
Panti Asuhan.
"Selamat pagi tuan"
Ucap ibu kepala panti setelah Dave memasuki ruangan ibu kepala.
"Pagi bu"
Ucap Dave dengan ramah.
.
"Silahkan duduk tuan"
Ucap ibu kepala dengan ramah yang langsung di anggukan oleh Dave.
"Ini untuk biaya anak-anak di panti ini bu"
Ucap Dave dengan mengulurkan sebuah amplop berwarna coklat.
"Terima kasih tuan karena telah menjadi donatur di Panti Asuhan ini"
Ucap Ibu Kepala dengan menerima uluran amplop dari tangan Dave.
"Bu, apa saya bisa minta tolong kepada anak-anak panti untuk mendoakan agar keluarga kami bisa segera menapat keturunan?"
Ucap Dave menatap wajah ibu kepala panti yang langsung mengangguk.
"Iya tuan, tentu bisa, nanti setelah sholat Zuhur kami akan bersama-sama mendoakan semoga keluarga tuan segera mendapat keturunan"
Ucap ibu kepala dengan senyum ramah miliknya.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi"
"Iya tuan, saya juga mengucapkan terimakasih karena tuan telah menajadi donatur di panti ini"
Ucap Ibu kepala yang langsung di balas anggukan dan senyuman ramah Dave.
Setelah meninggalkan Panti Asuhan Dave dan Kris langsung menuju Kantor untuk melakukan meeting bulanan seperti biasa.
*****
Setelah pulang dari kantor polisi Kayla membawa dokter Dimas ke sebuah Cafe. Kayla merasa kasihan melihat keadaan dokter Dimas yang terlihat kacau.
"Makan lah A' jangan di liatin terus, Kay tidak ingin membawa orang kerumah sakit akibat pingsan kerena kelaparan ya"
Ucap Kayla dengan senyum jahilnya.
"Neng, A'a---"
"Udah tenang aja, Kay yang bayar semua kok"
Ucap Kayla memotong ucapan dokter Dimas.
"Makasih ya Neng, A'a jadi merasa tidak enak sama Eneng"
Ucap dokter Dimas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Santai aja A'a, lagian selama Kay di kampung A'a yang sudah nolongin Kay, apa lagi waktu itu sampai repot-repot ngantarin pesanan strawberry Abah"
"Neng, maafin A'a yang tidak bisa menolong Eneng saat pria itu membawa pergi Eneng"
Ucap dokter Dimas dengan wajah yang semakin sedih.
"Iya A'a sudahlah tidak usah di bahas lagi, lanjut makannya A'a"
Ucap Kayla dengan senyuman manisnya yang di balas anggukan oleh dokter Dimas.
Kayla dan dokter Dimas kembali menyantap makanan yang telah tersaji di atas meja.
Selesai makan.
Kayla mengantarkan dokter Dimas ke terminal bus.
"Hati-hati di jalan ya A'a"
Ucap Kayla menatap dokter Dimas.
"Iya Neng, makasih ya neng sudah baik sekali sama A'a, nanti kalau A'a sudah pegang uang pasti A'a ganti uang Eneng ya"
Ucap dokter Dimas dengan menatap wajah Kayla.
"Sudah A'a tidak usah, Kayla ikhlas kok memberikannya untuk A'a dan nanti bila sudah ada info tentang mobil A'a akan Kay kabarin kepada Abah supaya bisa menghubungi A'a di puskesmas"
"Iya neng, sekali lagi terima kasih ya, A'a pergi dulu Assalamualaikum"
Dengan segera dokter Dimas masuk ke dalam bus tersebut.
"Iya A'a,, Waalaikumsalam"
Ucap Kayla dengan melambaikan tangannya ke arah dokter Dimas.
Kayla menatap bus yang membawa dokter Dimas kembali ke Bandung hingga hilang dari pandangan matanya.
Kayla kembali berjalan menuju parkiran motor.
Copeeettt,,,, Copeett,,, Toloongg,,,
Terdengar suara seorang wanita yang berteriak minta tolong, dengan reflek Kayla menoleh ke asal suara. Terlihat seorang laki-laki menggunakan jaket jeans dan topi sedang berlari ke arahnya dengan segera Kayla menggulurkan kakinya.
Bruukh.
Pria tersebut terjatuh ke tanah, dan langsung menoleh ke arah Kayla.
"Kembalikan dompet itu"
Ucap Kayla tegas.
"Hahah,,, Siapa loe berani sama gue?"
Ucap Pria tersebut setelah berdiri kembali.
Bugh!!
Dengan segera Kayla memberikan pukulan pada wajah si pria.
"Aaaarrkhhhh,, Mamiiih, wajah eikehhh"
Ucap si pria memegang wajahnya kesakitan dengan menatap kesal Kayla.
"Cepat kembalikan dompet itu atau loe mau gue hajar lagi?"
Ucap Kayla dengan tegas.
"Neh,, Awas ya loe, gue bilangin Papiih"
Ucap si pria bertopi dengan melemparkan sebuah dompet pada Kayla dan langsung berlari kembali.
"Bilangin sana, gak takut gue!!"
Teriak Kayla menatap si pria yang sempat menoleh kepadanya dengan menutupi bibirnya yang memakai lipstik merah, Kayla melihat jelas wajah si pria saat masker yang pria tersebut gunakan terjatuh bersamaan dengan dirinya saat Kayla mengulurkan kaki tadi.
"Makasih ya mbak"
Ucap seorang wanita yang telah berdiri di hadapannya.
"Iya mbak, lain kali hati-hati ya, ini dompetnya"
Ucap Kayla dengan segera menyerahkan dompet tersebut yang di balas anggukan oleh si wanita.
Setelah menaiki si merah motor kesayangannya Kayla dengan segera langsung meninggalkan terminal bus untuk kembali ke Apartemen.
"Uda lama gue gak ke kantor, pasti Papi kerepotan ne ngurus Perusahaan sendiri"
Gumam Kayla setelah melihat email masuk dari Vina sekretaris pribadinya.
"Huufffhh,,, Kok tiba-tiba kangen ya?"
Dengan segera Kayla mencari kontak Dave.
Dave yang baru kembali ke ruangannya setelah selesai meeting menatap ponselnya yang berdering dan langsung mengusap icon hijau di layar ponselnya.
"Sayaaanggggg"
Ucap Kayla setelah panggilan terhubung.
"Iya sayang"
Ucap Dave dengan mendudukan dirinya pada kursi kebesaran miliknya.
"Lagi apa?"
Ucap Kayla dengan menggigit kecil ujung jarinya.
"Ini baru selesai meeting sayang, kamu lagi apa?"
"Kangeeennn,,, Cepat pulang ya sayang"
Ucap Kayla dengan manja.
"Iya sayang, sebentar lagi saya pulang ya"
Ucap Dave dengan tersenyum.
Kris yang menatap tuannya senyum-senyum sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Oiyah belikan rujak juga"
"Rujak?"
"Iya, rujak buah yang di jalan XX yaa. Kay pengeen"
Ucap Kayla dengan manja lagi.
"Iya sayang. Ya sudah saya selesaikan dulu beberapa berkas ini ya"
Ucap Dave dengan lembut.
"Iya jangan lama"
Balas Kayla akhirnya menutup kembali panggilan tersebut.
Dave pun mulai membuka berkas yang akan ia periksa. Satu berkas selesai sudah ia periksa, namun di berkas yang kedua Dave mulai mengkerutkan dahinya saat melihat ada laporan yang salah.
"Kriiiss,,,"
Ucap Dave memanggil keras.
Dengan segera Kris masuk ke dalam ruangan.
"Iya tuan"
Ucap Kris dengan menunduk.
"Ini laporan kerja sama dengan perusahaan X kenapa bisa seperti ini? Perbaiki"
Ucap Dave melempar berkar ke ujung mejanya.
"Baik tuan"
Ucap Kris dengan menunduk dan segera keluar ruangan.
Dave kembali melanjutkan pekerjaannya memeriksa berkas-berkas yang tersusun di atas mejanya hingga melupakan janjinya pada Kayla untuk pulang cepat.
Tiga jam sudah Kayla menunggu tapi Dave belum juga menunjukkan dirinya.
Dengan kesal Kayla kembali menghubungi ponsel Dave.
Ddrrtt,,, Drttt,,,
"Ya halo"
Ucap Dave tanpa melihat siapa yang menelpon karena masih fokus melihat dokumen di depannya.
"Gak usah pulang kerumah!"
Ucap Kayla yang langsung menutup panggilan tersebut.
Sontak saja Dave melihat ponselnya saat mendengar suara Kayla barusan.
"Mampus, gue lupa"
Ucap Dave dengan segera menutup berkas di tangannya dan segera kembali menuju Apartemen.
Cklaakk,
Bruk,, Bruk,,
Baru saja masuk ke dalam rumah Dave sudah mendapat sambutan lemparan bantal yang tepat mengenai wajahnya.
"Sayang maafkan aku"
Ucap Dave lemah. Ia sedikit takut melihat wajah Kayla yang sudah menatapnya dengan pandangan siap memangsa.
"Gak usah pulang. Kerja aja terus"
Ucap Kayla kembali melemparkan bantal ke arah Dave namun kali ini Dave dapat menghindarinya dengan mudah dan terus berjalan pelan ke arah Kayla.
"Sayang tadi itu ada masalah di perusahaan jadi aku harus menyelesaikannya dulu"
Ucap Dave yang kini telah memegang tangan Kayla.
"Kenapa kamu tidak mengabariku?"
Ucap Kayla menatap kesal wajah Dave.
"Maaf kan aku sayang aku lupa"
"Rujak pesanan Kay mana?"
Deg.
"Lupa juga"
"Keluar. Kalau belum dapat ga usah balik"
Ucap Kayla kembali mendorong tubuh Dave.
"Sayaangg"
Ucap Dave yang berusaha meraih tangan Kayla.
"Keluar"
Ucap Kayla lagi dengan menunjuk pintu.
'Huuffhhh, Iya ya baiklah"
Dengan segera Dave keluar dengan wajah yang lemas, menyesali kebodohannya yang melupakan janjinya pada Kayla.