Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
26. Wasiat Andra



"Bang! Kok lo udah bangun!" seru Dara dengan mata yang terbelalak.


Saat Dara baru membuka pintu, ia langsung mendapati kakaknya yang sudah terduduk di ranjang dengan nampan makanan di depannya. Kini Andra sedang makan dengan lahapnya.


Andra menelan makanannya dahulu sebelum berbicara. "Trus lo maunya gue mati. Gitu maksudnya?" tanya Andra.


"Bukan gitu. Maksud gue kenapa gak langsung bilang?" tanya Dara. "Suster juga kenapa gak ngasih tau gue. Padahal gue udah minta buat ngasih tau gue kalo lo bangun."


Memang sebelum ia pergi ke atap, sesuai perkataan Abhay, ia sempat menemui suster yang menjaga Andra untuk menelponnya saat Andra sudah siuman. Jadi kini Dara heran, kenapa suster itu tak memenuhi amanahnya.


"Oh... Gue sengaja. Tadi suster juga udah mau nelpon elo. Tapi kata guenya gak usah," jelas Andra. Lalu ia kembali memakan makanannya sebelum akhirnya ia kembali berbicara.


"Sebenarnya gue udah sadar dari tadi. Pas dipindahin ke sini juga gue udah sadar," ungkap Andra.


Dara mengernyitkan alisnya. "Trus kenapa mata lo merem terus?" tanyanya.


"Ya gue lanjut tidur aja," ucap Andra enteng.


Dara kembali membelalakkan matanya. Tak menyangka dengan apa yang sudah Andra ungkapkan kepadanya.


"Ih... Emang kampret ni orang!" kesal Dara. "Jadi pas gue tadi di sini, sebenarnya gue nungguin lo tidur?!" tanya Dara kesal.


Andra mengangkat kedua alisnya bertanda mengiyakan.


Dara membuang nafas kasar sambil tersenyum miris. Ia menyesali dirinya yang sudah berlama-lama mengkhawatirkan Andra yang tak kunjung siuman. Malah ia sempat berpikiran, bagaimana jika Andra koma? Namun nyatanya apa? Kenyataan Dara hanya menjaga Andra yang tengah tertidur.


"Bener-bener lo. Ada yah orang kaya gini," ucap Dara pasrah.


"Dah ah jangan ngomel mulu! Udah tau gue lagi makan, ganggu mulu!" timpal Andra kesal karena waktu makannya telah diganggu oleh Dara.


Dara menggelengkan kepalanya pelan.


"Aish... Ni orang bisa-bisanya masih doyan makan setelah ketimpa musibah."


"Pewrut nowmer satu," timpal Andra dengan mulut yang masih dipenuhi oleh nasi.


Bisa dibilang Andra ini memang aneh. Di saat orang lain tak suka dengan makanan rumah sakit, namun Andra bisa memakan makanan itu dengan lahapnya bahkan seperti sedang makan di restoran padang. Dan kini, makanannya pun sudah habis tak tersisa.


Saat Andra yang sudah selesai makan, Abhay pun baru datang saat Dara sudah tiba terlebih dahulu. Maklum saja, saat kejadian di atap tadi, Dara dengan tergesa-gesa berlari tuk menemui kakaknya, dan membiarkan Abhay yang tertinggal di belakang.


"Udah bangun, Bang?" tanya Abhay saat ia sudah ada di dalam.


"Eh... Ada Abhay juga? Kok bisa tau gue di sini?" tanya Andra.


"Oh tadi kebetulan gue lagi sama Dara pas ada info kalo lo kecelakaan. Jadi sekalian aja ke sini," ungkap Abhay.


"Lo bener-bener pacar siaga," kata Andra. Lalu ia menoleh pada Dara yang tengah duduk santai di atas sofa.


"Ra! Lo tuh harus bersyukur punya pacar kaya si Abhay ini. Udah tampangnya oke, perhatian. Dan yang terpenting, dia masih setia walaupun lo suka bikin kesel." Andra menyajung Abhay dengan hebatnya.


Mendengarnya Dara langsung tersenyum sinis. "Gak ke balik. Ada juga dia yang suka bikin gue kesel!"


"Ah masa." Andra tak percaya. "Kalo emang gitu, kenapa lo masih sama dia?" Andra mengskakmat Dara.


Siapa yang mau, Bang?! Dianya aja nagih utang sama gue! geram Dara dalam hatinya.


Hingga kini, Dara tak mau mengungkapkan hal itu secara terang-terangan, karena ia tak mau masalah pribadinya sampai didengar oleh keluarganya. Dia yang membuat masalah, ia juga yang akan menyelesaikannya sendiri. Ia tak mau melibatkan keluarganya.


Tiba-tiba fokus Andra teralihkan saat ia melihat mata Dara yang sembab seperti habis menangis.


"Eh bentar. Mata lo kenapa tuh? Abis dikenyot lintah?" tebak Andra.


"Dia abis ngeluarin air matanya, Bang. Seember kayanya." Abhay yang menjawab sambil terkekeh kecil.


"Hah? Air mata?" Andra memasang muka heran. "Lo habis nangisin gue?" tanyanya.


"Ya Abang pikir?!" jawab Dara cepat.


Lalu Andra tersenyun jahil. "Adudududu... Mellow banget. Gue pikir lo seneng gue kaya gini," ujar Andra asal jeplak.


Mendengarnya, Dara mengerang kesal. Bisa-bisanya Andra berpikiran seperti itu. Di saat ia sudah merelakan air matanya untuk menangisi kakaknya, namun Andra berpikir bahwa Dara merasa senang saat Andra celaka. Apakah ia seburuk itu sebagai adik? Pikirnya.


Karena tak terima, Dara pun segera melemparkan bantal sofa yang ada di sampingnya dengan sangat geram.


"Aduh. Apa-apaan nih?! Ini namanya kekerasan pada pasien!" sebal Andra.


"Ya elo. Mana ada sih manusia yang liat keluarganya celaka malah seneng. Lo pikir gue psikopat!" Dara ngegas.


"Ya elo. Peduli sama gue pas gue lagi celaka doang. Pas gue lagi waras. 'ABANG! ABANG! KAMPRET LO, BANG!' gitu," jelas Andra sambil meniru suara Dara ketika cerewet.


Dara membuang nafas berat. "Dengan keadaan lo sekarang, kok lo masih bisa ngebacot gini sih. Gue jadi ragu, lo sebenernya sakit apa enggak?" Dara mencurigai Andra. Karena dimana-mana yang namanya pasien itu fisiknya lemah, berbicara pun sungkan. Namun lain hal dengan Andra. Sakit atau tidak, ia masih tetap Andra yang sama.


"Ya sakit lah! Liat nih. Nih, nih, nih juga!" jelas Andra sambil menunjuk-nunjuk luka goresan yang ada di tubuhnya. Lalu sampai ia mengibas selimutnya, ia langsung menunjukan kakinya yang sudah terbalut perban.


"Trus kaki juga. Tuh liat. Sampe diperban gini," ujar Andra.


Tak lama, otak Andra ngelag saat melihat kakinya yang telah terbalut perban yang sangat tebal. "Eh bentar. Kaki gue kok diperban tebel kaya gini?!" ujar Andra panik.


Andra pun mencoba menggerakkan kakinya, namun sayang kakinya tak mau merespon.


"Kaki gue kenapa woy?! Kok gak bisa digerakkin." Andra masih panik.


Melihat reaksi Andra yang bingung dengan kondisi tubuhnya sendiri, Dara langsung menatap Andra aneh.


"Dih aneh banget nih orang. Makanya kalo bangun, ngecek keadaan lo dulu. Jangan langsung mentingin perut," ujar Dara.


"Tapi gue gak lumpuh selamanya, kan?" tanya Andra.


Andra membuang nafas lega mendengar penjelasan Dara.


"Ya udah deh gak papa. Ada enaknya juga sih. Gue kan jadi gak nganterin lo ke sekolah," ujar Andra sembarangan.


Dara pun langsung melotot ke arah Andra. "Enak, enak. Musibah lo bilang enak?!"


"Nganterin lo juga bagi gue itu musibah."


Lagi. Dara dibuat kesal oleh omongan Andra. Ia semakin menyesali dirinya yang telah membuang air matanya untuk kakaknya. Ternyata orang yang ia tangisi malah berbuat dzolim padanya.


Lain hal dengan Abhay. Ia kini malah terkekeh kecil melihat tingkah adik kakak di depannya. Baginya interaksi mereka sangat unik. Dan tidak mungkin bisa Abhay lakukan, mengingat dirinya adalah anak tunggal.


Kini Andra beralih menoleh pada Abhay.


"Eh, Bhay. Lo udah liat sendiri kan kaki gue kaya gini," ucapnya. "Jadi gue ngasih wasiat sama lo, mulai dari besok lo nganterin Dara ke sekolah. Okeh?"


"Hah?" Abhay terkejut karena tiba-tiba Andra meminta sesuatu darinya.


"Gak papa, kan? Iya gak papa dong. Dara kan pacar lo. Pasti mau dong," cerocos Andra.


"Wasiat-wasiat. Lo mau mati?" tanya Dara yang sama dzolimnya.


"Tuh, kan. Emang Adek jahanam lo. Lo malah berpikir gue mau mati!" ujar Andra emosi.


"Ya lagian lo bilangnya wasiat-wasiat segala."


"Ya pokoknya sejenis itu lah," ucap Andra. Lalu ia kembali melihat Abhay. "Gimana, Bhay. Lo mau, kan?" tanyanya lagi memastikan.


Abhay berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia mengiyakan. "Kenapa enggak, Bang," ujarnya.


"Sip. Pokoknya lo adik ipar gue terbaik deh," seru Andra kegirangan.


Tak lama, suara nada dering terdengar di ruangan itu.


"Siapa yang nelpon?" tanya Andra saat mengetahui gadget Dara lah yang berbunyi.


Dara pun melihat nama yang tertera di gadgetnya dan tenyata ibunya lah yang menelponnya. "Kanjeng bunda," jawab Dara. Lalu ia segera mengangkat panggilan itu.


"Halo, Bun."


"Halo Dara. Gimana keadaan kakak kamu?" tanya Ibu Iis to the point.


"Dia gak kenapa-kenapa, Bun. Malahan langsung cerewet," jawab Dara sambil melirik sinis ke arah Andra.


"Dara, yang bener kamu?!" tanya Ibu Iis tak percaya.


"Iya, Bun. Gak ada cedera serius, hanya patah tulang ringan aja di kakinya. Anggota tubuh lainnya alhamdulillah baik-baik aja."


Mendengar kabar baik itu, terdengar jelas bahwa Ibu Iis bernafas lega. "Oh syukurlah,"


"Ini Bunda udah di pesawat. Paling nyampe sana tengah malem," ujar Ibu Iis.


"Oh gitu yah, Bun."


"Ya udah. Mendingan kamu pulang sekarang. Besok kan masih sekolah," pinta Ibu Iis.


Dara mengerutkan keningnya heran. "Trus Bang Andra?" tanyanya.


"Bunda udah suruh Bi Siti buat ngejaga kakak kamu. Kayanya bentar lagi juga dateng. Jadi kamu pulang aja sekarang."


Dara membulatkan mulutnya mendengar penjelasan ibunya. "Oke, Bun. Aku pulang sekarang." Lalu Dara menutup panggilan itu.


"Bang, Bunda udah di pesawat, palingan datengnya tengah malem. Trus gue disuruh pulang sekarang. Nanti Bi Siti ke sini," jelas Dara sama persis dengan apa yang ibunya katakan. "Gak papa kan di tinggal?" tanyanya.


"Ya elah. Lo pikir gue bayi. Pulang aja sono." Andra malah mengusir Dara.


"Dih. Malah ngusir!" kesal Dara. "Ya udah gue pulang!"


Dara langsung mengambil tasnya kasar dia atas meja. Lalu buru-buru pergi meninggalkan kakaknya.


"Pamit, Bang. Bae-bae di sini," pamit Abhay saat Dara sudah keluar terlebih dahulu.


"Iya. Thank you, Bro," timpal Andra.


Abhay pun berjalan keluar. Saat langkahnya sudah menyamai langkah Dara, Dara pun langsung bersuara.


"Gak usah didengerin apa yang abang gue bilang. Kakak gak perlu nganterin gue ke sekolah. Gue bisa naik angkot," jelas Dara.


"Bukannya angkot musuh elo?" tanya Abhay. Karena ia sangat paham betul bagaimana Dara yang sangat membenci angkot.


Dara tak menjawab. Yang dikatakan Abhay tidak salah. Tadi dia hanya sok-sokan saja berbicara seperti itu agar dirinya terlihat jual mahal. Padahal aslinya ia sangat tak mau naik angkot.


"Udah lah biarin. Rumah gue ngelewatin rumah lo juga. Jadi gak masalah bagi gue," ujar Abhay yang tak mempermasalahkan keinginan Andra.


Dara pun manggut-manggut. "Okeh. Kalo emang Kakak gak keberatan. Tapi asal jangan dibawa bolos aja gue mah," kata Dara.


Tak bisa dipungkiri Dara masih trauma saat Abhay mengantarkannya ke sekolah. Karena ia sudah dua kali ditipu oleh Abhay.


Mendengarnya, Abhay tersenyum tipis. "Kalo mau, ayo. Besok?" tanya Abhay tanpa beban.


Dara sekilas melirik tajam ke arah Abhay. Lalu ia berjalan lebih dahulu meninggalkan Abhay di belakangnya.


"Coba aja Bang Andra tau sifat asli dia," gumam Dara seorang diri.