Oh Kayla

Oh Kayla
Ternyata



Sebulan kemudian..


"Aduuh perut gue mules ne, Kay tolong loe serahin laporan ini ke ruang Pak Hartono ya" Ucap Santi menyerahkan berkas dan berlalu menuju toilet.


"Ehh"


kaget Kayla melihat santi berjalan dengan terburu-buru.


"Padahal gue belum jawab uda maen tinggal aja"


Ucap Kayla sambil melirik berkas tersebut menuju ruang kepala devisi.


Tok.. Tokk..


"Ya masuk"


Suara dari dalam ruangan yang tidak asing lagi di telinganya.


"Permisi pak, ini laporan dari mbak Santi"


Ucap Kayla sambil meletakan berkas tersebut di atas meja.


"Kenapa kamu yang antar? Santi kemana?"


"Mbak santi tiba-tiba sakit perut pak"


Ucap Kayla lagi.


"Owh begitu" Ucap Pak Hartono menatap Kayla.


"Permisi pak" Ucap Kayla yang hendak pamit.


"Sebentar, tolong sekalian minta tanda tangan laporan ini ke ruang presdir ya"


Ucap Pak Hartono sambil menyerahkan laporan tersebut.


"Baik. Permisi pak"


Ucap Kayla dengan segera meninggalkan ruangan Pak Hartono.


'Huuffhh... begilah kalo bawahan ya disuruh-suruh. Semangat kay'


Ucapnya menyemangati diri sendiri.


Tingg,,


Liff berhenti tepat di lantai teratas dimana terletak ruang presdir dan beberapa petinggi perusahaan. Kayla yang notabennya anak pengusaha besar jadi tidak merasa kaget lagi dengan bangunan dan arsitektur gedung yang di rancang kokoh dan mewah tersebut.


Berjalan beberapa langkah saja terlihat seorang wanita cantik dengan kaca mata yang bertenger manis di hidung mancungnya, terlihat sibuk di depan layar komputer, ya dia adalah Maya sekretaris presdir.


"Permisi mbak, saya dari devisi pemasaran ingin minta tanda tangan presdir"


Ucap Kayla, sejenak wanita tersebut melirik Kayla dari bawah hingga ujung kepala.


'Cantik, pakaian yang di gunakan barang bermerk dengan model simpel'


"Hmm,, iya sebentar"


Ucap wanita tersebut langsung melakukan interkom.


Sejenak menunggu akhirnya Kayla di persilahkan masuk langsung ke dalam ruang presdir.


Tok..tokk..tokk.


"Masuk"


Suara tegas dari dalam sontak membuat jantung Kayla melonjak.


Ckleekk...


Perlahan Kayla membuka pintu dan masuk kedalam ruangan bernuansa abu-abu dengan jejeran buku-buku yang tersusun rapi di lemari besar tersebut.


Terlihat seorang pria dengan balutan jas navy tengah sibuk membaca sebuah berkas yang entah apa isinya.


"Permisi pak, ini laporan dari devisi pemasaran yang harus bapak tanda tangani"


Ucap Kayla dengan sopan.


Suara yang tidak asing di telinganya sontak saja membuat ia melihat ke arah Kayla.


Dave terpaku melihat Kayla yang berada di ruangannya.


'Jadi dia ada di perusahaanku ternyata'


Sambil tersenyum tipis yang nyaris tidak terlihat sama sekali.


'Dia bukannya pria yang di panti waktu itu ya' Pikir Kayla kaget melihat pak presdir.


Sepersekian detik mereka saling tatap.


"Bawa kemari"


Ucap Dave sambil menerima uluran map yang di berikan Kayla.


"Silahkan duduk"


Ucap Dave dengan suara yang tegas namun ramah di telinga.


"Terima kasih pak"


Ucap Kayla sambil mendudukan bokongnya di sofa yang terdapat di ruang presdir tersebut.


Sambil menunggu, Kayla memperhatikan Dave yang fokus membaca isi laporan yang ia bawa.


'Hidung mancung, alis tebal, rahang tegas dengan sedikit brewok, ganteng! pikirnya. 'Astaga Kay apasih yang loe pikirin ingat Aldo yang ada di hati loe walaupun kalian belum ada hubungan sih' ucapnya lagi menyadarkan diri.


Dave yang tahu di perhatikan tetap memasang wajah coolnya.


"Ini laporannya"


Ucap Dave sontak membuat Kayla berdiri dan segera mengambil berkas tersebut.


"Terima kasih pak, saya permisi"


Ucap Kayla yang hanya di balas "hmm.." dari Dave.


******


"Kay, pulang ngantor ngopi yok. Gue dengar ada cafe asyik neh"


Ucap Laura menatap Kayla.


"Kuylah dah lama juga gak ngafe kita"


Ucap Kayla,


"Okeh, gue kabarin si Sam dulu ya"


"Siipp" Ucap Kayla.


*****


Selama magang Kayla hanya menggunakan kendaraan biasa ia sengaja agar tidak menjadi omongan publik jika harus menggunakan kendaaraan super mewahnya yang berjejer rapi di garasi rumah.


"Rame bener"


Ucap Kayla saat mereka baru saja masuk ke sebuah Cafe.


"Apa gue bilang. Nih tempat ngopi hits mangkanya rame pengunjung"


Ucap Laura menyahuti.


"Apa gue buka cafe juga ya, kan lumayan tu" Ucap Kayla semangat


"Boleh tu, ntar gue makan gratisan terus ya" Ucap Laura tersenyum lebar.


"Ogah, elu tuh mampu jangan kayak orang susah deh" Sinis Kayla


"Huu,,, dasar pelit"


"Biarin wleekk... " Balas Kayla sambil melet.


"Bertelor loe,, lama betul nyampeknya"


Ucap Laura sambil menyomot kentang goreng di atas meja.


"Beranak gue. Puas loe?"


Jawab Sam cuek sambil mendudukan bokongnya di kursi kosong


Ucap Kayla yang sudah hapal dengan tingkah kedua sahabatnya tersebut.


"Lagian lama bener, dah mau habis minuman kita baru datang. Katanya dah dekat dah dekat preettt" Ucap Laura lagi.


"Biasalah, gue jumpa Putri tadi. Jadi nganterin dia dulu" Balas Sam sambil senyum-senyum.


"Beeuhh,, Putri lagi Putri lagi"


Ucap Laura cemberut.


"Udah-udah ribut aja loe berdua heran gue"


Ucap Kayla menyudahi.


"By the way malam minggu besok ada yang ngajak maen Kay, gimana terima gak?"


Ucap Samuel menatap Kayla.


"Hmm.. gue pengen sih, tapi bokap nyokap disini, susah lah"


Ucap Kayla mengingat perkataan papi waktu itu.


"Gue tolak aja ya?"


Ucap Sam memastikan.


"Hmm,, laen kali aja gue maennya"


Ucap Kayla yakin.


Prok,, prokk prookk,,,


suara tepuk tangan memenuhi cafe kala seorang pria selesai menyanyikan sebuah lagu. "Terimakasih semuanya" Ucap pria di atas panggung sambil membungkukkan badan. "Baiklah apakah ada dari para pengunjung disini yang ingin menyumbangkan suara emasnya?" Tanya pria tersebut.


"Lau, nyanyilah suara loe kan bagus"


Ucap Kayla.


Sejenak Laura berpikir dan melirik ke arah Sam yang asyik dengan ponselnya.


"Okeeh" Laura berjalan menuju panggung.


Sejenak suasana cafe menjadi sepi, semua menatap ke arah Laura yang terlihat cantik menggunakan dres selututnya dengan rambut yang di gerai bebas.


"Selamat malam semua, malam ini saya akan membawakan sebuah lagu, yang mungkin sudah tidak asing lagi di dengar"


Suara musik mulai terdengar mengalun di telinga,


"Aku tlah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Senyuman itu


Hanyalah menunda luka


Yang tak pernah ku duga


Dan bila akhirnya kau harus dengannya


Mengapa kau dekati aku


Kau membuat semuanya indah


Seolah takkan terpisah


Aku tlah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Bila memang hatimu untuk aku


Salahkah ku berharap


Berharap kau memilih diriku cinta


Tapi mengapa kita selalu bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Aku tlah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu dan bertemu


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Namun kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta


Ternyata hati tak sanggup melupa"


Prok.. prook.. prokkk...


Tepuk tangan pengunjung mengiringi langkah Laura meninggalkan panggung.


"Bagus juga suara loe, baru tau gue Lau"


Ucap Sam tulus.


"Makasih" jawab Laura tersenyum senang.


"Balik yuk" Ucap Sam tiba-tiba menatap dua gadis cantik di depannya.


"Buru amat, baru juga datang dah ngajak balek" Ucap Laura sebel.


"Ada meeting dadakan gue" Ucap Sam serius.


"Gini nih kalo punya sahabat sok sibuk, baru jumpa bentar dah pergi" Ucap Laura males.


"Laen kali janji gue ngumpul lagi, okeyy yuuk" Ucap Sam berlalu menuju kasir.


******


Ckiittt,,,


Tiba-tiba Kayla menghentikan mobilnya. di depan terlihat seseorang tergeletak di tengah jalan. Memang jalan pintas yang di pilih Kayla tempat yang sepi jarang di lalui kendaraan.


"Kenapa tu orang, apa tabrak lari?"


Ucapnya sambil melirik kanan kiri 'sepi'


Tiinnn..tiinnn..


Suara klakson Kayla. tapi orang tersebut tidak menunjukan pergerakan sama sekali.


"Apa mati tu orang gak gerak"


Ucapnya lagi. Karna merasa penasaran Kayla pun turun dari mobil memastikan.


Dari dekat dilihatnya tampak seorang pria yang mengunakan pakain jeans tergeletak begitu saja.


"Tidak ada darah, tidak mungkin korban tabrak lari"


Perlahan Kayla mengarahkan jari telunjuknya ke hidung pria tersebut.


"Aarrgggghhhh......"


Bersambung,,