
Kayla terbangun saat malam hari. Dimana aroma obat tercium pekat memasuki indra penciumannya, langit-langit putih dengan tirai khas membuat gadis cantik tersebut langsung tahu dimana sekarang ia berada.
Kayla mulai mengingat kembali terakhir kali ia menolong seorang ibu-ibu dari jambret dan setelah itu ia tidak sadarkan diri. Bagaikan sebuah kaset yang di putar secara keseluruhan Kayla mulai menyatukan potongan puzzle dirinya. Hingga akhirnya Kayla teringat akan kejadian penculikannya dan terdampar di kampung Abah dan Ambu.
Kayla menelisik keseluruh ruangan. Tidak ada orang yang menemaninya. Sepi, bahkan suara jarum jam terdengar jelas.
Cklaak...
Dave masuk kedalam dengan membuka pintu kamar sangat pelan. Dave tersenyum senang saat melihat Kayla sudah sadarkan diri.
"Kamu sudah sadar sayang?"
Ucap Dave mendekati brankar Kayla.
Kayla hanya diam tidak menyahuti sama sekali.
"Apa kepalamu masih sakit?"
Sambil mengusap lembut wajah Kayla.
"Sedikit pusing"
Jawab lemas Kayla karena memang benar saat ini kepalanya masih pusing. Ya, Kayla masih mengumpulkan segala ingatannya yang sempat hilang.
"Kamu harus makan dulu sayang agar cepat pulih"
Dave mengambil semangkuk bubur di atas nakas.
Lalu memencet remot control brankar agar posisi Kayla nyaman.
"Biar saya suapi ya. Buka mulut mu aaa.."
Dengan pelan Kayla menerima suapan Dave.
Namun Kayla tidak berselera terlihat dari caranya mengunyah.
"Kenapa? Tidak enak ya?"
Kayla menganggukan kepalanya.
"Hambar. Tidak enak"
Jawabnya lesu.
Dave terkekeh melihat ekspresi wajah Kayla yang sangat imut dengan mulut manyun seperti bebek, membuatnya gemas.
"Ingin makan apa?"
"Sate ayam sepertinya enak"
Ucap Kayla setelah berfikir sejenak.
"Tunggu sebentar ya"
Dengan segera Dave menghubungi ponsel asisten Kris. Namun tidak di angkat hingga panggilan ke lima juga tidak di angkat membuat Dave mengeram kesal.
"Kemana anak ini? Kenapa tidak mengangkat telponku"
Kesal Dave menatap ponselnya lalu beralih menatap wajah Kayla dengan puppy eyesnya yang seperti meminta agar dirinya yang membelikan.
"Yah,, yahh baiklah saya yang akan pergi membelinya"
Dengan segera Dave beranjak.
Kayla terkekeh melihat ekspresi Dave yang kesal seperti itu. Karena selama ini tidak ada yang berani memerintah seorang Dave.
"Gue kerjain aja kali ya. Itu hukuman untuknya yang udah ngebiarin gue di culik"
Ucap Kayla sambil terkekeh.
Satu jam kemudian.
Dave kembali dengan sebungkus sate ayam di tangannya. Lalu mewadahinya ke atas piring.
"Ini satenya. Makanlah selagi hangat"
Sambil mengulurkan sepiring sate ke depan Kayla.
Dengan senyum manis Kayla menerima uluran itu lalu mengambil setusuk sate dan mulai mengunyahnya.
"Uweeekk.. Tidak enak"
Ucap Kayla mengeluarkan sate dari mulutnya.
"Ha yang benar saja. Saya sudang mengantri membelinya. Menunggu di tempat yang panas penuh dengan asap"
Sungut Dave kesal.
"Memang tidak enak.. Uhh perutku lapar sekali. Aku ingin makan pizza saja"
Ucap Kayla cemberut.
"Huuhh.. Baiklah"
Dengan wajah kusut Dave keluar membeli pizza.
"Hahahahh.. Lucu sekali ekpresi kesalnya"
Setelah Dave keluar dari ruangan, Kayla tertawa puas kerena berhasil mengerjai Dave. Lanjut Kayla memakan kembali sate ayamnya yang benar-benar nikmat di lidah.
Satu jam kemudian.
Dave kembali dengang menenteng sekotak pizza di tangannya.
Namun mata Dave melebar saat melihat piring satenya tadi telah habis. Dan melirik wajah Kayla, ada sisa kuah kacang di sudut bibir Kayla.
"Satenya tidak enak ya?"
Dengan tatapan devilnya Dave berjalan ke arah Kayla.
Deg.
'Mampus ketahuan'
"Ih ihya tidak enak"
Dave menyentuh sudut bibir Kayla
"Ini apa? Seperti kuah kacang. Kamu ingin mengerjaiku ya?"
"Eng engak,, Gak salah lagi hahahah"
Dave yang mendengar Kayla mengerjainya langsung menggelitik tubuh Kayla. Hingga tawa Kayla pecah.
Dave senang melihat Kayla yang mulai ceria lagi.
*****
Pagi ini Kayla terlihat sangat kelelahan sekali, bahkan untuk membuka matanya saja Kayla enggan. Kayla sudah tidak bisa berbohong kalau ingatannya telah pulih.
Malam itu juga Dave membawa Kayla kembali ke apartemennya. Bagaikan seekor Singa yang tidak makan seminggu. Dave langsung memangsa seluruh tubuh Kayla dengan gerakan yang lembut namun tetap menuntut kenikmatan hingga pukul tiga pagi mereka baru menyudahinya.
"Morning sayang"
Ucap Dave sembari mengecup lembut kening Kayla.
Kayla hanya berdehem masih enggan membuka matanya.
"Aku ingin sekali tetap berada di kamar dan memakanmu seharian. Namun meeting sialan ini aku tidak bisa meninggalkannya"
Ucap Dave sembari mengusap rambut Kayla.
"Ya, yahh pergilah"
Ucap Kayla dengan suara khas bangun tidur.
"Hmm.. Baiklah. Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik di rumah ya"
Setelah mengecup lama pucuk kepala Kayla Dave beranjak meninggalkan Kayla menuju kantor.
Pukul sepuluh pagi Kayla baru terbangun dari tidurnya. Kayla mencari ponselnya melihat ada beberapa pesan dari grub.
Kayla merindukan berkumpul kembali dengan sahabatnya. Dengan segera Kayla menghubungi dua orang tersebut.
****
Di sebuah Cafe yang terkenal akan makanan tradisional China. tiga orang itu telah berkumpul. Kayla langsung mengakui bahwa ingatannya telah pulih yang di sambut pelukan hangat oleh dua sahabatnya.
Kayla sedikit bingung melihat dua sahabatnya yang banyak diam. Tidak biasanya dua orang ini banyak diam.
"Kalian kenapa sih kok pada diam?"
Sungut Kayla kesal
"Gapapa gue lagi sariawan Kay"
Ucap Laura
Sam menatap Laura dengan pandangan dalam.
"Sam"
"Hhmm"
"Kapan ne kita maen lagi? Rindu gue sama si merah"
Ucap Kayla semangat.
"Ya ampun Kay baru juga sehat loe. Tapi entar deh gue hubungi loe kalo uda ada yang ngajak maen ya"
Ucap Sam menatap Kayla geleng-geleng.
"Okeh hehehe"
Kembali Kayla menyeruput jusnya sambil melirik dua orang di depannya.
'Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan dua orang ini'
"Lau temani gue shoping yok"
Ucap Kayla yang di anggukin Laura. Kayla sangat penasaran hingga ingin mengorek informasi lebih.
Setelah meninggalkan Cafe Kayla dan Laura menuju Mall terbesar di kota ini.
Yah, Kayla memang sangat merindukan shoping gilanya. Benar-benar gila karena belanja tanpa melihat harga, mengambil barang apa saja yang iya suka seperti itulah Kayla jika sudah mulai shoping timenya.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah toko Underware dengan merk terkenal sungguh disayangkan hanya potongan kecil seperti itu memiliki harga setara dengan satu bulan cicilan kredit motor.
"Lau,, Loe okeh?"
Ucap Kayla sambil memilih beberapa kaca mata bertali.
"Gue okeh kok" Ucap Laura tanpa melihat Kayla.
"Jangan bohong gue uda lama kenal loe"
"Biasalah cinta bertepuk sebelah tangan"
Ucap Laura dengan sudut mata yang mulai berair.
"Elo sih pake perasaan. Dah tau kita sahabatan. Gue jadi bingung mau nyalahin siapa"
Ucap Kayla menatap Laura.
"Gak ada yang perlu di salahin Kay. Ini tentang sebuah rasa yang gak bisa gue hindari. Bahkan saat gue tau dia uda jadian sama cewek lain, gue masih setia nungguinnya. Begokkan gue"
Laura benar-benar tidak bisa menahan air matanya hingga tumpah. Dengan cepat Kayla memeluk Laura.
"Gue cuma mau bilang. Sabar ya Lau"
Ucap Kayla yang di balas anggukan oleh Laura.
"Yaudah hari ini gue yang traktir loe. Bebas mau beli apa aja" Ucap Kayla mencoba tersenyum.
"Serius? Beli Jet boleh gak?"
Dengan senyum selebar mungkin.
"Boleh. Kalo gada ot*k beli aja" Ucap Kayla.
Sontak keduanya tertawa bebas hingga memancing perhatian beberapa pengunjung toko.
#################################
Terimakasih buat yang udah menyempatkan membaca karya halu author ini.
Yuk bantu likenya biar author makin semangat Up nya.. terimakasih 😊