Oh Kayla

Oh Kayla
Tentang Leon



Pagi hari yang cerah matahari bersinar dengan sangat terik. Padahal baru jam setengah delapan pagi tapi panasnya sudah mulai menyengat di kulit.


Lalu lintas yang ramai dan sangat padat dimana semua orang berlomba-lomba untuk menuju tempat tujuannya masing-masing.


Bahkan anak-anak dengan seragam sekolah sudah banyak yang menggunakan kendaraannya masing-masing. Semakin menambah kepadatan dan kemacetan di ibu kota.


Hari ini Kayla akan bertemu kembali dengan Perusahaan XX yang di pimpin oleh Leon. Teman bermain di arena balap liarnya kala itu.


Ddrt,, Drrttt.,,


"Halo vin?"


"Halo Nona, Klaien kita dari Perusahaan XX telah sampai di Restoran FJ"


Ucap Vina sekretaris pribadi Kayla.


"Oke kamu tahan mereka dulu, bilang sepuluh menit lagi saya sampai"


Ucap Kayla setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


"Baik Nona"


Ucap Vina memutus panggilan tersebut.


Kayla sedikit kesal karena ikut terjebak kemacetan selama hampir dua jam, kalau kata pengemudi yang lain sih karena sedang ada pembangunan fly over hingga terjadi penyempitan jalan.


Untunglah ia sempat menghubungi Vina untuk langsung datang ke Restoran FJ tanpa harus menunggunya dahulu hingga bisa menemui pemimpin Perusahaan XX. Yah walaupun kesan di awal pertemuan kemaren mereka bersika welcome tapi Kayla harus tetap menghormati dan menjaga kesopanannya.


Setelah melewati area penyempitan jalan Kayla dengan cepat memacu kendaraannya menuju Restoran FJ menyalip pengguna lain sudah hal biasa baginya. Hingga tidak sampai sepuluh menit Kayla telah sampai di Restoran FJ.


"Selamat pagi. Maaf saya terlambat karena terkena macet"


Ucap Kayla sedikit tidak enak hati menatap Leon dan Beberapa orang lainnya.


"Owhh iya Nona. Kami bisa maklum itu"


Ucap Leon dengan formal.


"Terimakasih Tuan. Baiklah kita mulai meetingnya"


Balas Kayla dengan sopan.


"Iya Nona. Perkenalkan ini Bapak johan dan Bapak Frendrick mereka adalah para Ahli Kesehatan, sesuai dengan hasil pertemuan sebelumnya kita akan membahas ini terlebih dahulu dengan para Ahli Kesehatan"


Ucap leon dengan menatap Kayla.


"Iya Pak, Perkenalkan saya Kayla"


Balas Kayla dengan sedikit menunduk hormat yang di balas senyum ramah dari dua orang tersebut hingga meeting pun mulai di lakukan membahas produk baru dari ide Kayla tersebut.


Dua jam berlalu.


Meeting selesai di lakukan dengan kesepakan bersama bulan depan akan mulai membuat produk kesehatan tersebut.


"Terimakasih ya"


Ucap Kayla menatap Leon kala semua orang telah meninggalkan meja tersebut.


"Hehe,, Tidak perlu berlebihan, lagian ini juga akan menguntungkan kedua belah pihak"


Balas Leon dengan santai.


"Iya, tapi aku senang karena ini adalah salah satu impiannku yang akan terwujud"


"Benarkah?"


Ucap Leon menatap lekat wajah Kayla.


"Tentu saja, aku ingin bisa memproduksi sesuatu yang berguna bagi banyak orang, Hmm,,, Apa kamu ingin kembali ke kantor?"


"Tidak juga, aku lebih senang disini bersamamu"


Ucap Leon menatap wajah Kayla dengan pandangan yang sulit Kayla pahami.


"Hahaha,, Aku hanya bercanda, maksudku aku lebih senang bersantai di sini dari pada melihat tumpukan dokumen di atas meja"


Sambung Leon ketika melihat kerutan di kening Kayla.


"Oowh Begitu"


Ucap Kayla dengan sedikit senyum di wajahnya.


"Baiklah, ceritakan tentang dirimu. Bukankah kita sekarang sudah berteman?"


Ucap Leon setelah menyesap kopi hitamnya.


"Hhe,,"


Kening Kayla sedikit berkerut mendengar ucapan Leon barusan. Yah meskipun mereka sekarang berteman tapi tidak semua hal bisa ia ceritakan apa lagi ini tentang pribadinya.


"Baiklah jika kamu tidak mau,, Biar aku saja yang bertanya. Apa kamu memiliki kekasih?"


Lanjut Leon dengan mengusap pinggiran gelas kopinya.


"Tidak. Tapi aku memiliki seorang suami"


Ucap Kayla menatap manik hitam Leon.


"Aakkhhh,,,"


Ucap Leon memegang dadanya.


Sontak saja Kayla kaget melihat hal tersebut. iya berfikir apa Leon memiliki penyakit jantung.


"Kamu tidak apa-apa?"


Ucap Kayla dengan panik.


"Tidak. Hatiku sakit mendengarnya, aku tidak memiliki kesempatan untuk mendekatimu lagi"


Ucap Leon dengan senyum jailnya sambil terkekeh menatap wajah panik Kayla yang berubah kesal.


"Dasar, aku pikir kamu memiliki penyakit jantung tadi"


Ucap Kayla dengan kesal.


Sontak saja Leon kembali terkekeh mendengar perkataan Kayla barusan.


"Aku senang bisa berteman dengan mu"


Ucap Leon dengan senyum manis di wajahnya.


"Baiklah ceritakan tentang dirimu"


Ucap Kayla setelah menyomot kentang goreng di hadapannya.


"Aku, tidak ada yang spesial dariku.


Aku besar di jalanan, hidup hanya mengamen dan kadang makan hanya dari makanan sisa yang di buang di tempat sampah. Hingga suatu hari aku bertemu seorang laki-laki yang berbaik hati mengadopsiku menjadi putranya.


Aku di sekolahkan dan di besarkan dengan baik. Tapi suatu kejadian menimpanya hingga ia meninggal dengan tragis, bahkan semua ini hampir hancur. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengembalikannya seperti semula"


Ucap Leon dengan sudut mata yang sedikit berair namun seketika pandangan itu berubah menjadi datar seperti ada kemarahan, kebencian dan dendam menjadi satu.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud---"


"Hahahha,,, Santai saja aku tidak apa-apa Kay"


Ucap Leon kembali dengan kekehannya.


Kayla tersenyum membalas ucapan Leon, ia merasa sedikit menyesal telah menanyakan hal itu hingga membuat Leon mengingat kembali masa lalunya.


Sungguh Kayla tidak menyangka Leon memiliki masa lalu yang begitu menyedihkan dengan melihat ia yang sering tertawa dan terkadang sempat menggodanya.


Ddtrtt,,, Ddrrtt,,,


Kayla tersenyum melihat nama yang tertera di layarnya, dengan segera Kayla menggulir layar ponselnya.


"Halo, Ia baiklah tunggu sebentar"


Hanya itu yang terdengar dari mulutnya setelah memutuskan kembali panggilan tersebut secara sepihak.


"Leon aku harus pergi"


Ucap Kayla menatap Leon sesaat.


"Iya Kay, santai saja. Aku juga akan kembali ke kantor"


Ucap Leon menatap Kayla dengan senyuman manis yang selalu tersungging di bibirnya.


"Baiklah, senang bertemu denganmu, lain kali kita akan bertemu kembali"


Ucap Kayla dengan senyuman di bibirnya dengan perlahan beranjak meninggalkan Leon.


"Yah kita akan bertemu kembali"


Balasnya setelah Kayla menghilang dari balik pintu Restoran.


Kayla melajukan kendaraannya menuju kediaman Laura. Kayla tidak bisa tenang mendengar suara Laura yang menangis sesegukan saat menelponnya tadi.


Jarak dari Restoran FJ dengan kediaman Laura tidak begitu jauh hingga tidak perlu memakan banyak waktu Kayla telah tiba di pelataran rumah Laura.


Setelah di bukakan pintu oleh asisten rumah tangga Kayla langsung berlari menuju kamar Laura.


Cklaakk.


"Kaaayyyy"


Ucap Laura dengan cepat berhambur memeluk erat tubuh Kayla.


"Hey loe kenapa?"


Ucap Kayla mengusap pelan pundak Laura.


"Kay tolong gue"


Ucap Laura dengan sesegukan.


"Sekarang loe tenang. Duduk dulu disini. Tarik nafas, hembuskan"


Ucap Kayla menuntun Laura kembali duduk di ranjangnya.


"Sekarang jelaskan"


Lanjut Kayla lagi.


"Loe taukan gue di jodohin?"


Ucap Laura dengan menatap wajah Kayla yang di balas anggukan kepala olehnya.


"Tadi malam keluarga dia udah datang buat ngelamar gue. Tapi dia berbeda dengan yang pertama gue jumpa di Cafe sebelumnya"


Ucap Laura dengan memburu.


"Maksud loe?"


"Dia aslinya nyeremin Kay"


"Maksud loe apa sih? Yang jelas kalo ngomong"


Kesal Kayla akhirnya.


"Jadi cowok gendut yang ada tompelnya dulu itu dia bayar buat gantiin dia hari itu di Cafe. Dia aslinya nyeremin Kay. Matanya aja ngelihatin gue kayak gini"


Ucap Laura menyontohkan si pria yang ia sebutkan.


"Dia juga bilang akan ngebunuh gue ntar kalo kami udah nikah"


Sambung Laura lagi.


"Loe tenang aja, kalau dia berani macam-macam gue yang akan ngebunuh balik dia. Sekarang loe tenang dan jangan takut. Ingat loe harus berani jangan mau jadi cewek lemah yang di tindas oleh seorang laki-laki okey"


Ucap Kayla menatap lekat wajah Laura.


"Iya Kay, thanks ya uda mau dengarin curhatan gue"


Ucap Laura tulus.


Hingga keduanya mulai bercerita tentang banyak hal, dengan Kayla yang mencoba mengalihkan ingatan Laura untuk tidak mengingat perjodohannya tersebut.