
Selesai makan Sam dan Celin langsung berpisah dengan Celin yang telah mengantongi kartu nama milik Sam.
"Tidak terlalu buruk"
Ucap Sam saat menatap punggung Celin yang mulai memasuki kendaraannya. Di ikuti oleh Sam yang mulai menyalakan kendaraan miliknya.
Sam langsung menuju rumahnya karena memang hari ini pekerjaannya juga tidak terlalu banyak.
'Sepi,, Kemana bocah itu?'
Sam menatap ke sekeliling ruangan namun tidak menemukan bocah yang selalu mengganggunya.
'Akhh, dia kan izin menginap mengapa gue sampe lupa'
Gumam Sam sendiri sambil melepaskan kancing kemejanya satu persatu dan mulai menghidupkan shower.
Merasa tubuhnya sudah segar kembali. Sam segera meraih kunci motornya dan melajukan kendaraannya menuju suatu tempat.
Di waktu yang bersamaan Meysa kini telah berkumpul bersama ketiga sahabatnya yaitu Rosi, Mail dan Ziko.
"Kaki loe beneran uda sembuh kan ?"
Ucap Ziko menatap ragu Meysa
"Aman, ne lo liat"
Dengan Meysa yang mulai melakukan lompatan-lompatan kecil bahkan ia melakukan tendangan.
"Okedeh percaya gue kalo gini"
Sambung Ziko menatap yakin Meysa.
"Ingat Mey, jangan kasih kendor loe harus ngalahin tu orang"
Ucap Mail dengan melirik ke arah lawan mereka yang kini mulai berkumpul.
"Mey, pokoknya loe harus hati-hati ya, gue dengar lawan kita kali ini pemain lama"
Ucap Rozi dengan memegang tangan Meysa.
"Pasti, gue pasti menang. Loe pada tenang aja, meskipun tuh orang pemain lama tapi gue gak takut. gue yakin pasti bisa ngalahin tu orang"
Ucap Meysa yang langsung di balas senyuman oleh ketiga sahabatnya.
Kini Meysa telah berbaris sejajar dengan lawannya yang ia sendiri pun tidak tahu karena mereka hanya bertemu di area balapan dengan pakaian yang tertutup bahkan mereka sama-sama menutup kaca helmnya. Entah itu laki-laki atau perempuan sama sepertinya tidak jadi masalah bagi Meysa.
Bagi mereka yang suka melakukan aksi balapan seperti ini jenis kelamin tidak menjadi masalah asalkan mereka bisa mendapatkan lawan yang seimbang dan itu memiliki kepuasan tersendiri bagi mereka jika bisa memenangkan balapan ini. Soal hadiah sudah tidak menjadi masalah karena yang menang sudah pasti akan mendapat uang tunai sebesar 10jt. Balapan motor ini biasanya di lakukan secara bebas oleh kebanyakan orang kalangan atas untuk menyalurkan hobinya.
Bbruumm,,, Brruumm,,
Kini suara motor Meysa dan lawannya sudah mulai saling bersahutan satu sama lain seakan mulai menunjukan kekuatan masing-masing.
Seorang wanita yang sedari tadi sudah berdiri di depan garis star kini mulai melambungkan kain merahnya ke atas tanda pertandingan segera di mulai.
Brruumm,,
Suara motor Meysa yang melaju cepat dengan di iringi oleh lawannya terus saling memacu satu sama lain.
Tidak ada yang aneh dalam balapan kali ini karena jalur yang mereka lewati semua aman dengan adanya penjagaan oleh beberapa orang di setiap sisi jalan sebagai pengawas bila ada pemain yang mencoba bermain curang dengan lawannya.
Senyum Meysa mengembang saat ia telah berhasil memimpin pertandingan.
"Segini aja lawan gue? Haa"
Gumamnya dengan terus memacu kendaraannya.
Bllussh,,,
"Aakkhh sial, gue gak boleh kalah ne"
Umpat Meysa saat lawannya memacu kendaraannya dan bahkan kini ian mulai tertinggal.
Dengan segera Meysa menambah laju motornya mencoba mengejar kembali lawannya yang kini berada tidak jauh darinya.
Deg. 'Mampus gue'
Seketika Meysa sedikit oleng menatap mata lawannya kali ini, bahkan ia mulai sadar saat mendengar suara penonton yang berada di dekat garis finish.
Brruuummm,,,,
Meysa kembali memacu kendaraannya mencoba keberuntungan untuk mengejar lawannya. Namun sialnya lawan Meysa kali ini telah berhasil mencapai garis finish terlebih dahulu dan di susul oleh Mesya dengan selisih waktu dua menit.
Sam yang memenangkan pertandingan langsung mendapatkan hadiah uang tunai 10jt, dengan ekspresi datar Sam menerima uang tersebut. Sam yang mulai merasa gerah langsung membuka helm miliknya dan menatap tajam ke arah Meysa yang kini tengah di kelilingi oleh sahabat-sahabatnya.
"Duhh kok bisa kalah si loe Meyyy?"
Ucap Mail yang langsung mendatangi Meysa.
"Udah, ga apa kok, mungkin belum rejeki loe kali Mey yang paling penting loe amankan"
Sambung Rosi dengan senyum menyemangati Meysa.
Sedangkan Ziko hanya mengusap pelan pundak Meysa seakan memberi semangat tanpa kata.
Tanpa di duga kini Sam telah berdiri tepat di depan Meysa dengan menatap tajam ke arahnya.
"Sudah puas maennya? Sekarang pulang!"
Tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun Mesya turun dari motornya dan mengikuti Sam yang kini memegang pergelangan tangannya.
"Eh, Mey tunggu, mau loe bawa kemana sahabat gue ha?"
Ucap Mail dengan mengejar Meysa dan menatap lawan main Meysa tadi.
Dengan seketika Sam menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mail.
"Dia tanggung jawab gue sekarang"
Ucap Sam dengan ekspresi yang sulit di baca. Sedangkan Meysa hanya bisa mengangguk sambil menatap Mail seakan memberi isyarat bahwa itu benar.
Setelah mengucapkan itu Sam kembali melangkahkan kakinya membawa Meysa menaiki motornya dan meninggalkan arena balapan.
Entah mengapa Meysa merasa takut saat melihat ekspresi Sam tadi yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya hingga ia tidak berani mengeluarkan suara yang biasanya membuat pusing Sam.
Meysa sedikit terhuyung kedepan saat Sam tiba-tiba menarik tangannya untuk melingkarkan tangannya ke sisi pingang Sam.
Tiba di rumah Sam mendudukan Meysa di ruang tamu, Meysa yang tau melakukan kesalahan karena telah membohongi Sam hanya bisa menundukkan kepalanya dengan Sam yang kini berada tepat di depannya.
"Apa loe tau kesalahan yang telah loe lakukan?"
Meysa menatap Sam sesaat dan menganggukan kepalanya.
"Jika terjadi sesuatu, pasti bokap loe nyalahin gue, lagian loe itu cewek ngapaen ikut balapan motor?"
"Meysa suka saat motor Meysa melaju kencang Om"
"Suka loe bilang, Hhuuff,,"
Sam menyugar rambutnya ke belakang sesaat memijit pelipis kepalanya ia tidak habis pikir dengan kelakuan anak perempuan jaman sekarang. Namun, ia teringat dengan sahabatnya yang juga menyukai balapan motor.
"Gue gak mau pusing ngurus loe, lagian loe bukan siapa-siapa gue, besok loe kemasi semua barang-barang loe gue antar balik kerumah"
Ucap Sam menatap lurus kearah mata Meysa tanpa ekspresi.
Deg,
"Tapi Om, Meysa gak mau pulang"
Ucap Meysa dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa? Bukannya loe bisa lebih bebas ngelakukan apapun yang loe suka, ntar gue hubungi bokap loe soal ini"
Meysa tidak tahu harus berkata apa lagi, di satu sisi ia merasa senang tinggal bersama Sam karena ia merasa memiliki seseorang yang perhatian kepadanya walaupun Sam selalu galak. Namun, Meysa sadar ia juga tidak mungkin merepotkan Sam terus. Ia sudah terbiasa sendiri selama ini di saat Papinya yang selalu sibuk bekerja.
Meysa menatap punggung Sam yang mulai melangkah jauh memasuki kamarnya.