
Meysa menatap sekeliling kamar yang telah ia tempati lebih dari seminggu ini dengan tangannya yang terus memasuki pakaiannya ke dalam koper.
Cklek.
"Sudah siap?"
Ucap Sam menatap koper milik Meysa.
Dengan cepat Meysa menutup koper miliknya saat merasa semua barang miliknya telah ia masukkan.
"Sudah Om"
Ucap Meysa sendu.
Sam melangkah perlahan mendekati Meysa dan meraih ganggang koper dan mengangkatnya menuju mobil.
Sepanjang perjalanan hanya suara deru mobil yang terdengar, Meysa menatap ke arah luar melalui kaca jendela, ia tidak ingin menatap ke arah Sam, entah mengapa ada rasa sesak di hatinya mengingat kembali perkataan Sam semalam.
Sesampainya di rumah Meysa segera turun dan membuka pintu di ikuti Sam dengan membawa koper milik Meysa.
Suasana sepi itulah yg di rasakan Meysa saat memasuki rumahnya.
"Kamu sendirian? Kemana bibi?"
Ucap Sam menatap sekeliling ruangan.
"Bibi pulang kampung, ada keluarganya yg pesta"
Ucap Meysa jujur.
"Kamu tidak apa sendirian di rumah sebesar ini?"
"Meysa sudah terbiasa Om semenjak Mami meninggal dan Papi sibuk kerja"
Entah mengapa Sam merasa iba mendengar perkataan Meysa barusan.
"Om mau minum sesuatu? Atau mau langsung pulang?"
Ucap Meysa menatap wajah Sam.
"Gue mau langsung ke kantor aja, loe baik-baik di rumah ya, jangan suka keluar gak jelas"
Ucap Sam dengan mengacak rambut Meysa.
Sedangkan Meysa hanya membalas dengan senyuman yang penuh akan syarat.
******
Siang ini Sam memutuskan untuk makan siang di cafe Joo yang merupakan salah satu tempat usaha milik Kayla. Perlu Sam akui jempol interior dan suasana cafe ini membuatnya betah berlama-lama disana, bahkan menunya sangat pas di lidah dan kantong kalangan Mahasiswa, ya Cafe Joo terletak tidak jauh dari salah satu kampus di kota ini.
"Hay, kita jumpa lagi"
Ucap Celin dengan senyum manisnya.
Sam dikejutkan dengan keberadaan Celin yang tiba-tiba berada di depannya.
"Boleh aku bergabung?"
Sedangkan Sam yang di tanya hanya mengangguk tanda setuju.
"Sendirian aja. Habis meeting ya?"
Ucap Celin memulai percakapan mereka.
"Tidak, hanya sekedar makan siang"
Ucap Sam dengan melanjutkan kembali makannya.
"Owhh begitu,,, Hmm,, Kebetulan kita jumpa disini aku ingin memberikanmu undangan birthday party"
Dengan Celin yang memberikan Sebuah undangan berwarna silver yang langsung di terima oleh Sam.
"Satnight yah"
Ucap Sam setelah membuka dan membaca sekilas undangan tersebut.
"Iya dan aku berharap kamu bisa hadir"
Celin menatap penuh harap pada Sam.
"Aku tidak bisa janji, tapi jika tidak sibuk akan aku usahakan datang"
"Baiklah, Hmm,, Kamu ingin kado apa?"
Mendengar Sam berkata begitu sontak saja senyum merekah di bibir Celin terlihat jelas dengan ia yang langsung bersemangat.
"Apa boleh aku meminta sebuah kalung berlian?"
Ucap Celin dengan wajah berbinar.
Sontak saja Sam sedikit terkejut. Bukan ia tidak mampu membelikan sebuah kalung berlian untuk Celin namun ia sedikit terkejut dengan keberaniannya tersebut.
"Eh, bercanda kok,, Hehe,, aku tidak ingin apa-apa, kehadiranmu saja sudah merupakan kado terindah di hari ulang tahunku nanti"
Sambung Celin dengan senyuman tulus di wajahnya.
"Kamu berlebihan"
Ucap Sam dengan sedikit tertawa.
"Kenapa tertawa? Aku serius loh"
Timpa Celin dengan senyum yang tidak luntur di wajahnya.
Celin akui Sam adalah tipe laki-laki idamannya, bagaimana tidak wajah Sam yang tampan dengan rambut panjang terikat rapi memberikan kesan Machoo, di tambah postur tubuh Sam kini yang terlihat padat dengan otot-otot tubuh yang tercetak jelas di balik kemeja milikya.
"Ya yahh baiklah aku percaya"
Sam melirik arloji di pergelangan tanggannya sesaat.
"Aku harus kembali ke kantor---"
Sambung Sam dengan meraih ponselnya yang berada di atas meja.
Ucap Celin cepat memootong perkataan Sam dengan menahan tangan Sam.
"Tentu saja, berkunjunglah jika kamu sedang senggang"
Ucap Sam dengan tersenyum manis dan berlalu meninggalkan Celin dengan senyum yang tidak luntur di wajahnya.
Ddrrrtt,, Ddrrttt,,,
Suara ponsel milik Celin menghentikan senyum di wajahnya saat melihat siapa yang telah menghubunginya.
"haloo,"
"Baiklah aku akan ke apartemenmu sekarang"
Celin segera memutus panggilan tersebut dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan beranjak meninggalkan Cafe tersebut.
******
Siang ini Dave memberikan kejutan kepada Kayla dengan mendatangi kantor Kayla.
"Sayaaannggg"
Ucap Kayla saat melihat siapa yang memasuki ruangannya dan dengan cepat beranjak menuju Dave.
Bugh.
Kayla langsung memeluk erat tubuh Dave dengan Dave yang terkekeh ringan melihat tingkah Kayla.
"Kenapa ga ngabarin sih kalo mau kesini?"
Ucap Kayla manja.
"Kejutan dong"
Ucap Dave dengan memberi kecupan singkat di dahi Kayla.
"Udah makan siang?"
Lanjut Dave menatap manik hitam Kayla.
Kayla hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kikuk.
Dave melirik sejenak jam yang tergantung di dinding ruangan Kayla.
"Sudah hampir jam dua. Ayo ikut kita Lunch di luar"
"Nanti saja ya,, Pekerjaan aku masih banyak, atau kita makan disini biar aku pesankan makan"
Ucap Kayla mencoba menolak Dave mengingat masih banyak berkas yang belun ia periksa.
"Sekarang, atau tidak bekerja lagi"
Ucap Dave tegas.
Kayla tidak bisa menolak lagi karena memang ancaman Dave tidak main-main.
Kayla masih ingat bagaimana Dave menahannya di rumah dan itu sangat membosankan menurut Kayla.
"Vin, saya keluar sebentar kamu handle kerjaan saya ya"
Ucap Kayla saat melewati meja Vina.
"Baik nona"
Ucap Vina dengan menundukkan kepalanya.
Dave segera membawa Kayla menuju salah satu restoran cepat saji.
"Tumben kita kemari?"
Ucap Kayla saat Dave menghentikan kendaraannya.
"Entah mengapa rasanya aku ingin makan ayam tepung"
Ucap Dave dengan sedikit terkekeh.
"Sayang"
Ucap Kayla menatap Dave dengan tatapan sendu. Sontak saja membuat Dave memfokuskan pandangannya terhadap Kayla.
"Ya sayang, ada apa? Apa kamu ingin sesuatu?"
"Aku rindu Papi dan Mami, hmm,, Apa boleh aku tidur di rumah Papi?"
Ucap Kayla dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Mengapa berkata begitu sayang, tentu saja boleh, nanti malam kita akan menginap di rumah Papi,, Sekarang ayo senyum, Aku tidak suka melihat wajahmu seperti itu"
"Terimakasih sayang"
Ucap Kayla tulus dengan senyum yang mulai merekah di bibirnya.
"Tapi tidak gratis"
"Maksudmu?"
"Kau harus membayarnya nanti malam"
Ucap Dave dengan mengedipkan sebelah matanya.
Sontak saja Kayla membulatkan matanya, perkataan Dave barusan hampir membuat Kayla tersedak minuman soda yang baru saja di minumnya.
******
Berbeda dengan seorang gadis yang tampak sendu menatap keluar di balik jendela kamarnya.
"Baiklah aku harus memikirkan untuk melanjutkan kuliah ke universitas mana sekarang"
Ucap Meysa dengan menatap beberapa brosur di tangannya.
Tidak lama lagi ia akan menerima hasil dari ujian akhir yang pastinya akan menentukan kelulusannya di bangku SMA.