
Kayla segera mengobati luka di tubuhnya setelah sampai di rumah Laura. Masih untung hanya lecet di bagian tangan saja tapi ini akan meninggalkan bekas jika tidak segera di obati.
"Aduh Kay gimana ne kalo entar lakik loe sampe tahu?"
Ucap Laura mulai panik.
"Besok pagi kita beli obat untuk menghilangkan bekas lukanya biar ga ketahuan"
Ucap Kayla mencoba tetap tenang.
"Oiyah Kay, pinter juga loe yah hehe"
Ucap Laura menatap Kayla senang.
"Yaudah tidur yok, ngantuk gue"
Ucap Kayla yang mulai merebahkan dirinya di atas ranjang Laura. Yang di susul oleh Laura juga mulai memejamkan matanya.
Matahari sudah mulai menyilaukan mata memasuki celah-celah jendela. Memberikan kehangatan bagi setiap makhluk di bumi.
Kayla masih terlelap dalam tidurnya, tidak heran sih karna kebiasaannya yang bangun kesiangan tersebut.
Sementara Laura sudah selesai memebersihkan dirinya.
Laura menatap beberapa luka di telapak tangan Kayla membuatnya sedikit meringis seakan merasakan perihnya.
Laura segera beranjak keluar rumah untuk mendatangi Dokter Spesialis Kulit, setelah sebelumnya membuat janji untuk bertemu.
Laura melakukan konsultasi dan menunjukan foto dari luka-luka yang di alami Kayla. Yah, Laura memang sempat memfoto luka-luka di tubuh Kayla sebelum keluar rumah.
Dokter segera meresepkan obat untuk menyembuhkan dan penghilang bekas luka dengan ampuh.
Laura tersenyum menatap beberapa obat di tangannya dan segera kembali ke rumahnya.
Sementara Kayla yang baru saja terbangun menatap sekeliling kamar Laura. Tidak mendapi Laura di kamarnya. Dengan segera Kayla membersihkan dirinya ke dalam kamar mandi.
Laura masuk ke dalam kamarnya bertepatan dengan Kayla yang baru selesai membersihkan dirinya.
"Kay pakai ini buat luka loe"
Ucap Laura menyerahkan bungkusan obat kepada Kayla.
"Loe keluar cuma beliin ini?"
Ucap Kayla menatap obat tersebut yang di balas anggukan oleh Laura.
"Baik banget sih sampe repot-repot segala. Haha tapi thanks ya Lau"
Ucap Kayla tulus menatap Laura.
"Iya, cepetan pake, ngilu gue liatnya. Pasti perih banget yah?"
Ucap Laura menatap Kayla.
"Haha perih dikit sih"
Ucap Kayla sambil mengoleskan obat tersebut ke luka di tubuhnya. Meski sedikit perih tapi tidak masalah Kayla bisa menahannya.
Seharian Kayla bermain di rumah Laura. Menonton bersama, bercerita banyak hal sampai keinginan mereka untuk liburan ke luar negeri lagi.
Sore harinya Kayla kembali ke rumah dengan menggunakan mobil barunya yang baru saja dia dapat tadi malam.
Sesampainya di rumah Kayla memasukkannya ke dalam koleksi mobil mahalnya yang berjejer di garasi. Dengan tersenyum lebar Kayla memandangi mobil-mobil mewah tersebut.
Kayla memasuki rumah lewat pintu samping yang terhubung langsung ke garasi.
"Kayla"
Ucap Papi menghentikan langkah kaki Kayla.
"Iya Pih ada apa?"
Ucap Kayla berjalan mendekati Papi.
"Duduk disini nak Papi mau bicara"
Ucap Papi dengan suara berat.
Kayla pun mulai duduk tidak jauh dari Papinya.
"Ada apa Pih?"
Ucap Kayla lagi.
"Papi sungguh tidak tahu lagi bagaimana cara menasehatimu terlebih sekarang kamu sudah menikah"
Deg.
'Apa Papi tahu aku tadi malam... "
"Sudah berapa kali Papi ingatkan untuk berhenti bermain-main seperti itu. Masih untung kamu cuma lecet sedikitkan. Jika kamu ingin mobil baru atau barang apapun kamu bisa langsung membelinya tanpa harus membahayakan nyawamu sendiri. Kamu tidak tahu betapa khawatirnya Papi mengetahui ulah mu tadi malam. Jika Mami sampai tahu bisa-bisa tubuhnya akan kembari Drop. Kamu mau melihat Mami yang kesakitan lagi?"
Ucap Papi menatap wajah Kayla lekat.
"Iya Pi maaf kan Kayla"
Masalah di ulangi atau tidaknya tergantung Kayla dan author saja. Hihii..
"Mulai besok datanglah ke Perusahaan, kamu harus belajar memimpin dari sekarang. Kamu tahukan, kamu adalah pewaris tunggal Perusahaan Papi jadi jangan bertingkah sesuka hatimu lagi mulai sekarang"
Ucap Papi masih menatap Kayla lekat.
"Iya, baiklah Pih Kayla akan datang ke Perusahaan"
Ucap Kayla yang akan menuruti keinginan Papinya.
"Yasudah istirahatlah ke kamar.
Ucap Papi yang sudah mulai melunak kembali. Dengan segera Kayla mengangguk dan beranjak menaiki undakan anak tangga menuju kamarnya berada.
Baru merebahkan dirinya di atas ranjang ponsel Kayla mulai berdering.
Drrtt... Ddrrttt...
Panggilan video dari Dave.
Dengan segera Kayla mengusap layar ponselnya.
"Halo Assalamualaikum"
Ucap Kayla setelah terhubung.
📲 "Hallo sayang, Waalaikumsalam. Kamu sedang apa?"
Ucap Dave di seberang sana
"Tidak ada. Hanya rebahan saja"
Jawab Kayla cepat.
📲 "Ooowhh, kamu tidak nakal kan selama saya tinggal?"
Ucap Dave menatap lekat wajah Kayla.
"Hehehe,, Ya tidaklah sayang"
Ucap Kayla dengan senyum yang di paksakan.
📲 "Baguslah. Aku sangat merindukanmu sayang.
Ucap Dave dengan sedikit sendu.
"Iya, aku juga sangat merindukanmu cepat lah pulang"
Ucap Kayla menatap Dave dari ponselnya.
📲 "Sabar ya sayang, besok atau lusa aku akan kembali"
"Baiklah. Oiyah mulai besok aku akan ke kantor Papi. Tadi Papi sudah mengatakannya"
📲 "Baiklah kalo begitu. Sudah dulu ya sayang aku harus kembali meninjau lokasi gudang yang baru"
Ucap Dave yang di anggukin oleh Kayla dan mereka mengakhiri panggilan tersebut.
*****
Pagi ini Kayla mulai mengikuti Papi ke Perusahaan. Dengan menggunakan kendaraan terpisah karena Kayla lebih memilih mengendarai kendaraannya sendiri.
Kayla berhenti sejenak memandang gedung Sepuluh tingkat tersebut. Kayla mengingat terakhir kali ia berkunjung kesana saat masih awal-awal kuliah. Setelah itu Kayla tidak pernah lagi berkunjung ke Perusahaan karena kesibukannya belajar, bermain dan liburan ke luar negeri.
Sebuah Perusahaan Makanan yang terkenal di Negeri ini. Dengan berbagai jenis produk, Seperti Mie instan, Saus, Kecap dan masih banyak produk lainnya.
"Ayo Kay masuk nak"
Ucap Papi menyadarkan Kayla.
"Iya Pi"
Ucap Kayla mulai beranjak dari mobilnya dan berjalan beriringan dengan sang Papi memasuki gedung Perusahaan.
Kehadiran Kayla di Perusahaan menjadi buah bibir di kalangan Karyawan.
Banyak yang memuji kecantikan anak dari pemilik Perusahaan tersebut.
Banyak juga yang menyayangkan karena Kayla telah menikah sehingga para pria tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya.
Kayla berada satu ruangan dengan sang Papi. Karena masih banyak hal yang harus di pelajarinya terlebih dahulu sebelum Kayla bisa mengemban sebuah jabatan dan bertangung jawab atas semua keputusannya.
"Sayang, pelajarilah berkas ini dengan teliti. Bila ada yang tidak kamu pahami beri tahu Papi"
Ucap Papi menyerahkan beberapa berkas kepada Kayla.
"Baiklah Pi"
Ucap Kayla menerima berkas tersebut.
Dengan perlahan Kayla mulai membuka lembaran filenya dan memeriksa secara teliti.
Disini Kayla mulai memahami apa-apa saja dasar dari Perusahaan sang Papi dan Produk apa saja yang sangat laris di pasaran.