
Berjalan di tengah keramaian, membuat mereka benar-benar sudah menjadi pusat perhatian di sekolah. Dengan langkah santai, Abhay berjalan membelah keramaian itu dengan raut tanpa beban. Lain halnya dengan Dara, ia sedikit terganggu dengan tatapan itu dan memilih menundukkan kepalanya, lebih fokus memperhatikan langkahnya.
"Bhay! Pajak jadian dong!" seru seseorang, yang tak lain adalah kenalan Abhay yang pernah ikut tawuran pada saat itu.
"Kan udah," jawab Abhay.
"Kan beda lagi. Kalo sekarang pajak jadian beneran!"
"Okeh okeh. Nanti yah," jawabnya lagi. Lalu Abhay kembali melanjutkan langkahnya dan menyamai langkah Dara yang telah mendahuluinya.
Abhay sekilas melirik ke arah cewek yang ada disampingnya, lama kelamaan ia menyadari sikap Dara yang aneh. Dara kini menjadi orang yang pendiam.
"Kenapa lo diem aja? Malu punya cowok kaya gue?" tebak Abhay.
"Bukan karena itu," jawab Dara tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan.
"Ya terus?"
Dara tak menjawab, ia malah terus melangkahkan kakinya tanpa ada niatan untuk menjawab Abhay.
Abhay menahan bahu Dara agar gadis itu berhenti berjalan. Saat sudah berhenti, Abhay menahan bahu Dara lainnya dan menatap Dara dalam. Ia bener-bener menunggu jawaban. "Jadi kenapa?" tanyanya dengan suara yang begitu hangat.
Dara masih tak mau menjawab. Karena ia sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana.
Karena Dara yang tak kunjung menjawab, perhatian mereka tiba-tiba teralihkan saat terdengar suara dua orang siswi yang sedang menggosipkan mereka berdua.
"Liat gak berita kemarin? Pasangan yang katanya terhits itu," ujar siswi itu.
"Dara sama Abhay?"
"Iyah. Mereka akhirnya kemakan permainan sendiri. Gue juga curiga, awal-awal Dara nerima tantangan Abhay buat jadi pacarnya, itu bukan karena dia gak mau kalah, tapi dia nya aja yang udah demen, walaupun rela kalo dimainin juga. Yang penting kan bisa deket-deket Abhay. Iya gak?"
"Bener banget. Lagi pula siapa sih yang gak akan terpesona sama Abhay. Gue juga yakin, Dara sengaja cari gara-gara supaya menarik perhatian Abhay. Dan buktinya sekarang terwujud, dia udah jadi doi benarannya. Bener-bener strategi yang bagus."
"Kalo dipikir-pikir licik juga cewek itu."
Kedua siswi itu dengan mantapnya menggunjing Dara tanpa beban. Mereka sendiri tidak menyadari kehadiran Dara dan Abhay karena posisi mereka yang terhalang oleh tembok kelas.
Bagai api yang tersulut begitu dahsyatnya, Abhay segera menghampiri sang pelaku itu dengan amarahnya yang mulai memucak. Setelah menghampiri mereka, Abhay langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"Siapa yang lo bilang licik?" tanyanya dingin.
Kedua siswi itu serentak menoleh, dan terkejut luar biasa saat melihat Abhay yang sudah berdiri di depan meraka dengan wajah seperti ingin menerkam mereka.
"Pinter banget lo ngarang cerita kaya gitu."
Abhay melangkahkan kakinya lebih dekat dengan mereka. Lalu bergantian menatap mereka dengan dinginnya.
"Gue kasih tau faktanya. Gue yang kemakan permainan gue sendiri. Gue yang terlalu ngejar-ngejar dia. Dan gue yang cinta duluan sama dia!" tegas Abhay dengan suara yang begitu keras. Suaranya sampai membuat mereka semakin ciut, sama sekali tak berani menatap Abhay balik.
"Punya hak apa lo ngomong gitu? HAH!!" lanjutnya. Abhay sungguh melupakan seluruh amarahnya.
Dibentak seperti itu, membuat mereka benar-benar ketakutan. Jangankan ingin menimpali omongan Abhay, yang ada mereka ingin segera pergi dari sana. Namun mereka sadar, kabur bukanlah cara yang tepat, yang ada mereka akan menambah cari masalah. Namun jika meminta maaf, mereka pun belum cukup nyali untuk membuka suara.
"JAWAB!! Tadi kalian lancar ngomong!" bentak Abhay lagi.
Dara yang sedari tadi diam, ia tak bisa diam lagi di saat Abhay yang sudah sangat murka. Ia pun menghampiri Abhay, berniat untuk menenangkannya.
"Kak udah Kak," ujar Dara begitu lembut. Lalu Dara beralih melihat kedua orang itu. "Udah kalian berdua pergi aja," pinta Dara.
Karena sudah diberi izin, mereka segera bernafas lega dan buru-buru pergi dihadapan Dara dan Abhay.
"Kok lo ngebiarin mereka pergi sih? Mereka udah kurang ajar!" seru Abhay dengan sedikit emosinya yang masih tersisa.
"Dah lah biarin aja. Gue juga ngewajarin kok, mereka pasti akan mikir kaya gitu. Karena gue juga sadar apa yang gue lakuin waktu itu emang gak wajar. Dan orang-orang pasti mikirnya gue cuma cari perhatian," jelas Dara. Ia pun menundukkan kepalanya, ia tiba-tiba merasa iba pada dirinya sendiri.
Dari penjelasan Dara, sudah cukup bagi Abhay untuk mengerti semuanya. Jadi inikah alasannya Dara menjadi pendiam? Apa karena pemikiran itu?
"Kok lo jadi gini?" tanya Abhay menatap Dara heran. "Dara yang gue kenal itu bukan kaya gini. Dia selalu bersikap bodo amat. Dia gak pernah peduliin omongan orang," tutur Abhay.
Lalu Abhay melangkah kakinya mendekati Dara yang sedang tertunduk. Ia mengulurkan tangannya memegang dagu Dara dan menengadahkannya agar Dara menatapnya balik.
"Udah. Tolong kembaliin Dara yang dulu. Gak usah mikirin orang lain. Mau kita kemakan permainan sendiri kek, gak usah peduliin! Toh hidup-hidup kita juga. Iya, kan?"
Dengan mata sendunya Dara mendengarkan penuturan Abhay baik-baik. Perkataan Abhay memang tak salah. Ia sendiri bingung mengapa dirinya menjadi seseorang yang sangat berbeda. Ia sadar, dirinya bukan seperti ini. Sifat aslinya memang seperti apa yang Abhay katakan. Sejak kapan ia mempedulikan omongan orang lain? Dara bukan seperti itu!
Perlahan Abhay menurunkan tangannya dari dagu Dara. "Ya udah yuk ke kelas," ajaknya.
Dara mengangguk pelan, ia menuruti perintah Abhay untuk melanjutkan langkahnya menuju kelasnya dengan otak yang terus membenarkan penuturan Abhay. Ayo Dara bersikap bodo amat!
Saat sudah sampai di kelasnya, Dara langsung disambut oleh senyuman jahil dari Ruby. Ia tahu betul apa yang sedang Ruby pikirkan, namun ia juga tak langsung terpancing. Dengan tenangnya Dara berjalan menuju bangkunya.
"Cie ... Cie ... Ada yang go public nih," goda Ruby, sudah tak tahan ia untuk segera menggoda Dara.
Dara mendaratkan bokongnya dengan sempurna di atas kursi, dan melirik Ruby sekilas tak berniat menimpali godaan temannya.
"Selamat Dara! Semoga awet sama Kak Abhay," seru seseorang memberi selamat kepada Dara.
"Pajak jadian beneran nya mana nih?"
"Iyah. Ditunggu yah pajak nya. Hehehe."
Dara tak menimpali omongan teman sekelasnya dan hanya meresponnya dengan seringai senyuman tipis.
"Kok lo gak bilang-bilang ke gue kalo lo ngedate sama Kak Abhay?" tanya Ruby.
"Ya ampun Ruby. Masa dalam hal ini gue juga harus laporan sama elo. Lo mak gue?"
Ruby malah nyengir kuda, ia sendiri sadar bahwa dirinya kelewat kepo. "Hehehe. Ya maaf," ucapnya.
"Makanya cari pacar!" tegas Dara sedikit ngegas. Ia kini sudah berani menyombongkan dirinya.
Ruby membelalakkan matanya lebar, karena Dara dengan badassnya sudah menyidirnya dengan begitu singkat, padat, jelas dan menusuk tepat di hatinya.
"Anjir Dara! Udah punya pacar jadi sombong yah sekarang. Kemaren masih malu-malu, gak mau ngakuin," ucap Ruby sedikit sewot.
"Ya mau gimana lagi? Udah terlanjur pada tau. Apa yang harus dimaluin lagi?" timpal Dara. Kini pemikirannya sudah berubah berkat ucapan Abhay.
"Kalo gue jadi lo sih, gue dari awal gak usah ngumpet-ngumpet. Malahan bakal gue sombongin! Kak Abhay gitu loh, yang gantengnya pol! Beruntung banget lo bisa dapetin dia," jelas Ruby.
Yah. Beruntung. Harusnya Dara merasa beruntung bisa memiliki Abhay. Di samping Abhay yang memiliki paras melebihi standar, Abhay pun sebenernya memiliki hati yang baik yang jarang orang lain ketahui. Jadi dengan penuturan Ruby, semakin membuatnya tersadar bahwa dia satu-satunya orang yang beruntung dan ia patut mensyukuri itu.
...****************...
Di jam istirahat ini, Seperti biasanya Dara dan Ruby sudah berada di kantin untuk mengisi energi mereka. Di tengah fokusnya mereka yang sedang menyantap makanan, datang seorang tak diundang, dan dengan leluasanya langsung duduk di hadapan Dara.
"Gue sekarang udah boleh duduk di sini kan?" tanya Abhay meminta izin kepada Dara.
"Trus temen-temen Kakak?" Dara balik bertanya.
"Biarin aja mereka mah. Udah bosen ngeliatin wajah mereka setiap hari."
"Kalo Dara gimana? Sama Dara juga setiap hari?"
Yang baru saja bertanya adalah Ruby. Mentalnya sudah jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan pada tempo dulu. Kini ia sudah berani menyinggung Abhay dengan santainya.
Menyadari keberanian Ruby, Abhay pun tersenyum kecut dan beralih menoleh pada Ruby yang berada di sampingnya. "Sekarang lo udah lancar ngomong? Gue inget waktu pertama kali gue di sini, lo kaya orang telat dateng bulan. Tegang banget," ledek Abhay dibarengi suara cekikikan.
Ruby hanya mengerucutkan bibirnya saat diledek oleh Abhay. Ia dengan kesadaran dirinya langsung beranjak dari bangkunya. "Dah ah, gue pindah meja. Gue gak mau ganggu kalian," ujarnya.
"Apaan sih By. Udah di sini aja," pinta Dara tak terima.
"Percuma gue kalo di sini juga. Gue cuma jadi lalat ijo!" tegas Ruby lalu mengambil sisa makanannya untuk pindah ke meja lain. Ruby benar-benar serius dengan ucapannya.
Melihat kepergian Ruby, membuat Abhay senang merasa puas. Ia jadi dengan leluasanya bisa berada di dekat Dara tanpa ada seseorang pun yang menganggu mereka.
"Temen lo aja peka. Kok lo enggak?" tanyanya. Abhay menyinggung Dara yang tak peka dengan perasaan Rakha.
Dara hanya diam walaupun ia mengerti maksud pertanyaan Abhay. Sebenarnya di dalam hatinya ia mengelak omongan Abhay. Karana sesungguhnya, bukannya Dara tak peka, namun lebih tepatnya Dara berusaha untuk berpura-pura tak peka.
Di tengah meraka berdua yang sedang asyik mengisi waktu kebersamaan mereka, ada tiga siswi yang sedang memantau mereka dari jauh. Ada yang melihat mereka tak suka, dan ada juga yang memantau mereka dengan tatapan yang tak terbaca.
"Jel liat! Meraka sekarang udah berani buat go public," ujar Rere mengompori Angel.
"Wah Dara benar-bener udah-"
Selly yang berniat untuk menimbrung, menjadi tak jadi menyelesaikan ucapannya karena melihat Angel yang malah pergi meninggalkan mereka.
"Jel lo mau kemana?" tanya Rere heran.
Rere dan Selly memperhatikan dari jauh kemana akan perginya Angel. Tak lama, secara berbarengan mereka membulatkan matanya lebar-lebar karena melihat Angel yang malah menghampiri Dara dan Abhay.
"Wah Angel udah gila sih. Apa dia mau ngelabrak Dara lagi di depan Abhay?"
Ketika sudah menghadapi meja yang Dara dan Abhay tempati, Angel dengan tenangnya menghadapi mereka berdua. Ia pun berdehem. "Hm ..."
Menyadari seseorang yang menghampiri mejanya, Dara dengan refleks menengadahkan kepalanya untuk mencari tahu. Saat sudah melihat, ia langsung terkejut saat mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya. Kak Angel, mau ngapain dia kesini?
"Sorry gue ganggu. Gue cuma mau bilang ..." Angel menggantungkan ucapannya, dan mengulurkan tangannya tepat di depan Dara.
"Selamat atas hubungan kalian. Semoga hubungan kalian bisa bertahan lama," ucapnya dengan suara yang sangat lembut.
Sangat aneh! Itulah yang ada di otak Dara saat ini. Mengapa secara tiba-tiba Angel berubah begitu drastis? Dan lebih anehnya, mengapa Angel repot-repot untuk memberinya selamat? Tindakan Angel yang seperti itu, malah membuat Dara benar-benar kehilangan akal.
Karena Angel yang cukup lama mengulurkan tangannya, perlahan Dara menyambut uluran tangan itu. "I-yah," ucapnya sedikit terbata.
Perubahan sikap Angel bukan saja membuat Dara terheran-heran, Abhay pun turut bingung juga. Namun berbeda dengan Dara, Abhay menutupi rasa herannya dengan ia mengutaskan sebuah senyuman picik kepada Angel. "Habis di ruqyah lo?" tanyanya tanpa dosa.
Angel tak membalas walau ia diledek oleh Abhay. Ia hanya tersenyum tipis dan hendak langsung pergi setelah selesai menyelesaikan niatnya. "Ya udah, gue pergi," pamitnya.
Tak lama, Angel bener-bener pergi dari hadapan mereka dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.
Melihat punggung Angel yang semakin menjauh, membuat Dara masih bertanya-tanya dalam dirinya. Kak Angel. Ada apa sama dia? Kok jadi begini?