
Kayla kembali tertidur setelah ia kembali merasakan pusing di kepalanya. Cukup lama Kayla tertidur hingga pesawat yang membawanya pergi jauh dari negaranya akhirnya mendarat.
Kayla terbangun saat merasakan seseorang menyentuh tangannya.
"Hhmmm... "
Gumam Kayla menatap dua orang pria yang menggiringnya keluar pesawat.
Tangan Kayla masih terikat kuat dengan mulut yang ditutup rapat.
Kayla masuk kedalam sebuah mobil Jeep dan kembali matanya di tutup dengan sapu tangan. Mobil Jeep tersebut membawa Kayla menuju pinggir kota yang mengarah kepada hutan dan berujung kepada lautan lepas.
Mobil berhenti tepat di sebuah bangunan tua dengan dikelilingi oleh penjagaan ketat dari beberapa orang yang memegang senjata api dan banyaknya anjing pemburu yang terikat di tiang-tiang bangunan.
Suara lolongan anjing terdengar di telinga Kayla hingga membuat ia semakin bergidik ngeri dengan keadaannya saat ini. Kayla hanya bisa berdoa agar tuhan menyelamatkan nyawanya dan calon anaknya yang berada di dalam perut. Berharap Dave akan menyelamatkannya adalah kemungkinan yang sangat kecil baginya mengingat tidak ada ponsel di dekatnya pasti Dave tidak akan bisa melacak keberadaannya saat ini.
Sedikit penyesalan di hati Kayla karena tidak mendengarkan perkataan Dave untuk tetap berada di rumah saja. Tapi apapun yang terjadi tidak bisa di ulang lagi bagaikan nasi yang sudah menjadi bubur Kayla hanya bisa pasrah akan nasibnya saat ini.
"Jalan!"
Suara bentakan dan dorongan pada pundaknya membuat Kayla tersadar bahwa kini ia telah sampai di tempat tujuan penculik tersebut.
Kayla melangkahkan kakinya dengan pelan. Berjalan dengan mata tertutup membuatnya takut jika ada lobang atau ia akan tersandung hingga membuatnya jatuh dan membahayakan calon anak yang berada di dalam perutnya saat ini.
Kayla di dudukkan paksa pada sebuah kursi besi dengan cepat dua pria yang menggiringnya tadi mengikat tubuh Kayla pada kursi tersebut.
Sakit, itulah yang Kayla rasakan saat ini ketika mereka mengikatnya dengan kuat. Jika di lihat pasti tangan Kayla akan meninggalkan bekas merah akibat ikatan tali yang begitu kuat.
*****
Sementara Dave dan Kris yang terus memantau kemana arah penculik tersebut membawa Kayla akhirnya sedikit lega saat melihat negara yang menjadi tempat berhenti titik posisi Kayla berada.
"Tuan, mereka membawa nyonya muda ke Spanyol"
Ucap Kris menatap Dave yang berada di sampingnya.
"Cepat atur Jet pribadi kita harus segera kesana dan kau hubungi Mark untuk mengirim anak buah ke Spanyol"
"Baik tuan"
Dengan segera Kris menghubungi para Crew yang mengatur keberangkatan mereka menuju Spanyol dan menghubungi Mark untuk mengirimkan anak buah mereka ke Spanyol dan tidak lupa mengirimkan titik lokasi Kayla berada saat ini.
Dave meminta Kris untuk mendatangi sebuah bangunan yang menyimpan beberapa alat persenjataan milik Dave.
Dengan cepat Dave dan Kris memasukkan beberapa senjata api serta amunisi yang akan mereka perlukan nanti. Tidak lupa sebuah pisau kecil milik Dave yang berada di sebuah kotak kaca.
Dave mengusap pelan pisau kecil itu dan kembali memasukkan ke dalam sarungnya lalu menyimpannya di dalam saku celana.
Setelah selesai Kris langsung melajukan kendaraanya menuju bandara.
Ddrrtt.. Drtttt..
Dave segera memeriksa sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.
Kening Dave berkerut saat melihat nomor yang tidak dikenal tersebut. Namun seketika matanya melotot saat melihat sebuah video yang di kirimkan oleh nomor yang tidak dikenalnya.
Dimana isi dalam video tersebut menampakkan Kayla yang tengah duduk di sebuah kursi dalam keadaan terikat namun yang membuat Dave memanas saat seorang pria yang menutupi wajahnya menampar wajah Kayla hingga tercetak jelas bekas tamparan tersebut di wajah putih milik Kayla.
"Brengsek!"
Kris tersentak kaget saat mendengar suara amarah Dave.
Dengan cepat Dave menghubungi nomor tersebut namun emosi Dave semakin memuncak saat nomor yang ia tuju tidak bisa di hubungi.
"Cepat Kris. Kaylaku sedang dalam bahaya saat ini"
Ucap Dave dengan perasaan kacau mengingat dan membayangkan keadaan Kayla dan calon anaknya yang tengah terancam.
"Baik tuan"
Ucap Kris yang semakin menambah kecepatannya menuju bandara hingga akhirnya Dave dan Kris tiba di bandara.
Segera Dave dan Kris memasuki pesawat yang akan membawa mereka terbang. Dengan terlebih dahulu Kris menyampaikan kepada pilot dan awak cabin untuk mempercepat agar mereka segera sampai di Spanyol.
*****
Kayla meringis saat merasakan perih di pipinya akibat tamparan dari pria yang tidak ia ketahui siapa yang kini berada di depannya dengan menggunakan sebuah topeng menutupi seluruh wajahnya.
"Apakah sakit?"
'Suara itu, seperti tidak asing. Siapa dia'
Kayla bertanya-tanya di dalam hatinya dengan terus menatap tajam ke arah pria bertopeng tersebut.
Pria tersebut berjalan mendekati Kayla.
Dengan perlahan ia mengusap pelan pipi Kayla yang memerah akibat tamparannya namun seketika ia mencengkram kuat pipi Kayla dengan mendongakkan ke atas hingga air mata Kayla menetes akibat perih dan sakit yang ia rasakan saat ini.
"Sakit kan? Itulah yang aku rasakan tapi, ini semua tidak ada apa-apanya dengan penderitaan dan rasa sakit di hatiku selama ini"
Dengan sekali tarikan pria tersebut membuka penutup mulut Kayla.
Cuuih.
Plak!
Kembali Kayla merasakan perih di pipinya saat tangan besar itu menampar pipi sebelahnya bahkan rasa asin terasa di lidahnya akibat darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Berani sekali Kau meludahiku bangs*t"
Maki pria tersebut menatap tajam Kayla setelah mengelap air liur yang menempel di pipinya.
"Siapa Kau?! Mengapa Kau menculikku?"
Ucap Kayla dengan menatap tajam ke arah pria bertopeng tersebut. Andaikan saja tangan dan kakinya tidak terikat kuat sudah pasti Kayla akan menendang dan menghajar pria di depannya ini.
"Siapa aku? Hahahhha"
Pria itu tertawa dengan begitu keras sampai mendengung di dalam ruangan yang sempit tersebut.
"Apa kau tidak mengenaliku? Atau bahkan kau sudah melupakan aku Khayla Ghanesa Luish?!"
"Kau,,, Leon?"
Cicit Kayla pelan yang masih terdengar oleh pria tersebut.
"Ternyata Kau masih mengingatku Kayla, hahah"
Dengan perlahan Leon melepaskan topeng di wajahnya hingga menampakkan wajah tampannya. Ya, wajah Leon memang tampan tapi hal itu tidak membuat Kayla melupakan tanda tanya besar di hatinya.
"Mengapa kau menculikku? Apa salahku padamu ha?!!"
Ucap Kayla dengan suara kerasnya hingga menggelegar di dalam ruangan yang kecil tersebut.
"Bukankah sudah pernah aku ceritakan kisah hidupku padamu. (Baca part 44 Tentang Leon) Aku tidak akan membiarkan orang yang membunuh orang tuaku dengan keji hidup dalam kebebasan dan kesenangan"
Leon menatap Kayla lekat dengan perlahan mengusap rambut hitam panjang milik Kayla.
"Kau tau? Aku sangat senang mengetahui tentang kehamilanmu ini"
Ucap Leon pelan dan menjeda perkataannya Namun, seketika Leon menarik kuat rambut Kayla kebelakang kepalanya hingga suara rintihan Kayla terdengar jelas.
"Karena aku akan membuat penderitaan Dave semakin terasa pedih bahkan sampai jasatnya di kuburpun ia akan tetap merasakan kepedihan di dalam hidupnya ketika menyaksikan istri dan calon anaknya mati"
Leon kembali tertawa dengan keras.
"Dasar tidak punya hati kau Leon!"
Ucap Kayla dengan menggerak-gerakkan tubuhnya namun sia-sia karena percuma saja ia tidak bisa terlepas dari lilitan yang mengikat tubuhnya.
"Apa? Tidak punya hati kau bilang? Bukankah aku sudah membiarkan kalian hidup bahagia selama ini"
"Lepaskan aku Leon, please lepaskan aku. Bukankah sebelumnya kita berteman mengapa kau menyakiti temanmu sendiri"
Ucap Kayla yang mencoba mengalihkan pikiran Leon.
################################
Assalamualaikum readers setia "Oh Kayla"
😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊
Jangan lupa Like dan komentarnya yaa 😁
Bantu author dengan klik Vote nya yaa 😊 biar author makin semangat up nya..
Terimakasih 🙏🙏