri.