
Kayla tersenyum senang menatap satu boks es cream di apartemennya. Dave benar-benar membelinya ia takut jika Kayla akan melanjutkan aksi mogoknya untuk membuat Dave berpuasa, sungguh hal yang tidak bisa Dave bayangkan untuk juniornya.
"Makasih sayang"
Ucap Kayla tersenyum lebar dengan memegang es cream kerucut tersebut.
"Iya sayang, apapun itu untukmu"
Ucap Dave tersenyum senang karena sudah bisa di pastikan nasib juniornya akan aman.
"Kamu tidak mau?"
"Tidak, kamu saja yang habisin"
"Baiklah jika begitu"
Dengan perlahan Kayla mulai menikmati es creamnya.
Dave tersenyum tipis menatap Kayla yang menikmati es cream seperti anak-anak.
Kayla terdiam sejenak saat tangan Dave mengusap sudut bibirnya yang belepotan terkena es cream.
"Manis"
Ucap Dave setelah menjilat jarinya.
Sedangkan Kayla terlihat cuek dengan kembali menikmati sisa es cream miliknya.
Sebersit ide melintas di pikiran Dave saat Kayla memasukkan es cream terakhir dari tangannya.
Dengan cepat Dave mendekati Kayla dan menyatukan bibirnya hingga beberapa saat Dave baru melepaskan penyatuan tersebut.
Sedangkan Kayla hanya bisa membolakan matanya menerima aksi dadakan dari Dave yang cukup membuatnya terpaku namun juga menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
"Es creamnya enak ya"
Ucap Dave setelah mengusap sudut bibirnya.
"Apa yang kamu lakukan barusan?"
Ucap Kayla masih dengan wajah kakunya.
"Menikmati es cream dengan cara yang berbeda"
Ucap Dave dengan senyum yang dapat Kayla pahami maksudnya dan sesaat kemudian Dave langsung mengangkat tubuh Kayla membawanya ke dalam kamar untuk melanjutkan kegiatan wajib si junior untuk berolahraga malam.
*****
Sesuai janji Dave tadi malam setelah mereka melakukan olahraga malam bahwa hari ini akan membawa Kayla menuju area latihan menembak.
Pagi-pagi sekali Kayla sudah terbangun dari tidurnya, sungguh ia tidak sabar untuk mendapatkan mainan barunya tersebut.
"Sayaanngg ayo bangun"
Ucap Kayla dengan menggoyang-goyangkan kaki Dave.
"Hmm,, Sebentar lagi sayang"
Jawab Dave masih dengan mata yang terpejam memeluk erat gulingnya.
"Ayolaahh,, Kamu sudah janji loh hari ini akan membawaku ke area menembak"
"Iya sayang,, Ini baru pukul tujuh. Masih terlalu pagi kita kesana"
Ucap Dave setelah melirik jam yang tergantung di dinding.
"Iya, tapikan kamu harus bersiap-siap dulu dan itu memerlukan waktu juga. Ayolah sayang bangun"
Lanjut Kayla menyentuh hidung mancung Dave dan menjepitkan jarinya di sana hingga membuat Dave kesulitan untuk bernapas.
"Eemmm,,, Kay,,
Kesal Dave setelah membuka matanya.
"Mangkanya cepetan banguunnn"
"Ckk,, Iyaa"
Dengan malas Dave mulai beranjak dari tempat tidur berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
*****
Doorr,,, Dorrr,,, Doorrr,,,
Suara peluru yang meluncur cepat menuju sasaran tembak.
"Huuffhh,,,"
Desah Kayla saat tembakannya masih belum mendekati titik merah.
"Jangan lemas begitu dong sayang. Perhatikan ini ya"
Ucap Dave menatap Kayla.
Dorr,, Dorr,,, Dorrr,,,
Tiga kali tembakan tepat mengenai titik merah.
Dave tersenyum smirk saat tembakannya tepat sasaran tanpa meleset sedikitpun.
Prok,, Prok,, Prok,,
"Waauu keren banget. Kok bisa sih? Kay aja gak bisa gitu"
Ucap Kayla menatap takjup pada Dave.
"Hahah tentu saja"
Balas Dave dengan senyum yang menyebalkan menurut Kayla.
"Ajarin Kay doonnggg,, Please"
Ucap Kayla dengan menunjukkan puppy eyes nya.
"Ckk,, Bukankah kamu sudah di ajari oleh pelatih"
"Iya, tapi dia tidak sekeren dirimu saat menembak"
"Hahahah,,, Tentu saja"
"Cepat ajarin Kay"
Rengek Kayla menatap Dave.
"Ya yaa baiklah,, Kemarilah"
Dengan cepat Kayla berdiri di sisi Dave.
"Pegang pistolnya dengan benar, tangannya harus kuat, kakimu buka seperti ini. Tegakkan badannya jangan membungkuk ya, lalu arahkan pistol pada sasaran, bidik dengan tepat dan disaat sudah pas tekan pelatuknya"
Dorr,, Dorr,, Doorrr,,
"Yeeyyy akhirnya,, Makasih sayang"
Ucap Kayla dengan reflek memberikan kecupan di pipi kanan Dave.
Dave ikut tersenyum menatap ekspresi wajah Kayla yang sangat senang dengan memandang papan targetnya.
"Latihan lah lagi, aku akan melihatmu dari sana"
Ucap Dave dengan sedikit mengacak rambut Kayla dan berjalan menuju pinggir lapangan.
Dengan semangat Kayla kembali mengulanginya, mempraktekkan apa yang sudah di ajarkan oleh Dave padanya.
Dorr,, Dorr,, Dorr,,
Tiga tembakan kembali Kayla luncurkan namun hanya satu yang mengenai titik merahnya.
"Huuffhh,, Lumayanlah"
Ucapnya setelah melihat hasil bidikannya.
Namun Kayla tidak pantang menyerah ia kembali berlatih dengan memfokuskan pandangannya pada sasaran tembak.
Dorr,, Dorr,, Dorr,,
Kembali tiga tembakan meluncur.
"Yeeaayy akhirnya,,,"
Ucap Kayla senang setelah melihat tiga tembakannya tepat sasaran semua.
"Istirahat dulu sayang"
Ucap Dave yang menyodorkan sebotol minuman setelah menghampiri Kayla.
"Thanks sayang"
Dengan senyum secerah matahari Kayla menerima minuman tersebut dan langsung meneguknya.
"Coba liat bidikan Kay tepat sasaran loh, Kay kerenkan"
Lanjutnya dengan menaik-turunkan alis matanya menatap Dave.
Sontak saja Dave terkekeh melihat ekspresi lucu Kayla.
"Iya sayang kamu sangat keren sekali"
"Jelas dong"
Ucap Kayla cepat.
"Jadi mana pistol untuk Kay? Kan janjinya tadi malam setelah Kay bisa menembak akan di berikan pistol"
Lanjut Kayla dengan menengadahkan tangannya di hadapan Dave.
"Ckk,, Nanti masih di pesan dulu"
"Huumm,, Baiklah, jangan lama-lama ya"
"Hmm,, Sudah ayo kembali"
Sebenarnya Dave masih memikirkan senjata api apa yang akan ia berikan kepada Kayla dari banyaknya koleksi kesayangan milik Dave. Mengingat Kayla adalah seorang wanita awam sedikit rasa gamang Dave rasakan bila wanitanya bermain-main dengan benda tersebut.
"Aku lapar"
Ucap Kayla saat mereka di perjalan menuju ke apartemen.
"Mau makan apa sayang?"
Ucap Dave tanpa melihat Kayla karena fokus pada kemudinya.
"Terserah"
"Kok terserah sih, kamu maunya makan apa sayang?"
"Terserah kamu aja, Kay ngikut kok"
"Hmm,, Baiklah"
Dengan segera Dave membelokkan kendaraannya menuju Restoran chinese.
"Loh kok kesini?"
Ucap Kayla dengan cemberut.
"Tapi katanya terserah tadi"
Balas Dave menatap wajah Kayla.
"Ya tapi Kay gak mau disini"
"Kamu maunya di mana sayang?"
"Terserah"
"Astaga"
Dave mengusar rambutnya kebelakang bingung menghadapi sikap Kayla yang membuatnya kesal.
"Sayaaannggg,,, Kamu maunya makan apa?"
Sambung Dave menatap Kayla dengan senyum yang di paksakan.
"Hmmm,, Kay pengen makan steak yang di jalan X sepertinya enak"
Ucap Kayla dengan sedikit cengiran.
"Okeh, begitu lebih baik"
Ucap Dave dengan wajah kakunya.
"Maksudnya?"
"Tidak ada sayangg"
"Gak. Jawab dulu maksudnya apa?"
Ucap Kayla dengan menyipitkan matanya menatap Dave.
"Iya begitu lebih baik jadi jelas tempat yang akan kita tuju, dari pada kata terserah"
"Owhh,, Yasudah cepat Kay sudah lapar ne"
"Hmm"
'Untung sayang kalau gak,, uuhh'
Dave lebih memilih untuk diam dari pada melanjutkan kata-katanya. Dengan cepat Dave melajukan kendaraannya menuju tempat makan yang di inginkan oleh Kayla.