
Tak terasa, kegiatan belajar mengajar di hari Sabtu ini akhirnya berakhir. Semua murid di SMA Nusa Bangsa beramai-ramai pergi menuju kesibukkan mereka masing-masing. Bagi yang tidak mengikuti ekskul, tentu saja mereka langsung pulang ke rumahnya. Namun sebaliknya, bagi yang mengikuti ekskul, mereka diwajibkan untuk mengikuti latihan rutin, seperti hari-hari Sabtu biasanya.
Hal serupa terjadi pada Dara. Kini ia didampingi oleh Abhay, berjalan menuju gedung gimnasium dengan tujuan mereka masing-masing. Dara yang akan menjalani latihan rutin, dan Abhay yang akan memenuhi janjinya untuk bertarung dengan Rakha. Yah. Abhay benar-benar serius dengan pertarungan itu.
"Gue boleh kasih saran?" tanya Dara saat mereka berjalan beriringan.
"Apa?"
"Mending nyerah aja deh. Dari pada nyesel."
Bukannya memberi dukungan, Dara malah mematahkan semangat Abhay yang sedang membara. Tentu saja Abhay tak terima di saat dirinya diminta untuk menyerah.
"Hah? Nyerah? Gak ada kata nyerah dalam kamus hidup gue," ucapnya. "Enak aja nyerah."
"Justru ini demi kebaikan Kakak. Karena gue yakin, pasti Kakak bakal dibikin babak belur sama Kak Rakha." Dara masih berusaha untuk meyakinkan Abhay untuk mengurungkan niatnya.
Abhay memasang wajah tak suka. Perkataan Dara barusan seolah-olah Dara mengharapkan bahwa dirinya yang akan kalah. "Kok lo malah pro ke Rakha? Lo pacarnya siapa sebenernya?" tanyanya.
"Ya bukan masalah pacar-pacar. Gue mah ngasih tau kemungkinannya aja."
Abhay membuang nafas kasar. Sebenernya ia tahu betul bahwa Dara berbicara seperti itu karena Dara menkhawatirkan dirinya. Namun bagaimana lagi. Kejantanan seorang lelaki dilihat juga sebagaimana ia menepati janjinya. Jadi Abhay tak mungkin tiba-tiba mengingkari janjinya yang sudah ia buat sendiri.
"Tenang aja, gue gak bakal babak belur kok. Kalaupun gue babak belur, muka gue tetep ganteng. Lo gak usah khawatir," ucap Abhay mencoba menenangkan Dara namun dengan perkataan yang tak biasa.
Dara menggidik bahunya merasa ngeri. Di saat ia serius, namun Abhay masih sempat-sempatnya narsis. "Dih. Kok jadi kepedean," ucapnya.
"Lah. Emang itu kan ke khawatiran lo sebenarnya?"
"Ngaco!"
Dara termenung, karena kekhawatiran dia sebenarnya bukan itu. Lebih tepatnya gue gak mau Kakak kenapa-kenapa. Namun Dara tak cukup nyali untuk mengatakan itu lewat mulutnya sendiri.
Saat sudah cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di tempat tujuan mereka. Suasananya sudah sangat ramai dipenuhi anak-anak yang akan menjalani latihan. Karena gedung gimnasium itu terbilang besar, dari ekskul taekwondo, silat, balet, bahkan basket secara bersamaan menggunakan tempat yang sama.
"Gue tunggu di atas. Kalo udah selesai latihannya gue turun," ucap Abhay.
Dara hanya mengangguk pelan, dan langsung pergi untuk mengganti seragam putih abunya dengan seragam taekwondo nya. Dan Abhay, ia berjalan menuju bangku penonton yang ada di atas sana untuk menunggu dan memantau Dara dari jauh.
Dara sudah selesai mengganti seragamnya, dan ia segera bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tepat di saat Dara sudah bergabung, Rakha menghampiri Dara.
"Dia beneran dateng?" tanya Rakha tanpa berbasa-basi.
Walaupun tak diberi tahu 'dia' itu siapa, Dara dengan pahamnya segera mengerti bahwa Abhay lah orang yang Rakha maksud.
"Namanya juga keras kepala. Susah dibilanginnya juga," ungkap Dara pasrah. Ia sudah cukup lelah untuk menyakinkan Abhay untuk merubah keputusannya.
Sebenernya tak masalah bagi Rakha untuk melakukan pertarungan itu. Namun yang sedikit mengganjal hatinya adalah, dari raut wajah Dara nampak jelas bahwa Dara benar-bener mengkhawatirkan Abhay. Dara seperti tak mau melihat Abhay yang akan terluka. Mengetahui hal itu, entah kenapa Rakha tak suka melihat raut keputusasaan Dara.
"Ya udah kita langsung mulai aja latihannya," ucap Rakha mengalihkan topik.
Dara mengangguk kecil, dan memposisikan dirinya untuk masuk ke barisan, karena sebentar lagi latihan akan di mulai.
Rakha seperti biasa, ia memimpin jalannya latihan. Di awali dengan perenggangan kecil, lalu dilanjutkan oleh lari mengelilingi lapangan. Saat rangkaian pemanasan sudah selesai dilaksanakan, Pak Firman datang untuk membimbing latihan anak-anak didiknya.
Latihan berjalan lancar karena diberi arahan langsung oleh Pak Firman. Setelah menempuh hampir dua jam mereka menjalani latihan, Pak Firman mengakhiri sesi latihan mereka dan mempersilakan anak-anaknya untuk beristirahat.
Dari kejauhan, Abhay melihat bahwa latihan yang sedang Dara jalani telah usai. Sesuai rencananya, ia segera turun dari bangku penonton dan menghampiri Dara dan Rakha yang tengah beristirahat.
"Udah kan latihannya? Ya udah tunggu apa lagi. Kita langsung mulai aja," ajak Abhay. Ia sungguh tak sabar untuk segera menghajar wajah sok sucinya Rakha.
Abhay berdecak. "Wasit? Mau main bola lu? Ribet amat!"
"Karena gue mau pertarungan yang sehat. Kalo sekedar maen hajar, gue gak mau terjadi hal yang enggak-enggak," jelas Rakha.
"Ya terserah lo deh. Mau wasit kek mau kiper. Yang penting ayok mulai!" ucap Abhay mantap.
Dara sempat melotot ke arah Abhay berharap Abhay akan mengubah keputusan terakhirnya. Walaupun paham dengan maksud Dara, Abhay memilih tak menghiraukannya. Ia malah meleos pergi menuju tengah lapangan, menandakan bahwa ia sangat serius dengan pertarungan itu.
Merasa terabaikan, Dara menghembuskan nafas kasar. Ia mencoba lagi tak perduli dengan keselamatan Abhay. Dasar kepala batu!
Sebelum pertarungan dimulai, Rakha meminta Pak Firman untuk memimpin jalannya pertandingan. Dan untungnya Pak Firman bersedia. Jadi dengan adanya Pak Firman, pertandingan akan terasa adil, dan tentunya dilindungi oleh peraturan.
Kini Abhay, Rakha dan Pak Firman sudah berada di tengah lapangan, tak lama lagi pertarungan akan segera dimulai.
"Baik. Peraturannya simple saja. Pertandingan akan dilakukan tiga babak. Siapa yang paling kuat bertahan, dan tidak banyak jatuh, dia akan jadi pemenangnya. Dan dilarang untuk menyerang bagian tubuh terlarang. Mengerti!"
"Mengerti!" jawab Abhay dan Rakha serentak.
Lalu pandangan Pak Firman teralih saat melihat seragam putih abu yang masih melekat pada tubuh Abhay. "Apa gak masalah kamu pakai seragam putih abu kaya gitu?" tanya beliau.
"Pake apa aja juga gak masalah, Pak!" seru Abhay dengan percaya dirinya.
Pak Firman mengangguk, jika Abhay merasa tak masalah, tak ada alasan baginya untuk menunda pertarungan. Dan kini, Pak Firman sudah berancang-ancang untuk memulai pertarungan.
"Bersedia. Mulai!"
Saat Pak Firman telah memberi aba-aba, Abhay dan Rakha sempat melontarkan tatapan tajam dari kedua pasang mata mereka. Tak lama, mereka pun semakin mendekatkan posisi mereka lebih dekat.
Di posisi mereka yang sudah dekat, dengan secepat kilat Abhay langsung melayangkan pukulannya pada wajah Rakha. Namun sayang, Rakha berhasil mengelak. Lalu Abhay kembali melayangkan pukulannya ke sisi lain wajah Rakha, namun kembali Rakha berhasil mengelak. Ketidakberhasilan Abhay membawa keuntungan bagi Rakha, setelah melihat posisi Abhay yang sudah tak stabil, Rakha langsung mengunci lengan Abhay dan menolakkannya ke belakang hingga membuat Abhay terpelanting ke bawah dan akhirnya Abhay pun lebih dulu mencium matras lapangan.
Abhay pun tersenyum kecut melihat dirinya dibuat jatuh oleh Rakha. Lain halnya dengan Rakha, terlihat jelas dari rautnya bahwa ia tersenyum merasa puas.
"Lumayan juga kemampuan elo," ucap Abhay setelah dirinya kembali bangkit.
"Jangan salahin gue kalo lo kenapa-kenapa," timpal Rakha dengan angkuhnya.
Abhay semakin menyulutkan semangatnya apalagi setelah dirinya baru saja direndahkan oleh Rakha. "Lo kali yang kenapa-kenapa, Anjing! Kepedean banget lo," ucap Abhay sedikit emosi.
"Baik, babak pertama dimenangkan oleh Rakha. Posisi satu kosong!" seru Pak Firman. Lalu ia mempersilahkan kedua petarung untuk memulai babak kedua.
Abhay semakin menajamkan tatapannya pada Rakha. Seakan ia ingin segera menerkam manusia di depannya itu. Dan untuk kesempatan kali ini, ia tak akan terburu-buru. Ia akan menggunakan startegi lain, ia akan mempersilahkan Rakha untuk menyerangnya lebih dulu.
Dan ternyata Rakha menerima pancingan itu, ia langsung melayangkan pukulannya pada Abhay, namun Abhay berhasil menghindar. Kini giliran Abhay yang melayangkan pukulannya, dan kali ini pukulannya berhasil mendarat pada wajah Rakha. Sesaat Abhay merasa senang karena ia berhasil melayangkan pukulannya. Namun tak bertahan lama, Rakha membalas pukulannya. Jadilah mereka yang bergantian saling memukul.
Pertarungan masih terus berjalan, karena belum ada yang terjatuh dari kedua petarung. Abhay yang melihat posisi Rakha yang sedikit lengah, ia dengan cekatannya langsung mengunci kaki Rakha hingga membuat Rakha jatuh tersungkur di matras.
"Wohoo!" Abhay bersorak senang melihat Rakha yang terjatuh karenanya. Ia dengan leluasanya langsung melontarkan senyum kesombongannya di depan wajah Rakha.
"Kedudukan satu sama. Yang bertahan selajutnya adalah pemenangnya," jelas Pak Firman.
Pertarungan semakin seru karena mereka yang sama kuatnya. Dan ditambah seru lagi, karena pertandingan yang kini mereka lakukan, juga dilihat oleh semua orang yang ada di sana. Mereka sampai lupa dengan latihan mereka ketika mereka sudah melihat Abhay dan Rakha kini sedang bertarung dengan sengitnya.
"Babak ketiga, dimulai!"
Kini babak penentuan sudah dimulai. Abhay dengan semangat yang semakin membara sudah siap untuk menghajar Rakha kembali. Ia mencoba untuk melayangkan pukulannya lebih dahulu, dan sialnya Rakha berhasil mengelak. Rakha balik memukul Abhay, dan pukulannya berhasil mendarat di wajah Abhay. Karena kondisi Abhay yang sudah oleng, memberi ia kesempatan untuk mengunci pergerakan Abhay seperti halnya di babak pertama. Namun sayangnya, kali ini Abhay cukup menguatkan pertahanannya, hingga membuat Rakha kesulitan untuk menjatuhkan Abhay. Karena posisi mereka yang begitu dekat, memberi Abhay kesempatan untuk berbisik kepada Rakha.
"Gue mau kasih tau aja sama elo. Bahwa gue sama Dara udah resmi jadian. Kita udah serius. Jadi saran gue, mending lo jauh-jauh dari Dara. Karena dia milik gue," bisik Abhay namun bisa terdengar jelas oleh Rakha.