Oh Kayla

Oh Kayla
Menjemput Kayla



Kayla menatap matahari yang perlahan mulai turun dengan menampakan warna jingga di langit sore.


"Dasar laki-laki kalo ada maunya baik banget. Giliran mau minta jatah mulutnya manis sekali, tapi di belakang gue masih berani-beraninya maen sama cewek lain. Emang kurang gue apa? Awas aja nanti kalo ketemu gue kasih pelajaran tu si junior huh!! Ini juga buaya masa gue kabur ga di cariin sih?"


Gumam Kayla sambil mematah-matahkan ranting pohon dan mencampakkannya ke tanah dengan kesal.


Uweekk,,, Uweekkk,,,


Sementara di kantor Dave kembali memuntahkan isi perutnya di toilet.


"Dimana kau beli bakso tadi Kris? Kenapa aku jadi sampai muntah-muntah begini?


Kesal Dave menatap wajah Kris yang sedang menggenggam segelas air putih.


"Di restoran jalan X tuan. Ini tuan minum lagi"


Dengan menyerahkan gelas di tangannya dan langsung di sambar oleh Dave.


"Tuan juga sih uda tau terlambat makan malah makan yang pedas-pedas muntah lagi kan"


Cicit Kris lemah.


"Apa kau bilang?! "


"Tidak tuan, tidak ada"


Ddrrtt,,, Drrtt,,,


'Untung ada yang nelpon, kalau gak mampus gue'


Dengan segera Kris mengusap layar ponselnya.


"Haloo"


"Hmm,, Baiklah segera ke sana"


Ucap Kris langsung memutuskan panggilannya.


"Tuan, anak buah kita telah mendapatkan keberadaan nyonya muda--"


"Bagus dimana Kayla sekarang?"


Ucap Dave memotong perkataan Kris.


"Nyonya muda berada di sebuah desa tempat nyonya muda dulu hilang, nyonya muda membawa kendaraan dokter yang dulu pernah kita temui di daerah Lembang"


"Ayo segera kesana"


"Tapi tuan, anda sedang tidak sehat"


"Cepat Kris, aku baik-baik saja"


"Baik tuan"


Dengan segera Kris membawa Dave menuju tempat Kayla berada sekarang.


"Neng ayo masuk sebentar lagi adzan magrib, gak baik berada di luar kalo magrib Neng"


Ucap Ambu mendekati Kayla yang tengah duduk di bawah pohon.


"Iya Ambu"


Dengan perlahan Kayla melepaskan ranting pohon di tangannya dan beranjak menuju rumah.


"Neng sudah lapar? Kalau sudah lapar makan saja dulu"


Ucap Ambu setelah mereka memasuki rumah.


"Belum Ambu, nanti saja Neng makannya"


"Yasudah kalau begitu. Ambu mau sholat magrib di Mesjid, Neng mau ikut?"


Ucap Ambu dengan menatap Kayla.


'Sholat di mesjid? Udah lama banget gue ga sholat di Mesjid'


"Iya Ambu, Neng mau ikut"


"Tunggu sebentar ya, Ambu ambil mukenah dulu"


Ucap Ambu dengan segera masuk ke dalam kamar, tidak lama Ambu keluar dengan membawa dua pasang mukenah.


"Ini untuk Neng"


Dengan menyerahkan sepasang mukenah yang langsung di terima oleh Kayla dan dengan segera mereka berjalan kaki menuju Mesjid setelah Jalu menutup rapat dan mengunci pintu rumah.


Sementara Dave terus memegangin kepalanya yang terasa pusing.


"Anda baik-baik saja tuan?"


Ucap Kris melirik Dave dari kaca.


"Kepalaku pusing Kris"


Ucap Dave dengan memijit pelan kepalanya.


"Apa kita kembali saja tuan, biar anak buah kita yang menjemput nyonya muda"


"Jangan Kris, Kayla pasti tidak akan mau pulang kalau anak buah kita yang menjemputnya"


"Kalau begitu kita istirahat saja ya tuan di rest area"


"Tidak perlu, saya masih kuat, teruskan saja perjalanannya"


"Baik tuan"


Ucap Kris dengan sesekali melirik Dave yang terlihat lemah.


'Udah tau sakit masih juga maksain dasar bucin'


"Jangan suka ngomongin orang di belakang Kris"


Gumam Dave dengan melirik balik Kris dari kaca.


"Saya tidak berani ngomongin orang di belakang tuan"


"Kau pikir aku tidak tahu tadi kau menjelek-jelekkan aku kan"


Ucap Dave kesal setelah menendang kursi kemudi Kris dari belakang.


"Maafkan saya tuan"


Ucap Kris lemah.


'Ngeri juga sekarang dia uda bisa baca pikiran orang'


Kris kembali memfokuskan dirinya kepada jalan, ia tidak ingin mendapakan tendangan lagi. Bukan masalah sakitnya tapi ia pasti tidak akan pernah menang berdebat dengan Dave.


*****


Kayla dan Ambu berjalan beriringan kembali ke rumah dengan Jalu yang menyusulnya di belakang.


Kayla tersenyum membalas sapaan para penduduk desa yang menyapa Ambu dan dirinya.


"Disini penduduknya ramah-ramah ya Ambu"


Ucap Kayla dengan menatap Ambu sekilas.


"Iya Neng, penduduk desa memang begini ramah-ramah. Mangkanya hidup di desa itu enak rukun semua sama tetangganya, berbeda dengan penduduk kota yang cuek, bahkan ada yang tidak kenal dengan tetangga di sebelah rumahnya kan"


"Iya Ambu, Neng jadi betah tinggal disini"


"Iya Neng syukurlah kalau Neng betah. Neng menginaplah lebih lama di rumah ya"


Ucap Ambu dengan tersenyum manis menatap Kayla.


"Iya Ambu baiklah"


'Memang rencananya gue mau kabur sekalian nenangin diri di sini'


Setelah Kayla, Ambu dan Jalu sampai di rumah, mereka langsung menuju meja makan untuk menikmati makan malam sederhana bersama dengan menu tumis kangkung, goreng ikan nila dan sambal ulek, serta kerupuk kampung dan lalapan namun terasa nikmat dengan Kayla yang kembali menambahkan nasi ke dalam piringnya.


Tokk,, Tookk,,,


"Assalamualaikum"


Ucap seseorang dari luar rumah.


"Waalaikumsalam, kayaknya itu suara Abah iyakan Ambu?"


Ucap Jalu menatap Ambu.


"Iya nak, tolong bukain pintunya ya"


Ucap Ambu menatap Jalu yang langsung di balas anggukan kepala dan dengan segera beranjak menuju pintu.


"Iya Ambu, Abah pulang"


Teriak Jalu dari depan pintu dengan raut wajah ceria menatap Abah yang kini melepaskan sepatunya.


"Waah sedang makan malam ya, pas sekali ini Abah bawain ayam goreng tepung"


Ucap Abah dengan meletakkan bungkusan di atas meja yang langsung di raih oleh Ambu dan mewadahinya ke piring.


"Ayo Abah makan bersama"


Ucap Kayla menatap Abah.


"Iya Neng, sebentar Abah cuci tangan dulu"


Ucap Abah yang langsung menuju kamar mandi dan tidak lama keluar lagi dan langsung bergabung untuk makan malam bersama-sama.


"Bagaimana perjalannya tadi Abah?"


Ucap Ambu dengan menatap Abah.


"Alhamdulillah lancar, sekarang langganan kita makin bertambah Ambu, ini berkat Eneng"


Ucap Abah menatap Kayla dengan senyum bahagianya.


"Loh, kok berkat Eneng sih Bah? Kan Eneng ga ada ngapa-ngapain"


Ucap Kayla menatap bingung ke arah Abah.


"Iya karena pemilik supermarket yang bertemu Eneng tempo dulu mengenalkan strawberry Abah kepada teman-temannya dan mereka pada suka juga sehingga langganan kita semakin bertambah"


"Owh gitu, lagian emang strawberry milik Abah beda dari yang lain. Mantap pokoknya"


Ucap Kayla dengan mengacungkan jempolnya ke arah Abah dan tersenyum lebar.


"Heheh kamu bisa saja Neng, di lanjut lagi makannya Neng"


Ucap Abah yang langsung di anggukin oleh Kayla.


Selesai menikmati makan malam bersama Kayla duduk di depan sambil menatap Jalu yang tengah mengerjakan PR sekolahnya.


"Jalu, nanti mau lanjut sekolah dimana?"


Ucap Kayla menatap Jalu yang tengah fokus menulis.


"Jalu pengennya kuliah di kota mbak, tapi Jalu tidak tega ninggalin Abah sama Ambu berdua saja di rumah"


"Hmmm,, Jalu pengennya kuliah jurusan apa?"


"Pertanian mbak, Jalu ingin mengembangkan desa ini dan khususnya kebun strawberry milik Abah"


Ucap Jalu dengan senyum ceria menatap Kayla. Terlihat jelas dimatanya memiliki semangat yang besar.


"Belajar yang rajin ya, nanti masalah kuliah biar mbak bantu, soal Abah dan Ambu pasti setuju yang penting Jalu belajar sungguh-sungguh agar cita-citanya terwujud"


Ucap Kayla dengan mengusap pelan pundak Jalu.


"Iya mbak, makasih ya mbak sudah baik banget sama keluarga ini"


"Kenapa gitu ngomongnya? Seharusnya mbak yang banyak berterimakasih dengan keluarga Abah dan Jalu yang uda pertama kali liat mbak dan nyelamatin mbak kan. Coba aja dulu Jalu biarin mbak hanyut pasti mbak uda di kubur deh heheh"


"Heheh iya mbak"


Ucap Jalu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.