
Setelah mengantarkan Meysa menuju rumah, Sam berniat kembali ke kantor namun panggilan dari sang Mama yang terus mengganggunya hingga akhirnya membuat Sam menepikan kendaraannya ke bahu jalan.
"Ya Ma"
Ucap Sam sesaat setelah menerima panggilan tersebut.
"Dasar anak tidak tau diri. Sudah berapa lama kamu tidak pulang ha?"
Seketika Sam menjauhkan ponselnya karena suara sang Mama yang terdengar memekakkan telinga.
"Ya Ma. Nanti jika pekerjaanku senggang aku akan pulang ke rumah"
"Inilah kenapa Mama melarangmu untuk memiliki rumah sendiri liat sekarang kamu bahkan melupakan Mamamu yang tua ini kan"
"Oh astaga Ma, aku tidak mungkin melupakanmu"
"Jika tidak malam ini pulanglah makan malam di rumah"
"Huufhh,, Baiklah Ma, aku akan pulang nanti"
"Ya Mama tunggu, awas saja jika kamu berbohong akan Mama bakar rumah mu itu"
"Aku tidak akan berbohong, Sudah ya Ma aku harus kembali bekerja dah Mama sayang"
Tuutth.
Setelah mengakhiri panggilan tersebut Sam kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
******
Malam ini Sam menepati janjinya untuk kembali ke rumah. Setelah dari kantor Sam langsung menuju ke kediaman kedua orang tuanya yaitu tuan Gemorah Silk dan nyonya Giselly Silk.
Kedatangan Sam di sambut pelukan hangat oleh sang Mama yang memang sangat merindukan kehadiran sang putra kesayangannya.
"Bagaimana kabarmu sayang?"
"Aku baik Ma, Bagaimana dengan Mama?"
Ucap Sam sambil mencium hangat pipi sang Mama.
"Sepertinya malaikat maut Mama akan segera datang"
Sontak saja Sam melepaskan pelukan sang Mama dan menatap tidak suka perihal perkataan sang Mama barusan.
"Apa yang Mama katakan?"
"Ya mangkanya segeralah menikah jika tidak ingin segera melihat jasat Mamamu ini"
"Aku akan menikah Ma, tapi tidak sekarang"
"Apa kamu sudah memiliki pacar nak?"
"Belum Ma"
"Astaga, masih normalnya kau kan nak?"
Ucap Gisel menatap horror Sam.
"Tentu saja aku normal"
'Astaga tidak mungkin aku sebutkan berapa banyak wanita yang telah ku ajak tidur"
"Kalau begitu besok mama kenalin dengan anak teman mama ya sayang. Dia lulusan luar negeri sangat cocok untukmu"
"Sudahlah Ma katanya ingin makan malam bersama. Jika hanya membahas hal membosankan itu aku akan pulang saja"
"Jangan dong sayang. Ayo kita ke ruangan makan sekarang Mama masak makanan kesukaanmu"
Dengan Gisel yang langsung membawa Sam menuju ruangan makan dan tidak lama kemudian terlihat sang Papa yaitu tuan Gemorah ikut menyusul.
Makan malam terdengar sangat hening karena memang kebiasaan Sam dan sang Papa yang memang tidak suka berbicara saat sedang makan sedangkan sang Mama yang terus meletakkan daging di atas piring Sam agar sang putra makan dengan banyak.
Sementara di kediaman Sam, Meysa yang telah menunggu Sam sedari tadi akhirnya memutuskan untuk makan seorang diri akibat cacing-cacing yang berada di dalam perutnya sudah mulai berdemo untuk segera di isi.
"Dasar Om-om tua nyebelin. Apa susahnya sih ngabarin kalau telat pulang biar gak di tungguin. Ini juga kenapa gue bodoh amat ya pakek nungguin tuh orang segala aaahhh"
"Baiklah selamat makan Meysa"
Ucap Meysa dengan segera mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang telah tersaji di atas meja.
Punya teman kayak kampr*et semua. Uda tau kaki gue lagi sakit mana maen sendiri, apa susahnya nungguin gue sembuh dulu kan, gue sumpahin kalah kalian hahaha jahat banget loe Mey, ah bodo amatlah"
Ucap Meysa dengan sesekali memasukkan nasi kemulutnya sambil terus berceloteh menatap foto dan video dari grub "Anak baek-baek" di ponselnya.
******
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu bagi sebagian siswa tingkat akhir karena mereka akan melaksanakan ujian akhir yang akan menentukan kelulusannya. Selama seminggu kedepan Meysa akan melaksanakan ujian setelah melakukan persiapan yang cukup baik menurutnya sendiri tapi tidak menurut yang lain karena kebanyakan kegiatannya hanya bermain game dari pada belajar. Mungkin karena keturunan dari sang Papa yang memiliki otak cerdas sehingga membuatnya tidak perlu bersusah payah dalam belajar karena sebentar saja membaca maka akan tersimpan di ingatannya.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Sam selama beberapa hari ini untuk mengantar jemput Meysa kesekolah.
"Semoga ujiannya lancar ya"
Ucap Sam saat tiba tepat di depan sekolahan Meysa.
"Makasih Om"
Ucap Meysa yang sedikit kaget karena tidak biasanya Om tua nyebelin ini berbaik hati menyemangatinya.
"Hmm"
"Om"
Sam tidak menjawab hanya saja ia menatap tepat ke wajah Meysa.
Meysa yang mengerti dengan tatapan Sam tersebut langsung menyampaikan keinginannya.
"Jika nanati Meysa Lulus boleh minta sesuatu gak?"
"Apa?"
"Motor milik Om yang ada di garasi"
Ucap Meysa dengan cengiran khas miliknya.
Sontak saja Sam mengerutkan dahinya sedikit kaget dengan permintaan bocah di depannya ini. Bahkan Sam sendiri sudah lupa kapan terakhir kali ia menggunakan motor tersebut karena memang kesibukannya kini membuat ia jarang menyentuh motor tersebut.
"Boleh ya Om"
Ucap Meysa lagi dengan puppy eyes miliknya yang terlihat menggemaskan menurut Sam.
"Emang loe bisa make motor gede?"
"Bisalah Om, gampang itu mah. Gimana Om? Boleh yaa Om buat Meysa"
"Yaudah ambil buat loe. Asal loe lulus ntar"
"Aaa beneran Om. Makasih ya Om, Muah"
Sontak saja Sam sedikit kaget dengan tingkah Meysa yang reflek mencium pipinya dan langsung pergi begitu saja dengan berlari kecil menuju ke dalam pekarangan sekolahnya.
Sedangkan Sam masih terdiam dengan menyentuh pipinya. Ia lupa kapan terakhir kali pipi itu di cium oleh wanita. Untung saja suara klakson di belakang kendaraannya Sam kembali menyadarkannya dengan segera Sam menjalankan kendaraannya meninggalkan sekolah Meysa.
"Woi kesambet set*n loe. Nih ya yang laen pada sibuk belajar loe malah senyum-senyum sendiri"
Ucap Ziko salah seorang teman Meysa menatap ngeri pasalnya tidak biasanya ia melihat temannya tersebut bertingkah seperti itu.
"Santai baee, Lulus kita mah"
Ucap Meysa dengan menatap Ziko.
"Elo mah enak pasti lulus. Secara kan anak donatur tetap ne sokolahan. Lah kita gimana"
Ucap Mail dengan sedikit murung.
"Aman,,, Udah yang penting loe pada belajar pasti lulus ntar percaya deh ama gue"
"Enak ya punya teman yang ada jalur OD(orang dalamnya)"
Ucap Rosi dengan merangkul bahu Meysa.
"Eleehhh kalau begini aja enak lo bilang. Coba kemaren kaki gue sakit loe pada maen sendiri-sendirikan kagak ajakin gue"
"Caelaahh gitu aja merajuk loe. Emang loe ga ingat berdiri aja susah gimana ngingak kopling hu? "
Ucap Ziko kembali mengingatkannya dengan beberapa hari lalu saat kakinya memang belum sembuh sepebuhnya.
Untunglah suara bel menyudahi perdebatan mereka, dengan segera Meysa dan ketiga temannya segera memasuki ruang ujian masing-masing.