Oh Kayla

Oh Kayla
Tidur Sekamar



Seluruh karyawan yang mengikuti gathering tengah sibuk dengan kegiatan barbequean yang di adakan malam ini. Meskipun sudah ada Cheff yang melayani mereka, tapi mereka tetap di perbolehkan untuk turun langsung dalam acara bakar membakar tersebut.


Sudah terhidang berbagai jenis makanan yang sudah siap untuk di santap. Di iringi dengan alunan musik dan api unggun yang terdapat di tengah-tengah mereka menambahkan suasana hangat di antara semilir angin pantai yang berhembus malam ini.


"Aduh kangen masa sekolahan gue"


Ucap Laura menatap api unggun di depannya.


"kenapa? Loe mau belajar lagi?" Ucap Kayla.


"Isshh apa'an sih"


"Ya trus?"


"Hmm.. Terakhir gue ikut acara api unggun beginian waktu pramuka sekolah. Emang loe ga pernah ikut?"


Tanya Laura melirik Kayla.


"Hm,, enggak"


Jawab Kayla sambil menunjukan deretan giginya.


"Cckkk,,, ga asyik banget sihh"


Ucap Laura menimpali ucapan Kayla.


"Ya mau gimana lagi, loe tau kan bokap nyokap gue orangnya gimana" Ucap Kayla menatap lurus kedepan.


"Hahahh iya paham gue" Ucap Laura lagi.


"Ini Kay di makan sengaja gue yang bakar buat loe"


Ucap Niko yang tiba-tiba muncul di dekat mereka. Kayla yang kaget hanya menatap Niko yang sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum.


"Buat Kayla aja neh? Gue gak ada?"


Ucap Laura ketus.


"Hehehhe iya maksudnya buat loe berdua" Jawab Niko sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nahh gitu dong"


Ucap Laura sambil merampas piring yang Niko sodorkan di hadapan Kayla dan menyomot sosis bakar tersebut.


"Kay ikut gue kesana yok"


Ajak Niko menatap Kayla.


"Ngapaen?" Jawab Kayla datar.


"Ada yang mau gue omongin, please"


Pinta Niko lagi.


Kayla sejenak menatap Laura, sedangkan yang di tatap hanya acuh sambil menghedikkan bahunya.


"Hhmmm"


Gumam Kayla mengikuti Niko yang mulai berdiri.


Disebuah kursi dengan pemandangan yang langsung menghadap ke arah pantai disinilah mereka berdua. Tidak terlalu jauh dari tempat mereka berkumpul. Masih terdengar suara musik dan tawa para karyawan yang tengah berkumpul.


"Loe mau ngomong apa?"


Tanya Kayla to the point. Perlahan Niko mengenggam tangan Kayla dan menatapnya dengan pandangan mendamba.


"Kay, se,,sebenarnya gue suka sama loe, gue sayang sama loe, loe mau gak jadi pacar gue?" Ucap Niko tulus.


Ungkapan cinta Niko sudah bisa di tebak oleh Kayla. Karena bukan hanya sekali ini saja dia mendapat perlakuan seperti itu. Sejak jaman sekolahan hingga sekarang pun banyak yang ingin mendapatkan hati gadis cantik tersebut. Namun ia tetap menutup rapat hatinya.


"Sorry nik. Gue gak bisa"


Ucap Kayla tegas sambil perlahan melepaskan tangan Niko.


"Kenapa Kay?" Ucap Niko lemas.


"Gue gak ada rasa sama loe" Singkat Kayla.


"Tapi kita bisa coba dulu Kay, gue yakin ntar rasa cinta di hati loe bakal tumbuh"


Ucap Niko masih mencoba mengharap.


"Gue gak bisa nik. Gue cuma anggap loe teman aja gak lebih"


Duaarrr... Penolakan Kayla tersebut bagaikan sambaran petir yang menghancurkan hati Niko menjadi keping-kepingan.


Niko tertunduk mendapat penolakan tegas kayla.


"Hmm... tapi gue masih boleh dekat sama loe kan kay?"


Pinta Niko menatap Kayla.


"Gue gak larang, tapi loe harus tau batasannya" Jawab Kayla.


"Hmm,, baiklah, thanks Kay" Ucap Niko pasrah.


"Hmmm,,, sorry gue tinggal dulu"


Ucap Kayla berlalu tanpa menunggu jawaban Niko lagi.


Kayla berjalan menyusuri bibir pantai. Entah apa yang di pikirkannya ia hanya barjalan dan terus berjalan sambil sesekali melihat ke arah pantai.


"Aduhh"


Ringis Kayla yang tiba-tiba terduduk di pasir. Perlahan ia melihat ke bawah kakinya.


"Aahh sial ne batu" Ucapnya Kesal menyalahkan batu yang sebenarnya tidak bersalah tersebut.


"Kamu tidak apa-apa?"


Ucap seorang pria yang berdiri tepat di depannya. Sontak saja Kayla langsung mendongakkan kepalanya ke atas melihat asal suara tersebut.


"Presdir"


Ucap Kayla melihat Dave yang berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan.


"Masih bisa berdiri atau saya gendong"


Ucap Dave. Reflek Kayla langsung berdiri.


"Aduhh"


Ucap Kayla memegang pergelangan kakinya yang terasa sakit untuk berdiri.


"Eehhhh..." Kaget Kayla saat tiba-tiba ia melayang dalam gendongan Dave.


"Tu,, tuan turun kan saya"


Ucap Kayla sambil memberontak untuk di turunkan.


"Berdiri saja kamu tidak bisa bagaimana mau berjalan"


Ucapan Dave sontak membuat Kayla terdiam.


'benar juga. Sial ne kaki buat malu gue aja'


"Peganggan kalo kamu tidak mau jatuh"


"Sorry"


Ucap Kayla yang perlahan mulai mengalungkan tangannya pada Dave.


Angin yang berhembus semakin kencang pertanda akan turun hujan sebentar lagi. Sontak membuat Kayla merapatkan tubuhnya ke arah Dave untuk mencari kehangatan.


Jarak sedekat ini Kayla bisa mendengar datak jantung Dave dan aroma mint dari nafas Dave. Dave yang mendapat pelukan Kayla tersenyum tipis.


"Bagaimana bisa kamu berjalan sejauh ini?" Ucap Dave yang membuat Kayla reflek melihat kanan kiri.


"Ehh,, dimana kita?"


Tanya Kayla sadar kalau ia berjalan terlalu jauh.


"Ckk... Disebelah sana penginapan saya. Jarak dengan penginapan kalian cukup jauh, tidak mungkin saya membawa kamu dalam keadaan seperti ini"


Ucap Dave tenang. Merasa tidak ada penolakan dari Kayla Dave berjalan menuju ke kamarnya.


Perlahan Dave membaringkan Kayla di atas ranjangnya.


"Terimakasih tuan, saya akan menghubungi teman untuk menjemput saya"


Ucap Kayla sambil merogoh kantongnya mencari bendah pipih tersebut. Saat hendak mengirimkan pesan handphonenya tiba-tiba mati.


"Ckk,, sial ne ponsel pake acara lowbat segala"


Gumamnya yang masih terdengar di telinga Dave.


"Menginaplah disini saya akan tidur di sofa" Ucap Dave menunjuk sofa yang berada di sudut kamar.


"Ehh,, tidak perlu tuan, hmm.. apa saya bisa meminjam charger" Ucap Kayla mulai panik.


Dave berjalan ke arah nakas dimana terletak barang-barang Dave.


"Ini" Ucap Dave menyodorkan charger yang langsung di sambut Kayla.


"Terima kasih" Ucapnya tulus.


Angin berhembus semakin kencang membuat gorden yang berada di dalam kamar berterbangan di iringi suara rintik hujan yang mulai turun. Sejenak suasana kamar menjadi hening tidak ada yang memulai percakapan kembali.


Berada berdua di dalam kamar untuk pertama kali dengan seorang pria tentu saja membuat Kayla merasa canggung.


"Aduuhh"


Ucap Kayla meringis saat mencoba berdiri. Sontak membuat Dave melirik ke arahnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Dave.


"Saya mau ke toilet" Cicit Kayla menunduk.


'aduhh,, siaall,, siaall ne kaki'


Rutuknya dalam hati.


"Biar saya bantu"


Ucap Dave yang langsung mengangkat tubuh Kayla menuju toilet.


"Su,,sudah turunkan saya disini saja"


Pinta Kayla canggung.


"Jika sudah selesai panggil saya"


Ucap Dave meninggalkan Kayla dan menutup pintu.


'memalukan sekali'


Rutuk Kayla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Cklekk..


Suara pintu yang terbuka. Sontak Dave langsung menoleh ke asal suara.


"Kenapa tidak memanggil saya"


Ucapnya sambil mengangkat tubuh Kayla.


Kayla hanya diam bingung mau jawab apa. Sebenarnya dia sudah merasa sangat malu untuk pertama kalinya merepotkan orang seperti ini terlebih lagi presdir di tempatnya bekerja.


Duuuuarrrrrr.....


Suara petir yang menggelegar terdengar sangat dekat di telinga. Sontak membuat Kayla merapatkan tubuhnya ke arah Dave seolah mencari perlindungan. Sebuah senyum terlukis di bibir Dave tapi tidak terlihat oleh Kayla.


"Kamu takut?" Ucap Dave tenang.


"Ti,, tidak hanya saja saya kaget"


Jawab Kayla yang mulai meregangkan pelukannya.


Duuuarrrrrr,,,


Terdengar lagi suara petir yang tidak kalah kuatnya dari tadi dan sontak saja Kayla kembali memeluk tubuh Dave dengan erat. Dave tersenyum saat merasakan detak jantung Kayla yang berdetak tak menentu.


"Kaget lagi?"


Ucap Dave yang terdengar sebagai sindiran tersebut sontak membuat Kayla sadar dan hendak mencoba turun dari pelukan Dave. Tapi Dave dengan sigap mempererat pelukannya.


"Tidak perlu malu. Itu hal yang wajar. Kamu tidak perlu takut ada saya disini"


Ucap Dave menenangkan Kayla.


Ucapan Dave sontak menimbulkan semburat merah di wajah cantik Kayla.


"Tidurlah, saya tidak akan meninggalkan kamu" Ucap Dave setelah membaringkan kembali tubuh Kayla di ranjangnya.


Melihat adanya kerutan di kening Kayla.


Pletaakk,,


"Ehhh,,,"


Reflek Kayla memegang jidatnya yang baru saja di jentik oleh Dave.


"Jangan berfikir yang aneh-aneh"


Ucapnya meninggalkan Kayla menuju sofa dan membaringkan tubuhnya.


Kayla hanya diam memandang Dave dari jauh.


"Terima kasih"


Cicitnya yang masih di dengar Dave sambil memperhatikan wajah tampan Dave.


"Jangan memandangku terus nanti kamu jatuh cinta"


Sontak saja Ucapan Dave membuat Kayla kalang kabut membalikan badan menutup wajahnya karna ketahuan memandang Dave yang di kiranya sudah terlelap.


'Apa-apa'an sih dia'


Pikirnya sambil tersenyum di balik selimut.


Melihat tingkah Kayla reflek membuat Dave tersenyum senang karna telah berhasil menggodanya.