Oh Kayla

Oh Kayla
Memeluk Erat



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Jika kau tak mampu untuk menepati


Maka jangan pernah untuk berjanji


Jika kau tak mampu untuk selalu ada


Maka jangan pernah membuat seseorang berharap akan hadirmu.


Jika senyuman yang kau ukir hanya sebatas angin lalu maka, lebih baik kau tak pernah hadir jika akan meninggalkan luka yang berbekas.


Aku wanita, yang percaya akan seuntai kata yang kau ucap untuk menguatkan.


Namun aku terlalu rapuh akan kenyataan yang membuatku harus berhenti berharap.


Hingga membuatku hancur akan sebuah kenangan.


~Oh Kayla~


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Angin berhembus sejuk pagi ini, masih terlihat beberapa tetes air hujan yang berada di atas dedaunan hijau di sebuah pohon bunga Kamboja.


Kayla mengeratkan sweater coklat miliknya, dengan kaca mata hitam yang masih bertenger di atas hidung mancungnya menutupi mata sembab miliknya, tidak lupa kerudung hitam menutupi kepalanya.


Kayla berjalan pelan menyusuri beberapa undakan batu nisan, menuju sebuah undakan kecil di sudut pemakaman di kota tersebut.


"Assalamualaikum anak Mommy, hari ini Mommy datang mengunjungimu"


"Bagaimana kabarmu sayang? Semoga kamu bisa memaafkan Mommy yang tidak bisa menjaga dirimu selama dalam kandungan Mommy"


"Sayang, apa kau tau Mommy sangat menyayangi dirimu, meskipun Mommy belum pernah melihatmu namun, saat Mommy tahu kau berada di dalam perut ini Mommy sangat senang, meski awalnya Mommy sempat tidak menyangka secepat ini mendapat hadiah terindah dari tuhan. Tapi, Tuhan lebih menyayangimu nak hingga kau kembali di ambil olehnya. Maaf, maafkan Mommy sayang"


Kayla tidak dapat membendung lagi air matanya, sisi rapuhnya kembali muncul tiap kali mengingat kejadian beberapa waktu silam hingga ia berada di depan pusara seperti ini.


Kayla mengusap pelan batu nisan dimana calon anaknya di kuburkan. Sejenak Kayla menundukkan kepala dengan berdoa kepada sang Maha Pencipta untuk memaafkan kesalahan dan kelalaiannya sebagai seorang ibu dan memohon untuk mempertemukannya dengan anaknya di akhirat nantinya.


Kayla mengusap sudut matanya yang kembali meneteskan air mata.


Dengan perlahan Kayla menaburi pusara kecil tersebut dengan taburan bunga yang sengaja ia bawa. Kayla juga meletakkan setangkai bunga mawar putih di dekat batu nisan.


"Mommy pergi dulu ya sayang, lain kali Mommy akan mengunjungimu kembali"


Kayla perlahan bangkit dan berjalan pelan meninggalakan pusara putih tersebut. Ia kembali masuk kedalam mobilnya dan mulai menggerakkan mobilnya meninggalkan daerah pekuburan.


Ddrrrtt,,, Drrttt,,,


Kayla melirik sejenak pada ponselnya yang berdering di atas dashboard.


Klik.


"Hmmm,,, "


"Baiklah, aku akan langsung kesana"


Segera Kayla memutuskan panggilan tersebut dan menggemudikan kendaraannya menuju pinggiran kota Spanyol.


Kayla masih belum mau meninggalkan negara Spanyol meskipun ini sudah hari ketiga semenjak ia keluar dari rumah sakit.


Kayla masih berat hati meninggalkan tempat dimana anaknya di kuburkan. Ya, meskipun ia bisa mengatur untuk memindahkan kuburan anaknya ke tanah air namun untuk sekarang Kayla belum mau melakukan hal tersebut. Hati kecilnya masih tidak tega jika melihat kuburan itu akan di bongkar mungkin akan menyakiti anaknya di dalam sana.


Kendaraan Kayla berhenti tepat di depan sebuah bangunan berlantai dua setelah ia melewati para penjagaan di beberapa sisi bangunan. Kayla kemudian turun dari kendaraannya.


"Hai sayang"


Ucap seseorang yang berdiri tepat di depan Kayla.


Dengan senyum mengembangnya Kayla langsung memeluk pria yang berdiri tegap tersebut.


"Bagaimana? Apa perasaanmu sudah lebih baik sekarang?"


"Iya, aku sudah lebih baik setelah mengunjunginya, dan aku merasa lebih baik setelah memelukmu"


"Hehe,, Sekarang kamu sudah pandai menggodaku ya"


"Aku tidak bohong"


"Kalau begitu cium aku"


"Dave, ini tidak lucu, lihatlah para pengawal itu melihat kita"


"Biarkan saja, aku tidak peduli dengan mereka. Ayo cepat"


Ucap Dave dengan menaikkan sebelah alis matanya sambil senyum menggoda Kayla.


Cup.


"Hey, itu hanya kecupan bukan ciuman"


"Aku malu sayang jika mereka melihat kita"


"Hahhaha baiklah, tapi nanti malam aku tidak akan melepaskanmu"


"Terserahmu saja. Hmm,,, Dimana dia?"


"Kau yakin ingin bertemu dengannya sayang?"


"Yah, aku sangat yakin dan aku juga ingin memberikannya pelajaran"


"Baiklah jika begitu, ayo ikut aku"


Dengan langkah pasti Dave menuntun Kayla masuk kedalam bangunan dua tingkat tersebut. Mereka terus berjalan ke arah belakang bangunan, dimana terletak sebuah gudang tua terlihat dari cat dan dindingnnya yang retak-retak di berbagai sisi.


Dave mendorong pelan pintu besi tersebut hingga membuat Kayla sedikit terpukau akan isi yang terdapat di dalamnya. Kayla tidak menyangka jika gudang yang tampak dari luar sangat tidak layak bahkan terlihat tidak terurus tersebut namun di dalamnya berisi dengan berbagai persenjataan.


Dave terus membawa Kayla kedalamnya, hingga terlihat seorang pria yang kini tengah di ikat menggunakan rantai di kedua tangan dan kakinya dia adalah Leon.


Flashback On


Doorr,, Dorr,, Dorr,,


"Tidaaakkk Daveee"


Kayla menjerit histeris menatap Dave yang telah di tembaki oleh Leon hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.


"Kay,, Kaylaaa"


Teriak Dave kuat memanggil-manggil nama Kayla namun Kayla sudah tidak sadarkan diri, dengan segera Dave mengarahkan senjatanya ke arah Leon.


Dorr,, Doorr,, Doorr,,


Leon kembali bersembunyi di belakang sebuah drum minyak.


Bbrraakk,,


Dave menoleh ke arah pintu belakang tersebut tampak Kris dan Mark yang siaga dengan senjata di tangan mereka masing-masing.


"Tuan, nyonya muda tidak sadarkan diri"


Doorr,,


Untung saja Dave menggunakan rompi anti peluru dengan lapisan cairan merah di sisi luarnya sehingga jika ia tertembak maka seperti mengeluarkan darah.


Doorr!!


"Aakkhh"


Akhirnya Dave berhasil menembak bahu sebelah kanan Leon hingga senjatanya terlepas.


Doorr,, Doorr,, Doorr,,


Mark langsung melepaskan tembakannya mengenai kedua kaki Leon.


"Menyerahlah kini kau tinggal sendiri seluruh anak buahmu telah mati"


Ucap Mark menatap Leon yang kesakitan.


"BERENGSEK KALIAN SEMUA!!!! "


Teriakan Leon menggema di dalam ruangan tersebut.


"Dave cepat selamatkan istrimu, dia biar aku yang urus"


"Thanks Mark, jangan bunuh dia bawa saja ke markasmu"


Ucap Dave segera mendekati Kayla yang baru saja terlepas dari lilitan tali di tubuhnya.


"Ayo tuan"


Ucap Kris yang langsung mengangkat tubuh Kayla.


Dengan berlari cepat mereka meninggalkan gedung tua tersebut menuju kendaraan yang sedikit jauh mereka parkirkan sebelum memulai aksi penyelamatannya.


Dengan cepat Dave membuka pintu mobil dan masuk terlebih dahulu ke dalamnya lalu Kris meletakkan Kayla di atas pangkuan Dave.


"Cepat Kris"


"Baik tuan"


Segera Kris mengemudikan mobil tersebut menuju rumah sakit terdekat.


"Kay, ayo sadar sayang"


Dengan Dave yang terus menepuk-nepuk pelan pipi Kayla yang merah bekas tamparan tangan Leon yang masih meninggalkan bekas.


"Please Kay bertahanlah"


Dave semakin khawatir melihat keadaan Kayla yang mulai memucat dimana darah segar terus mengalir di kaki Kayla.


Dengan kecepatan di atas rata-rata akhirnya kendaraan mereka tiba di sebuah rumah sakit.


Dengan segera Dave membawa Kayla masuk ke dalam UGD untuk mendapat pertolongan.


Deg.


Jantung Dave seakan berhenti berdetak saat mendengar apa yang di sampaikan oleh dokter.


Bahwa janin yang berada di dalam perut Kayla tidak dapat di selamatkan kembali, Kayla harus menjalani kuret untuk membersihkan rahimnya agar tidak terjadi masalah di kemudian hari namun kondisi Kayla yang sangat lemah saat ini di tambah Kayla mengalami pendarahan yang cukup besar hingga membuat dokter harus bertindak cepat.


Dengan segera Dave menandatangani berkas yang telah di berikan oleh salah satu perawat sebagai tanda persetujuan oleh pihak keluarga.


"Tuan"


Ucap Kris yang datang memberikan sebuah bungkusan.


Dengan segera Dave menoleh dan menerima bungkusan tersebut lalu beranjak menuju toilet untuk membersihkan dirinya karena pakaian yang ia gunakan saat ini masih berlumuran darah.


Dua jam menunggu akhirnya dokter keluar untuk menyampaikan kondisi Kayla saat ini.


Hati Dave kembali hancur saat mendengar bahwa Kayla saat ini koma.


Dave menangis dalam gelapnya malam.


Ia merutuki kesalahannya yang tidak bisa menyelamatkan dan melindungi anak dan istrinya.


Satu minggu sudah Kayla tidak sadarkan diri, hingga Dave memutuskan untuk keluar rumah sakit sejenak mengunjungi makam anak mereka dan menitipkan Kayla kepada Mami Sarah.


Ddrrtt,,, Drrtt,,,


"Hallo Pih"


Senyum Dave mengembang saat mendengar Kayla sudah sadar hingga ia langsung bergegas meninggalkan pekuburan dan kembali ke rumah sakit.


Dave menatap Mami Sarah dan Papi Chandra yang duduk di depan kamar inap Kayla.


"Bagaimana Kayla Mih, Pih?"


"Kayla sedang di periksa dokter, tadi Kayla sudah sadar namun ia pingsan kembali saat mendengar anak yang berada di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan"


Ucap Mami menatap Dave yang berdiri di depannya.


Ckleekk.


Dokter keluar ruangan dengan di ikuti tiga orang perawat di belakangnya.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?"


"Istri tuan hanya shok, namun keadaannya telah membaik, mohon untuk keluarga tidak memberikan informasi atau sesuatu hal yang dapat memicu pasien merasa tertekan"


"Baik dokter"


"Untuk sementara biarkan pasien istirahat dahulu, kami telah menyuntikkan vitamin agar tubuhnya vit kembali setelah siuman, saya rasa itu saja"


"Terimakasih Dok"


Ucap Dave yang di balas anggukan kepala oleh dokter tersebut dan langsung meninggalkan kamar inap Kayla.


Keesokan paginya Kayla terbangun dan ia langsung duduk saat melihat Dave yang tertidur dengan posisi duduk di dekat ranjangnya.


"Dave,, Sayang,, Ini kamu?"


Ucap Kayla dengan menyentuh wajah Dave. Bahkan air matanya tidak bisa ia tahan lagi.


"Kay, kamu sudah sadar sayang"


Ucap Dave yang langsung terbangun saat merasakan sentuhan di wajahnya.


"Ya Allah, terimakasih"


Ucap Kayla yang langsung memeluk tubuh Dave, sementara Dave juga langsung membalas pelukan Kayla dengan erat.


Mami dan Papi Kayla yang menatap anak dan menantunya memilih untuk keluar ruangan sejenak memberi ruang untuk mereka berdua saling melepas kerinduan.


Flashback Off.