
Kegiatan belajar mengajar telah usai, anak-anak SMA Nusa Bangsa berbondong-bondong mempersiapkan diri mereka untuk segera pulang. Sama halnya dengan Dara. Kini ia sedang sibuk membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja. Seperti biasa Ruby selalu meminta izin untuk pulang lebih dahulu, karena ayahnya sudah stand bye saat sekolah belum bubar sekalipun. Sangat berbanding terbalik dengan Andra.
Dan Dara sendiri, entah bagaimana ia akan pulang sekarang, karena ia tak sepenuhnya mempercayai Abhay. Jadi ia berinisiatif untuk naik angkot saja. Karena biasanya tepat di waktu pulang, angkot masih berseliweran di jalan. Jadi Dara tak mengkhawatirkan hal itu.
Saat ia sudah selesai melakukan aktivitasnya, Dara menggendong tasnya lalu berjalan ke pintu keluar. Namun tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sosok berbadan tinggi yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Sontak hal itu membuat Dara terlonjak luar biasa.
"Astaghfirullah! Kak Abhay! Ngagetin mulu!" kesal Dara sambil memegangi dadanya. Ia benar-benar terkejut bukan main.
"Halah. Lebay," timpal Abhay.
Dara berdecak sebal karena Abhay yang malah menanggapinya dengan bercanda. Ia pun tak membalas omongan Abhay dan memilih untuk melangkahkan kakinya menjauhi kelas.
"Mau pulang?" tanya Abhay saat ia sudah menyamai langkah Dara.
"Gak! Mau nginep gue di sini." Kini gantian Dara yang menimpalinya dengan candaan.
"Yeh, orang gue nanya bener. Maksud gue mau pulang ke rumah apa ke rumah sakit?"
Dara bungkam. Ia lupa bahwa Kakaknya sedang berada di rumah sakit. Kenapa jadi lebih ingat Abhay ketimbang dirinya?
"Oh," jawab Dara singkat. Ia menutupi rasa malunya dengan memasang wajah datar.
"Lo mah sewot mulu sama gue. Kenapa sih?!" tanya Abhay geram.
"Ngeliat Kakak bawaannya kesel mulu. Gak tau gue juga," kata Dara tanpa beban.
"Aneh banget lo. Cewek lain liat gue pada terpesona. Kok lo malah kesel."
Dara berdecak. "Udah deh Kak. Kenapa hari ini Kakak sering banget muji diri sendiri?" tanya Dara. Dan Abhay malah membalasnya dengan kekehan kecil.
Sejujurnya Dara pun heran. Kenapa hari ini Abhay sering memuji ketampanannya sendiri? Apa semenjak dipuji oleh ibunya Dara, Abhay langsung percaya diri?
"Ya udah jadi gimana?" tanya Abhay.
"Pulang ke rumah. Bang Andra juga hari ini mau pulang."
Memang pada jam istirahat tadi, Dara sempat dihubungi oleh ibunya bahwa hari ini Andra pulang ke rumah. Walau tidak menyebut kapan waktu tepatnya.
"Lah cepet amat," ujar Abhay heran.
"Ya Kakak juga tau. Waktu kecelakaan juga kaya bukan orang sakit dia mah."
"Iya juga sih," kata Abhay. "Ya udah ayo," ajak Abhay. Lalu ia berjalan lebih dahulu untuk mengambil motornya.
...****************...
Sebuah motor beserta penumpangnya sudah tiba di tempat tujuan. Dara pun bersiap turun dari motor itu. Baru saja Dara menurunkan sebelah kakinya, Abhay tiba-tiba langsung berbicara.
"Gak mau bilang makasih?" sindir Abhay.
Mendengarnya, Dara pun menurunkan sebelah kakinya lagi dengan kasar. "Baru juga mau ngomong," ujar Dara ketus.
"Ya udah cepetan ngomong."
Dara sempat meringis geram. Ternyata orang yang haus akan terima kasih memang ada. Ya contohnya orang di depan Dara ini.
"Makasih," ujar Dara tak tulus.
"Gak ikhlas banget ngomongnya," balas Abhay tak terima dengan ucapan terima kasih Dara.
Dara menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba bersabar untuk menghadapi watak Abhay.
Sabar Dara, Sabar! ujarnya dalam hati.
Dara pun menatap wajah Abhay dengan seksama. Ia pun sampai mendadak membuat senyuman palsu agar terlihat tulus di mata Abhay. "Terima kasih banyak Kak Abhay," ucapnya dengan suara dilembutkan.
"Nah gitu dong," seru Abhay dengan senyum kemenangan, karena tak menyangka Dara akan menurutinya.
Baru saja Dara hendak melangkah kakinya masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkan mereka berdua.
tint tint tint.
"Siapa tuh?" tanya Abhay. Ia pun menoleh ke belakang untuk mencari tahu.
Dan Dara. Ia langsung memasangkan wajah panik saat mengetahui suara klakson itu berasal dari mobil keluarganya.
"Aish... Kak Andra udah pulang!" kata Dara panik. Ia pun menoleh ke arah Abhay dengan cepat. "Kak Abhay cepet sekarang pulang! Cepet!" perintah Dara.
Dara tak mau seluruh anggota keluarganya sampai melihat Abhay. Karena ia sudah menebak, jika mereka sampai melihat Abhay, pasti urusannya akan rumit.
"Emang kenapa? Salah gue apa sampe di usir segala?" Bukannya menurut, Abhay malah meminta penjelasan.
"Udah jangan banyak ngomong! Cepetan sekarang pul-" ucapan Dara terpotong karena ayahnya lebih dahulu menyerobot omongannya.
"Dara! Lagi ngapain kamu?! Itu siapa ngehalangin jalan?!" tanya Pak Leo sedikit keras di balik jendela mobil.
Dara tak bergeming. Lebih tepatnya ia bingung harus memberi penjelasan apa kepada ayahnya.
Karena Dara yang tak kunjung merespon, kepala Ayah Leo kembali masuk ke dalam mobil.
"Itu Dara lagi sama siapa sih?" tanya Ayah Leo pada Bunda Iis dan Andra.
Andra memicingkan matanya. Tak butuh waktu lama untuk Andra mengetahuinya. "Lah. Itu mah pacarnya Dara," ujarnya.
"Eh iya. Si ganteng ada lagi," timpal Bunda Iis malah kegirangan.
"Kalian pada ngomongin apa sih? Ganteng? Pacarnya Dara? Emang Dara punya pacar?" tanya Ayah Leo tak mengerti.
"Iya, Yah," jawab Bunda Iis.
"Kok bisa?"
Ayah Leo mengangguk. Beliau pun kembali menyembulkan kembali kepalanya ke keluar jendela.
Dara yang semakin tak sabar, ia mencoba bodo amat dengan berteriak kepada Abhay. "KAK! CEPETAN PER-" Lagi-lagi ucapan Dara terpotong.
"Dara suruh dia masuk ke rumah!" tukas Ayah Leo.
Mampus! batin Dara menggerutu.
Dara pun langsung membuang nafas pasrah. Akhirnya yang ia takutkan sudah benar-benar terjadi.
"Lah. Gue malah disuruh masuk. Gimana jadinya?" tanya Abhay dengan raut wajah tanpa dosa.
Dara melirik sinis ke arah Abhay. "Tau ah! Suruh dari tadi pergi!" ujar Dara geram.
"Ya udah. Gue masuk aja yah?"
"Terserah!" Dara membalikkan badan kasar lalu berjalan membukakan pintu gerbang lebar-lebar.
...****************...
Sesuai permintaan Ayah Leo. Abhay kini sudah terduduk di kursi depan teras rumah seorang diri karena Dara izin ke kamarnya untuk berganti baju. Tak lama, Andra pun datang dengan tangan yang memegangi kedua tongkat yang menyangga kedua ketiaknya. Ia pun ikut duduk di depan Abhay.
"Gak nyangka lo bener-bener nurutin wasiat gue," ujar Andra.
"Eh iya, Bang."
"Segitu cintanya lo sama adek gue?"
"Ha?" Abhay nampak terkejut dengan pertanyaan Andra yang tiba-tiba.
"Udah gak usah dijawab. Gue udah tau."
Andra memutuskan untuk tak menanyai lebih dalam. Karena dengan melihat Abhay yang sudah berada di hadapannya, cukup baginya tuk menjawab pertanyaannya.
"Udah sembuh, Bang? Cepet banget pulangnya?" tanya Abhay.
"Haduh cuma gini doang, manja banget kalo lama-lama di rumah sakit," kata Andra. "Lagian, buat apa punya orang tua dokter kalo gak dimanfaatin. Pak Leo dokter, Ibu Iis mantan bidan. Dirawat di rumah juga serasa di rumah sakit," jelas Andra bagai anak durhaka.
Tak lama, orang yang dimaksud Andra berjalan menghampiri mereka.
"Enak banget kamu ngomong, Andra," ujar Ayah Leo.
Melihat kedatangan Ayah Leo, Abhay seraya berdiri dan menundukkan kepala sopan lalu mengulurkan tangannya bermaksud bersalaman. "Eh Om," ujar Abhay sopan. Lalu Ayah Leo pun menerima uluran tangan itu.
"Eh Ayah. Becanda doang tadi." Andra ngeles sambil nyengir kuda.
"Ngeles saja kamu ini."
Lalu Ayah Leo ikut duduk di samping Andra, atau berada tepat di depan Abhay. Sempat ada kecanggungan di sana, karena setelahnya tak ada yang memulai pembicaraan. Hingga tak lama, Ayah Leo mendehem untuk mencoba mencairkan suasana.
"Jadi kamu pacarnya anak Om?" tanya Ayah Leo dengan suara berat khas om-om.
"Iya-Om," jawab Abhay canggung.
Bagaimana tidak canggung, karena Ayah Leo langsung memasang mode serius. Andra sendiri jadi tak berani ikut nimbrung. Karena yang ia tahu, jika ayahnya sudah memasang mode serius, artinya ayahnya sedang marah. Jadi ia lebih baik diam.
"Udah berapa lama?"
"Baru 2 mingguan Om."
"Berarti masih baru?"
"Iyah Om."
Lagi-lagi suasana canggung menyelimuti mereka. Namun kali ini lebih parah, karena Ayah Leo malah menatap wajah Abhay begitu tajam. Abhay yang melihatnya pun jadi semakin canggung, ia sampai tak bisa mencari topik pembicaraan karena takut-takut ayahnya Dara tak ingin diajak bicara. Namun ternyata...
"Kenapa gak dari dulu!" seru Ayah Leo bersemangat. Kini wajah serius itu sudah berubah menjadi lebih sumringah.
"Ha? Maksudnya gimana yah, Om?" tanya Abhay masih belum mengerti dengan maksud Ayah Leo.
"Maksudnya... Kenapa gak dari dulu pacaran sama anak Om nya," ulang Ayah Leo.
Abhay dan Andra pun secara berbarengan membulatkan mulutnya. Tak lama mereka pun tertawa lega.
"Ih Pak Leo ini bikin kita degdegan aja. Di kira mau marah," ujar Andra dengan senyum lega terpancar di wajahnya.
"Hehehe... Iya. Saya juga degdegan Om," ujar Abhay yang sama leganya.
"Udah santai aja sama Om mah. Gak akan gigit ini," timpal Ayah Leo dengan santai.
Di momen itu, Abhay pun langsung berpikiran aneh. Kenapa orang tuanya Dara pada aneh semua, yah? ujar Abhay bertanya-tanya dalam hatinya.
Di saat mereka baru akan memulai sebuah obrolan, sang Kanjeng Bunda menampakkan wajahnya dan meminta mereka untuk segera makan.
"Udah ngobrolnya dilanjutin nanti. Kita makan dulu yuk! Bi Siti udah masak banyak buat kita," ujar Bunda Iis.
"Asyik makan!" seru Andra bersemangat. Kalo sudah masalah makanan, Andra tidak bisa menunda.
"Kamu juga. Abhay," pinta Bunda Iis pada Abhay.
Abhay mengerutkan keningnya heran. "Saya juga, Tan?" tanya Abhay dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya untuk memastikan.
"Iyah. Kamu kan lagi di sini, masa gak di ajak," balas Bunda Iis.
"Ayo, Bhay!" ajak Andra. Lalu dengan tongkat dikedua tangannya, Andra pun berlenggang masuk lebih dulu ke dalam. Kemudian diikuti oleh Ayah Leo dan Abhay di sana.
Dan akhirnya kisah yang tak diduga-duga itu pun berkelanjutan hingga waktu yang tak bisa ditentukan.