
Matahari sudah hampir di tengah-tengah kepala. Ini bukan pagi lagi tapi hampir siang. Namun Kayla belum juga menunjukkan tanda-tanda ia akan terbangun dari mimpi indahnya.
Dave yang masih setia menatap layar laptopnya dengan sesekali melirik kepada Kayla yang masih tertidur lelap. Senyum manis terbit di bibirnya kala menyaksikan wajah manis Kayla ketika tertidur.
Hoaaamm...
Perlahan Kayla mulai membiasakan matanya melihat cahaya matahari yang menyilaukan mata. Ia mulai menyadari bahwa ini tempat asing baginya.
"Aaaaakkhh,,"
Sontak Kayla berteriak dan hendak turun dari tempat tidur. Namun baru saja menurunkan kakinya.
"Aduuhh" Ia lupa kalau kakinya masih sakit.
"Sudah bangun" Ucap Dave menatap Kayla dengan pandangan yang sulit di artikan.
Kayla reflek melihat ke arah asal suara.
"Aduh gue lupa kalo semalam tidur di kamarnya. Mana bangun jam segini lagi. Sumpah malu-maluin banget. Mau di tarok mana muka gue"
Ucapnya dalam hati, Kayla hanya tersenyum kikuk melihat Dave yang berjalan ke arahnya.
"Kakinya masih sakit?" Ucap Dave melirik ke arah kaki Kayla.
"Iya" Jawab Kayla.
"Coba saya lihat" Ucap Dave perlahan memegang kaki kanan Kayla
"Aduuhh mau di apain?"
Ringis Kayla khawatir melihat tangan Dave yang memijit dan menggerak-gerakan kakinya.
"Tahan sedikit ya"
Ucap Dave pelan dengan tatapan lembut. Kayla hanya diam mengangguk.
Kreekk..
"Aaawwhhh.. Sakiittttt"
Teriak Kayla saat Dave berhasil mengobati kakinya yang sakit.
"Coba gerakin kakinya"
Ucap Dave dengan perlahan Kayla mulai menggerakan pergelangan kaki kanannya.
"Ehh... Uda bisa digerakin lagi"
Ucap Kayla senang menatap Dave.
"Terimakasih" Sambungnya lagi.
Hanya di balas senyuman manis Dave.
Deg.
"Aduh jantung gue kenapa lagi neh masih pagi juga uda diskoan" Pikir Kayla saat melihat senyum manis Dave.
"Bersiap-siaplah kita akan pulang"
Ucap Dave dan berlalu meninggalkan Kayla sendiri di kamar.
Dengan segera Kayla membersihkan Diriny di kamar mandi dan menyusul Dave keluar kamar.
*****
Suasana kantor sudah mulai sibuk seperti biasa, apa lagi akan memasuki akhir bulan semua devisi sibuk menyiapkan laporan mereka.
Ssuuthh... Ssuuthhh...
Siulan Laura yang memanggil Kayla namun yang di panggil tetap cuek asyik dengan monitor di hadapannya.
Plukk...
"Aduuh" Seketika Kayla menoleh ke arah Laura.
"Apaan sih loe? Ganggu aja" Kesal Kayla.
"Semalam loe nginap dimana?" Yang di tanya hanya diam saja asyik dengan kerjaannya.
"Iihhhk.. Gue ngomong malah loe cuekin"
Kesal Laura berlalu meninggalkan Kayla dengan setumpuk laporan di tangannya.
"Kay ini laporannya copy sepuluh rangkap langsung bawa ke ruang rapat ya"
Ucap mbak Santi dengan senyum menyebalkannya.
"Iya mbak"
Ucap Kayla setelah melirik map biru di atas mejanya.
"huuufffhh.. Nasip anak magang ya gini yang satu belum siap di tambah satu lagi. Baiklah Kay semangat"
Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Kaylapun mulai beranjak berjalan menuju arah mesin foto copy.
"Hay Kay"
Ucap Niko menghampiri Kayla yang sedang berdiri di depan mesin foto copy.
"Iyaa,," Jawabnya canggung. Iya masih tidak enak hati setelah menolak ungkapan cinta Niko semalam.
"Sini gue bantuin Kay"
Ucap Niko yang masih berusaha mendekati Kayla.
"Makasih Nik, tapi ini uda selesai kok"
Ucap Kayla mengangkat sedikit map di tangannya.
"Oowhh... Ntar makan siang di cafe depan yok" Ucap Niko menatap Kayla dengan senyuman di bibirnya.
"Liat ntar ya nik, ini gue mau ke ruang meeting uda di tungguin"
Ucap Kayla buru-buru meninggalkan Niko tanpa menunggu jawaban lagi. Sedangkan Niko hanya bisa melihat punggung Kayla yang mulai menjauhinya.
Ucap mbak Santi saat melihat Kayla baru memasuki ruang meeting.
"Iya mbak iyaa"
Ucap Kayla buru-buru membagikan laporannya di atas meja.
"Loe duduk di pojok situ aja" Ucap mbak Santi menunjuk salah satu kursi yang kosong.
"Baik mbak"
Jawab Kayla berjalan menuju kursi di bagian pojok.
Tidak menunggu lama semua peserta rapat mulai datang dan sudah menduduki kursi masing-masing hanya tinggal menunggu kedatangan presdir saja.
Ckleek..
Suara pintu saat presdir memasuki ruang rapat. Seketika suasana di ruangan menjadi hening. Kayla sejenak memperhatikan penampilan Dave dari bawah hingga atas.
Dave yang menggunakan jas berwarna hitam dengan dasi biru dongker dengan raut wajah yang tegas hidung mancung alis tebal dan tatapan mata yang tajam. Sangat berbeda sekali dengan tatapannya semalam saat mereka berdua di dalam kamar.
"Silahkan dimulai"
Ucap Dave membuyarkan lamunan Kayla.
Pak Hartono selaku ketua devisi pemasaran langsung saja memulai persentasi laporannya.
Dave hanya diam memperhatikan dengan tatapan tajamnya yang jika salah sedikit saja menyampaikan hasil laporan akan siap menebas kepala sehingga aura di dalam ruangan terasa semakin dingin. Bukan karena suhu ruang yang bertambah namun karena aura presdir yang dingin.
Kayla yang baru pertama kali mengikuti rapat ini juga merasakan sedikit tegang melihat susana ruangan yang sangat kaku dan membosankan.
"Huufffhh... Akhirnya selesai juga"
Ucap para anggota meeting kali ini. Mereka yang awalnya takut melakukan kesalahan namun dapat keluar dari ruangan dengan senyuman karena tidak ada yang mendapat kritikan dari presdir.
"Kayla"
Ucap seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Kayla yang sudah hapal dengan suara tersebut semakin melajukan langkahnya.
"Kay" Ucap Niko sambil memegang bahu Kayla. "Ehh.. Ehh.. Kay ini gue Niko" Dengan reflek hampir saja Kayla memelintir tangan Niko.
"Eh, gue kiraen siapa" Jawab Kayla sebal.
"Kay ayo makan di cefe depan" Ajak Niko.
"Hmmm... Soryy Nik gue ada urusan jadi ga bisa makan bareng loe" Tolaknya halus.
"Owh gitu ya. Yaudah gue luan ya"
Jawabnya lesu yang hanya di balas anggukan oleh Kayla dan mulai berlalu meninggalkan Kayla dengan sesekali menoleh kebelakang berharap Kayla akan memanggilnya.
Drrttt... Drrttt...
Bunyi ponsel Kayla di dalam tas.
"Hallo assalamualaikum ... Iya miih.. Iyah nih Kay uda mau jalan... Iya iyaaa,, hmmm,,, waalaikumsalam"
"Yok Kay kantin"
Ucap Laura menghampiri Kayla.
"Sorry Lau, nih nyokap gue ngajak makan bareng" Ucap Kayla menatap Laura.
"Oowhh.. Okeh santai aja" Ucap Laura.
"Gue luan ya" Pamit Kayla.
"Siipp,, hati-hati loe" Ucap Laura yang di balas tanda oke dari tangan Kayla dan berlalu meninggalkan Laura.
Dengan segera Kayla menuju kendaraannya yang terparkir rapi di parkiran kantor dan mulai mengemudikannya menuju tempat sang mami yang telah menunggunya.
Menyalip para pengguna jalan yang mulai berpadatan di saat jam-jam istirahat kantor seperti ini. Sesekali Kayla melirik jam di pergelangan tangannya memastikan jarak yang ia tuju sudah semakin dekat.
Kayla melihat ada seorang anak kecil yang berjualan yang tidak jauh dari kendaraannya. Kayla pun menurunkan kaca mobilnya perlahan.
"Adek sini"
Ucap Kayla pada seorang anak laki-laki yang memegang setumpuk koran.
"Iya kak, mau beli koran ya kak?"
Ucap anak tersebut setelah mendekati Kayla.
"Iya, berapa harganya?
Ucap Kayla dengan tersenyum manis.
"Lima ribu kak"
Ucap anak tersebut.
"Kakak beli satu ya. Oiyah kamu ga sekolah?"
Tanya Kayla lagi.
"Sekolah kak. Saya berjualan koran setiap pulang sekolah kak untuk membantu orang tua saya"
Ucap anak tersebut sambil menyerahkan sebuah koran kepada Kayla.
"Owhh begitu. Ini sisanya buat kamu ya"
Ucap Kayla dengan menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Banyak sekali kak"
Ucap anak tersebut dengan wajah bingungnya.
"Iya, kalau kebanyakan di tabung saja ya"
Ucap Kayla lembut.
"Baik kak, terimakasih banyak kak"
Ucap anak tersebut yang di balas anggukan oleh Kayla dan mulai menjalankan kembali kendaraannya.