Oh Kayla

Oh Kayla
Tentang Laura



Satu minggu kemudian.


Kayla menatap lesu laporan yang telah menggunung di atas meja kerjanya. Kebiasaannya yang suka bermain dan setelah mendapat kegiatan baru yaitu latihan menembak membuatnya semakin jarang datang ke kantor.


Hingga Papi mengingatkan kembali bahwa ia adalah penerus satu-satunya yang harus bisa disiplin dan bertanggung jawab dalam pekerjaaan.


Kayla mulai memeriksa satu persatu laporan yang telah menggunung tersebut.


Hingga melewatkan jam makan siangnya.


Tok,, Tok,,


"Masuk" Ucap Kayla dari dalam.


Cklaak..


"Maaf nona jam makan siangnya sudah lewat dari tadi, nona mau saya pesankan makanan?"


Ucap Vina sekretaris pribadinya.


"Hmm,, Tidak Vin. Saya makan di luar saja, bosan juga dari tadi melihat tumpukan berkas terus"


Ucap Kayla sambil tersenyum menatap Vina.


"Baiklah nona saya permisi"


Ucap Vina dengan sedikit menunduk dan berbalik meninggalkan ruangan Kayla.


"Hmm,, Laura apa kabar ya? Uda lama juga gue gak jumpa tu anak. Sekalian aja ajak dia makan siang"


Ucap Kayla dengan segera meraih ponselnya dan menghubungi Laura.


"Hallo Lau, loe sibuk gak"


Ucap Kayla setelah panggilan terhubung.


📲 "Hallo Kay,, Gue baru selesai fiting baju pengantin ne hiks. Kenapa Kay?"


"Temani gue makan okeh"


📲 "Okeh,, Gue juga kangen sama loe nih"


"Uhh gue juga hihi... Yaudah ketemu di Cafe X okeh"


📲 "Okeh. Meluncur"


"Siip"


Setelah mengakhiri panggilannya Kayla langsung melepaskan kaca matanya dan menutup laptopnya lalu beranjak meninggalkan ruangannya.


"Vin, saya keluar dulu. Belum tau balik lagi atau tidak. Kalau ada yang penting hubungi saja ya"


Ucap Kayla saat melewati meja Vina.


"Baik nona"


Ucap Vina dengan sedikit menunduk dan tersenyum manis.


Setelah meninggalkan Kantor Kayla segera membelah jalanan ibu kota memacu kendaraannya menuju Cafe X.


Sesampainya di Cafe X Kayla belum melihat kedatangan Laura. Kayla memilih duduk di sudut Cafe yang pemandangan ke arah luar menampakan taman kota yang tidak terlalu jauh dari sana.


Sepuluh menit menunggu Laura datang dengan sedikit ngos-ngosan. Terlihat peluh membasahi pelipisnya.


"Abis meraton loe? Sampai sesak gitu"


"Ban mobil gue kempes di simpang situ. Gue telpon montir mana lama banget nyampeknya, sekalinya nyampek malah gak becus kerjanya, terpaksa di derek mobil gue. Nungguin taxi gada yang lewat-lewat ya terpaksa gue jalan kaki kemari"


"Haha,, Kasian amat loe"


"Bukan kasian lagi Kay. Apes idup gue"


"Hahaha,, Yaudah kita pesan dulu dah laper banget gue"


"Sama. Gue dah kering ne. Bentar lagi jadi ikan asin ne saking keringnya"


"Lebay loe"


Segera Kayla memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka.


Dan tidak menunggu lama makanan pun telah tersaji di atas meja. Kayla dan Laura yang tengah sibuk dengan ponselnya segera menutupnya dan langsung menyantap makanan yang masih hangat tersebut.


"Jadi gimana?"


Ucap Kayla ambigu.


"Maksud loe?"


"Ckk,, Jadi loe tetep nikah ama tu cowok?"


Ucap Kayla menatap Laura.


"Hu'um.. Mau gimana lagi kami juga uda sejauh ini"


"Loe gak mau ikutin saran gue sih buat kabur"


"Aahh saran loe sesat"


"Hahha lagian loe juga gak mau keras dikit sama keluarga loe"


"Maksud loe? Bukannya itu emang tugas mereka sebagai orang tua kan"


Ucap Kayla menatap lekat Laura.


"Huuffh,,, Sebenarnya gue bukan anak kandung mereka Kay"


Ucap Laura pelan dengan menundukan kepalanya.


Kayla menghentikan makannya dan beralih menatap Laura.


"Maksud loe? Gue gak paham bukannya nama belakang loe 'Harsyid' sama seperti bokap loe"


"Iya emang sama. Hmmm,, Sebenarnya gue baru tau waktu kita kuliah dulu. Gue gak sengaja mendengar percakapan nyokap sama bokap gue. malam itu mereka bertengkar hebat gue juga gak tau karena apa tapi bokap gue sempat bilang kalau semua karena salah nyokap gue yang gak bisa ngasih dia anak sampai mereka harus ngadopsi gue dari sebuah panti asuhan.


Gue gak ingat sama sekali mungkin waktu gue masih kecil banget kali.


Waktu usaha bokap gue down kemaren dia ngasih tau semuanya ke gue.


Mereka sengaja ngasih nama belakang gue 'Harsyid' agar gue gak curiga nantinya kalau gue cuma anak angkat dan malam itu juga dia minta gue untuk nerima perjodohan sama anak temannya.


Gue gak bisa lagi nolak Kay. Selama ini nyokap uda baik banget sama gue, walau bokap gue gak seperhatian nyokap tapi dia gak pernah kasar sama gue.


Gue harus tetap melanjutkan hidup gue buat nikah ama tu cowok demi nyokap dan bokap yang uda ngerawat dan ngebesarin gue selama ini"


Kayla langsung memeluk erat tubuh Laura.


Bukan Laura yang menangis tapi Kayla lah yang menangis mendengar cerita hidup sahabatnya.


"Loe yang sabar ya Lau"


Ucap Kayla sambil memeluk Laura.


"Haha, kok loe jadi cengeng gini sih. Gue okeh kok tenang aja"


Ucap Laura mencoba tersenyum menatap Kayla.


"Uummm,,"


Kasal Kayla mendorong pelan tubuh Laura dan kembali ke kursinya semula.


"Pantesan waktu gue mau bantu loenya gak mau"


Ucap Kayla lagi menatap Laura yang di balas anggukan pelan darinya.


"Eh gue ada hobbi baru loh"


Lanjut Kayla untuk mengalihkan suasana hati Laura agar tidak sedih lagi. Yah, walaupun di luar Laura terlihat kuat pasti jauh di dalam hatinya ia merasakan sedih mengetahui kebenaran hidupnya tersebut.


"Apaan?"


Ucap Laura menatap Kayla.


"Mainin pistol"


Jawabnya cepat.


Uhuukk,, Uhuukk,,,


"Pistol? Maksud loe?"


Ucap Laura setelah sempat tersedak minumannya.


"Iya gue minta di beliin pistol sama lakik gue. Jadi semingguan ini gue latihan nembak terus. Keren kan mainan baru gue?"


Ucap Kayla dengan sedikit sombong.


"Hmm,,, Iya juga sih Kay,, Kok dulu kita gak kepikiran ya buat main tembak-tembakan gitu, kaya di film-film gitu kan biar tambah keren pasti seru banget dah tuhh"


"Hahaha itu dia. Loe ikut deh latihan sama gue ntar"


Ucap Kayla dengan semangat.


"Pengen sih, tapi gue lagi ngurus pernikahan ne. Kan bulan depan gue nikah nya"


"Cepat amat?"


"Eh, Apa kabar loe yang lebih dadakan he?"


"Hahaha iya juga ya. Tapi gue serius ne, ayolah sempatin buat ikut gue latihan nembak seru banget sumpah"


"Iya iya,, Ntar dah kalo gue ada waktu kosong gue kabarin loe"


"Siipp,, Gue tunggu loh"


"Iya,, Eh loe bawa gak? Gue mau liat dong pistol loe"


Pinta Laura pelan dengan melihat kanan kiri.


"Ckk,, Itu dia kesal gue. Ne lakik asal di tanyain katanya masih di pesan mulu. Emangnya lama amat ya di kerjaen punya gue. Perasaan banyak juga tuh yang jual apa lagi yang ilegal kan"


"Alasan dia aja kalik. Mungkin dia gak mau loe megang begituan"


"Huumm,,, Ntar deh gue tanyain balik"


Ucap Kayla dengan sedikit lesu, lalu beralih meraih jus orange miliknya dan menyedot hingga habis."