
Orang pertama yang membulatkan matanya saat mendengar tebakan Ayah Leo adalah Dara. Karena ia sendiri pun tidak membicarakan hal itu kepada Ayahnya. Namun siapa sangka, ayahnya sudah lebih dulu tahu hanya dengan menerka wajah Abhay. Lalu Dara pun berpikir, Apakah sebegitu kentaranya image bad boy yang melekat pada Abhay?
Mendengar pernyataan Ayah Leo, Abhay sempat tersenyum miring, lalu ia berkata, "Ya, Om. Lebih tepatnya saya itu anak nakal. Suka berantem, bolos, kadang juga tawuran. Saya memang bukan anak berprestasi seperti orang di samping saya ini. Saya memang anak begajulan," ucapnya sangat jujur dengan tanpa ragu.
Dan lagi. Dara dibuat terkejut dengan situasi yang sedang ia hadapi kini. Ia tak menyangka Abhay benar-benar akan menjawab keinginannya saat itu. Kak Abhay bicara fakta di depan orang tua gue? Apa gak salah? Pikir Dara.
Lalu bagaimana respon kedua orang tua Dara saat mendengar pengakuan Abhay? Apakah akan terkejut? Atau sampai marah? Atau akan langsung melarang Abhay untuk dekat dengan Dara?
Namun yang terjadi sebenarnya adalah.
"Ya gak masalah. Namanya juga anak muda. Jadi hal seperti itu sudah sangat wajar," ujar Ayah Leo santai.
Kali ini, bukan Dara saja yang terkejut dengan jawaban Ayah Leo, namun Abhay pun sama terkejutnya. Ia pikir, ia akan dimarahi oleh ayahnya Dara, namun responnya malah begitu.
"Kalo boleh jujur, Om pun waktu muda bukan golongan anak seperti Rakha ini. Justru Om itu kaya kamu. Bolos, suka berantem, pokoknya nakal deh," jelas Ayah Leo yang tiba-tiba mengungkapkan masa mudanya.
"Seriusan dulu Ayah juga nakal?" tanya Andra, karena ia juga baru mengetahuinya.
"Iyah. Kalo gak percaya tanya aja Bunda kamu."
Bunda Iis pun menggangguk mengiyakan. "Iyah. Ayah emang dulunya nakal pake banget. Bunda aja sampe pusing awal-awal ngehadepin Ayah kamu," jelas Bunda Iis.
"Makanya, kamu waktu sekolah nakal juga karena ada turunannya. Ya karena Ayah," ucapnya pada Andra.
Andra pun manggut-manggut, ia jadi tak penasaran lagi kenapa ia nakal saat bersekolah dulu.
"Jadi, Om gak akan ngelarang saya deket sama anak Om, walaupun Om tau saya begitu?" tanya Abhay memastikan.
"Ya enggak lah!" jawab Ayah Leo tegas.
Saat Ayah Leo memberi jawaban seperti itu, Abhay seraya menatap Dara. Dari tatapannya seolah berkata, See, i just did it. Jadi Abhay meminta Dara untuk tak usah penasaran lagi dengan hal itu.
"Asalkan nanti saat kamu sudah dewasa, kamu harus sedikit demi sedikit merubah karakter kamu yang seperti itu. Apalagi kalo sudah sampai ke jenjang pernikahan, karakter seperti itu wajib harus dihilangkan," tambah Ayah Leo. Beliau malah melebarkan ucapnya dengan membicarakan pernikahan.
"Ayah Leo ngomong gitu, emang udah yakin banget kalo Abhay sama Dara bisa sampai ke pernikahan?" tanya Andra, ia mewakili pertanyaan orang-orang yang ada di sana.
"Yang namanya jodoh mana ada yang tau," balas Ayah Leo sambil tersenyum jahil.
Melihat Ayah Leo menggoda Dara dan Abhay, sontak membuat Andra dan Bunda Iis pun ikut terkekeh mendengarnya. Lalu Abhay dan Dara sama-sama terkejut dengan apa yang diucapkan Ayah Leo. Dan Rakha. Ia memaksakan dirinya untuk mengikuti candaan mereka, dengan berpura-pura ikut tersenyum.
...****************...
Acara makan makan pun akhirnya selesai dilaksanakan. Abhay dan Rakha pun tak ada alasan lagi untuk mempertahankan mereka di sana. Dan Dara sendiri, ia diperintahkan oleh Bunda Iis untuk menghantarkan kepulangan mereka berdua di depan gerbang.
"Gue pulang yah. Makasih buat makan-makannya," ucap Rakha, yang sudah lebih dulu menyalakan motornya untuk pulang.
"Iyah Kak Rakha. Maafin Bunda gue yang udah ngerepotin Kakak buat dateng ke sini," jelas Dara.
"Oh enggak kok. Justru gue seneng bisa diajak ke sini," ucap Rakha. "Ya udah gue pulang yah," pamitnya lagi .
Dara pun mengangguk."Ya Kak. Hati-hati yah."
Tak lama Rakha pun menjalankan motornya dan pergi dari kediaman Dara.
Dara beralih melihat Abhay yang tengah terdiam di atas motornya tanpa ada niatan untuk pergi juga. Dengan heran, Dara pun bertanya. "Kakak gak mau pulang?"
"Ngomong apa?"
"Tadi lo udah liat sendiri, kan. Gue udah nurutin apa yang lo mau. Gue udah bicara fakta di depan keluarga lo. Tapi apa? Keluarga lo malah gak mempermasalahkan itu," jelas Abhay menyangkut hal tadi.
"Kalo pun waktu itu gue bilang begitu, pasti jawabannya akan tetep sama. Jadi lo jangan salahin gue tentang hal ini," ucapnya lagi pada Dara.
"Iya iya... Gue ngerti," balas Dara sedikit sewot. "Ya udah katanya mau pulang," ucapnya lagi mengalihkan pembicaraan.
"Iya ini juga mau pulang," balas Abhay.
"Ya udah cepetan sono pergi," usir Dara tak berperasaan.
Abhay yang tadinya hendak memakaikan helmnya pun menjadi tak jadi setelah Dara dengan sangat jelas mengusirnya dengan kasar. Ia pun tersenyum miris, karena ia baru saja diperlakukan sangat berbeda dibanding dengan Rakha tadi.
"Tadi aja Rakha diomongin, 'maafin yah', 'hati-hati yah'. Kok ke gue kasar amat!" seru Abhay sedikit kesal.
"Kakak mau diomongin hati-hati juga?" tanya Dara menebak keinginan Abhay.
"Gak usah. Dah basi!" timpal Abhay kesal.
Berhasil membuat Abhay kesal, Dara pun terkekeh kecil saat melihat ekspresi Abhay yang langsung bad mood terhadapnya.
"Dih ngambek," ujar Dara. Sambil terkekeh, Dara pun berkata. "Ya udah. Hati-hati Ayang," ucapnya tiba-tiba.
Abhay yang mendengar sangat jelas apa yang baru saja Dara katakan, ia langsung membeku dalam sekejap. Ia langsung menatap Dara tak percaya.
Dan Dara yang niatnya hanya bercanda, ia pun langsung memberhentikan kekehannya saat melihat respon Abhay yang malah tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Heh. Kok Kakak diem? Kok malah serius? Respon omongan gue dong. Gue cuma bercanda tadi!" seru Dara. Jujur saja ia langsung tak nyaman dengan respon Abhay yang malah menanggapinya dengan wajah serius.
Abhay pun segera menyadarkan dirinya setelah Dara memberi penjelasan. "Oh, becanda. Gue kira-"
"Jangan ngadi-ngadi!" sergap Dara. Karena ia sudah menduga apa yang akan Abhay katakan. Dan ia tak mau mendengarnya.
Namun tetap saja. Walaupun Dara sudah memberi penjelasan, suasana canggung masih berlanjut menyelimuti mereka berdua. Mereka sama-sama kikuk dan linglung.
"Ya... Udah. Gue pulang," pamit Abhay dengan nada suara terdengar sangat canggung.
"Ya... Udah-sana," timpal Dara yang sama canggungnya.
Abhay pun segera memakai helmnya dan menjalankan motornya pergi dari hadapan Dara.
Setelah Abhay benar-benar pergi dari pandangannya, Dara pun langsung menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Aish. Dara! Lo ngapain sih pake becanda begitu! Jadi aneh kan tadi!" geram Dara.
Dara pun masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia memegangi dadanya yang mendadak aneh.
Gue juga kenapa. Gue yang ngajak becanda, gue juga malah degdegan sendiri!
...****************...