
Kayla masih tersenyum manis mengingat kejadian tadi malam. Itu adalah pertama kalinya Dave memberikan surprise dengan makan malam romantis untuknya.
Kayla menatap wajah yang kini masih tertidur lelap di sampingnya, perlahan tangannya mulai naik ke wajah Dave.
Menyentuh alis mata yang tebal dan turun perlahan ke pipi Dave hingga tangan Kayla menyentuh dan mengusap bibir tipis milik Dave.
Deg.
Kayla kaget saat tiba-tiba tangan Dave menangkap tanganya. Namun seketika Kayla tersenyum saat Dave memberi kecupan pada tangannya.
"Morning baby"
Ucap Dave dengan suara seraknya, namun terdengar seksi di telinga Kayla.
"Morning sayang"
Balas Kayla tersenyum manis.
Dave kembali menarik tubuh Kayla masuk kedalam dekapannya.
"Apa tidurmu nyenyak?"
Ucap Dave dengan mengusap rambut belakang Kayla.
"Sangat nyenyak sekali"
Ucap Kayla dengan tersenyum manis meski Dave tidak dapat melihatnya namun, nada suara yang Kayla keluarkan sontak membuat sebuah senyuman terbit di bibir Dave.
"Apa kamu tidak ke kantor hari ini?"
Lanjut Kayla dengan mengangkat kepalanya menatap Dave.
"Kamu lupa kalau aku adalah bosnya? Bahkan aku bisa meliburkan semua karyawanku hari ini jika aku ingin melakukannya"
"Apa kamu lupa kalau aku adalah pemilik sebagian saham perusahaanmu itu? Dan aku tidak ingin ada kerugian sedikitpun ya"
Ucap Kayla dengan menyipitkan matanya menatap Dave.
"Jadi kamu mengancamku nyonya?"
Dengan seketika Dave bangkit dan mengukung tubuh Kayla. Dave menatap wajah yang kini ada di bawahnya dengan seringai tajam.
"Hahaha,,, Ampun,, Ampun sayang"
Teriak Kayla saat Dave menggelitiki tubuhnya.
"Mangkanya jangan bermain-main denganku nyonya"
Ucap Dave yang masih menggelitiki tubuh Kayla.
"Iya,, Iya maaf kan aku tuan, hahaha"
Kayla masih mengatur nafasnya yang masih naik turun saat tangan Dave telah menjauhi tubuhnya dengan menatap Dave yang berjalan menuju kamar mandi.
*****
Setelah membersihkan diri di kamar mandi Dave terlihat sudah rapi dengan setelan Jas yang melekat pada tubuh atletisnya.
"Ayo sarapan sayang Kay sudah membuatkan sandwich nih"
Ucap Kayla dengan melepaskan apron dari tubuhnya.
"Terimakasih sayang"
Ucap Dave yang langsung mendekati Kayla dan duduk di depannya.
Perlahan Dave memotong sandwich tersebut dan menusuknya dengan garpu.
Namun saat ingin melahapnya, Dave menghentikan gerakan tangannya dan berlari menuju wastafel terdekat untuk memuntahkan isi perutnya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"
Ucap Kayla terlihat panik mendekati Dave.
"Maafkan aku sayang tapi sandwich itu bau sekali aku tidak tahan mencium aromanya"
Ucap Dave dengan segera meraih gelas yang berisi air di atas meja.
Sedangkan Kayla menatap bingung Dave. Padahal ini sandwich yang biasa ia masakan untuk Dave. Tapi mengapa Dave bilang bau, segelintir pertanyaan memenuhi pikiran Kayla. Hingga sebuah kecupan di keningnya menyadarkan Kayla bahwa Dave segera berangkat ke Kantor.
Setelah Dave pergi, Kayla menatap sandwich di tangannya dan perlahan Kayla mulai mendekatkan sandwich itu ke hidungnya.
"Tidak bau sama sekali, bahkan aroma telur dan mentega yang gue balurkan di roti membuat sandwich ini menjadi gurih. Perasaan memang seperti ini kan aroma sandwich? Humm mungkin hidungnya saja yang bermasalah"
Gumam Kayla dengan perlahan mulai menyantap sandwich tersebut.
Sementara Dave yang telah sampai di Kantor menatap tajam kepada seluruh Karyawan yang melewatinya, padahal mereka semua menyapa Dave dengan hormat.
Dave kembali berlari menuju toilet yang berada di ruangannya.
Uweekk,,, Uweekkk,,,
Dave semakin merasa pusing setelah memuntahkan isi perutnya yang bahkan tidak terisi tersebut. Dave hanya makan saat tadi malam bersama Kayla dan pagi ini ia belum mengisi perutnya sama sekali.
"Kriisss,,, Kriissss,,, Kemari"
Sehingga Kris yang tengah menyeduh kopi paginyapun seketika menyemburkan kopi tersebut. Untunglah tidak ada orang di depannya jika tidak sudah pasti akan terkena semburan kopi hitam tersebut.
Kris kembali meletakkan kopinya di meja dan bergegas masuk ke dalam ruangan Dave.
"Iya tuan"
Ucap Kris dengan perlahan mengatur nafasnya.
"Dari mana saja kau kenapa lama sekali?"
Ucap Dave menatap tajam ke arah Kris.
Sontak saja Kris mengkerutkan dahinya menatap bingung Dave.
"Maaf tuan tadi saya berada di ruangan dan tidak kemana-mana"
Ucap Kris jujur.
"Mendekatlah kemari"
Ucap Dave dengan menggerak-gerakan jari telunjuknya.
Dengan langkah cepat Kris mendekat ke arah Dave.
Seketika mata Kris melotot saat wajah Dave mendekat pada ceruk leher Kris dan kemudian Dave memutari tubuh Kris dengan terus menghirup aroma tubuhnya.
"Apa kau mengganti parfum milikmu?"
Ucap Dave menatap Kris sejenak lalu kembali menghirup aroma wangi dari pakaian Kris.
"Tidak tuan, bahkan ini parfum yang dulu anda belikan untuk saya dan sampai sekarang saya tidak pernah mengganti aromanya"
Ucap Kris menatap bingung Dave.
"Benarkah?"
"Iya tuan. Saya tidak mungkin berbohong kepada anda"
"Humm,, Tapi kenapa aromanya berbeda ya?"
Gumam Dave yang kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Apa kau mencium semua karyawan tadi? Entah mengapa mereka menggunakan parfum aroma bunga bangkai hari ini. Apa hidung mereka tidak sakit mencium aroma tersebut?"
Ucap Dave dengan memijit pelipis kepalanya mengingat tadi pagi saat ia berselisihan jalan dengan karyawannya dan mencium aroma parfum bunga bangkai yang menyakitkan hidung, hingga membuat Dave menatap tajam seluruh karyawannya karena telah membuat perutnya bergejolak untuk segera memuntahkan isinya.
'He, perasaan tidak ada yang bau. Lagian mana mungkin para karyawan menggunakan parfum aroma bunga bangkai, yang benar saja'
"Kris,,"
Ucap Dave menyadarkan Kris kembali.
"Iya tuan"
"Umumkan kepada seluruh karyawan untuk tidak boleh menggunakan parfum aroma bunga bangkai di perusahaan ini. Oh, kalau perlu mereka tidak usah menggunakan parfum sama sekali, itu lebih baik. Bagi siapa yang ketahuan menggunakan parfum akan di pecat"
"Di pecat tuan?"
"Iya di pecat. Apa kau tidak mendengarnya tadi? Ku rasa kau harus memeriksakan kembali telinga dan hidungmu pada THT Kris"
'Hidungku yang bermasalah atau otakmu yang bermasalah tuan. Yang benar saja aku membuat pengumuman seperti itu, lagian mana mungkin orang tidak menggunakan parfum'
"Kris, Kau mendengarkanku tidak?!"
Ucap Dave dengan melemparkan pulpennya ke arah Kris.
"Iya tuan, saya mendengarnya"
"Kalau begitu keluarlah cepat umumkan kepada seluruh karyawan"
"Baik tuan"
Ucap Kris yang kemudian menunduk dan mengambil pulpen milik Dave lalu meletakkannya di atas meja dan berjalan menuju pintu.
"Tunggu Kris"
Ucap Dave menghentikan tangan Kris yang hendak memegang handel pintu.
'Apa dia ingin membatalkan perintah konyol itu? Baguslah!'
"Iya tuan"
Ucap Kris setelah berbalik badan.
"Pesankan aku parfum seperti yang kau gunakan ya"
Ucap Dave membuat Kris semakin memantapkan pikirannya kalau Dave hari ini sedang bermasalah.
"Baik tuan"
Ucap Kris singkat dan kembali membuka pintu setelah mendapat arahan dari tangan Dave untuk keluar.