Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
81. Pengakuan



Walau wajah itu ditutupi dengan buku, Dara sangat yakin bahwa orang yang tengah terlelap itu adalah Abhay. Seketika ia tersenyum jahil. Ia berniat mengulangi tindakan yang sama.


Pelan-pelan Dara mendekati Abhay dan menyingkirkan buku yang menutupi wajah Abhay sehati-hati mungkin supaya lelaki itu tak bangun. Dan berhasil. Dengan sedikit ancang-ancang Dara mengangkat tangannya mengarah pada hidung Abhay. Saat tangannya sudah terangkat dan siap memimpet hidung Abhay, tiba-tiba.


Hap! Lalu ditangkap.


Tangan Dara lebih dulu ditangkap oleh Abhay. Ternyata cowok itu menyadari kehadirannya.


"Hayo mau ngapain?" tanya Abhay. Lalu ia membuka kedua netranya dan segera membangkitkan tubuhnya. Ia pun terduduk tepat di hadapan Dara.


Dara menyeringai. "Mau jailin Kakak," jawabnya jujur tanpa beban.


"Lagian Kakak ngapain sih pagi-pagi udah tidur di sini? Bolos belajar lagi yah? Gue kira Kakak udah berubah jadi lebih rajin," omel Dara.


"Kelas gue lagi bebas. Jadi mending gue tiduran di sini, lebih tenang, dari pada di kelas berisik," timpal Abhay beralasan.


Dara tak kembali mengomel, karena Abhay pun tak salah juga. Karena sudah wajar jika di hari pertama masuk sekolah beberapa guru memutuskan untuk membebaskan waktu mengajar mereka. Hanya segelintir guru killer yang bersikukuh untuk langsung memberi materi. Dan untungnya Dara dan Abhay memiliki nasib yang sama.


"Ya udah Kakak lanjutin tidurnya aja, gue juga mau lanjut cari buku," ucap Dara sekaligus pamit.


Dara sudah bersiap menenggak badannya kembali namun tindakannya terurungkan karena Abhay secepat kilat segera menahan lengannya, jadilah ia yang kembali terduduk.


"Lo gak bisa pergi gitu aja dong. Udah bikin gue bangun, malah mau pergi gitu aja. Lo harusnya tanggung jawab dulu," ucap Abhay tak terima.


"Tanggung jawab apa?"


"Ya lo harus bikin gue tidur lagi kaya tadi!" lanjut Abhay berpura-pura kesal padahal ia mempunyai niat terselubung.


"Ya trus Kakak mau gue ngapain? Kalo tidur ya tidur aja kali. Tinggal berbaring kaya tadi. Kenapa dibikin ribet?" omel Dara. Ia tak mengerti dengan pola pikir abhay. Masalah tidur saja harus dipertanggung jawabkan. Aneh.


"Udah ah gue mau pergi," pamit Dara untuk kedua kalinya.


Saat Dara hendak membangkitkan tubuhnya kembali, tubuhnya didudukkan kembali oleh Abhay.


"Kakak mau apa sih?" tanya Dara.


Bukannya menjawab, Abhay malah bertindak seenaknya. Karena tanpa permisinya, Abhay malah menyadarkan kepalanya pada bahu milik Dara.


Sesaat Dara pun menjadi membeku, matanya ikut membulat karena saking kagetnya. Abhay kembali berulah, lelaki itu selalu punya cara untuk mengejutkannya. Dan kini Dara sudah tak bisa bergerak lagi.


"Seenggaknya lo harus jadi sandaran kepala gue selama gue tidur," ucap Abhay dengan mata yang sudah tertutup dan kepala yang benar-benar menempel pada bahu Dara.


"Kak yang bener aja?" tanya Dara memastikan bahwa permintaan Abhay tadi hanya sekedar candaan.


"Kak."


"Kak Abhay!"


"Kak ini di sekolah. Kalo ada yang liat gimana?"


"Kak Abhay!" seru Dara terus-menerus.


Namun Abhay tak menjawab, Abhay benar-benar diam tak bersuara. Sekilas Dara menengok wajah Abhay untuk memastikan bahwa lelaki itu benar-benar terlelap atau tidak. Dan ternyata benar, Abhay sepertinya bersungguh-sungguh dengan permintaannya. Lelaki itu sudah terlelap dengan mata yang sudah tertutup rapat. Melihat itu Dara pun membuang nafas pasrah. Kini ia sudah menjadi sandaran sekaligus bantal bagi Abhay. Dan rencana untuk mencari buku pun akhirnya gagal.


Sudah hampir sepuluh menit Abhay tertidur dalam sandaran Dara. Selama itu pula keadaan menjadi sangat sunyi senyap. Dara juga beberapa kali menengok ke arah kanan kirinya, berjaga-jaga barangkali ada orang yang melihat mereka. Karena kalau sampai ada yang memergoki mereka, pasti akan runyam urusannya. Mereka akan dikira sedang berpacaran, walaupun kenyataannya memang begitu.


Tak lama, suara getaran ponsel Dara memecahkan kesunyian. Lalu Dara pun segera mengecek ponselnya. Dan ternyata Ruby yang telah mengirimkannya pesan.


Ruby.


Gimana sih? Katanya mau cari buku, kok malah pacaran?


^^^Me.^^^


^^^Wkwkwk. Sorry yah :)^^^


^^^Gue juga gak tau bakal kek gini. Tiba-tiba aja gue ketemu Kak Abhay di sini.^^^


Ruby.


Kalo jodoh emang gitu yah.


Ya udahlah cari bukunya nanti aja. Gue juga mau leha-leha aja di sini.


Puas-puasin aja sono pacarannya.


^^^Me.^^^


^^^Okeh. Terima kasih temen gue yang paling pengertian.^^^


Dara tersenyum simpul membaca isi pesan terakhir Ruby. Temannya memang yang paling mengerti dia. Jika bukan Ruby, mungkin orang lain akan kesal melihat situasi itu, karena Dara yang merencanakan dan Dara juga yang mengingkari.


"Dara," panggil Abhay tiba-tiba tanpa melepaskan sandaran itu.


Mendengar Abhay yang bersuara, Dara mengalihkan perhatiannya dari ponsel pada Abhay. "Apa?" tanyanya lembut.


"Gue boleh tanya sesuatu sama elo?" tanya Abhay.


"Tanya aja. Biasanya juga langsung nanya," ujar Dara.


"Tapi ini serius," tambah Abhay.


"Emang apa?"


Abhay menenggakan kepalanya kembali, ia melepaskan sandaran itu. Lalu ia sedikit menggeserkan posisi duduknya agar lebih mantap untuk melihat Dara. Ia tak main-main dengan ucapannya, karena kini ia benar-benar sudah memasang mode serius.


"Waktu lo ngobrol sama bokap gue, gue tau, pasti itu bukan pembicaraan biasa, kan?"


Dara seketika membeku, ternyata Abhay membahas hal itu. Dara yang sempat lupa dengan topik itu, kini pikirannya kembali terbangun saat Abhay malah mengingatkannya. Dan satu hal lagi yang Dara tak percaya. Mengapa Abhay bisa tahu bahwa saat itu dia dan Pak Arief telah membicarakan hal penting?


"Jadi gue minta sama elo. Coba lo jujur sama gue. Apa yang udah bokap gue omongin sama elo?"


Dara berpikir keras. Sebenernya dari awal pun ia berniat akan memberitahu hal ini pada Abhay. Hanya saja ia akan menunggu dulu waktu dan keadaan yang tepat. Lalu, apakah ini waktu yang tepat itu?


Setelah berpikir singkat, Dara rasa memang ini adalah waktu yang tepat. Jadi ia memutuskan untuk menjelaskannya sekarang.


"Iyah Kakak bener. Sebenernya waktu itu gue sama papahnya Kakak abis ngomongin hal penting. Dan maaf gue sempet boong sama Kakak karena waktu itu gue belum siap. Gue masih nunggu waktu yang tepat buat ngejelasin semuanya. Dan kayanya ini waktu yang tepat," ucap Dara memulai penjelasannya.


"Jadi apa?" tanya Abhay.


"Sebenernya gue diminta sama papahnya Kakak buat ngebujuk Kakak," tutur Dara.


"Ngebujuk apa?"


"Papahnya Kakak minta kalo Kakak ..."


Dara menjeda ucapannya sejenak. Ia membuang nafas pendek. Ia sudah siap untuk mengatakannya.


"Kuliah ke Amerika."