Oh Sh*T! I Love You

Oh Sh*T! I Love You
78. Awal dari ...



Seperti yang dikatakan malam itu, di pagi harinya mereka memutuskan untuk langsung pulang. Abhay pun mengantarkan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Vano, Gilang dan Ruby sudah turun dari mobil. Dan kini hanya menyisakan Dara di dalam mobil karena rumah Dara yang paling jauh dia antara yang lain.


Saat mobil itu berjalan menuju rumah Dara, Dara yang sudah pindah duduk di depan, ia terus menggerak-gerakkan badannya seperti orang gelisah. Abhay yang menyadari hal itu, ia pun menoleh pada Dara sekejap dan hendak bertanya keadaannya.


"Lo kenapa?"


"Gue tiba-tiba kebelet pipis," ujar Dara jujur.


Abhay tersenyum tipis. Dia kira Dara gelisah karena memikirkan sesuatu, tapi ternyata panggilan alam. "Gak tahan banget?" tanyanya.


"Iyah," jawab Dara diikuti oleh ringisan. Ia benar-benar tak tahan karena posisinya yang sudah di ujung tanduk.


Tak tega melihat Dara yang sedang menahan beban, sambil menyetir Abhay mengedarkan matanya ke kanan dan kiri untuk mencari pom bensin atau tempat umum yang memilki toilet. Namun sayangnya, jalan yang sedang mereka lalui adalah area komplek perumahan, jadi tak ada toilet umum di sana. "Gak ada toilet umum di sini. Gimana dong?" tanyanya bingung.


"Bukannya di belokkan sana rumah Kakak yah?" tanya Dara. Karena ia tahu betul bahwa rumah Abhay tak jauh dari jalan yang sedang mereka lalui.


"Iyah. Tapi apa lo bisa tahan dua menitan?"


"Bisa tahan kok gue. Ke rumah Kakak aja deh," pinta Dara.


Atas permintaan Dara, Abhay pun lebih mempercepat laju mobilnya. Mungkin saja jika ia lebih cepat ia bisa menipis waktu yang tadinya dua menit menjadi semenit. Pastinya akan lumayan.


Dan benar saja, dalam satu menit Abhay tiba di rumahnya. Saat mobil sudah berhenti, Dara dan Abhay bergegas turun dan masuk ke dalam rumah.


"Gue ke kamar bentar yah," ucap Abhay.


Dara hanya menggangguk. Dengan langkah setengah berlari, Dara pergi ke toilet yang sudah ditunjukkan oleh Abhay, dan posisi toilet itu berdampingan dengan dapur.


"Ah leganya," ucap Dara seraya bernafas lega setelah ia selesai memenuhi panggilan alam itu.


Saat Dara keluar toilet, manik mata Dara langsung menangkapi sosok yang sangat tak asing di matanya. Dia sangat tahu bahwa orang itu adalah papahnya Abhay.


"Loh ada Om," ucap Dara tanpa sadar.


Pak Arief yang selesai minum, sontak beliau menoleh pada Dara. Dari rautnya, beliau pun cukup terkejut melihat kehadiran Dara yang tiba-tiba saja sudah ada di sana.


"Pagi Om," sapa Dara. Ia pun berjalan menghampiri Pak Arief seraya mengulurkan tangannya untuk bersaliman.


"Kamu kok pagi-pagi udah di sini?" tanya Pak Arief cukup ramah.


"Iyah Om. Sebenernya saya, Kak Abhay sama temen-temen yang lain baru pulang liburan. Trus pas Kak Abhay mau nganterin saya pulang, tiba-tiba saya kebelet pipis. Jadi saya ke sini dulu, Om," jelas Dara.


"Oh begitu." Pak Arief manggut-manggut mengerti.


Setelah percakapan itu, keadaan mendadak menjadi kikuk. Dara sendiri bingung, apa yang ia harus katakan lagi. Ditambah lagi dengan Pak Arief yang malah diam saja, jadi membuat situasi semakin canggung. Untuk itu, Dara berniat untuk langsung pamit pulang saja.


"Ya sudah Om, saya pamit pulang yah Om," pamit Dara. Tak lupa ia mengangguk sopan dan mulai melangkahkan kakinya.


"Dara. Kamu namanya Dara, kan?"


Langkah Dara terhenti, karena Pak Arief tiba-tiba saja menyebut namanya. Lantas Dara pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan menoleh pada Pak Arief kembali.


"Iya, Om," jawab Dara.


"Boleh kita bicara sebentar. Om pengen ngobrol-ngobrol sama kamu. Boleh?" pinta Pak Arief tiba-tiba.


Kedua bola mata Dara spontan melebarkan tempatnya. Ia cukup terkejut dengan permintaan Pak Arief yang sangat mendadak.


"Boleh-Om," jawab Dara sedikit gagu.


"Tapi bicaranya gak di sini. Apa gak masalah?" pinta Pak Arief lagi.


Lagi-lagi Dara dibuat tercengang oleh permintaan Pak Arief. Untuk apa Pak Arief ingin bicara di tempat lain? Kenapa tidak bicara langsung saja? Apakah seserius itu obrolan yang akan Pak Arief katakan?


"Gimana?" tanya ulang Pak Arief karena Dara tak kunjung menjawab.


Dara terbangun dari pikirannya. Walaupun dibuat bingung, Dara juga tak bisa begitu saja menolak permintaan Pak Arief. Rasanya tak sopan jika ia menolak, apalagi posisi dia yang tak sibuk apa-apa.


"Boleh Om. Gak masalah," jawab Dara pada akhirnya.


"Ya sudah. Ayo ikut Om," ajak Pak Arief.


Dara mengangguk, ia pun segera membuntuti langkah Pak Arief. Entah kemana dia akan dibawa, yang jelas dia hanya menurut saja.


Tak lama langkah Pak Arief terhenti di sebuah ruangan. Beliau membuka pintu ruangan itu dan mempersilakan Dara untuk masuk.


"Silahkan duduk," ucap Pak Arief mempersilahkan Dara duduk di sofa yang ada di sana. Setelah Dara duduk, beliau pun memposisikan dirinya untuk duduk di hadapan Dara.


Sejujurnya Dara sedikit tak nyaman berada di sana. Bagaimana tidak. Posisi mereka yang hanya berdua saja sudah membuat Dara tegang, dan ditambah pula dengan tempat yang cukup sepi dan tertutup. Semakin terjadilah ketegangan yang semakin menjadi.


"Udah kamu gak usah tegang. Rileks aja," ucap Pak Arief saat menyadari gelagat Dara seperti orang tak tenang.


"Hehehe. Iya Om," timpal Dara kikuk.


"Kalian abis liburan kemana?" tanya Pak Arief. Beliau akan memulai obrolan mereka dengan obrolan santai.


"Kita abis ke pantai Om," jawab Dara.


"Dari kapan?"


"Baru kemarin Om."


"Lagi acara kelas atau apa?"


"Lebih tepatnya sih Kak Abhay yang ngerencanain liburan ini Om," ungkap Dara apa adanya.


"Abhay yang ngerencanain?" tanya Pak Arief memastikan.


Dara mengangguk mengiyakan. "Iya Om," jawabnya.


Dari pengakuan Dara, terlihat Pak Arief yang cukup terkejut. Karena melihat Abhay yang hidupnya tak punya gairah dalam hal apapun, namun kini dikejutkan oleh pernyataan bahwa putranya itu berinisiatif untuk merencanakan liburan. Tentunya saja bagi Pak Arief hal itu cukup aneh.


"Oh ya, kamu sendiri udah berapa lama sama Abhay?" tanya Pak Arief lagi.


Dara mengadakan kepalanya ke atas, ia seperti mencari jawabannya di atas sana. Karena sebenernya Dara sendiri lupa berapa lama ia sudah menjalin hubungan dengan Abhay.


"Hmm ... Belum lama sih Om. Paling baru tiga atau empat bulanan. Saya agak lupa percisnya berapa lama," tutur Dara hanya bisa mengira-ngira.


"Oh begitu," timpal Pak Arief.


Saat keadaan sudah mencair. Pak Arief berencana untuk langsung menuju ke inti pembicaraan. Beliau pun tak akan berbasa-basi terlalu panjang karena ia sendiri harus segera pergi dari sana.


"Oh ya. Om waktu itu pernah tanya ke kamu, tapi waktu itu kamu belum sempet jawab," ujar Pak Arief.


"Apa itu Om?"


"Kenapa kamu mau sama anak Om? Anak Om kan begitu. Nakalnya gak ketulungan. Kenapa kamu mau sama dia?"


Tak butuh waktu lama untuk berpikir mencari jawabannya, Dara langsung menjawab pertanyaan Pak Arief dengan tenangnya. "Karena saya gak melihat Kak Abhay seperti itu Om," jawab Dara dengan mantap.


"Awalnya memang saya melihat Kak Abhay seperti apa yang Om katakan tadi. Di sekolah pun Kak Abhay dikenal seperti itu. Tapi setelah saya mengenal Kak Abhay lebih jauh lagi, ternyata pandangan saya terhadap Kak Abhay salah. Kak Abhay sebenernya anak baik Om," lanjut Dara menjelaskan panjang lebar pada orang tuanya Abhay.


Keyakinan Dara dalam menilai putranya, cukup membuat Pak Arief merasa tertegun. Beliau sampai tak sempat menimpali omongan Dara, karena ia ingin menyimak dulu penjelasan Dara mengenai putranya.


"Walaupun Kak Abhay selalu menunjukkan bahwa dirinya nakal, tapi saya tetap gak melihat dia seperti itu. Di sekolah pun Kak Abhay udah gak sering bolos lagi. Gak ikut tawuran, gak bikin onar di sekolah. Dia seperti anak-anak sekolah pada umumnya."


"Dan kamu yang udah buat anak Om seperti itu," sanggah Pak Arief mendadak.


Dara mengerutkan dahinya heran. Ia tak cukup paham dengan maksud dari perkataan Pak Arief. "Maksudnya Om?" tanyanya.


"Sebenarnya, Om sudah dengar mengenai perubahan sikap Abhay akhir-akhir ini. Walaupun Om terkesan tak peduli dengan anak Om, tapi Om juga masih orang tua Abhay. Om juga setiap pulang ke rumah selalu menanyakan kabar Abhay lewat Bu Wati. Dan Bu Wati bilang, Abhay sudah berubah saat kamu ada," jelas Pak Arief. Dan Dara dengan serius mendengarkan penjelasan Pak Arief dengan seksama.


"Bu Wati juga bilang, kalo sebelumnya Abhay selalu malas pergi ke sekolah. Tapi sekarang Abhay sudah berbeda. Sekarang dia selalu semangat kalo pergi sekolah."


"Dan perubahan itu terjadi saat kamu ada," tegas Pak Arief lagi. "Jadi Om bisa menyimpulkan bahwa Abhay hanya mau mendengarkan kamu ketimbang Om," lanjutnya.


Lalu Pak Arief membetulkan posisi duduknya untuk lebin nyaman. Setelah itu, beliau akan segera menyampaikan maksud sebenarnya kepada Dara.


"Karena itu, Om minta bantuan sama kamu, boleh?" pinta Pak Arief tiba-tiba.


Dara sempat syok karena Pak Arief tiba-tiba saja meminta bantuan kepadanya. Walau sedikit takut maksud dari bantuan itu, namun bagaimana pun Dara harus tetap bertanya mengenai kejelasan bantuan yang Pak Arief maksud.


"Selagi saya bisa, kenapa gak Om. Memangnya Om mau minta bantu apa?" tanya Dara


"Jadi gini. Mungkin kamu sudah tahu dari Abhay pekerjaan Om itu bagaimana. Dan kamu pasti sudah tahu bahwa di keluarga ini hanya ada Om dan Abhay saja. Jadi sudah pasti Abhay adalah satu-satunya penerus Om di keluarga ini, gak ada orang lain lagi. Dan tentunya, untuk memimpin sebuah perusahaan itu gak bisa main-main, tapi harus memiliki edukasi yang jelas," tutur Pak Arief menjelaskan.


Dan Dara mengangguk paham, karena tak ada yang salah dengan penjelasan itu. Namun setelah mendengarkan baik-baik penjelasan Pak Arief lebih dalam lagi, entah kenapa Dara sedikit curiga bahwa ada suatu hal besar akan terjadi. Untuk itu ia sangat menantikan penjelasan Pak Arief selanjutnya.


"Jadi intinya, Om berencana untuk menguliahkan Abhay ke Amerika."