
"Dari pada diaduk-aduk gak jelas, mending buat gue," ujar Dara yang tak tahan melihat Ruby yang terus mengaduk-ngaduk minuman tanpa ada niatan untuk meminumnya.
"Lo gak tanyain gue kenapa?" tanya Ruby dengan raut wajah mendung dan masih setia mengaduk minumannya.
Dara menunggingkan sebelah bibirnya merasa aneh. Masa iya dia harus bertanya padahal dia tidak ingin bertanya. Namun kalo tidak segera diladeni, Ruby pasti tidak akan menghentikan sikapnya jika belum mengeluarkan unek-uneknya. Dengan terpaksa, Dara pun menuruti keinginan Ruby.
"Lo kenapa?" tanya Dara malas lalu kembali menyeruput minuman miliknya.
"Gue masih kepikiran nasib Kak Andra," ungkap Ruby.
Dara memutar bola matanya. Dia pikir ada suatu hal besar yang telah menimpa temannya. Namun ternyata penyebabnya adalah kakaknya sendiri.
"Kasihan banget Kak Andra sampe gak bisa jalan," lanjut Ruby.
Tak lama, Ruby menghentikan aksinya yang sedari tadi mengaduk-aduk minumannya. Lalu ia mendongakkan kepalanya menatap Dara.
"Tapi mukanya masih aman, kan?" tanya Ruby tiba-tiba.
Dara lantas mengerut keningnya merasa aneh dengan pertanyaan yang baru saja Ruby lontarkan.
"Kenapa lo nanya itu? Trus kalo muka Bang Andra kenapa-kenapa, lo gak suka lagi? Gitu?" tuduh Dara.
Ruby berdecak sebal. "Bukan gitu maksud gue," kata Ruby. "Maksudnya, sayang aja kalo muka seganteng Kak Andra jadi kenapa-kenapa. Keindahan alam itu jangan sampe rusak, mubazir," jelas Ruby.
Kini Dara yang berdecak. "Keindahan alam. Lo pikir abang gue hutan Flores!" ucap Dara ngegas.
"Ih... Perumpamaan Dara," ucap Ruby. "Tapi masih aman, kan?" tanyanya lagi.
"Aman Ruby... Tenang! Oke! " jawab Dara tegas.
Setelah mendengar jawaban Dara, Ruby langsung bernafas lega dan sepertinya hatinya pun ikut mengucapkan syukur. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keindahan alam itu benar-benar rusak.
"Duh gue kepengen banget besuk kakak elo. Tapi sekarang gue ada les privat," ungkap Ruby.
"Besok-besok juga bisa," ujar Dara. Ia kembali menyeruput es jeruknya yang akan habis.
"Menurut lo, bagusnya gue sambil bawa apa yah nanti?"
Dara membuang nafas kasar. Sekalinya ia bertanya, namun Ruby tak henti-hentinya berbicara dan terus bertanya. Bahkan hal remeh seperti itu pun harus bertanya juga.
"Uang segepok!" ujar Dara geram.
"Ih... Itu mah elo nya aja yang mau!" seru Ruby.
"Ya lagian pake dipusingin segala. Orang besuk dimana-mana yang terpenting kehadiran elo. Bukannya hadiah. Aneh banget lo."
"Ya setidaknya dengan gue ngasih sesuatu, hati Kak Andra bakal bergetar gitu."
Dara kembali berdecak. "Bergetar mata lo soek! Jangan lebay gitu deh. Jijik banget gue dengernya," seru Dara.
"Ih biarin aja sih!" kesal Ruby dan langsung memasang bibir lima senti.
Di tengah perdebatan mereka, terdengar derap sepatu yang perlahan mendekati mereka. Tak lama sang pemilik sepatu itu mendekati meja Dara dan Ruby, orang itu pun memanggil salah satu dari mereka.
"Dara."
Merasa terpanggil, Dara pan mendongak. "Kak Rakha. Ada apa?" tanya Dara sopan kepada Rakha.
"Bisa ngomong sebentar?" pinta Rakha.
"Boleh. Mau ngomong apa, Kak?"
Rakha menengok ke kanan dan kiri untuk mengecek keadaan kantin. Dan ternyata keadaan kantin masih begitu ramai dengan orang yang masih berlalu-lalang. Jadi karena kondisi yang tidak memungkinkan, Rakha berniat untuk mengajak Dara ke tempat lain.
"Kita bicaranya bisa di tempat lain gak? Di sini terlalu rame," pinta Rakha.
Dara sempat bingung saat Rakha ingin mengajaknya ke tempat lain hanya untuk berbicara. Jadi Dara bisa menyimpulkan bahwa apa yang akan Rakha bicarakan pasti hal yang sangat penting.
"Boleh." Dara pun segera berdiri untuk memenuhi apa yang Rakha minta. Tak lupa ia pun berpamitan dulu kepada Ruby.
"By. Gue pergi sama Kak Rakha dulu yah. Nanti langsung ke kelas aja," pamit Dara.
Ruby yang masih cengo, hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. Karena pikirannya sedang sibuk memahami situasi yang sedang terjadi. Hingga Dara sudah pergi dari hadapannya, Ruby masih berkutat dengan kebingungannya.
"Mau bicara? Tapi di sini terlalu rame? Berarti ke tempat sepi dong?" gumam Ruby bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Kira-kira mereka mau ngapain yah?"
...****************...
Tempat yang Rakha pilih ternyata sebuah lorong dekat tangga yang cukup sepi. Tentu tempat itu sangat cocok bagi orang yang ingin berbicara empat mata.
"Mau ngomong apa, Kak?" tanya Dara saat mereka sudah saling berhadapan.
Tak lama, Rakha merogoh sesuatu di saku celananya, lalu memberikannya pada Dara. "Ini."
Dara meraih apa yang Rakha ulurkan, dan yang diberikan oleh Rakha adalah sebuah brosur.
"Wah... Event taekwondo!" seru Dara sangat bersemangat. Ia pun segera membaca brosur itu dengan teliti.
Dara seraya mengangguk cepat kepalanya tanda mengiyakan. "Mau banget dong!"
Dara memang selalu senang dan antusias jika sudah mengetahui ada event-event seperti ini.
"Lo wajib ikut sih. Apalagi event ini juga terbilang gede, karena bukan dari dalam kota aja yang ikut, tapi luar kota juga. Dan pastinya hadiahnya pun pasti lumayan," jelas Rakha.
"Bener-bener menarik," ujar Dara masih setia meneliti setiap tulisan yang tertera di brosur itu dengan senyum indah terlukis di bibirnya.
Rakha yang melihat senyuman itu langsung tertegun. Tak lama bibirnya pun tanpa sadar ikut terangkat juga.
"Kakak sendiri gimana?" tanya Dara kini dengan netra yang beralih melihat Rakha. Dan ia sempat mendapati Rakha yang tengah tersenyum entah karena apa.
Rakha yang tertangkap basah, langsung memudarkan senyumannya. Ia mencoba menetralisir keadaan dengan berpura-pura batuk dan langsung memasang muka bingung.
"Hm... Sorry. Gimana tadi?" tanya Rakha karena tak sadar apa yang sudah Dara katakan.
"Kakak gimana? Ikut, kan?" ulang Dara.
"Pasti ikut dong!" jawab Rakha dengan yakin.
"Jangan lah, Kak. Kasih kesempatan orang lain buat menang," ujar Dara, yang secara tak langsung menyajung kehebatan Rakha.
Rakha pun terkekeh kecil saat Dara berbicara seperti itu. "Lo ngomong gitu, yakin banget gue bakal menang?" tanya Rakha.
"Yakin seratus persen!" timpal Dara dengan sangat yakin.
"Gue juga yakin, lo juga bakal menang nanti," ujar Rakha. Alhasil mereka pun saling menyanjung satu sama lain.
"Aamiin," timpal Dara dengan kedua tangan menutupi wajahnya bermaksud mengaminkan.
"Oh iya. Eventnya nya kan minggu depan. Jadi mulai besok kita akan ngadain latihan rutin sepulang sekolah," ungkap Rakha.
"Oh gitu," seru Dara. "Oke oke."
Setelahnya Rakha terdiam. Lebih tepatnya, ada satu hal lagi yang harus ia sampaikan kepada Dara.
"Oh ya. Gue boleh sekalian minta tolong?" pinta Rakha tiba-tiba.
Dara mengerutkan keningnya heran, karena tiba-tiba saja Rakha meminta bantuan kepadanya. "Tolong apa, Kak?" tanyanya
"Tolong kasih penjelasan sama Abhay," ucap Rakha.
Dara sempat bingung dengan permintaan Rakha. Di saat seperti ini, kenapa Rakha menyinggung Abhay? Dan apa hubungannya?
Tak lama, Dara teringat kejadian kemarin saat Abhay yang menantang Rakha untuk bertarung. Ia pun seraya membulatkan mulutnya.
"Oh... Iya ya ya gue ngerti," ujar Dara. "Lagian Kakak gak usah pedulian tantangan dia. Biarin aja. Gak penting ini," lanjutnya.
"Ya tapi gue nya juga udah mengiyakan. Kalo gue gak nepatin janji, namanya gue pengecut."
Dara tersenyum tipis mendengar pernyataan Rakha. Harus diakui bahwa Rakha benar-benar gentle. Rakha tak mau membatalkan apa yang sudah ia janjikan, di saat jadwal padat sudah menantinya.
"Iyah, Kak. Nanti gue bilangin. Gue akan bilang kalo Kak Rakha lagi jaga kesehatan buat event ini. Semoga aja dia bisa ngertiin," jelas Dara.
"Kalo enggak?"
"Kalo enggak, gue hajar aja muka dia!" timpal Dara bersemangat dengan mengepalkan sebelah tangannya. Dan hal itu membuat Rakha terkekeh melihatnya.
"Kok lo malah pro ke gue? Abhay kan pacar elo?" tanya Rakha tanpa menghilangkan kekehannya.
"Hah pacar! Kakak bercanda yah?" timpal Dara sambil terkekeh juga. Dan jadilah mereka saling tertawa satu sama lain.
Kemudian. Bagai terpanggil oleh alam. Orang yang mereka bicarakan tak lama menunjukan batang hidungnya. Lalu, apakah ini yang dinamakan dengan panjang umur?
"Kayanya ada yang ngeghibain gue nih!" ujar Abhay yang kini sudah berhadapan dengan mereka.
Lantas mereka pun langsung menghentikan tawa mereka.
"Ngomongin gue yah?" tebak Abhay.
Bukan Dara yang menjawab, dan bukan Rakha pula yang menjawab. Yang menjawab adalah suara toa sekolah menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai kembali.
Mendengarnya, Dara pun langsung mengucapkan syukur. "Alhamdulillah bel. Kak gue duluan yah," pamit Dara pada Rakha.
"Ah iya ya. Jangan lupa besok yah," ujar Rakha.
"Siap, Kak!"
Tak butuh waktu lama, Dara pun langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Besok? Kalian mau ngapain?" tanya Abhay saat Dara sudah meninggalkan mereka. Tak bisa dipungkiri, bahwa ia pun ikut kepo juga.
"Yang jelas gak ada urusannya sama lo," jawab Rakha. Tanpa ingin melihat reaksi Abhay, Rakha pun turut pergi dari tempat itu.
Abhay tertawa miris melihat reaksi kedua manusia yang baru saja ia hadapi. Apakah kedua manusia itu baru saja mencueki dia? Abhay benar-benar tak habis pikir.
"Anjir! Pada nggak sopan banget sama gue," ujar Abhay setengah kesal.