Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
56. Suhu kembali memanas



Bel istirahat berbunyi. Dara dan Ruby seperti biasa memilih mengisi waktu istirahat mereka dengan pergi ke kantin. Saat mereka sudah memesan makanan mereka, Ruby dengan cepat segera menimbun Dara dengan segudang pertanyaan yang ada dalam otaknya.


"Gimana Dara? Ceritain semuanya dong!"


"Ciuman itu. Seriusan lo udah kissing?"


"Apa yang lo pikirin saat itu?"


"Jawab Dara!"


Ruby terus memaksa Dara untuk segera mengungkapkan semuanya. Tak peduli dengan Dara yang sedang sibuk makan siang. Yang terpenting sekarang adalah, semua penasarannya akan terjawab.


"Lo kenapa penasaran banget sih?" tanya Dara heran.


"Ya jelas lah. Soalnya, ciuman adalah puncak dari semua hasrat yang ada dalam percintaan." Ruby pun bersabda bagai orang yang sudah berpengalaman.


Dara pun menggelengkan kepalanya merasa kagum saat mendengar penjelasan Ruby. "Mulut lo, By," ucapnya.


Dibilang seperti itu, Ruby hanya nyengir kuda. Lalu ia kembali mempertanyakan hal yang sama lagi. "Jadi gimana perasaannya?"


"Biasa aja sih," jawab Dara enteng. Lalu ia menyeruput minumannya yang sudah habis setengah.


Melihat reaksi Dara yang biasa-biasa saja, Ruby membulatkan matanya dan menatap Dara tak percaya.


"Halah, bohong! Gue tahu, pasti saat itu dada lo mendadak sesek, trus dampaknya hati lo kaya berbunga-bunga gitu, kan?" tuduh Ruby.


"Kok lo bisa ngomong gitu? Gue curiga, jangan-jangan lo pernah duluan yah?" Dara pun balik menuduh.


"Enak aja! Gue emang pernah pacaran waktu SMP. Tapi belum pernah ngelakuin kaya gitu," jelasnya.


Ya. Ruby memang lebih dulu pernah merasakan yang namanya pacaran, namun itu pun tak bertahan lama. Mungkin hanya sekitar sebulanan. Dan level tertinggi yang pernah Ruby lakukan bersama mantannya adalah sekedar berpegangan tangan. Dan kissing? Mental Ruby saat SMP belum sampai situ.


"Gue itu walaupun gak pernah, tapi gue sering liat drama Korea yang ada adegan ciuman gitu. Ya walaupun cuma ngeliatin doang, tapi hati gue juga ikut keremas-remas gitu. Apa lagi kalo ngelakuin langsung. Pasti lo juga gitu, kan?" tanyanya lagi.


"Ya kali." Dara kembali menjawabnya dengan acuh.


Ingin sekali Ruby berkata kasar saat Dara kembali menjawab pernyataannya dengan tidak serius. Ia hanya mengepalkan tangannya untuk menahan dirinya agar tak menampar mulut Dara yang begitu menjengkelkan. Namun ia segera sadar akan satu hal.


Sabar Ruby! Yang penting Dara udah gak jomblo lagi. Itu harapan elo kan?


Setelah emosinya sudah pulih, Ruby akan kembali mempertanyakan hal yang belum terjawab oleh Dara.


"Tapi by the way nih. Lo gigituannya jenis apa? Jenis vacuum cleaner kah atau yang masih malu-malu?" tanyanya dengan bahasa yang sulit dimengerti oleh Dara.


"Lo ngomong apa sih? Bahasa lo aneh-aneh!" kesal Dara.


"Halah. Sok polos lo," timpal Ruby. Ia menganggap bahwa Dara berpura-pura tak tahu karena temannya itu merasa malu.


"Lah emang gue gak ngerti beneran," ucap Dara dengan yakin.


Melihat bagaimana raut Dara yang sepertinya benar-benar tidak tahu, mau tidak mau Ruby pun akan menjelaskannya.


"Ya maksudnya yang gini apa yang gini," ucap Ruby sambil mempraktekkannya dengan ke-sepuluh jarinya. Ia percis melakukannya seperti sedang mengajarkan pada anak polos yang tidak tahu apa-apa.


Dara hanya mengerutkan dahinya melihat jari Ruby yang terlihat begitu aneh. Ia benar-benar tak tahu apa yang sedang dipraktekkan oleh Ruby. Pengetahuannya tak sampai situ, brother.


"Tangan lo lagi ngapain sih? Cantengan?" tanya Dara dengan polosnya.


Ruby mengembuskan nafas kasar. Sangat sulit baginya untuk membuat Dara mengerti. Ia mengacak rambutnya frustasi, ia pun berdecak kesal menghadapi Dara yang sudah kelewat polos. Jika sudah begitu, tak ada cara lagi selain dirinya untuk menjelaskan kepada Dara dengan sejelas-jelasnya.


"Gigituannya sampe disedot-sedot apa cuma nempel doang!" jelas Ruby tegas. Ia sudah tak lagi mementingkan sopan santun. Karena itu satu-satunya cara agar Dara bisa mengerti.


Dan benar saja. Kini Dara langsung paham dengan reaksinya yang langsung menatap Ruby tajam. "Ruby lo stress yah! Mana ada sampe sedot-sedot gitu," kesalnya.


"Ya ada lah! Kalo level cinta lo udah sampe menggebu-gebu, tahap itu pasti akan ada," jelas Ruby lagi dengan sangat yakin


Dara menggelengkan kepalanya pelan. Berlama-lama mendengarkan Ruby yang terus berbicara, hanya membuat pikirannya kotor saja. Ia pun memilih untuk bungkam.


Di tengah obrolan mereka yang unfaedah itu, terdengar suara notifikasi chat yang muncul dari ponsel Dara. Dara pun segera memeriksakan ponselnya mencari tahu siapa yang sudah mengirimkannya pesan teks.


Saat dilihat, ternyata pengirim dengan nama kontak 'penagih utang' yang telah mengirimkannya pesan. Ya penagih utang itu adalah Abhay. Dara belum sempat mengganti nama kontak itu.


Penagih utang.


Dimana?


^^^Me.^^^


^^^Di kantin.^^^


Setelah membalas chattingan Abhay, Dara kembali memakan mie ayamnya yang akan habis. Setelah selesai, tak lama Ruby kembali bertanya.


"Oh iya. Kalo dipikir-pikir gue belum tahu alasan kalian pada akhirnya meresmikan hubungan kalian," kata Ruby. "Jadi alasannya apa?" tanyanya.


Dara pun sejenak berpikir. Sejujurnya ia sendiri tak tahu bagaimana ia pada akhirnya menerima Abhay di saat Abhay mengungkapkan perasaannya. Kejadian saat itu terasa begitu cepat. Apalagi saat tiba-tiba saja Abhay mengecup bibirnya, seolah kejadian itu langsung menghipnotisnya dan membuatnya sadar bahwa memang ada perasaan aneh jika ia bersama Abhay.


"Gue juga gak tau awalnya, kejadiannya ngalir begitu aja." Dara pun hanya bisa menjawabnya seperti itu.


"Bukannya udah jelas, bahwa kalian saling cinta," ucap Ruby. Seolah ia lebih tahu bagaimana perasaan Dara yang sebenarnya.


Dara pun bungkam mendengar ucapan Ruby yang seakan menohok hatinya. Karena memang kunci utamanya adalah cinta. Mengapa Dara sangat sulit mengatakan hal itu?


Tak lama, suara notifikasi chat kembali terdengar dari ponsel Dara. Setelah dilihat, ternyata Abhay kembali mengiriminya pesan teks.


Penagih utang.


Liat ke kanan.


Saat diberitahu seperti itu, spontan Dara menuruti apa yang diperintahkan oleh Abhay. Dara menengok ke arah kanannya dan langsung mendapati Abhay yang tengah tersenyum kepadanya. Kini Abhay sedang berdiri bersama kedua temannya, sedang memesan makanan.


Setelah puas melihat Abhay, Dara kembali membalas isi pesan Abhay.


^^^Me.^^^


^^^Trus kalo udah liat?^^^


Penagih utang.


^^^Me.^^^


^^^Jangan! Kakak duduk aja sama temen-temen Kakak!^^^


Penagih utang.


Kenapa?


^^^Me.^^^


^^^Masih tanya kenapa.^^^


^^^Udah. Cukup Ruby aja yang tahu, gue gak mau orang lain juga curiga.^^^


Penagih utang.


Oke deh.


Sadar akan kesibukan Dara yang sedang berkutat dengan ponsel, membuat Ruby jadi penasaran dengan siapa Dara sedang chattingan.


"Lo chattingan sama siapa sih? Sibuk banget kayanya," tanya Ruby.


"Dalam hal ini, lo juga pengen tau? Kebangetan lo, By," ucap Dara.


Ruby pun kembali nyengir kuda saat dibilang seperti itu. Ya... Dia memang sangat sadar bahwa dirinya memang kelewatan kepo. Tapi harus bagaimana lagi, karena ia tak bisa menahan dirinya.


"Hehehe. Maap. Kelamaan jomblo jadi gini," ujar Ruby. "Lagian gak dikasih tau juga gue tau kok. Pasti sama ayang mbebb, kan?" tebaknya.


Dara hanya melirik Ruby sekilas. Ia tak menjawab. Namun ingat, diamnya Dara adalah iya nya Dara. Jadi Ruby tak usah repot-repot untuk memaksa Dara untuk menjawab pertanyaannya. Karena ia sudah tahu jawabannya.


Seperti apa yang diminta Dara, Abhay kini sudah memilih mejanya di tempat lain. Namun tetap saja, sekalipun ia tak berdampingan dengan Dara, meja pilihannya tak jauh-jauh dengan meja pilihannya Dara. Meja mereka saling berhadapan, dan hal itu tentu saja memudahkan Abhay untuk terus melihat pergerakan Dara.


"Kenapa gak disamperin aja? Takut ketahuan yah?" tanya Vano. Dia benar-benar sudah seperti peramal yang tahu percis apa yang sedang Abhay pikirkan sekarang.


Dan Abhay. Jelas ia menatap Vano heran. Ia cukup dibuat tak percaya dengan apa yang baru saja Vano katakan. Nih anak dukun kali yah? Seperti itu lah kira-kira isi pikiran Abhay saat ini.


Merasa ditatap, Vano tersenyum miring. "Kenapa ngeliatin gue? Heran yah kenapa gue bisa tau," ucapnya. "Orang gue yang nganterin Dara ke rumah sakit. Mustahil kalo kalian gak ngapa-ngapain," lanjut Vano.


Apa yang dikatakan Vano, membuat Abhay cukup terkejut. Karena dibalik resminya hubungan dirinya dan Dara, ternyata ada andil Vano di sana. Entalah. Apa ia harus mengucapkan terima kasih kepada Vano? Namun jika ia mengucapkan itu, apakah tidak menggelikan?


"Ngapain apa sih Bro? Heh. Kok kalian gak cerita sama gue?" tanya Gilang yang tak sengaja mendengar mereka namun tak tahu apa-apa.


"Si Abhay, kemaren udah jadian beneran sama Dara," ungkap Vano.


Bukannya terkejut, Gilang malah memasang wajah begonya. "Emang kemarin-kemarin belum juga?" tanyanya polos.


Melihat kebegoan Gilang, Vano menatap Gilang malas. Ia pun berdesis kesal. "Aish. Ni anak emang dodol banget sumpah," ucapnya.


"Lah, seriusan gue baru tahu. Emang iya?"


Gilang masih mempertanyakan kebenarannya. Namun sayangnya, ia tak dihiraukan oleh kedua temannya. Gilang benar-benar selalu terasingkan.


Memilih tak menjawab kebingungan Gilang, Vano lebih tertarik untuk melihat pemandangan yang sepertinya akan begitu menarik.


"Gara-gara mentingin pikiran orang lain, jadi ke duluan, kan," ucap Vano samar-samar pada Abhay.


Apa yang dikatakan Vano, membuat Abhay tak mengerti. Lalu ia melihat Vano heran. "Apaan sih?" tanyanya.


"Tuh," jawab Vano sembari mengarahkan pandangannya pada satu titik.


Karena ingin tahu, Abhay pun melihat arah pandang Vano. Saat sudah melihat, tenyata makhluk yang paling dibencinya sedang berjalan menghampiri Dara. Dalam hitungan detik, mood Abhay langsung anjlok dalam seketika.


"Dara. Gue boleh gabung?" pinta Rakha saat ia sudah berdiri dihadapan Dara.


"Kak Rakha. Boleh kok silahkan," jawab Dara dengan ramahnya. Ia tak tahu saja bahwa ada seseorang yang sedang menatap mereka tak suka.


Karena sudah diberi izin, Rakha pun dengan cekatan langsung duduk di hadapan Dara.


"Oh iya. Jangan lupa pulang sekolah nanti ada jadwal latihan rutin." Karena tak ada bahan obrolan lain, Rakha hanya bisa berbasa-basi yang berhubungan dengan kegiatan mereka.


"Gak akan lupa dong," jawab Dara dengan senyum ramah yang selalu ia diperlihatkan jika sudah berhadapan dengan Rakha.


"Nanti juga gue mau ngasih jurus rahasia sama elo," tawar Rakha tiba-tiba.


Mendengar tawaran Rakha, sontak membuat Dara semakin melebarkan senyumannya.


"Hah seriusan? Bener nih, Kak!" tanya Dara sangat antusias. Karena sejak dulu Dara selalu menantikan Rakha yang akan memberikannya jurus-jurus rahasia.


"Ya dong," balas Rakha tak kalah antusiasnya.


"Asik!"


Kesenangannya kini benar-benar teralihkan di saat Rakha menawarkan sesuatu yang sangat ia inginkan. Karena hal itu, Dara sampai tak mempedulikan situasi sekitarnya. Situasi yang akan segera memanas.


"Jangan sok-sokan ngajarin Dara jurus-jurusan. Tepati dulu janji lo!"


Suara itu tiba-tiba membuyarkan senyumannya Dara. Karena ada seseorang yang sedang kebakaran jenggot yang sudah menghampiri mereka. Dan kini, ia sudah duduk tepat di samping Rakha.


"Janjinya mau tanding sama gue sehabis turnamen. Mana sekarang? Turnamen juga udah lewat jauh! Lo berusaha kabur?" ungkap Abhay dengan angkuhnya.


Dianggap seperti itu, Rakha pun tersenyum sinis. Apa yang dikatakan Abhay, tentu saja berhasil melukai harga dirinya. Lalu dengan percaya dirinya, Rakha akan membalas keangkuhan Abhay.


"Siapa juga yang kabur? Sekarang juga bisa," ucap Rakha tak kalah angkuhnya.


Saat Rakha menyetujui tantangannya, Abhay pun tersenyum senang. Dengan jiwa yang membara di dalam dadanya, Abhay begitu tak sabar untuk segera menghajar wajah seseorang yang sejak dulu sangat ingin ia hancurkan.


"Okeh. Sepulang sekolah. Gue tagih janji elo!" ucap Abhay begitu antusias.


Rakha hanya tersenyum kecut. Tak ada raut ketakutan dari wajah Rakha. Karena ia sangat yakin dengan kemampuannya. Dan Abhay, yang awalnya hanya modal berani, ia juga sangat yakin untuk bisa menghancurkan Rakha.


Di tengah duelitas di antara mereka berdua, ada seseorang yang kini sedang merutuki kebodohan Abhay.


Haduh Kak Abhay. Kenapa harus cari mati sih!