
Sore ini Abah sudah pulang di antar oleh dokter muda itu. Awalnya keluarga Abah sempat menolak. Namun karena dokter yang baik hati itu tetep kekeh mengantarkan Abah dengan alasan untuk memastikan pasien sampai rumah dengan selamat. Yah, cukup konyol sih sebenarnya di jaman sekarang ini tapi ya sudahlah Abah pun tidak menolak lagi niat baik dokter muda tersebut.
"Terimakasih ya dok sudah repot-repot mengantarkan Abah"
Ucap Kayla saat mengantar dokter keluar rumah.
"Iya sama-sama, saya senang bisa membantu. Oiyah kalo di luar jangan panggil saya dokter. Panggil Dimas saja" Ucapnya dengan tersenyum menatap Kayla.
"Tapi rasanya tidak sopan jika harus memanggil nama saja"
"Yasudah panggil A'a Dimas saja"
"Baiklah A'a Dimas" Ucap Kayla.
Dimas tersenyum senang mendengar Kayla memanggilnya A'a serasa menjadi lebih dekat.
"Kalau begitu A'a pamit ya Neng"
"Iya A' hati-hati"
Dengan senyum merekah Dimas menuju mobilnya. Meninggalkan rumah sederhana tersebut.
Tiga hari kemudian.
Hari ini Abah akan ke Puskesmas untuk memeriksa kembali kakinya. Abah di temani oleh Ambu dan Kayla. Jaluh yang harus pergi ke sekolah hanya bisa menatap punggung mereka yang pisah di persimpangan jalan.
Sesampainya di Puskesmas dokter Dimas sudah menunggu kedatangan mereka.
"Perbannya saya buka ya Pak"
Izin dokter Dimas dengan sopan saat akan melakukan pemeriksaan.
"Bapak, luka bagian luarnya sudah mulai kering, tapi ini masih bengkak jadi Bapak masih harus istirahat dulu ya, hindari aktifitas yang berat agar cepat pulih penyembuhannya"
Penjelasan dokter Dimas.
"Iya dokter, terima kasih"
Jawab Abah yang di balas anggukan kepala dan senyum manis dokter Dimas.
*****
Abah sudah kembali pulang kerumah. Namun
Abah murung memikirkan pesanan strawberrynya.
"Bagaimana ini Ambu, pesanan di pasar sudah tiga hari belum Abah antar. Takutnya nanti kita kehilangan pelanggan"
Ucap Abah sedih memikirkan pesanan yang belum bisa di antar.
"Ambu saja yang antar ya bah. 'melihat ke arah Kayla' Neng, tolong jagain Abah di rumah ya Ambu mau antar pesanan strawberry dulu ke pasar"
"Ambu, biar Neng saja yang antar kepasar. Ambu temani Abah saja di rumah"
Ucap Kayla menatap Ambu dan Abah bergantian.
"Tapi,,"
"Sudah Ambu, biar Eneng saja ya ya yaah,,,"
Ucap Kayla lagi menatap Ambu.
"Yasudah, hati-hati ya Neng"
Menggunakan motor matic Kayla siap membawa sekeranjang penuh buah strawberry.
Saat melewati jalan bebatuan motor Kayla mulai oleng. Kayla menghentikan motornya mengecek ban motor yang terasa aneh.
Dan benar saja ban belakang motornya kempes.
"Huufhhh,, Pake kempes segala ne motor. gimana gue mau kepasar. Mana jauh lagi tambal bannya"
Kesal Kayla yang kesusahan saat mendorong motor maticnya.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping motor Kayla.
"Eneng. Motornya kenapa?"
Ucap Dimas saat sudah turun dan mendekati Kayla.
"Ini dok, bannya kempes"
"Jangan panggil dokter, kan kita sedang berada di luar"
"Ehh, iya A'a Dimas"
"Emangnya Eneng mau kemana? Bawa buah strawberry sebanyak ini?"
"Ini mau ngantar pesanan pelangan Abah di pasar 'A"
"Owh, kalau gitu Eneng ikut A'a Dimas aja. A'a juga mau ada yang di cari disana"
"Beneran gapapa ne 'A? Takutnya ngerepotin A'a. Lagian motor Eneng gimana? Masa mau di tinggal, kalo di ambil orang bisa gawat 'A"
"Iya gak ngerepotin kok. Motornya tinggal saja. Nanti A'a Dimas telpon teman minta tolong buat bawa ke tambal ban"
"Baiklah A' kalo gitu"
'Syukurlah ada A'a Dimas yang lewat. Kalau gak bisa gempor juga kaki gue jalan sejauh itu mana sambil dorong motor lagi'
Mobil Dimas mulai jalan saat temannya sudah datang dan membawa motor Kayla.
Sesampainya di Pasar. Kayla segera menuju toko buah langganan Abah. Dengan sigap Dimas membantu mengangkat keranjang dari tangan Kayla.
"Biar A'a saja Neng. Ini berat"
Ucap Dimas setelah memegang keranjang strawberry.
"Aduh jadi ngerepotin A'a Dimas lagi. Heheh makasih ya 'A"
"Iya Neng. A'a Dimas senang bisa bantuin Neng"
"Ini dia pak pemasok buah strawberrynya. Neng kesini Neng"
Ucap ibu pemilik toko.
"Iya ibu. Ada apa?
Ucap Kayla menghampiri ibu tersebut.
"Ini, Bapak ini ada yang mau di omongin katanya"
Ucap ibu pemilik toko yang lantas meninggalkan Kayla karena ada pelenggan yang harus ia layani.
"Perkenalkan mbak. Saya Anto pemilik Supermarket di kota Bandung"
Ucap seorang bapak-bapak sambil mengulurkan tangannya kepada Kayla.
"Iya pak. Panggil saja Eneng. Ada apa ya Pak"
Jawab Kayla setelah menjabat tangan Bapak tersenyum dengan senyum ramahnya.
"Saya sudah mencoba buah strawberry dari kebunnya Pak Ucup. Rasanya manis dan segar berbeda sekali dengan buah strawberry lain yang terkadang rasa asamnya lebih kuat. Jadi, maksud saya untuk mengajak Pak Ucup atau Eneng yah untuk bekerja sama dengan kami dalam pemasokan buah strawberry ke Supermarket kami yang berada di kota. Bagaimana apa Eneng setuju penawaran saya?"
Ucap Pak Anton menjelaskan tujuannya.
Sejenak Kayla melihat ke arah Dimas seperti meminta pendapat. Dimaspun tersenyum sambil mengangguk seolah menyetujui permintaan Pak Anton.
"Alhamdulillah. Iya Pak. Saya setuju. Nanti saya akan bicarakan lagi dengan Pak Ucup"
Ucap Kayla senang dengan mata berbinar.
"Baiklah kalau begitu ini kartu nama saya. Nanti Eneng bisa menghubungi saya untuk pengantarannya. Kalau bisa sih secepatnya"
Sambil mengeluarkan sebuah kartu dari dopetnya dan menyodorkan kepada Kayla
"Baik Pak. Terima kasih. Secepatnya saya akan menghubungi Bapak untuk pengantaran buah-buah strawberrynya"
"Iya Neng. Saya tunggu. Kalo begitu saya permisi"
Pamit Pak Anton dengan ramah.
"Waahhh Abah sama Ambu pasti senang mendengar kabar ini 'A"
Ucap Kayla menatap Dimas dengan senyum merekahnya.
'Manisnya kamu Neng'
"Iya Neng. Pak Ucup dan Ibu pasti senang sekali"
Ucap Dimas menatap Kayla dengan senyum manisnya.
"Ya sudah ayo kita pulang 'A "
"Iya Neng"
Sesampainya di rumah Kayla langsung menemui Abah dan Ambu untuk menyampaikan kabar gembira ini.
Mendengar penjelasan Kayla Abah dan Ambu sangat senang sekali. Bahkan Ambu sampai meneteskan air mata saking terharunya.
Tapi seketika wajah Abah tiba-tiba murung. Ambu yang melihat perubahan Abah pun bingung.
"Abah kenapa wajahnya sedih? Seharusnya Abah senang atuh kita dapat pelangan baru"
Ucap Ambu sambil memegang tangan Abah.
"Abah hanya kepikiran Ambu. Kaki Abah seperti ini apa kuat mengantarkan pesanan ke kota. Mana jauh lagi"
Ucap Abah menatap kakinya yang masih bengkak.
Kayla yang mendengar ucapan Abahpun turut mendekat.
"Biar Eneng saja yang antar buah-buah strawberrynya ke kota ya Abah. Abah istirahat saja dulu"
Ucap Kayla dengan lembut.
"Kota itu jauh Neng. Eneng saja baru sembuh. Abah takut Eneng nanti kenapa-kenapa disana"
Jawab Abah dengan tatapan sedih menatap Kayla.
"Eemmm.. Bagaimana kalau saya yang temani eneng ke kota Pak?"
Ucap Dimas yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan keluarga kecil tersebut.
Sontak ketiga orang tersebut menoleh ke arah dimas. Mereka sempat lupa bahwa dokter muda tersebut masih berada di sana.
"Aduh. Kami jadi tidak enak sama dokter karena sering merepotkan"
Ucap Abah menatap Dimas.
"Tidak apa-apa pak saya senang bisa membantu. Lagian sabtu dan minggu saya libur dinas jadi tidak merasa di repotkan juga. Sekalian bawa Eneng jalan-jalan di kota ya Pak, Bu"
Ucap Dimas sembari tersenyum manis menatap Kayla.
Kayla pun senang mendengar saat Dimas akan mengajaknya jalan-jalan. Seperti ada angin segar di dadanya. Sehingga menimbulkan senyum merekahnya.
"Iya Abah. Nanti A'a Dimas eh maksud Eneng dokter Dimas yang menemani Eneng saja"
Kayla sedikit malu karena sudah memanggil A'a Dimas di depan Abah dan Ambu.
Abah dan Ambu saling lirik tersenyum penuh arti melihat Kayla yang memanggil dokter Dimas dengan sebutan A'a.
"Yasudah kalau begitu. Terimakasih ya dokter sudah sangat baik kepada keluarga kami"
Ucap Abah menatap Dimas dengan senyumannya.
"Iya Pak. Sama-sama kalau begitu saya pamit. Lusa saya akan datang kembali untuk menjemput Eneng"
Ucap Dimas sambil menoleh ke arah Kayla dengan senyum manisnya. Yang di balas anggukan oleh Kayla.