Oh Kayla

Oh Kayla
Laura dan Sam (Tiga)



Laura sedikit tenang setelah meluapkan semua rasa yang mengganggu di pikirannya kepada Kayla. Meskipun belum mendapat jalan keluar yang baik tapi setidaknya beban di pundaknya tidak seberat sebelumnya.


Setelah pulang dari Restoran Seafood Laura kembali menghubungi Sam namun selalu sama tidak bisa terhubung.


Laura mengemudikan kendaraanya ke arah rumah Sam setidaknya mencoba keberuntungan jika bisa bertemu Sam setelah pulang dari Kantor itu yang sejenak terlintas di pikirannya.


Senyum di bibir Laura sedikit mengembang saat melihat ada mobil Sam di pekarangan rumahnya.


Dengan segera Laura masuk dan memarkirkan kendaraannya tepat di samping mobil Sam.


Ting nong.. Ting nong...


Laura menunggu di depan pintu setelah menekan bel rumah Sam.


Cklaak..


Pintu terbuka menampakkan Sam yang masih menggunakan pakaian kerjanya.


"Haii Sam"


Ucap Laura dengan tersenyum manis.


"Hai sayang"


Ucap Sam sedikit kaget melihat Laura di depan rumahnya.


Namun berbeda dengan Laura senyumnya semakin mengembang mendengar Sam manggilnya 'Sayang'.


"Kamu baru pulang kerja ya?"


Ucap Laura menatap Sam.


"Iya, masuklah jangan berdiri di luar seperti penagih hutang saja"


Ucap Sam dengan senyum jahilnya. Sontak Laura terkekeh mendengarnya dan mengikuti Sam masuk ke dalam rumah.


"Ingin minum apa?"


Lanjut Sam lagi.


"Apa saja boleh"


Ucap Laura dengan mendudukan dirinya di sofa ruangan tengah yang terdapat televisi di depannya.


Sam berjalan menuju lemari pendingin mengeluarkan beberapa minuman kaleng. Yah Sam selalu meminta asisten rumahnya untuk selalu menyediakan itu di dalam lemari mendinginnya.


Sam tinggal di rumahnya sendiri, asisten rumah tangga hanya akan datang saat pagi hari dan pulang sebelum pukul lima sore.


Sam memilih untuk tinggal sendiri karena tidak suka terlalu di atur oleh Kedua orang tuanya.


"Ini minumlah"


Ucap Sam meletakkan minuman dan sebuah gelas di atas meja bersamaan dengan ponselnya yang sedari tadi di pegang lalu duduk di samping Laura.


"Makasih"


Ucap Laura tersenyum lembut dan menuangkan minuman kaleng ke gelas lalu meminumnya sedikit.


"Kenapa kamu tidak membalas pesanku?"


Ucap Laura menatap Sam.


"Maafkan aku sayang, akhir-akhir ini aku banyak sekali pekerjaan"


Ucap Sam sambil mengusap wajah Laura.


"Oowhh begitu yaa"


Jawab Laura pelan.


"Heem.. Pijitin kepalaku dong, aku sangat pusing akhir-akhir ini"


Ucap Sam tiba-tiba membaringkan dirinya di pangkuan Laura. Menjadikan paha Laura sebagai bantalannya.


"Eehh.. "


Kaget Laura, namun dalam hatinya sangat senang karena Sam tidak berubah.


Dengan hati-hat Laura mulai memijat pelan kepala Sam. Laura memperhatikan wajah Sam yang berada di pangkuannya dengan mata Sam yang terpejam menikmati pijatan lembut Laura di kepalanya.


"Sudah puas memandangiku?"


Ucap Sam yang tiba-tiba membuka matanya.


"Hahaha apaan sih loe. Ngagetin sumpah"


Ucap Laura dengan wajah yang memerah.


Laura membolakan matanya saat Sam yang tiba-tiba membungkam mulutnya.


"Manis"


Ucap Sam mengusap lembut bibir Laura dan tersenyum menatap Laura yang masih diam membisu dengan wajah yang memerah.


"Sam, aku ingin bicara sesuatu yang penting"


Ucap Laura menatap wajah Sam.


"Iya sayang bicaralah"


Ucap Sam dengan mengusap lembut wajah Laura.


"Akuuu,,, "


"Eehh tunggu, kita bicaranya sambil makan malam saja. Aku mau mandi sebentar saja, Okeh. Tunggu yaa"


Laura menarik nafas panjang saat Sam sudah meninggalkannya.


Ddrtt.. Drrtt..


Pandangan Laura teralih pada ponsel Sam yang ia letakkan di samping kaleng minumannya.


Penasaran Laura mengintip isi pesan dari ponsel Sam.


from: My love Putri


Sayang terimakasih ya sudah menemaniku berbelanja seharian ini. Kamu sampe rela meninggalkan pekerjaanmu demi aku. Terimakasih cincinnya sangat indah sekali. Aku menyukainya. Senang sekali rasanya hari ini.


Love you Samuel muah muah muah.


Deg.


Jantung Laura bekerja dengan cepat saat membaca isi pesan tersebut.


Air mata Laura menetes dengan sendirinya.


Rasa sesak didadanya sudah tidak bisa lagi ia tahan.


Laura mengingat perkataan Sam yang sibuk banyak kerjaan, meeting dadakan dan kadang sangat susah untuk di hubungi. Ternyata inilah alasan utamanya.


Laura merasa sangat bodoh sekali karena mengharapkan balasan cinta dari orang yang sudah jelas tidak pernah menaruh hati padanya.


Rasa nyaman yang selama ini Sam katakan mungkin hanyalah nyaman sebagai sahabat tidak lebih.


"Sayang ada apa? Kenapa kamu menangis?"


Ucap Sam yang berjalan menuruni undakan anak tangga.


Dengan cepat Laura menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat makin bodoh di hadapan Sam.


"Kok diam? Ada apa sayang?"


Ucap Sam saat tiba di depan Laura.


"Apa kamu ingin jujur satu hal padaku?"


Ucap Laura menatap mata Sam.


Sam hanya terdiam. Bingung dengan pertanyaan Laura barusan.


"Hhaa... "


Laura menghembuskan nafas kasar dengan menutup matanya.


"Okeh baiklah. Hmm...


Sam, gue rasa semuanya sudah jelas sekarang. Hubungan di antara kita tidak lebih dari sahabat. Makasih buat semuanya dan tolong jangan hubungi gue lagi"


Ucap Laura mengambil tasnya dan beranjak.


"Tunggu. Maksud kamu apa?"


Ucap Sam menahan pergelangan tangan Laura.


"Udah jangan sok bego lah. Loe masih berhubungan sama Putri kan!?"


Ucap Laura menunjuk dada Sam.


Deg.


Sam kaget dan melepaskan tangan Laura.


Laura tersenyum miring menatap tangan Sam yang melepaskannya.


"Lau gue bisa jelaskan semuanya"


Ucap Sam mencoba meraih tangan Laura lagi namun dengan cepat di tepis olehnya.


"Udah Sam gak ada yang perlu loe jelasin lagi. Semuanya udah jelas. Gue pulang permisi!"


Ucap Laura meninggalkan Sam.


Sedangkan Sam hanya bisa terdiam menatap punggung Laura yang menjauh darinya hingga keluar dari pintu rumahnya.


"Bahkan dia gak berusaha buat ngejar gue.


Bodoh bodoh bodooohh.. Sumpah loe bodoh banget Lauraaa... Apa yang mau loe harapin lagi dari diaaa.. Aargghhh"


Ucap Laura kesal dengan mencengkram erat kemudi mobilnya dan mulai menjalankan kendaraannya meninggalkan kediaman Sam dan semua tentang Sam.


Laura memacu kendaraannya dengan cepat. Air matanya masih terus mengalir di pipi.


Dengan cepat Laura menghapusnya dan meraih ponselnya mencari sebuah kontak dan langsung menghubunginya.


"Haloo Pa, Laura terima perjodohannya"


Ucap Laura setelah panggilan terhubung dan langsung memutuskannya sepihak.


Air matanya kembali menetes membasahi pipi.


'Yah, inilah pilihan terbaik yang harus gue ambil'


Luara menghentikan kendaraannya di saat lampu lalu lintas berwarna merah. Ia menatap pengguna motor yang sedang tertawa berdua dengan bahagia rasanya seperti mengolok-olok kebodohannya selama ini.


Ingin teriak yaa rasanya Laura ingin teriak sekuat-kuatnya namun ia masih punya urat malu untuk melakukan hal itu di tengah keramaian seperti ini.


Laura mengemudikan kembali kendaraannya di saat lampu lalu lintas berganti warna dan memacu cepat kendaraanya untuk segera sampai ke rumah.