
Sepulangnya dari mansion Abraham Laura dan Sam menuju sebuah Cafe karena Laura yang sudah tidak bisa menahan laparnya lagi.
Sam memarkirkan kendaraannya tepat di depan Cafe. Saat Sam menoleh ke dalam Cafe ia seperti melihat siluet seseorang yang tidak asing baginya.
Dengan cepat Sam turun dari mobil dan masuk ke dalam Cafe.
"Eeh buset gue yang lapar malah dia yang lari luan ke dalam"
Ucap Laura sembari menyusul Sam ke dalam Cafe.
Sam yang sudah berada di dalam Cafe terpaku melihat kekasihnya sedang di kecup keningnya oleh seorang pria. Mereka tersenyum bahagia dengan sesekali saling menyuapi.
Laura mengelus pungung Sam dari belakang. Mencoba menghibur Sam saat melihat Putri berselingkuh dengan seorang pria yang tidak ia kenal.
Prok,, Prok,, prok,
(Tepukan tangan Sam)
"Bagus jadi ini kelakuan loe di belakang gue ya"
Ucap Sam mendatangi meja Putri dan pria itu.
Sontak Putri kaget mendengar suara Sam dan langsung beranjak dari sisi sang pria.
"Saa sayaanngg,, Aku bisa jelaskan"
Ucap Putri panik.
"Jelaskan apa lagi? Semua sudah jelas. Kita putus!"
Ucap Sam beranjak meninggalkan Cafe yang di susul Laura di belakangnya.
"Sstiih!! Sialan tu cewek. Selama ini gue uda ngasih semua yang dia mau malah beraninya bermain di belakang gue"
Kesal Sam dengan mencengkram erat kemudi.
"Sabar ya Sam. Gue uda dari awal dulu ga respek ama tu anak. Tapi loe bilang cinta kan. Jadi ya inilah yang terjadi di hianatin loe kan"
Ucap Laura menimpali ucapan Sam.
"Gue ga nyangka Lau, dia selama ini baik banget. Perhatian banget sama gue, tulus sama gue"
"Gue yang selama ini perhatian sama loe aja ga pernah loe lirik"
Sontak Sam menoleh ke arah Laura.
"Ya maksud gue. Gue kan sebagai sahabat loe perhatian sama loe. Gitu maksud gue"
Panik Laura.
'Aduhhh hampir aja keceplosan'
"Loh loh ngapaen kesini. Pulang cepat!"
Ucap Laura saat Sam menghentikan kendaraannya di depan sebuah bar.
"Gue mau lupain tuh anak. Loe kalo mau pulang neh kuncinya"
Sembari melempar kunci ke arah Laura dan berjalan menuju bar.
"Ckk.. Masa gue tinggalin tu anak. Kalau mabuk ntar gimana.. Aakhhhh"
Akhirnya Laura mengikuti Sam masuk ke dalam bar, tempat yang sangat ia hindari bersama Kayla.
Sudah dua botol minuman habis di teguk oleh Sam. Namun Sam belum juga mau pulang. Sementara hari sudah semakin larut.
"Cewek brengsek. Sialan! Gue uda habisin banyak uang buat tu cewek.. Aaarghhh...
Gue cinta sama loe Puutt.. Kenapa loe tega hianatin gue,, Hhiksss hikss"
Racau Sam menyebut sang mantan.
"Aaahh kacau ni anak. Ga bisa di biarin lama-lama"
Laura mulai memapah tubuh Sam keluar dari bar dan mengemudikan kendaraannya.
Dengan sudah payah akhirnya sampai juga di rumah Sam. Dengan Sam yang mengira Laura adalah Putri dengan sesekali menciumnya di sepanjang jalan.
Laura lanjut memapah Sam masuk ke dalam rumah dan menuju kamar Sam.
"Huuffhh gila, berat banget badannya ni Kingkong"
Sungut Laura menatap tubuh Sam yang baru berhasil ia rebahkan di atas ranjang.
Laura melepaskan kedua sepatu Sam dan menoleh ke kemeja Sam yang basah akibat tumpahan minumannya.
Lanjut Laura mencari pakaian ganti Sam di lemari.
"Aduuhhh Saam kenapa sih badan loe berat banget. Gue jadi susah ne bukanya"
Ucap Laura saat telah berhasil melepaskan kemeja Sam namun masih tertinggal kaos dalamnya yang ikut basah juga.
Dengan berusaha kuat Laura mendudukan Sam dan membuka baju kaos dalam Sam.
"Putrii kamu di sini sayang?"
Cup.
Ucap Sam sambil mencium Laura dan membaringkan tubuh Laura di bawahnya. Sam terus mencium Laura ******* dalam bibir tipis itu hingga menimbulkan suara ******* Laura yang mulai menikmati sentuhan Sam.
Sam mulai melepaskan pakaian atas Laura.
Bermain-main dan menikmati dua bukit sintal Laura hingga meninggalkan banyak tanda merah di dada Laura.
"Aaghhh Putri kenapa wangi tubuh mu sangat manis"
Ucap Sam di tengah-tengah permainannya.
Deg
Laura tersadar. Saat Sam menyebutkan nama Putri. Dengan segera Laura mendorong tubuh besar Sam dari atasnya hingga Sam terbaring di pinggir ranjang.
"Sialan"
Ucap Laura kembali membenahi pakaiannya dan meninggalkan Sam yang telah tertidur.
Laura membawa laju kendaraannya dengan air matanya yang menetes. Tidak menghiraukan makian pengendara lain yang dia selip sesukanya.
Hingga Laura sampai di rumahnya dan langsung berlari ke dalam kamarnya. Untung saja papa dan mamanya tidak ada di rumah jika tidak pasti Laura sudah di hakimi karena pulang-pulang dalam keadaan yang sangat kacau.
Laura menuju kamar mandi. Melepaskan semua pakaiannya. Mematut dirinya di depan cermin. Dadanya hampir penuh dengan tanda merah. Laura menangisi kebodohannya yang hampir saja ke bablasan ia berikan kepada Sam orang yang tidak mencintainya.
Laura mulai membasahi dirinya di bawah cucuran air. Menggosok dengan keras semua tanda di tubuhnya. Menghilangkan aroma alkohol yang melekat didirinya dengan air mata yang terus menetes.
****
Matahari kembali menghangatkan bumi. Meninggalkan dinginnya malam yang penuh dengan luka.
Sam mulai terbangun dengan memegang kepalanya yang masih berat efek dari alkohol yang kemarin di teguknya.
Sam melihat sekeliling ruangannya.
Mengingat-ingat terakhir kali kesadarannya di dalam sebuah bar bersama Laura.
Menoleh ke sisi ranjangnya yang berantakan. Tidak biasanya ia tertidur di ujung ranjang bahkan bila bergeser sedikit saja sudah pasti akan terjatuh.
Sam kembali memijit keningnya yang masih sedikit berat.
"Akkhhh siaall"
Rutuk Sam saat bayangan dia mencumbu Laura tiba-tiba muncul di kepalanya.
Sam bergegas mencari ponselnya. Menghubungi nomor Laura. Namun tidak aktif. Sehingga Sam kesal melempar ponsel tersebut di sampingnya.
Sam segera membersihkan dirinya. Dan langsung menuju rumah Laura.
Sesampainya di sana Sam menekan bel dengan keras. Hingga tidak lama menunggu asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Dimana Laura bik?
Ucap Sam cepat
"Non Laura masih tidur den, ada apa den sepertinya terburu-buru?"
Tanya bibik.
"Saya ada perlu bik"
Beranjak langsung menuju lantai atas dimana kamar Laura.
Bibik yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
"Cinta memang rumit"
Ucap bibik menutup pintu dan beranjak melanjutkan pekerjaannya.
Tok tok tok,,
Laura yang terganggu tidurnya merasa kesal. Karena ia baru bisa tidur pukul empat pagi tadi. Namun baru tiga jam matanya terlelap sudah ada penganggu.
Cklaak..
"Ada apa sih bik berisik?"
Kesal Laura dengan mata yang masih terpejam setengah sadar.
Sam dengan segera menerobos masuk dan menutup kembali pintu kamar Laura.
Melihat tanda merah di dada Laura. Laura yang menggunakan tangtop dan celana pendek saat tidur. Dengan jelas Sam bisa melihat lekukan tubuh indah Laura.
"Kau. Sorry gue semalam..."
Sontak Laura membuka matanya lebar mendengar suara yang harusnya ia hindari hari ini. Namun naasnya pria tersebut sudah berada di dalam kamarnya.
"Ngapaen loe kemari?"
Ucap Laura mencari selimut untuk menutupi tubuhnya. Sadar dengan pakaiannya yang sedikit terbuka.
"Gue mau minta maaf Lau. Gue benar-benar gak sadar ngelakuin itu sama loe"
Jelas Sam menatap Laura.
"Iya gue tau kok. Udah keluar loe sana"
Dengan Laura yang mendorong tubuh Sam keluar kamarnya dan mengunci kembali pintu tersebut.
Tok tok tok..
"Lau buka please.. Gue belum selesai ngomong"
Ucap Sam sambil mendorong pintu kamar Laura.
Sementara Laura hanya terduduk di belakang pintu dengan air matanya yang kembali menetes.