
Seminggu telah berlalu, tepat tiga hari yang lalu ujian nasional bagi kelas 12 pun telah selesai dilaksanakan. Dan itu artinya, tiga hari yang lalu Abhay juga sudah pergi ke Amerika.
Kepergian Abhay ke Amerika sudah menjadi rahasia umum bagi anak-anak di SMA Nusa Bangsa. Walaupun Abhay tak pernah gembar-gembor mengenai kuliahnya, namun namanya juga the power of netizen, dengan mudahnya berita itu langsung bocor bahkan sudah bocor sebelum hari keberangkatannya ke Amerika.
Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, saat ujian telah usai, di SMA Nusa Bangsa selalu mengadakan acara class meeting yang dikhususkan untuk kelas 12. Dan kini, di lapangan utama sedang dilaksanakan pertadingan basket yang mempertemukan antara kelas 12 IPA 1 dengan 12 IPS 2.
"Wuih Kak Rakha keren banget!" seru Ruby diiringi decak kagum. Saat ini ia sedang menonton pertandingan bersama Dara yang ada di sampingnya.
Dara sebenarnya tak begitu antusias untuk menonton pertandingan itu. Selama tiga hari ini, mood Dara begitu buruk. Mungkin efek dari awal-awal LDR, rasa malas selalu muncul saat ia melakukan apapun. Jika saja Ruby tak memaksanya, mungkin Dara lebih memilih pergi ke perpustakaan dan tidur di sana.
"Gila kelas 12 IPS 2 gak berkutik gitu sama Kak Rakha. Skornya sampe jomplang banget," seru Ruby, ia menjadi heboh sendiri.
"Ih, kalo aja ada Kak Abhay pasti gak akan-"
Ruby memotong ucapan sendiri. Ia lupa, ia baru saja menyebutkan nama keramat. Ia langsung menoleh kepada Dara. "Sorry Dara, gue kelepasan," ucapnya merasa bersalah.
Dara balik melirik Ruby, dan mengutaskan secarik senyuman miring. "Santai aja kali, emangnya kenapa?"
"Ya kali aja gitu," jawab Ruby. Maksud perkataan Ruby adalah ia takut jika ia menyebut nama Abhay, Dara akan teringat dan semakin memperburuk mood-nya.
"Btw udah tiga hari yah. Gimana? Komunikasi lancar?" tanya Ruby.
"Ya... lancar," jawab Dara sedikit ragu.
Entah bisa disebut lancar atau tidak, yang jelas, terhitung sejak keberangkatan Abhay ke Amerika, baru satu kali Dara dan Abhay berkomunikasi lewat telepon. Itu pun saat Abhay memberi tahu Dara bahwa dirinya sudah sampai. Setelah percakapan itu, hari-hari selanjutnya belum ada lagi kabar. Mereka menjadi sulit berkomunikasi. Mungkin faktor perbedaan waktu yang sangat jauh sehingga menyebabkan mereka minim komunikasi.
Seakan mengerti bagaimana perasaan Dara saat ini, Ruby melirik Dara dengan tatapan penuh rasa iba. Gue ngerti Dara, pasti gak gampang, ucap dalam batinnya. Hubungan jarak jauh antar kota saja Ruby sudah membayangkan betapa tak enaknya itu. Sedangkan Dara, bukan lagi antar kota, bahkan benua saja sudah berbeda. Tak terbayangkan lagi tak enaknya sebesar apa.
Omong-omong tentang Ruby, Dara tak memberi tahu alasan sebenarnya mengapa Abhay memutuskan untuk kuliah ke Amerika. Dara memilih untuk menyimpan rapat-rapat mengenai masalah itu, karena menurutnya masalah yang satu ini bisa dibilang sangat sensitif. Jadi biarlah masalah itu menjadi rahasia antara keluarga dirinya dan keluarga Abhay saja.
"KEMENANGAN DIRAIH OLEH KELAS 12 IPA 1!! BERI TEPUK TANGAN YANG MERIAH!!"
Suara pemandu acara memecah lamunan Ruby. Ia kembali melihat lapangan dan ikut bertepuk tangan ria. Pertandingan yang sedari ia tonton, pada akhirnya dimenangkan oleh kelasnya Rakha.
Saat pertandingan telah usai, Rakha beserta teman-temannya pergi berhamburan meninggalkan arena pertandingan. Tak seperti teman-temannya yang langsung pergi ke kantin untuk membeli minuman, Rakha malah berjalan ke arah tempat penonton dan menghampiri salah satu penonton di sana. Dan penonton yang Rakha tuju adalah seorang gadis berwajah murung. Dia adalah Adara Leona. Rakha pun duduk tepat di samping Dara.
"Kak Rakha selamat. Tadi maennya keren banget," puji Ruby saat Rakha tiba.
"Makasih yah," timpal Rakha dengan senyum ramahnya.
"Selamat yah, Kak. Tadi mainnya keren." Kini giliran Dara yang memberi pujian.
Saat Dara memuji, senyum Rakha semakin melebar, kedua matanya punya kini lebih berbinar-binar. "Makasih Dara," ucapnya nampak senang.
Dara melihat Rakha yang begitu kelelahan. Nafas Rakha terdengar tersengal-senggal dengan butiran peluh terus bercucuran membanjiri hampir seluruh baju olahraga. Di posisinya yang begitu dekat dengan Rakha, sangat tidak pantas jika Dara tak berbuat apa-apa. Dara pun melihat botol air mineral dingin miliknya yang masih tersegel rapat. Ia berinisiatif untuk memberikannya kepada Rakha.
Dara mengulurkan minumannya kepada Rakha. "Nih Kak, buat Kakak."
Rakha melihat minuman yang disodorkan Dara. "Gak usah. Itu kan minuman punya lo," tolak Rakha.
"Gak papa. Nanti gampang gue beli lagi."
Dara semakin mendekatkan minuman itu pada Rakha, hingga membuat Rakha sulit untuk menolaknya lagi. "Ya udah, gue terima yah," ucapnya.
Rakha segera meminum minuman itu hingga habis tak tersisa. Setelah itu ia mendesah lega. Rasa haus di kerongkongan seketika lenyap saat ia sudah menyiramnya dengan cairan dingin itu.
"Oh iya. Gue kesini karena mau ngasih tau sesuatu sama lo," ucap Rakha tak lama.
"Apa itu, Kak?"
"Malam ini gue mau ngadain acara barbequean di rumah. Bentar lagi kan gue mau kelulusan, jadi itung-itung kaya acara perpisahan gitu. Nanti lo juga dateng yah," ajak Rakha. Dan inilah menjadi alasan Rakha mengapa ia memilih menghampiri Dara ketimbang pergi bersama teman-temannya.
"Hah? Gue dateng?" tanya Dara memastikan.
"Iyah," jawab Rakha mempertegas.
"Apa gue gak akan malu sama temen-temen Kakak?"
"Kenapa harus malu? Orang acaranya juga buat anak-anak taekwondo."
Dara membulatkan bibirnya saat mendengar penjelasan Rakha. Pantas saja Rakha mengajaknya. Ternyata khusus acara untuk anak-anak taekwondo.
"Gimana? Lo dateng, kan?" ulang Rakha.
"Hmm... boleh deh." Setelah berpikir singkat, Dara pun menyetujuinya. Walaupun sedang tak mood, rasanya tak enak jika ia menolak ajakan Rakha. Lalu, pastinya juga ia tak akan enak dengan teman-temannya yang lain jika ia tak datang.
"Oh iya, kalo lo mau dateng juga boleh kok." Kali ini ajakan Rakha diperuntukkan untuk Ruby. Walaupun Ruby tak ikut taekwondo, namun Rakha tak segan untuk mengajak teman Dara itu. Lagi pula tak enak hati jika Rakha hanya mengajak satu orang di saat ada orang lain di sana.
Ruby sejenak berpikir. Sebenernya ia bisa-bisa saja ikut karena ia sendiri tak punya acara apa-apa malam nanti. Namun mengetahui jika yang datang hanya anak-anak taekwondo saja, rasanya akan aneh jika ia tiba-tiba ikut nyempil di sana. Bisa-bisa ia nanti akan dikacangi sekalipun ada Dara.
"Gak Kak Rakha. Gue gak dateng. Maaf yah Kak," tolak Ruby dengan halus.
"Kenapa? Kan ada Dara juga," ucap Rakha.
"Gue ada acara keluarga," balas Ruby berbohong.
Mendengar alasan Ruby, Rakha pun mewajarkan. Setidaknya ia sudah berusaha mengajak Ruby, jadi ia tak merasa tak enak hati lagi.
...****************...
Dara melihat ke arah jam beker yang ada di meja belajarnya. Jam menunjukkan pukul 18.15, itu artinya masih ada waktu sekitar 15 menit lagi dari waktu kumpul, karena Rakha memberi tahunya bahwa acara akan dimulai sekitar pukul 18.30.
Dara menyisirkan rambutnya untuk ia ikat. Namun di tengah ia sedang merapikan rambutnya, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Dara spontan menoleh ke arah pintu dan mendapati Bunda Iis yang berdiri di ambang pintu.
"Sayang. Itu ada yang jemput kamu," ucap Bunda Iis memberitahu.
Dara menautkan alisnya bingung. Tentu saja bingung, karena ia tak meminta siapa-siapa untuk menjemputnya. "Siapa, Bun?"
"Gak tau. Yang pasti laki-laki," ungkap Bunda Iis.
Dara semakin keheranan. Ada laki-laki yang menjemputnya? Dan siapakah laki-laki itu?
Tak ingin larut dalam penasarannya, buru-buru Dara mengikat rambutnya cepat dan mengambil tas kecil yang sudah ia siapkan. Lalu Dara keluar kamarnya dan segera menemui laki-laki itu.
Dara membuka pintu utama, memang benar ada seorang lelaki yang menunggunya di luar. Namun Dara tak langsung tahu dengan laki-laki itu, karena posisi laki-laki itu menghadap ke belakang, ditambah lampu luar yang tak begitu terang membuat Dara kesulitan untuk melihatnya.
Perlahan laki-laki memutar badannya saat sadar bahwa Dara sudah keluar.
Saat sudah terlihat jelas, Dara membulatkan matanya dan langsung terkejut dengan laki-laki yang ada di depannya. "Kak Rakha. Kok ke sini?" Dan laki-laki itu adalah Rakha.
"Tadi gue abis beli barang-barang di supermarket, trus ngelewatin rumah lo. Jadi gue sekalian aja jemput lo. Gak masalah, kan?" tanya Rakha diikuti sebuah penjelasan.
Dara tersenyum canggung, lalu menjawabnya. "Ya gak masalah sih. Gue cuma kaget aja tadi, orang Kakak gak bilang dulu."
"Maaf yah, gue bikin lo kaget," ucap Rakha merasa tak enak. "Gimana? Udah siap?" tanyanya lagi.
"Udah kok," jawab Dara.
"Ya udah yuk."
Niat awalnya diantar Andra seketika batal saat Rakha tiba-tiba berdiri di depan rumahnya untuk menjemputnya. Memang sangat tak terduga. Tapi bagaimana lagi, mana mungkin Dara menolak saat orangnya sudah menunggu. Iya, kan?
Rakha membawa mobil saat tadi ke rumah Dara. Dan kini, mobil sedan putih itu sudah sampai ke tempat tujuan. Rakha segera memarkirkan mobilnya di depan rumah dan langsung membawa Dara untuk masuk ke dalam.
Rumah Rakha bisa dibilang sederhana. Tak kecil maupun besar. Lalu Dara digiring masuk ke area belakang rumah karena Rakha bilang bahwa acaranya akan dilakukan di halaman belakang.
Saat sudah sampai di halaman itu, ternyata kondisi halaman masih begitu sepi. Hanya ada bangku-bangku kosong yang berjejer rapi namun tak ada orang yang mendudukinya. Jadi, apakah Dara menjadi orang pertama yang sudah datang?
"Belum pada dateng yah? Kok masih sepi?" tanya Dara heran.
"Iyah. Kok belum pada dateng yah. Paling bentar lagi mereka dateng. Lo duduk-duduk aja di sini. Gue mau siap-siap dulu," ujar Rakha.
"Masa iya gue cuma duduk-duduk doang. Gue mau bantuin Kakak siap-siap aja yah," balas Dara menawarkan bantuan.
"Udah gak usah, orang gue yang punya acara. Lo diem aja," sahut Rakha.
"Biarin aja."
Tak ingin mendengar kata penolakan lagi, Dara segera menghampiri Rakha. "Jadi apa yang mau kita kerjain?" tanyanya.
Rakha menjunjung lebih tinggi kantong plastik yang ada di tangannya. "Paling ini sih, tinggal nusuk-nusukin sosis ini."
"Ya udah yuk kita kerjain," ajak Dara.
Rakha pun menyimpan plastik berisikan sosis itu di atas meja. Ia membukanya untuk langsung dikerjakan oleh mereka berdua. Dengan cekatan, Dara langsung menusuk sosis-sosis itu dengan baik. Bahkan buatannya lebih banyak dibandingkan buatan Rakha sendiri.
Rakha melihat Dara begitu kagum. Ia juga beberapa kali mencuri pandangannya untuk terus melihat Dara. Saat melihatnya, tanpa sadar seutas senyuman tipis terbentuk di bibir Rakha.
"Thanks ya udah mau bantuin gue," ucap Rakha pada Dara.
Dara hanya menjawabnya dengan anggukan kecil diikuti oleh senyuman tipis terkesan manis. Nyatanya senyuman itu malah membuat Rakha semakin betah untuk melihat Dara. Bahkan parahnya, tangan Rakha hampir tertusuk ujung sate karena saking tak fokusnya.
"Loh, ini pada kemana? Kok baru satu orang yang dateng?"
Suara wanita dewasa memecahkan keheningan mereka hingga membuat Rakha yang sedang tak fokus menjadi terlonjak kaget saat mendengarnya. "Mamah. Ngagetin Rakha aja."
Dan wanita itu adalah ibunya Rakha. Dengan kedua tangan yang membawa sekeranjang buah-buahan, beliau langsung menyimpannya di atas meja lalu menghampiri mereka berdua.
"Halo Tante," sapa Dara lebih dulu. Kemudian ia mendekati ibunya Rakha untuk bersaliman.
"Iyah, halo. Kamu cantik sekali," puji ibunya Rakha sambil mengulurkan tangannya.
Merasa dipuji, tentu saja Dara merasa malu. Ia pun tersenyum malu dengan pipi yang sedikit memerah. "Tante bisa aja," ucapnya canggung.
"Nama kamu siapa?"
"Aku Dara, Tante."
"Oh Dara," ucap ibunya Rakha sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh ya, kamu kesini nya sama siapa?"
"Aku dijemput sama Kak Rakha, Tante," jawab Dara jujur.
"Hah? Dijemput? Kok bisa sampe dijemput segala?" tanya ibunya Rakha merasa heran.
Kemudian ibunya Rakha bergantian melihat muda-mudi yang ada di depannya dengan tatapan penuh mengintimidasi. Lalu beliau pun tersenyum jahil.
"Jangan-jangan kamu pacarnya anak Tante yah?"