
Dengan perasaan kesal, bercampur sedih dan kecewa yang memuncah di hati, Kayla mengemudikan kendaraannya di atas rata-rata kecepatan. Dengan menekan habis pedal gasnya Kayla memacu kendaraannya menyalip para pengguna jalan lainnya. Saat ini Kayla tengah melewati jalan tol Jakarta-Bandung.
Awalnya Kayla sempat bingung kemana ia akan pergi. Ingin kerumah sahabatnya tapi baru juga semalam Laura menikah, ingin menghubungi Sam rasanya tidak mungkin mengingat kondisi Sam yang saat ini tengah patah hati. Pasti tidak akan bisa menghiburnya yang ada malah dirinya yang menghibur Sam.
Kayla teringat kendaraan yang kini ia bawa adalah milik dokter Dimas. Tanpa pikir panjang Kayla langsung memutar kemudinya menuju jalan tol Jakarta-Bandung.
Di perjalan Kayla melirik ponselnya yang sengaja ia matikan. Kayla berharap semoga Dave tidak akan menemukannya kali ini.
Sementara di Kantor Dave masih menunggu kabar dari Kris.
Sudah satu jam lebih Dave menunggu namun belum juga ada kabar dari Kris tentang keberadaan Kayla.
Cklaakk..
Kris masuk dengan raut wajah yang tegang melihat aura Dave yang semakin mengerikan.
"Dimana Kayla?"
Ucap Dave menatap tajam Kris.
"Maaf tuan hasil pantauan terakhir dari ponsel nyonya muda berada di sekitaran taman kota, namun setelah anggota kita meninjau lokasi nyonya muda tidak di temukan keberadaannya disana.
Kita juga sudah melacak semua kendaraan nyonya muda namun semua berada di Apartemen dan rumah milik orang tua nyonya muda"
"Bodoh! Laporan apa ini?! Cepat periksa lagi, temukan keberadaannya segera"
"Baik tuan"
Dengan segera Kris keluar dari ruangan Dave untuk kembali mencari keberadaan Kayla.
*****
Hampir lima jam perjalanan akhirnya Kayla tiba di kampung Abah.
"Siapa itu yah?"
Ucap Ambu melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya dengan duduk di depan rumah sambil menganyam keranjang buah.
Akhirnya Kayla keluar dari dalam mobil dengan menenteng beberapa makanan yang sempat ia beli di perjalanan tadi.
"Ambuu"
Ucap Kayla menatap Ambu dengan senyum lebarnya.
"Eneengg"
Ucap Ambu dengan raut wajah yang berseri dengan seketika melepaskan anyamannya dan berjalan mendekati Kayla.
"Eneng apa kabar?"
Ucap Ambu dengan memeluk erat tubuh Kayla.
"Alhamdulillah baik Ambu. Ambu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik juga Neng, ayo Neng masuk ke dalam"
Ucap Ambu dengan merangkul Kayla membawa ke dalam rumah.
Setelah berbincang-bincang dengan Ambu, Abah dan Jalu. Kayla kini duduk di depan rumah sambil menikmati pemandangan di depan rumah.
Menjelang sore dokter Dimas datang ke rumah Abah setelah sebelumnya di beri informasi bahwa mobilnya telah di antar langsung oleh Kayla ke kampung.
"Eneeenngg"
Teriak dokter Dimas melihat Kayla yang duduk di depan rumah.
'Ngagetin aja ni orang, untung gue kaga punya penyakit jantung'
"Eneng kapan sampenya?"
Lanjut dokter Dimas menatap senang ke arah Kayla.
"Belum lama juga kok A'a Dimas. Ini mobil A'a Dimas dan semua barang curiannya ada di dalam mobil, cek aja A'a"
Ucap Kayla dengan menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Abah.
"Alhamdulillah ya Allah"
Dengan segera dokter Dimas memeriksa ke adaan mobilnya dan mengecek tas serta dompet milknya.
"Masyaallah,, Semuanya masih lengkap Neng"
"Iya A' syukurlah"
"Terimakasih banyak ya Neng sudah membantu A'a selama di Jakarta"
Ucap dokter Dimas tulus.
"Iya A' sama-sama"
"Neng, maaf A'a mau nanya sesuatu"
"Apa A'? "
"Benar Eneng sudah menikah?"
"Iya benar A'a Dimas"
'Yaahhh,, Gak ada kesempatan lagi dong buat A'a dekatin Eneng'
"A'a kok melamun?"
Ucap Kayla dengan menggerakkan tangannya di depan wajah A'a Dimas.
"Ahh,,, Tidak Neng"
Ucap dokter Dimas dengan suara lemahnya.
"Ini Neng"
Lanjut dokter Dimas dengan mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong celananya.
"Untuk apa 'A? "
Ucap Kayla bingung.
"Ganti uang Eneng yang digunakan selama A'a Dimas di Jakarta kemaren"
"Hahha,, Sudah A'a tidak usah lagian Neng ikhlas kok nolonginnya"
"Yasudah uangnya masukkan saja kepada kotak amal di Mesjid"
Ucap Kayla dengan senyum lembutnya.
"Baiklah Neng kalau begitu"
*****
Uuweekk,,,, Uweeekkk,,,
Sementara di Jakarta Dave tengah mengeluarkan isi perutnya di toilet.
"Aduuhh perutku"
Ucap Dave setelah keluar dari dalam toilet.
"Ini tuan minumlah dulu, nanti akan saya panggilkan dokter"
Ucap Kris dengan menyerahkan segelas air putih.
Dengan segera Dave meminumnya.
"Tidak usah panggil dokter"
Ucap Dave sambil menyerahkan gelas kosong kepada Kris.
"Baiklah tuan, kalau begitu tuan istirahatlah dulu,, Tuan pasti melewatkan makan siang kan sehingga masuk angin, nanti akan saya pesankan makanan untuk tuan"
Ucap Kris dengan memapah tubuh Dave menuju Kamar istirahatnya.
"Kenapa kamu jadi cerewet Kris, cepat temukan dimana Kayla"
Ucap Dave setelah duduk di atas ranjang.
"Maafkan saya tuan. Kami juga terus melacak keberadaan nyonya muda"
Ucap Kris dengan menunduk.
Dave hanya bisa menghembuskan nafasnya mendengar jawaban yang sama berulang kali dari Kris.
Kris keluar dari ruangan Dave setelah melihat tangan Dave yang menyuruhnya untuk keluar.
Namun tidak lama kemudian Kris kembali masuk dengan membawa makanan ke dalam ruangan Dave.
"Tuan makanlah dahulu, anda harus tetap menjaga kesehatan"
Ucap Kris menatap Dave.
'Benar juga apa yang dikatakan olehnya. Aku tidak boleh sakit'
"Hmm,,,"
Dengan segera Kris meletakan nampan yang berisi makanan di dekat Dave.
Dave melirik tidak suka kepada makanan yang telah Kris bawakan.
"Makanan apa yang kau bawa ini?"
Ucap Dave menatap tajam wajah Kris.
"Itu Nasi dan ayam rica-rica tuan"
"Aku tidak mau. Bawakan aku bakso pedas"
Sontak saja Kris langsung menatap wajah Dave.
"Maaf tuan apa tadi?"
"Bakso pedas. Apa kau tidak mendengarnya? Periksakan telingamu pada ahli THT Kris"
'Aneh tidak biasanya tuan mau makan makanan yang penuh micin seperti itu'
"Baik tuan saya akan segera membelikannya"
Ucap Kris dengan segera mengambil nampan di hadapan Dave.
"Mau apa?"
Ucap Dave mengagetkan Kris.
"Membawa ini keluar tuan, tapi anda tidak mau"
Ucap Kris dengan melirik nampan di tangannya.
"Biarkan saja di situ"
"Baiklah tuan"
Ucap Kris yang akhirnya pergi meninggalkan ruangan Dave dengan perasaan bingung terhadap Bosnya.
"Hmmm,,, Kan mubazir kalo di buang. Mending ku makan saja sambil menunggu dia datang"
Gumam Dave dengan perlahan menyuapi mulutnya dengan nasi ayam rica-rica tersebut.
"Lumayanlah"
Lanjut Dave yang kembali melanjutkan makannya, menyuapi mulutnya hingga nasi dan ayam tersebut habis.
Cklaak.
Kris masuk dengan membawa semangkok bakso pedas. Bahkan Dave sampai menelan air liurnya mencium aroma wangi kuah bakso.
"Ini tuan bakso pedasnya"
Ucap Kris dengan meletakkan nampan berisi bakso pedas dan segelas air putih.
"Hmm"
Gumam Dave yang tak memutuskan pandangannya dari mangkok berisi bakso dengan tampilan yang mengugah selera, terdapat bawang goreng dan lelehan cabai yang banyak di atas bakso tersebut.
Dengan segera Dave memakan bakso yang dari tadi telah menggodanya.
Bahkan keringat di dahi Dave mulai bermunculan di tengah ruangan ber AC namun tidak menghentikan niat Dave untuk memakan bakso pedas tersebut.
Kris hanya bisa menatap bingung melihat Dave yang tidak biasanya mau memakan makanan penuh micin dan pedas seperti itu di tambah ia yang telah melahap habis nasi ayam rica-ricanya setelah Kris sempat melirik nampan yang telah kosong tersebut.