Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
93. Kenyataan pahit



Andra melangkah gontai mendekati mereka yang kini tengah melihatnya penasaran. Kepalanya sedikit tertunduk menutupi wajahnya yang sudah tak terbentuk. Kantung mata yang sedikit menghitam, rambut yang acak-acakan, dan baju lusuh melekat ditubuhnya. Sudah terlihat jelas betapa kacaunya Andra saat ini.


"Bang! Lo kemana aja, Bang?!!" pekik Dara saat Andra sudah berada didekatnya.


"Habis kemana kamu?" tambah Bunda Iis yang sama ingin tahunya.


Dengan wajah yang terus tertunduk, Andra menjawab mereka. "Andra... Andra mau ke kamar," jawab Andra acuh. Ia tak menghiraukan rasa penasaran keluarganya.


"Gak bisa gitu dong! Enak aja main pergi setelah bikin kacau. Lo harus jelasin dulu!" perintah Dara sangat emosi.


"Jelasin apa?"


"Iya Abang kemana aja?!"


Andra menghela nafasnya frustasi. Paksaan dari adiknya membuatnya terganggu. Ia pun memberanikan diri menenggakan kepala di hadapan keluarganya dan menunjukan wajah kacaunya.


"Gue main, trus nginep di rumah temen gue. Puas lo?!" tukas Andra terdengar seperti membentak Dara.


Sangat berbeda dengan hari-hari biasanya, nampak saat ini Andra menunjukkan sisi lainnya. Andra memang biasa berkata kasar pada adiknya, namun perkataan kasar kali ini terdengar berbeda. Andra mengucapkan kalimat itu dengan suara yang sangat dingin, alisnya pun menurun diikuti sebuah kerutan yang terbentuk di antara alisnya. Andra terlihat sangat marah, dan hal ini membuat Dara terpaku untuk sesaat.


"Bentar Andra!" teriak Bunda Iis.


Andra yang hendak melangkah kakinya untuk pergi kamarnya, menjadi terurungkan karena sang Bunda tiba-tiba meneriakinya cukup keras. "Ada apa lagi Bunda?" tanya Andra cukup malas.


"Bener cuma main dan nginep-nginep biasa doang?" tanya Bunda Iis. Ia menatap tajam pada putranya dengan sorotan mata yang begitu mengintimidasi.


"Ya iyah, apa lagi."


"Baju kamu bau minuman. Muka kamu kacau. Memangnya Bunda bisa dibohongi!" teriak Bunda Iis sangat murka.


Bunda Iis sebenernya tak pernah semurka saat ini. Namun menyadari perbuatan anaknya yang terlampau salah, ia tak segan-segan untuk menegur anaknya. Apalagi jika sudah menyangkut dengan pergaulan bebas, ia selalu menolaknya dengan keras.


"Jujur sama Bunda, kamu habis ngapain?" tanya Bunda Iis namun tak direspon apa-apa oleh putranya.


Bunda Iis semakin mendekatkan dirinya pada Andra, dan membuat posisi Andra semakin terdesak. "Kamu sudah berjanji sama Bunda dan ayah untuk tidak bergaul seperti itu. Lalu ini apa?!"


"Bunda. Andra minta kali ini aja, tolong biarin Andra pergi ke kamar yah. Andra capek," elak Andra, terus saja berusaha untuk menghindar.


Andra berencana ke kamarnya lagi saat sudah mengatakan hal itu pada bundanya. Untuk saat ini ia tak mempedulikan jika dirinya dicap sebagai anak durhaka. Ini semua karena mood-nya yang sudah sangat hancur. Ia tak dalam kondisi baik untuk menjelaskan.


Saat Andra melangkahkan satu kakinya untuk pergi, lagi-lagi langkahnya terhenti. Kali ini bukan teriakan yang mengentikan niatnya, namun sebuah cengkraman kuat tiba-tiba terasa di lengannya.


Andra melihat cengkraman itu, dan menatap tajam pada seseorang yang sudah melakukannya. "Ada apa lagi sih ini!" teriak Andra pada Dara.


"Lo bener-bener orang yang gak bertanggung jawab yah! Lo pikir gue nggak sadar?! Pasti udah terjadi sesuatu antara lo dan Kak Abhay, kan?!" Dara akhirnya bersuara saat sebelumnya ia terdiam cukup lama. Ia tanpa berbasa-basi segera mengungkap isi otaknya pada Andra.


"Asal lo tau, semenjak hari dimana gue ninggalin kalian berdua, semenjak itu pula Kak Abhay ngilang. Dia persis seperti apa yang lo lakuin. Dia ngilang tiba-tiba!"


Andra mengerutkan keningnya dengan matanya yang lebih melebar. Nampak Andra yang terkejut dengan ucapan Dara. "Apa? Abhay ngilang?"


"Iyah. Dan itu pasti ada hubungannya sama elo, kan? Jadi lo harus jujur sama gue, apa yang udah terjadi di antara kalian?"


Andra bungkam, matanya seketika kosong.


"Jawab Bang! Kenapa diem aja, jawab!"


Saat keributan tengah terjadi, Ayah Leo datang dengan sebelah tangan yang menjinjing tas kerjanya. Ia datang dengan raut wajah bingung. "Ini ada apa ribut-ribut?"


Lalu Ayah Leo melihat Andra yang berdiri di antara mereka. "Loh, anak ilang udah pulang. Habis kemana kamu?" tanya Ayah Leo pada putranya.


"Bang jawab! Kalo gak ada apa-apa bilang! Kalo lo diem gini, gue anggap emang ada sesuatu!"


Keseriusan masih terus berlanjut. Dara mengeraskan wajahnya di depan kakaknya. Ia tak sadar akan kehadiran ayahnya, pikirannya terlalu fokus untuk mengintrogasi Andra.


Di sisi lain, Ayah Leo semakin kebingungan. Baru saja ia pulang dari tempat kerja, namun sudah disuguhkan dengan suasana yang begitu mencekam. Ayah Leo melirik ke arah Bunda Iis menanyakan apa yang sedang terjadi, namun ia langsung diberi gelengan kepala dari Bunda Iis. Karena sejujurnya Bunda Iis pun tak tahu mengenai isi pembicaraan anak-anaknya. Mereka tiba-tiba membahas Abhay, Bunda Iis tak tahu tentang itu.


"Andra, kenapa kamu diam saja? Apa benar penyebab kamu seperti ini ada hubungannya dengan Abhay?" tanya Bunda Iis turut mendesak Andra.


"Jawab Bang!! Jawab!!"


Andra tetap diam saja walau sudah didesak. Ia terus terus tertunduk dengan tatapannya yang kosong.


"Jawab!! Pasti ada sesuatu, kan? Iya, kan?!!"


"Jawab!!"


Dara tak ingin menyerah. Ia beberapa kali mengerakan kata yang sama. Rasa penasarannya semakin memuncak di saat Andra yang terus diam saja.


"Jawab, Bang!!"


"CUKUP DARA!!!"


Akhirnya Andra mengeluarkan suaranya. Ia berteriak karena sudah tahan mendengar Dara yang terus mendesaknya. Lalu perlahan Andra menenggakan kepalanya. Ia menatap nanar ke arah Dara. "Cukup. Gue juga gak tau bakal kaya gini," ucapnya dengan suara yang melemah.


Dara termenung dengan ucapannya. Ia tak paham dengan arah pembicaraan Andra.


"Maksud lo apa, Bang?!"


Bukannya menjelaskan, Andra menggerakkan tubuhnya mendekati sofa yang ada di sampingnya. Ia terduduk di sana dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Ia terlihat frustasi dan beberapa kali mengacak-acak rambutnya kasar, mulutnya pun terus saja mengucapakan kata maaf.


"Maafin gue, Dara. Maafin gue. Gua gak tahu bakal kaya gini. Maafin gue udah ngerusak semuanya."


Permintaan maaf Andra malah membuat Dara semakin bingung. Sumpah demi apa pun Dara tak mengharapkan sebuah kalimat maaf. Kini yang ia butuhkan hanya sebuah penjelasan. "Bang! Lo kenapa? Kenapa lo minta maaf sama gue?" ucapnya seperti itu.


Bukan hanya Dara, Ayah Leo beserta Bunda Iis turut merasa kebingungan. "Andra, kamu kenapa Andra?" tanya Bunda Iis.


"Andra, gak tau Bunda," jawab Andra masih terdengar ambigu.


"Gak tau apa? Kamu ngomong yang jelas."


"Andra gak tau kalo orang yang Andra tabrak tiga tahun yang lalu, ternyata dia...,"


Andra menggantungkan ucapannya sejenak. Ia mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya. Saat sudah siap, ia kembali berucap. "Ibunya Abhay."


Deg. Darah Dara berhenti mengalir untuk sejenak. Ia mencerna baik-baik pengakuan Andra. Kakaknya adalah penabrak ibunya Abhay? Apakah itu mungkin? Dara mengelengkan kepalanya tak mau percaya, lalu ia tersenyum miris, seakan menganggap omongan Andra adalah sebuah lelucon.


"Gak. Lo ngomong apa sih, Bang? Kita lagi serius! Gak usah ngelawak!" tegas Dara tak mau diajak bercanda.


"Kamu yang bener kalo ngomong. Buktinya apa?" tanya Bunda Iis yang sama tak percayanya.


"Tanya aja sama Dara, siapa ayahnya Abhay," timpal Andra dengan putus asanya.


Ayah Leo kini mengalihkan perhatian kepada putrinya. "Dara. Emang siapa?"


"Ya namanya Pak Arief. Emang kenapa? Namanya Arief kan banyak," jawab Dara.


"Arief pengusaha batu bara bukan?" tanya Ayah Leo lagi lebih pasti.


Dara membeku. Bagaimana Ayahnya tahu mengenai usaha ayahnya Abhay? Padahal ia belum memberi tahunya. Bagaimana bisa? "I-yah," jawab Dara terbata.


Satu kata itu berhasil membuat Ayah Leo dan Bunda Iis menjadi tertunduk. Seakan membenarkan ucapan Andra, mereka turut frustasi.


"Kenapa kalian pada nunduk kaya gini?" tanya Dara heran dengan tingkah aneh kedua orang tuanya. "Kan namanya Arief pengusaha batu bara bisa aja gak cuma satu. Dunia gak sempit. Jutaan orang hidup di sini!" Dara terus menyangkal.


"Iya memang bener kalo ibunya Kak Abhay meninggal karena ditabrak. Tapi Kak Abhay pernah bilang ke Dara, kalo penabrak ibunya itu pernah kabur ke Medan. Dan itu pastinya bukan Bang Andra."


"Dan yang ke Medan itu temen gue," sergap Andra cepat. "Pas kejadian itu gue pake motor temen gue yang ke Medan itu. Jadi Abhay ngira kalo penabraknya temen gue. Padahal itu gue!" aku Andra mempertegas bahwa dirinya adalah pelakunya.


Dara menggeleng-gelengkan kepalanya tetap tak mau percaya. "Gak! Gak mungkin. Gue gak mau percaya itu!" teriak Dara sangat emosi.


Karena tak ingin tahu lebih banyak lagi, Dara menggerakkan kakinya menjauhi mereka. Ia sudah tahan, lalu ia berlari menuju kamarnya.


Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar dan menutupnya dengan keras. Sepersekian detik ia termenung dengan dada yang bergemuruh, tatapannya pun terlihat mengosong.


"Gak mungkin. Ini gak mungkin!" tegas Dara menyakinkan dirinya.


Tiba-tiba kaki Dara melemas, lalu ia mendudukkan dirinya di atas lantai. Lututnya ia tekuk dengan pandangan mata yang sama.


"Tapi kenyataan yang disebutkan tadi, kenapa bisa sama?"


Dara kembali termenung. Kini matanya yang mulai memanas. Butiran bening mulai terkumpul di pelupuk matanya. Pertahanannya mulai melemah.


"Kalo pun iya, kenapa dari jutaan banyaknya orang di dunia ini, kenapa harus kakak gue! Kenapa!!" teriak Dara begitu murka.


Dara menenggelamkan wajahnya di antara dua lututnya. Pada akhirnya tangisannya pun pecah. Keyakinannya sudah runtuh. Kenyataan pahit yang menimpa keluarganya, mengapa ia baru mengetahuinya sekarang. Dara sangat membenci itu.


Kak, apa semua ini benar? Apa Kakak menghilang gara-gara ini?


Dan kalo memang benar, kenapa bisa ini terjadi sama kita, kak? Kenapa?