Oh Kayla

Oh Kayla
Rencana Baru Kayla



Ketertarikan Kayla pada bisnis membuatnya memikirkan suatu Produk baru. Sesuatu yang membuatnya sedikit pusing hingga sang Papi yang memperhatikan Kayla pun di buat geleng-geleng kepala.


Bagaimana tidak, ruangan kerja Papi bagaikan kelas TK dimana banyak berserakan kertas dari gambar-gambar yang di buatnya.


"Kayla, coba lihat ruangan Papi "


Ucap Papi menatap Kayla dengan menahan tawanya.


"Iya Pi"


Ucap Kayla mulai menaikkan pandangannya dan menatap sekeliling ruangan kerja Papi.


"Eh,,, Heheheh"


Ucap Kayla dengan terkekeh setelah melihat ruangan Papinya yang berantakan.


"Emangnya kamu gambar apa Kay?"


Ucap Papi mendekati Kayla.


"Ini Pi rencananya Kayla mau buat Produk baru tapi ada logo nama Kayla nya ntar"


Ucap Kayla dengan tersenyum malu.


"Ooowhh begitu. Emangnya kamu mau buat produk apa?"


Ucap Papi menatap Kayla.


"Produk kesehatan Pih. Seperti kalung dan gelang. Selain bisa buat masyarakat menjadi sehat kita juga bisa menghasilkan keuntungan yang besar"


Ucap Kayla semangat.


"Waahh ide kamu sangat cemerlang nak. Papi saja tidak kepikiran sampai ke situ"


Ucap Papi dengan senyum merekahnya.


"Iya Pih, bisa di pakai untuk Mami juga ntar produk Kayla. Tapi Kayla masih bingung bagaimana caranya"


Ucap Kayla dengan wajah cemberut.


"Jika seperti itu kita akan ajukan kerja sama dengan Perusahaan XX. Perusahaan tersebut bergerak di bidang Kesehatan dan Teknologi"


"Oke Pih, Kayla setuju"


"Baiklah. Karena ini adalah ide mu. Papi mau kamu yang belajar mengurusnya. Bertanggung jawab dengan pekerjaanmu nantinya.


"Siap Bos"


Ucap Kayla memberi hormat.


"Hehehe.. Kamu ini ya,, Yasudah mulailah membuat proposalnya. Papi akan menyuruh sekretaris Papi untuk membuat janji dengan Perusahaan XX.


Ucap Papi mengusap lembut kepala Kayla.


"Okeh Pih"


Dengan semangat Kayla mulai mengerjakan pekerjaannya. Hingga jam makan siang pun di lewati oleh Kayla.


"Piihh,,, Coba lihat ini"


Ucap Kayla menyerahkan proposal yang baru saja selesai di kerjakannya.


"Bagus, tapi masih ada yang kurang, di bagian sini. Dan sini. Kamu perbaiki lagi ya"


Ucap Papi dengan tersenyum lembut.


"Baik Pih"


Ucap Kayla semangat.


"Kay, nanti saja di kerjakan. Kamu belum makan siang kan? Makan lah dulu ingat kesehatan itu nomor satu"


Ucap Papi menahan tangan Kayla.


"Iya Pih, baiklah Kayla keluar dulu cari makan"


"Hmm,, Hati-hati ya"


Ucap Papi mengingatkan Kayla yang suka kebut-kebutan di jalanan.


"Siap bos"


"Heheh Kamu ini. Sudah pergi lah"


Ucap Papi yang di anggukin Kayla dengan segera berjalan menuju mejanya mengambil tas dan ponselnya lalu beranjak keluar ruangan.


Kayla mengemudikan kendaraannya dengan lancar karena jam makan siang kantor sudah lewat sehingga jalanan pun tidak terlalu ramai.


Kayla berhenti di salah satu Cafe yang cukup terkenal di kota tersebut.


Dengan segera Kayla memesan makanan setelah mendudukan dirinya di kursi kosong.


Kayla memilih meja yang menghadap ke luar Cafe, menampakkan pemandangan jalan raya yang ramai dengan pengemudi yang hilir mudik dengan kesibukan masing-masing.


Tidak menunggu terlalu lama pesanannya pun datang. Dengan segera Kayla menyantap makanan tersebut.


Hingga merasa kenyang Kayla menghentikan makannya dan meraih ponselnya memeriksa pesan dari Dave.


Tidak lama kemudian lewatlah dua orang dari arah belakang Kayla. Melewati Kayla begitu saja tanpa sadar dengan perbuatannya sedikitpun.


Dengan menggepalkan tanggannya Kayla berdiri melangkah menuju kasir membayar pesanannya dan segera berjalan keluar.


Namun sayang dua orang tersebut telah meninggalkan Cafe. Membuat Kayla semakin memanas, dengan segera Kayla mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi seseorang.


"Datang ke alamat Xxx Sekarang!!!"


Ucap Kayla langsung memutuskan panggilannya sepihak tanpa mendengar jawaban dari orang tersebut.


Dengan kecepatan di atas rata-rata Kayla mengendarai kendaraannya menyalip para pengguna jalan lain. Kayla mencengkram erat kemudi mobilnya saat tiba di lampu merah.


"Sialaan. Berani bermain-main ne monyet!!"


Ucap Kayla meluapkan emosinya dengan mengabsen nama-nama hewan di kebun binatang.


Sebentar-bentar Kayla melirik lampu lalu lintas yang rasanya sangat lama sekali berganti warna.


Kayla mulai menjalankan kembali kendaraannya saat lampu lalu lintas telah berganti warna.


Dengan cepat Kayla mengemudikan kendaraannya hingga Kayla telah tiba di alamat yang telah ia sebutkan.


Emosi Kayla semakin memuncak saat tidak mendapati orang tersebut disana.


Kayla menunggu hingga tiga puluh menit barulah orang yang di tunggu datang dengan tampang tanpa bersalahnya sedikitpun.


"Loe mau pilih rumah sakit atau kuburan?"


Ucap Kayla to the point pada orang tersebut.


"Maksud loe apa Kay? Loe mau bangun bisnis ya?"


Ucapnya dengan berjalan ke arah Kayla.


"Cepat loe pilih satu"


Ucap Kayla dengan jari-jari tangannya yang sudah menggepal kuat menampakkan buku-buku tangannya yang memutih.


"Rumah sakit aja deh. Kalo kuburan gue takut serem Kay"


Ucapnya lagi dengan tersenyum.


Bughh.. Bugh.. Bughh..


Kayla mendaratkan tiga pukulan keras ke wajah orang tersebut dengan penuh emosi.


Seketika darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Loe gila Kay?"


Ucapnya dengan membungkuk menahan sakit di bagian perut dan mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Iya. Dan itu karena loe brengs*ek!!"


Ucap Kayla dengan penuh emosi.


"Loe kenapa ha? Kenapa loe mukulin gue?"


Ucapnya dengan wajah bingung.


"Karena pria brengs*ek kayak loe emang pantas gue hajar"


Ucap Kayla menatap tajam mata pria tersebut.


"Sumpah ya gue gak paham. Loe tiba-tiba nyuruh gue datang kesini. Dan gue udah datang malah loe hajar. Asli sakit jiwa loe Kay"


Ucap pria tersebut menunjuk wajah Kayla.


"Jaga omongan loe monyet!!"


Ucap Kayla memegang kerah kemeja pria tersebut.


"Trus loe kenapa ha ngomong?!"


Ucap pria tersebut mulai emosi.


"Loe tau gue gak pernah mendukung hubungan cinta di dalam persahabatan.Tapi karena Laura yang begok bisa mencintai loe dengan buta okeh gue biarin. Tapi loe yang berengs*ek malah permainin perasaanya. Kalau loe gak bisa mencintainya jangan pernah loe kasih harapan buat dia. Loe tau betapa tersiksanya dia kan. Dan berengs*eknya lagi loe hampir p*rkosa Laura. Loe kasih dia harapan palsu dan loe masih menjalin hubungan dengan cewek lain. Loe dan Laura emang sahabat gue, tapi gue gak bisa diam aja saat loe nyakitin perasaan Laura"


"Kay, gue bisa jelasin"


"Apa yang mau loe jelasin ha!?"


"Gue emang nyaman di dekat Laura. Jujur gue akuin itu, tapi gue gak bisa ngelepas Putri setelah dia minta maaf dan berjanji ke gue"


"Loe gak bisa egois untuk dapatin keduanya. Kalau loe emang gak bisa lepasin tu cewek jangan loe kasih harapan palsu buat Laura. Lepasin Laura, biarkan dia yang pergi. Tapi suatu saat loe jangan pernah menyesal kalau loe akan kehilangan sebuah berlian demi batu kali. Loe pikirkan baik-baik!"


Ucap Kayla mulai beranjak meninggalkan Sam yang tertunduk.


"Kay. Tunggu. Please jangan katakan apapun pada Laura. Biar gue pikirkan dulu"


Ucap Sam menatap punggung Kayla.


Sedangkan Kayla mulai melangkahkan kembali kakinya menuju mobil dan segera beranjak meninggalkan Sam yang tengah terduduk lemas di bawah pohon.