Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
72. Holiday is coming



Tiga hari kemudian, kini hari pembagian rapot telah tiba. Dan kini Dara serta Ruby sudah duduk di bangku mereka untuk bersiap menerima rapot hasil nilai mereka selama satu semester ini.


Sembari menunggu Bu Desi yang belum tiba di kelas, Dara beberapa kali melirik-lirik ke arah Ruby yang kini sudah menjadi orang yang pendiam. Padahal sudah lewat tiga hari pasca drama makan-makan itu, namun selama itu pula Ruby masih terlihat murung.


"Udah Ruby. Ini udah tiga hari, lo masih kepikiran juga?" tanya Dara. Ia sudah tak tahan lagi untuk tidak bertanya.


"Tiga hari belum lama. Jelas lah gue masih kepikiran," jawab Ruby lemas dengan pandangan entah kemana.


"Ya terus gimana? Lo jangan gini terus dong! Semakin lo kaya gini semakin gue terus ngerasa bersalah," seru Dara sedikit ngegas. Ia benar-benar geram.


"Kenapa lo ngerasa bersalah?"


"Ya ngerasa lah. Kalo aja gue gak nurutin amanah bunda gue buat ngundang elo saat itu, pasti lo gak akan kaya gini," jelas Dara.


"Kalau pun gue gak ke sana, pasti nantinya gue bakal tau juga. Jadi lo gak usah ngerasa bersalah," kata Ruby.


Lalu Ruby menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ia kembali bersuara. "Lagian ini salah gue juga. Gue yang terlalu mengagumi kakak elo sampe kaya orang gila. Dan bodohnya, gue bahkan sempet berharap lebih," jelasnya dengan diakhiri oleh sebuah senyuman miris.


Dara pun turut menarik nafas panjang, lalu ia membuang nafas itu dengan kasar. "Ruby! Lo jangan kaya gini lah. Gue lebih nyaman kalo lo itu cerewet!" tutur Dara dengan intonasi suara yang terus meninggi, karena ia semakin geram melihat Ruby yang malah mengasihani diri sendiri.


"Udah yah. Cari pengganti abang gue," ucap Dara lebih lembut. Ia mencoba mencari jalan keluar.


Ruby tersenyum miring mendengar perkataan Dara. Lalu ia kembali bersuara. "Luka yang tergores walaupun cuma sedikit gak akan langsung sembuh dalam beberapa hari aja. Walaupun udah sembuh, masih butuh waktu lagi sampe bekasnya bener-bener ilang," jelasnya.


Kini Ruby mengalihkan pandangannya pada Dara dan menatap temannya itu sendu. "Intinya gak segampang itu Dara."


Dara mengeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Kini Ruby sudah bagaikan orang yang paling tersakiti.


"Ruby Ruby. Gimana kalo posisinya elo pacaran sama abang gue terus diputusin. Gue gak bisa ngebayangin gimana lo bakal ngehadepinnya nanti," tutur Dara.


Ruby kembali membuang wajahnya acuh dan berkata, "mungkin gue udah bunuh diri," ujarnya enteng.


Dara membelalakkan matanya. Ia sangat terkejut dengan perkataan tak diduga-duga Ruby. "Wush!! Ruby! Lo ngomong sembarangan aja deh," ucap Dara geram.


"Emang kenapa? Lagian mustahil ini. Mana mungkin juga gue pacaran ama kakak elo. Mimpi kali," timpal Ruby dengan raut memelasnya. Lalu ia menyibukkan dirinya dengan ponselnya bermaksud tak ingin memperpanjang obrolan menyakitkan itu.


Di sisi lain, Dara semakin tak tega melihat Ruby terus begini. Ia sendiri bingung harus bagaimana ia menghibur temannya agar kembali ceria. Apakah dia yang harus mencari pengganti abangnya agar Ruby bisa lupa? Tapi bagaimana caranya? Karena ia sendiri bisa mendapat pacar karena kejadian tak disengaja, boro-boro ia bisa mencomblangkan seseorang. Jika sudah begini, yang bisa Dara lakukan hanyalah menunggu waktu. Menunggu sampai Ruby bisa lupa dengan sendirinya, walaupun entah sampai kapan.


...****************...


Pembagian rapot pun telah selesai, anak-anak di SMA Nusa Bangsa diperbolehkan langsung pulang setelah mereka telah menerima rapot mereka. Terlihat wajah orang-orang kegirangan saat mereka sudah menerima rapot. Bukan karena puas dengan nilai mereka, namun kenyataan bahwa mereka akan berlibur selama dua minggu lah yang membuat mereka sangat bergembira. Tak terkecuali dengan Dara dan Abhay. Kini mereka berjalan menuju parkiran untuk pulang juga.


"Asik libur panjang!" seru Abhay antusias.


"Asik rebahan sepuasnya di rumah!" timpal Dara tak kalah antusiasnya.


"Loh kok cuma rebahan?" tanya Abhay heran.


"Iya terus mau apa lagi?"


"Kita holiday lah, boring banget kalo cuma rebahan di rumah," ungkap Abhay.


"Holiday kemana, Kak?" tanya Dara lagi.


Abhay berpikir sejenak untuk memikirkan tempat yang kira-kira cocok untuk dipakai liburan mereka berdua. Namun jika dipikirkan dadakan seperti ini, sangat sulit baginya untuk menemukan jawabannya. Untuk itu ia berniat memikirkannya nanti sembari ia akan mencari referensinya juga di internet.


"Nanti gue pikirin deh. Pokoknya gue bakal cari tempat yang bagus buat holiday kita berdua. Tapi lo mau, kan?" tanya Abhay pada Dara.


Kini Dara yang berpikir. Sebenernya ia mau-mau saja jika diajak pergi oleh Abhay, bahkan ia menyukai itu. Namun dari ajakan Abhay, ia tiba-tiba teringat seseorang. "Oke gue mau. Tapi gue gak mau kalo cuma berdua doang," ujarnya.


"Maksudnya mau ngajak-ngajak orang lain? Gak enak banget," timpal Abhay tak suka.


"Namanya juga holiday, lebih rame kalo banyakan orang. Masa berdua doang," jelas Dara.


"Ya trus lo mau ngajak siapa?"


Yah. Ruby. Dara berniat mengajak Ruby untuk pergi berlibur bersamanya. Mungkin ini juga sebuah ide yang bagus. Di saat Dara ingin menghibur Ruby yang kini tengah murung, siapa tahu saja Ruby sedikit demi sedikit bisa melupakan Andra jika ia membawanya pergi berlibur.


"Bocah itu? Kenapa sih?" tanya Abhay.


"Kak. Gue tuh kasihan ngeliat temen gue sekarang murung terus. Jadi sekalian gue mau coba ngehibur dia," jawab Dara apa adanya.


"Gara-gara Bang Andra?"


"Ya iyah, apa lagi."


Abhay membuang pandangannya malas dan bernafas kasar. Seperti praduganya dari jauh-jauh hari, ia sudah menduga pasti hal ini akan terjadi. "Kan gue udah bilang sebelumnya kalo temen lo jangan berharap lebih sama abang elo. Eh malah gak percaya," ujarnya.


"Jangan ngomong gitu lah, Kak. Gimana kalo Kakak jadi posisi dia? Menyukai sepihak. Apa gak kecewa?" Dara mencoba meminta pengertian dari Abhay.


"Gak tau tuh. Soalnya cewek yang gue suka balik suka ke gue. Jadi gue gak tau rasanya," timpal Abhay dengan kepercayaan dirinya.


Melihat tingkah kepedean Abhay yang sudah sangat mendewa, Dara memicingkan matanya sinis dan tersenyum miring. "Songongnya lo, Kak," ucapnya.


"Emang iya, kan?" tanya Abhay sangat yakin.


Dara tak menjawab. Mana mungkin juga ia menjawab iya, walaupun kenyataannya memang begitu. Yang ada nanti Abhay malah semakin membanggakan dirinya sendiri.


Merasa dicueki, Abhay malah melebarkan senyumnya. Ia mengusap puncak kepala Dara dengan gemas karena Dara tak mau mengakui itu. "Udah gak usah jawab, gue udah tau kok," ucapnya.


"Tapi lo beneran serius mau ngajak temen lo?" tanya Abhay lagi setelahnya.


"Iya Kak. Gue serius. Malahan gue mau ngajak temen-temen Kakak juga," ungkap Dara tak terduga.


Spontan Abhay pun membelalakkan matanya cukup terkejut. "Apa! Lo jangan bercanda deh!" ujarnya.


"Seriusan Kak. Kalo misalkan gue cuma ngajak Ruby doang, yang ada dia malah ngerasa jadi lalat ijo. Kasian kan dia," jelas Dara.


Abhay pun bungkam. Bener juga yah, katanya dalam hati. Memang rasanya akan aneh jika hanya menambahkan satu orang saja. Seperti kata Dara, tambahan satu orang hanya akan menjadikan orang itu seperti lalat ijo. Syukur-syukur jika Ruby yang menjadi lalat ijo, namun jika dirinya bagaimana? Hal itu tak menutup kemungkinan untuk bisa terjadi mengingat Dara yang katanya ingin menghibur Ruby. Tapi jika ia harus mengajak kedua teman gesreknya, membayangkannya saja Abhay tak sudi.


"Tapi gue gak mau ngomong ke mereka," ujar Abhay. Mereka yang ia maksud adalah Gilang dan Vano.


"Biarin aja, gue yang bakal ngomong sendiri. Gue kan punya nomer Kak Vano," ungkap Dara.


"Apa?! Lo punya!!" Abhay kembali terkejut untuk kedua kalinya. Kejutan macam apa lagi ini, sejak kapan Dara memiliki nomer Vano? Dan bagaimana bisa?


"Iyah," jawab Dara enteng.


"Kok bisa?!"


"Ya bisa lah."


Abhay menahan lengan Dara agar berhenti berjalan. Ia harus mengetahui jawabannya. Bagaimana jika terjadi suatu hal penting yang ia tidak tahu. "Gak! Lo harus jelasin ke gue! Kok bisa lo punya nomer Vano?!" tanyanya memaksa.


"Ya ada lah. Gak penting. Kakak gak usah tau," jawab Dara masih santai.


"Gak! Gue harus tahu!!" Abhay terus memaksa.


Dara membuang nafas kasar. Lagi-lagi sikap keras kepala Abhay kembali kumat. "Yang jelas dibalik itu semua gue dan Kakak bisa seperti ini," ungkap Dara begitu ambigu.


Abhay pun menautkan kedua alisnya tak mengerti. "Maksudnya?"


Dara hanya menjawabnya dengan melontarkan sebuah senyuman manis, tak lama ia melangkahkan kakinya kembali dan meninggalkan Abhay dalam kebingungan.


"Dara! Yang jelas lah kalo ngomong!" teriak Abhay di belakang punggung Dara yang semakin menjauh.


"Dara!!" panggilnya lagi, namun tetap Dara tak ingin menghiraukannya.


Dan selama Abhay memanggilnya, selama itu pula Dara terus mengutaskan senyumannya. Ingatkah saat Vano memberikan nomernya pada Dara tepat saat kejadian di atap rumah sakit itu? Yah. Dara belum menghapusnya. Karena disaat ia melihat nomer kontak Vano, disaat itu pula Dara selalu mengingat kejadian di atap itu. Kejadian yang membuatnya dan Abhay akhirnya bisa bersatu dengan sebuah ikatan resmi.