
Abhay terperangah saat melihat meja yang ada di hadapannya terdapat banyak sekali jenis makanan. Bisa dibilang, ini lebih cocok dihidangkan saat pesta atau acara-acara besar lainnya. Namun jika sekedar untuk makan keluarga, ini sangat-sangat berlebihan.
"Maaf Tante. Ini kok banyak banget yah?" tanya Abhay, mulutnya sangat gatal untuk tidak bertanya.
"Oh... Tante sengaja, itung-itung ngerayain kepulangannya Andra. Trus juga Tante sama Om kan baru pulang dari dinas, jadi pasti kangen dong kumpul bareng kaya gini lagi," ungkap Bunda Iis.
"Oh..." ujar Abhay manggut-manggut.
"Bu Iis bohong. Setiap hari juga makanannya selalu banyak begini," ujar Andra tak setuju.
"Gak sebanyak ini. Paling 5 sampe 6 lauk."
Andra tersenyum miris mendengarnya. "Paling katanya."
Ya begitulah ibu-ibu. Dikatakan masak kangkung dan tempe saja disebutnya tidak ada lauk. Lalu kangkung dan tempe disebut apa? Agar-agar? Entahlah bagaimana ibu-ibu lain di luar sana. Apakah berpikiran seperti itu juga?
"Udah-udah jangan bertele-tele, kita langsung santap aja!" seru Andra tak sabar.
Baru saja Andra hendak mengambil piring, namun tangannya langsung ditepis oleh Bunda Iis.
"Eh bentar dulu! Dara nya juga belum turun," ujar Bunda Iis.
"Aish. Anak itu. Dari tadi ngapain aja sih? Lama bener!" kesal Andra tak sabar.
"Katanya lagi ganti baju," kata Bunda Iis. "DARA! TURUN, NAK!" teriaknya dari bawah.
"Iyah, Bun!" seru Dara dari atas.
Tak lama Dara pun keluar dari tempat persembunyiannya. Perlahan Dara menuruni anak tangga, lalu berjalan menghampiri mereka yang sudah duduk rapih di meja makan.
Saat Dara sudah tiba, Bunda Iis langsung memperhatikan apa yang Dara pakai di tubuhnya. Kaus polos hitam dan celana pendek selutut. Bunda Iis seraya menggelengkan kepalanya tak percaya. "Alamak. Ini anak perawan Bunda kok kaya begini?" tanyanya.
"Emang kenapa?"
"Masa perawan pake bajunya kaya gini. Baju polos. Celana selutut," ungkap Bunda Iis.
"Mau maen karet lo?" timpal Andra. Dalam situasi seperti ini, bagi Andra sangat wajib hukumnya untuk meledek adiknya.
"Emang kenapa sih? Lagian di rumah ini," ujar Dara mencoba bersikap bodo amat. Ia pun langsung duduk di kursi yang kosong tanpa ada niatan untuk mengganti bajunya.
"Ya tapi sekarang beda. Kan ada pacar kamu," ujar Bunda Iis sambil melirik ke arah Abhay.
"Hadeh. Lagian kenapa Kak Abhay masih di sini sih?!" Bukannya malu, Dara malah bersikap kurang ajar terhadap Abhay.
"Dara!" kesal Bunda Iis. Jelas hal itu berhasil memantik emosinya.
"Dia emang gitu Bun. Makanya Andra sendiri bingung, si Abhay mauan aja sama si bocah prik kaya gini," ujar Andra mengompori keadaan. Sangat puas hatinya jika sudah melihat adiknya yang tersudutkan seperti itu.
"Dara kamu gak boleh gitu, jaga sikap kamu." Ayah Leo yang sedari tadi diam, kini ikut-ikutan nimbrung karena tak mau suasana menjadi panas saat beliau ingin segera makan.
Merasa dinistakan, Dara langsung mendengus kesal dengan memanyunkan sedikit bibirnya.
Aish. Kenapa gue yang malah dipojokkin sama keluarga gue sendiri sih! Kak Abhay juga, pinter banget pasang topeng sok polos kaya gitu! ujar Dara dalam batinnya.
Lalu ia ditambah kesal lagi saat melihat ekspresi Abhay yang tengah tersenyum senang melihat dirinya sedang tersudutkan.
Tanpa berbasa-basi lagi, mereka semua pun akhirnya memulai apa yang sudah sedari tadi mereka nantikan. Bunda Iis dengan jiwa keibuannya membagikan nasi kepada semua orang yang ada di sana. Tak terkecuali dengan Abhay.
Abhay pun tersenyum simpul saat Bunda Iis memberikan nasi di piringnya. Entah kenapa jiwanya langsung bergetar. Mungkin karena sudah lama sekali Abhay tidak diperlakukan seperti itu. Jika tidak salah hitung, sudah 3 tahun lamanya Abhay hanya bisa makan seorang diri tanpa dibantu oleh sosok yang biasa ia panggil, Mamah.
Bukan hanya itu. Suara gesekan piring dan canda ria di ruang makan, suasana seperti ini juga yang selalu Abhay rindukan. Namun ia sadar, hal itu tidak akan pernah Abhay rasakan lagi. Mungkin untuk selamanya.
Sekitar setengah jam mereka menghabiskan waktu makan mereka bersama. Setelah selesai, Bunda Iis sibuk membereskan makanan di atas meja, lalu Dara sendiri langsung pergi ke kamar mandi, Andra pun sudah pergi ke kamarnya karena perutnya sudah kenyang. Jadi di meja makan itu, hanya menyisakan Abhay dan Ayah Leo di sana.
"Kamu kelas berapa?" tanya Ayah Leo. Beliau kembali mengintrogasi Abhay lagi, setelah sebelumnya terpotong.
"Saya kelas 12, Om," jawab Abhay sopan.
"Kakak kelas Dara ternyata," kata Ayah Leo. "Betah sama Dara?" tanyanya.
Mendapat pertanyaan yang tak di duga-duga. Abhay langsung bingung, "Ee... Gitu deh, Om." Akhirnya kalimat itu yang bisa Abhay lontarkan.
"Harus betah dong!" ujar Ayah Leo meyakinkan Abhay.
Lalu Ayah Leo memposisikan dirinya menjadi lebih tegak, agar ia lebih enak untuk bercerita.
"Nih yah Om kasih tahu. Selama Dara hidup, baru pertama kali Dara bawa laki-laki ke rumah. Dan baru pertama kali juga dia punya pacar. Makanya Om kaget sekaligus seneng akhirnya ada kemajuan dalam hidupnya Dara," jelas Ayah Leo.
"Tapi kenapa Om?" tanya Abhay heran.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa Om seneng? Kebanyakan orang tua kan nggak ngebolehin anaknya buat pacaran," jelas Abhay.
Apa yang Abhay katakan memang benar. Kebanyakan orang tua lebih banyak menuntut anaknya untuk lebih fokus dalam belajar, dan menyampingkan berpacaran. Namun kenapa kedua orang tua Dara berbeda? Maka dari itu Abhay bertanya.
"Karena Om juga pernah muda. Dan dengan ngeliat Dara, Om ngeliatnya miris banget. Masa mudanya cuma berangkat sekolah, belajar, paling latihan taekwondo, trus pulang. Monoton," jelas Ayah Leo.
"Jadi dengan kalian berpacaran, paling enggak Dara bisa ngerasain indahnya masa muda. Biar nanti tuanya gak nyesel. Tapi inget! Pacarannya sewajarnya aja," lanjut beliau dengan menekankan kalimat terakhirnya.
Abhay pun tersenyum tipis. "Iya, Om."
"Jadi Om boleh minta sesuatu sama kamu?"
Dan Lagi. Abhay dibuat terkejut oleh sikap Ayah Leo yang kini malah meminta sesuatu darinya. "Minta apa Om?" tanyanya.
"Tolong jagain Dara yah. Om dan Tante kan gak bisa menjaga Dara 24 jam. Jadi minimal kamu jagain Dara di sekolah. Mau, kan?"
Abhay berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk. "Iyah, Om."
Mau tak mau Abhay mengiyakan, masa iya dia menolak. Apa kata ayah Dara nanti, pasti akan curiga.
"Dan satu lagi! Jangan coba-coba nyakitin atau mempermainkan anak Om. Kalo kamu begitu! Kamu nanti bakal Om..." Ayah Leo lalu mengacungkan jempolnya, lalu mengarahkan jempol itu kepada lehernya. Tahu kan maksudnya?
Tak butuh waktu lama untuk membuat Abhay langsung mematung. Bagaimana tidak, ayahnya Dara seperti sengaja menyindir dirinya sendiri.
Mampus! Dara kan mainan gue!