Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
104. Kesialan membawa cinta (END)



"Lo ngapain sih kaya tadi? Kalo ketabrak gimana?" dumel Abhay nampak kesal saat mengingat kembali aksi gila Dara tadi.


"Mobil gue mogok Kak, nanti gue telat. Jadi gue gak bisa mikir jernih lagi," jawab Dara apa adanya.


"Untung gue yang lo cegat. Kalo orang lain gimana, mungkin lo udah dicincang."


"Iyah. Untungnya Kakak. Waktu itu juga untung Kakak. Kalo bukan Kakak, mungkin sekarang kita gak saling kenal."


Penuturan Dara membangkitkan memori mereka. Kenangan beberapa tahun lalu seketika muncul di tengah perjalanan. Kenangan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya dengan cara yang sama seperti apa yang mereka alami tadi. Jika dipikir-pikir sangat lucu memang, bagaimana bisa kejadian itu bisa terulang kembali bahkan sangat percis sekali?


Abhay sendiri, di balik helmnya, sebenarnya ia sedang mengutaskan senyumannya. Ia juga sangat ingat dengan kejadian itu. Dan pasti akan selalu ia ingat di dalam hidupnya.


"Tapi gue serius, tadi bahaya banget. Awas kalo kaya gitu lagi," ucap Abhay melontarkan ancaman .


"Iya iyah maaf," ucap Dara sembari tersenyum manis. Ancaman Abhay justru membawa kesenangan bagi Dara. Karena besar rasa sayang terhadap pasangan bisa diukur dari seberapa besar rasa khawatir yang orang itu berikan. Jadi ia sangat suka jika Abhay sudah khawatir seperti sekarang ini.


Lalu Dara memfokuskan pandangannya untuk melihat jalanan, di situ ia baru tersadar, ternyata Abhay melajukan motornya sangat lambat. Mungkin berkecepatan kurang dari 20 km/jam. Mungkin juga setara dengan orang yang sedang berlari.


"Kak. Omong-omong kok jalannya pelan banget? Nanti kalo telat gimana?" tanya Dara heran.


"Biarin aja, dari pada make up lo ancur. Masa udah dandan cantik-cantik dirusakin sama gue. Kan sayang," balas Abhay.


Dara pun meng-oh ria. Ia merasa bodoh saat tahu Abhay lah yang lebih mengerti dia. "Oh iya yah. Kan sayang yah. Kok gue gak kepikiran?"


"Iyah Sayang, nantinya sayang," ucap Abhay tanpa diduga.


Dara pun langsung mendelik, tak menyangka Abhay baru saja memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Matanya mengerjapkan beberapa kali, memastikan pendengarannya salah atau tidak. Kak Abhay baru aja nyebut gue Sayang?


"Kok diem? Kaget yah gue manggil lo Sayang?" tanya Abhay menyadari Dara yang langsung bungkam saat ia memanggilnya dengan sebutan lain.


Dari ucapan Abhay, Dara pun tersadar, ternyata pendengarannya tak salah. Abhay baru saja memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.


"Iyah. Kakak sih manggilnya tiba-tiba, gue kan jadi kaget," timpal Dara terdengar polos sekali.


Abhay pun terkekeh dengan jawaban polos dari Dara. Kemudian ia berucap. "Kalo dipikir-pikir selama kita pacaran belum pernah panggil kaya gini. Malahan manggilnya lo gue terus. Gak ada romantis-romantisnya. Mulai sekarang kita ganti yah," ujar Abhay tiba-tiba berinisiatif.


"Ganti?" tanya Dara memastikan.


"Iyah, Sayang."


Mendengar Abhay memanggil Sayang untuk kedua kalinya, Dara langsung tertawa geli. Ia seperti merasakan ada seekor kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Rasanya geli sekali, namun anehnya sangat menyenangkan.


"Kok ketawa? Jangan ketawa dong," ucap Abhay saat Dara yang malah menertawakannya.


"Ya habisnya dengerinya aneh," balas Dara disela tawanya.


Saat tawa Dara sudah hampir habis, Abhay kembali membuka suaranya. "Yang," panggilnya pada Dara.


Dara sebenernya ingin tertawa lagi, namun ia takut jika ia tertawa lagi, Abhay akan marah padanya. Jadi ia buru-buru segera tutup mulutnya kemudian dia menarik nafas panjang, dan siap-siap membalas panggilan Abhay.


"Iyah apa.. Sayang?" balas Dara, sedikit kaku saat mencoba mengikuti apa yang diucapkan Abhay.


Sekilas Abhay tersenyum, ia sangat senang ketika Dara menuruti keinginannya.


"Aku boleh minta sesuatu gak?" pinta Abhay. Kini ia benar-benar sudah mempermanis ucapannya. Panggilan 'aku' baru saja ia sebutkan untuknya.


Sambil menahan tawa akibat sebutan itu, Dara tetap bertanya. "Sesuatu apa?"


"Minggu depan ikut aku ke Amerika yah. Kita sekalian liburan di sana," ucap Abhay.


"Pergi ke Amerika?!" tukas Dara terkejut luar biasa.


"Iyah."


"Berdua doang?"


"Yah enggak, nanti aku suruh orang lain ikut buat ngawasin kita," jawab Abhay.


Walau tak diberi tahu lebih dulu, Abhay tahu apa yang dibutuhkan jika ia ingin mengajak Dara pergi berlibur. Dari pengalaman sebelumnya, Abhay tahu, Dara tak ingin pergi berlibur jika berdua saja, apalagi jika tempatnya jauh. Meskipun Abhay berjanji untuk tak melakukan apa-apa terhadap Dara, namun jika sudah terjadi tak akan ada yang tahu. Pencegahan merupakan hal terbaik, dan tentunya akan mudah juga jika ia ingin meminta izin kepada orang tua Dara.


"Berarti gue, eh aku, nanti pulangnya sama orang suruhan Kakak?" tanya Dara lagi.


"Kan Kakak mau lanjut kuliah."


"Siapa bilang mau lanjut kuliah? Aku ke sana lagi karena mau urus-urus kepindahan," ungkap Abhay.


Dahi Dara berkerut. Penyataan Abhay tak masuk di otaknya. "Maksudnya gimana sih?"


"Gitu aja gak ngerti, aku mau pindah kuliah di sini."


"APA!!"


Dara berteriak sangat keras. Laju motor yang lambat tentu saja menimbulkan suara teriakan yang menggelegar di tengah jalan. Namun wajar saja jika Dara berteriak seperti itu. Abhay baru saja memberi tahu sebuah berita besar, salahkah Dara jika ia terkejut sampai berteriak?


"Kak! Serius lah! Jangan bohongi gue!" pekik Dara keras, dan tanpa sadar tak memperhatikan ucapannya.


"Heh. Ngomongnya," tegur Abhay, berharap Dara membetulkan ucapannya.


"Ya maksudnya, yang serius?"


"Serius. Orang dari awal juga aku gak berniat kuliah di sana."


Iya juga sih. Itulah yang Dara ucapkan dalam batinnya. Dara juga tahu bahwa tujuan utama Abhay bersedia kuliah ke Amerika hanya ingin meminta waktu untuk bersahabat dengan dirinya. Dan Amerika hanyalah sebuah pelampiasan. Tapi walau begitu, masih ada satu tanda tanya besar. Bagaimana dengan Pak Arief? "Trus papah Kakak?" tanyanya.


"Dia udah ngizinin. Tapi dengan syarat, kuliahnya harus bener," jawab Abhay.


Dara menganggukkan kepalanya paham. Ada kegembiraan di dalam hatinya. Gembira karena Pak Arief akhirnya mau mendengarkan keinginan Abhay dan tak mengekang Abhay lagi.


"Jadi, kemaren Kakak bohongin gue lagi dong!" tukas Dara tiba-tiba dan lagi-lagi tak memperhatikan ucapannya.


"Apa susahnya sih ngomong aku?" tanya Abhay ketus, ia kesal karena Dara terus salah memanggil.


"Gue. Eh maksud gue. Ya ampun susah banget sih ngomongnya!"


Dara merutuki dirinya, sungguh susah baginya untuk membiasakan diri dengan panggilan baru mereka. Dara sendiri salut dengan Abhay, bagaimana bisa lelaki itu dengan mudahnya langsung terbiasa?


"Maksudnya, jadi kemaren Kakak bohongin aku lagi?" ulang Dara, kini ia sudah memperbaiki ucapannya.


"Gak bohong dong, dari awal kan aku kan gak bilang mau lanjut kuliah di sana," kata Abhay.


"Ya bohong lah. Kakak bilang kan dalam seminggu ini kita harus puas-puasin waktu buat kita. Tapi kan Kakak mau tinggal di sini lagi, berarti gak perlu dipuas-puasin dong," jelas Dara mengungkit kejadian di atap kemarin.


Abhay terkekeh. Dalam hal ini ia membenarkan perkataan Dara. Ia memang berbohong. Karana jika kemarin ia tak berbohong, ia juga tak akan punya alasan untuk bisa menyerang Dara dengan jurus seribu kecupan itu.


"Biasa lah laki-laki. Pengen modus," ujar Abhay terang-terangan.


Kejujuran Abhay yang terlalu jelas membuat Dara geram. Ia pun mencubit pinggang Abhay dengan gemas.


"Aw sakit! Lagi nyetir loh ini," ucap Abhay meringis kesakitan.


"Ya habisnya," pekik Dara berlagak kesal, padahal di balik punggung Abhay, ia sedang tersenyum malu.


"Sok-sokan kesel, padahal suka," celetuk Abhay nampak yakin.


Dara tak menimpali omongan Abhay, Ia malah melebarkan senyumannya. Apakah Abhay ahli dalam membaca pikiran? Bagaimana bisa lelaki itu tahu bahwa ia senang diperlakukan seperti itu?


Dara jadi malu sendiri setelah dituduh seperti itu. Sambil tersenyum malu, Dara menempelkan kepalanya pada punggung Abhay. Kedua tangan Dara yang semula berada di kedua bahu Abhay, lama-kelamaan menurun. Ia berpindah meletakkan tangannya pada perut Abhay dan melingkarkannya di sana. Jadilah posisinya yang memeluk Abhay dari belakang.


Jika ditanya, kapan hari dimana Dara merasakan puncak kebahagiaan? Dara memiliki dua jawaban. Pertama, saat dimana Abhay menyatakan perasaannya di atap senja. Kedua, jawabannya saat ini juga. Sungguh, ini adalah salah satu hari terbaik dimana Dara mendengar kabar baik dari Abhay. Penantian panjang selama setahun, seakan terbayar lunas oleh kenyataan bahwa Abhay akan selalu ada di sisinya.


Di jalan ini juga sebuah kisah mereka dimulai. Berawal dari kata sial yang Abhay ucapkan untuk Dara, kini beralih menjadi sebuah perkataan manis bak gula jawa.


Kesialan membawa cinta. Itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan sepasang insan yang kini sudah saling mencinta. Siapa yang dapat menduga, dua insan tak saling mengenal, dipertemukan oleh sebuah tragedi yang tak mereka duga. Dan kenangan menyebalkan itulah yang malah membawa sebuah takdir bagi mereka.


...~Tamat~...


...****************...


Terima kasih kepada kalian yang sudah setia mengikuti kisah Dara dan Abhay sampai akhir. Cerita ini tak akan ada artinya tanpa adanya dukungan dari kalian. Dan mohon maaf atas segala kekurangan dari cerita ini, yah... Sampai jumpa di lain cerita...


Salam Dara dan Abhay :)