
"Kamu gak mau ninggalin pacar kamu?"
Bagai tersulut api, batin Abhay seketika memanas. Belum lama ia meminta papahnya untuk tidak membawa-bawa Dara dalam masalah ini, namun kini papahnya malah langsung menyinggung gadis itu.
"Saya tadi sudah bilang. Jangan bawa-bawa dia dalam masalah ini!" tegas Abhay cukup keras.
"Ya lalu apa alasannya?"
Mendengar pertanyaan dari papahnya, Abhay pun tersenyum kecut. Sungguh pertanyaan yang sama sekali tak Abhay harapakan. Karena dari pertanyaan itu, seolah menjelaskan bahwa papahnya tak mengerti dengan situasi yang sedang menyelimuti mereka. Tentu saja hal itu sangat menjengkelkan bagi Abhay.
"Harusnya tanyakan pertanyaan itu pada diri anda sendiri," ucap Abhay dengan begitu sinisnya.
Abhay hendak pergi ke kamarnya untuk kesekian kalinya. Ia sudah malas, benar-benar malas. Karena ia tahu, obrolan mereka pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah berdebatan yang tak bersolusi dan hanya akan memperkeruh keadaan yang sebelumnya sudah sangat buruk.
"Tunggu Abhay!" panggil Pak Arief cukup keras saat melihat Abhay yang sudah bersiap untuk pergi.
Karena panggilan itu, Abhay mendengus kesal. Ia membuang nafas kasar dan menoleh pada papahnya dengan begitu malasnya. "Apa lagi?" tanyanya sangat dingin.
Lalu televisi yang sebelumnya menyala, kini Pak Arief matikan. Padahal bisingnya suara dari televisi menjadikan keadaan sebelumnya menjadi tak terlalu serius. Jika sudah begini, keadaan pun bukan lagi hanya serius, tetapi menjadi begitu mencekam. Bahkan suara deru nafas dari keduanya bisa terdengar jelas, saking sunyinya.
Pak Arief menarik nafasnya dalam-dalam, dan membuangnya dengan panjang. Sudah waktunya Pak Arief untuk mengakhiri semuanya. Beliau berniat mengatakan sesuatu pada anak semata wayangnya itu. Berharap semua kekacauan yang melanda mereka beberapa tahun terakhir bisa beliau akhiri sekarang.
"Okeh. Papah tau Papah salah. Papah tidak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu. Papah pergi begitu saja saat kamu harus kehilangan Mamah kamu. Papah ninggalin kamu sendirian. Tapi apa kamu tau kenapa Papah seperti itu?"
Abhay tak menggubris ucapan papahnya. Ia memilih untuk diam tak bersuara dan mendengarkan apa yang akan selanjutnya papahnya ucapkan. Karena Abhay pun penasaran, penjelasan apa yang akan coba papahnya berikan kepadanya.
"Karena Papah tidak sanggup!" tegas Pak Arief mulai meninggikan suaranya.
"Setiap kali Papah ngeliat rumah ini, Papah selalu merasa terpukul. Papah hancur! Memangnya kamu sendiri yang merasa hancur?! Papah pun sama!" teriak Pak Arief dengan wajah yang sudah memerah dan suara yang begitu menggelegar mengisi kesunyian di setiap sudut rumah itu. Pak Arief sungguh meluapkan semua isi batinnya dengan begitu emosional.
Dan Abhay sendiri. Ia bungkam. Jika biasanya Abhay tak mau mendengarkan setiap omongan papahnya, namun kali ini ia dibuat terpaku oleh pengakuan papahnya.
"Tapi Papah juga ingin berubah. Papah ingin kehidupan kita normal seperti dulu. Maka dari itu Papah memutuskan kembali tinggal di rumah karena ingin mencoba memperbaiki hubungan dengan kamu. Jadi Papah minta sama kamu. Ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Kita perbaiki semuanya yang sudah hancur. Kita akhiri semua kekacauan yang sebelumnya terjadi."
Pak Arief melembutkan pandangannya di hadapan Abhay. Beliau menatap putranya dengan mata sendu dan penuh harap. Beliau pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Walaupun Mamah kamu sudah tidak ada di sini, tapi Papah yakin, Mamah kamu juga tidak mau melihat kita seperti ini, Mamah kamu pasti akan sedih dan kecewa. Jadi ayo kita buat Mamah kamu agar bisa hidup tenang di sana, dengan kita menjalani hubungan seperti layaknya keluarga."
Pada akhirnya Pak Arief mengakui semuanya pada Abhay. Beliau telah selesai memberi tahu semua yang ada di dalam benaknya. Unek-unek yang sudah Pak Arief pendam selama tiga tahun akhirnya beliau keluarkan. Dan mengapa Pak Arief melakukan itu sekarang? Alasannya hanya satu, yaitu sudah terlalu lama. Sudah terlalu lama mereka mempertahankan hubungan tak selayaknya seperti ayah dan anak. Dan kini Pak Arief sudah tak tahan dengan itu.
Awalnya Abhay terhanyut mendengar pengakuan papahnya. Ia cukup tertegun, ia sempat berpikir positif bahwa papahnya memang tulus mengatakan hal itu. Namun tak lama, otak Abhay menunjukkan sisi terburuknya. Ada sebuah keanehan dalam situasi yang sedang terjadi.
"Tapi kenapa... kenapa baru sadar saat ada sesuatu yang anda inginkan. Kenapa gak dari dulu?" tanya Abhay cukup menohok.
"Sudah lah saya tau anda seperti ini bukan karena anda khawatir sama saya. Tapi anda khawatir dengan perusahaan anda. Anda takut tidak ada penerus untuk perusahaan anda, kan? Saya tahu semuanya! Jadi lebih baik anda gak usah berkata seolah-olah saya akan kasihan sama anda," jelas Abhay.
Pak Arief kembali meradang saat mendengar Abhay menyingung mengenai pekerjaannya. "Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu, Abhay! Karena sadar atau tidak, kamu juga menikmati semua itu!" tegas Pak Arief.
Abhay menautkan alisnya heran. "Maksudnya?"
"Semua kebutuhan hidup kamu selama ini, kamu kira itu dari mana? Itu dari perusahaan yang Papah bangun!" teriak Pak Arief menegaskan segalanya.
Sesaat setelah Pak Arief mengatakan itu, perlahan Abhay menarik kedua sudut bibirnya dengan sinis. Semuanya terdengar begitu jelas. Karana dari pernyataan papahnya, sudah cukup bagi Abhay untuk mengerti. Dan sesuai dugaan sebelumnya, bagi Abhay, Papahnya memang tak tulus ingin berubah.
"Oh... jadi sekarang bahas itu. Baik. Saya mengerti," ucap Abhay sambil tersenyum miris.
Kini Abhay memajukan langkahnya lebih dekat dengan papahnya. Ia menatap tajam pada sosok pria itu. Kemudian, Abhay merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda yang ada di dalam sana. Saat benda itu sudah ia raih, ia langsung melemparkan benda itu di atas meja yang ada di hadapan Pak Arief.
"Nih. Saya balikin motor yang pernah anda kasih buat saya." Dan benda yang Abhay lemparkan itu adalah sebuah kunci motor. Motor yang selama ini ia pakai untuk bersekolah atau pergi kemanapun ia inginkan, kini ia kembalikan pada papahnya.
"Dan ini." Lalu benda selanjutnya yang Abhay serahkan adalah sebuah benda pipih yang sering ia genggam. "Saya juga balikin handphone ini juga," ucapnya.
Pak Arief menatap iba ke arah putranya. Ternyata Abhay benar-benar tersinggung oleh ucapannya. Dalam batinnya, Pak Arief merutuki kebodohannya. Ia tersadar, tak sepantasnya beliau mengatakan hal itu kepada Abhay. Semua itu terjadi karena dirinya tak bisa menahan diri. Sifat mudah terpancing menyebabkan omongannya menjadi tak terkendali. Beliau begitu menyesal. "Abhay. Tadi Papah-"
"Atau sama baju juga? Ini juga kan dari uang anda," sanggah Abhay.
"Berhenti kamu, Abhay. Papah tadi hanya-"
"Becanda? Mana mungkin bercanda. Orang tadi ngomongnya emosi gitu." Abhay sama sekali tak memberi kesempatan bagi papahnya untuk berbicara.
Dirasa barang berharga dari uang papahnya sudah ia kembalikan, untuk terakhir kalinya Abhay menatap papahnya. "Ya sudah, kalo gitu gak ada alasan lagi untuk saya tetap di sini. Saya pergi sekarang," pamit Abhay langsung. Tak pikir panjang, Abhay melenggang pergi dengan mantapnya. Ia benar-benar sudah muak.
"Abhay berhenti kamu!" seru Pak Arief keras, namun tak didengar oleh Abhay.
"ABHAY!"
"ABHAY!!!"
Berulang kali Pak Arief mencoba menghentikan langkah Abhay dengan seruannya. Namun seperti tak memiliki telinga, Abhay sama sekali tak berhenti atau bahkan sekedar menoleh. Dan...
BRAKKK! Abhay menutup pintu dengan kerasnya. Seolah menandakan bahwa tak ada yang bisa menghentikan niatnya untuk pergi.
Melihat kepergian putranya, jiwa Pak Arief begitu bergejolak. Rasa marah, kecewa, menyesal, semuanya menyatu menjadi satu. Saking kacaunya, Pak Arief sampai menendangi semua benda yanga ada di hadapannya. Beliau begitu murka. Niat hati ingin memperbaiki hubungannya dengan sang putra, namun yang terjadi malah sebaliknya. Kali ini bisa katakan hubungan mereka bukan lagi renggang, namun sepertinya sudah benar-benar terputus.