
Kayla tiba di rumah seperti biasa lanjut membersihkan dirinya di dalam kamar mandi dan lanjut mengolesi wajahnya dengan berbagai cream untuk merawat kulitnya agar tetap terlihat cantik dan pastinya sehat.
Lanjut Kayla membuka ponselnya untuk mengabari Dave. Setelah sepuluh menit berbicara melalui panggilan video Kayla ingin melanjutkan kegiatannya yang akhir-akhir ini sangat ia gemari yaitu rebahan sambil menonton film.
Namun satu notifikasi email masuk menarik perhatiannya hingga Kayla mengurungkan sejenak niatnya untuk menonton film.
Kayla membuka email yang ternyata berisi laporan dari perusahaan di mana Vina selalu melaporkan segala macam baik kenaikan maupun penurunan perusahaan.
Sebersit rasa bersalah muncul di hati Kayla saat membiarkan Vina yang selalu bersusah payah mengerjakan laporan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
"Baiklah, besok gue harus kembali ke kantor"
Gumam Kayla setelah membaca seluruh laporan yang di kirimkan Vina. Meskipun selama ini Kayla tetap bekerja dengan menandatangani dan mengecek setiap laporan melalui via email namun rasa tanggung jawab atas jabatannya yang selalu membuat Kayla merasa bersalah jika membiarkan sang Papi yang mengurus perusahaan seorang diri.
Berbeda dengan seorang pria yang kini tengah mengadakan meeting dadakan saat tiba-tiba salah satu investor di perusahaanya mengabari akan pergi ke luar negeri dalam waktu yang cukup lama hingga meeting dadakan itu akhirnya terlaksana dengan lancar dalam waktu kurang dari dua jam.
"Akhirnya selesai juga semua"
Gumam Sam saat memasuki kendaraannya dan tidak menunggu lama Sam mulai menjalankan kendaraannya meninggalkan Restoran dimana tempat ia melakukan meeting barusan.
Ddrrrtt... Ddrrtt...
Suara ponsel Sam yang berada di saku celananya terus berdering menganggu fokusnya hingga tanpa mengurangi kecepatannya Sam berusaha untuk meraih ponselnya dengan tangan kanan.
Posisi duduk yang sedikit mengulitkan Sam untuk meraih ponsel tersebut hinggan Sam mengalihkan pandangannya ke arah saku celana.
Aaaaaaaaaa....
Bruugh!!
Ckkiitttttt
"Oohh ****"
Gumam Sam saat menyadari ia telah menambrak seseorang, dengan cepat Sam turun dari mobil dan mendekati seseorang yang kini tergeletak tidak jauh dari mobilnya.
"Ada kecelakaan,,, lihat itu korbannya sampe meninggal. Ayo cepat kita liat sebelum pelaku kabur"
Begitulah suara-suara yang terdengar mulai mendekat.
Hingga seorang lelaki tua mengagetkan Sam dengan suaranya yang besar.
"Hey pak tanggung jawab kau! Lihatlah anak ini mati kau buat"
Wajah Sam seketika pias mendengar perkataan pria tersebut hingga dengan cepat Sam mendekati korban yang kini tertelungkup ke aspal dengan perlahan Sam membalikkan tubuh tersebut.
Deg.
'Bocah ingusan'
Sam baru menyadari saat melihat pakaian yang di gunakan wanita tersebut sama persis dengan bocah ingusan yang tadi sempat beradu mulut dengannya di dalam Mall.
Sam meletakkan jari telunjukkan di depan hidung wanita tersebut.
"Masih bernapas. Dia masih hidup"
Ucap Sam menatap pria yang tadi sempat mengagetkannya dengan suara besarnya.
"Tanggung jawab kau pak, cepat bawa dia ke rumah sakit"
Ucap pria itu lagi yang di anggukin oleh Sam.
"Iya, saya akan tanggung jawab. Tolong bantu saya membawanya ke dalam mobil saya"
Dengan cepat beberapa pria yang sedari tadi hanya menonton kini mulai menolong Sam untuk mengangkat tubuh wanita tersebut dan ada juga yang membantunya membukakan pintu mobil.
Sam langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat dengan sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa bocah tersebut masih ada. Oh sunggu konyol sekali Sam memangnya orang yang tidak sadarkan diri masih bisa menghilang ya, kecuali dia? Ah tidak mungkin.
Sepuluh menit berkendara akhirnya Sam tiba di depan UGD rumah sakit yang merupakan milik salah seorang temannya.
Dengan cepat Sam melangkah mengikuti perawat yang mendorong brangkar wanita tersebut ke dalam UGD.
"Mohon untuk menunggu di luar saja pak dan silahkan melakukan pendaftaran terlebih dahulu"
Ucap salah seorang perawat menghentikan langkah Sam.
'Menunggu di luar sih Ok, tapi. Mendaftarkan? Namanya saja aku tidak tahu'
Sam berjalan perlahan ke arah pendaftaran namun seketika pandangan Sam teralih pada tas punggung di tangannya.
Senyum di wajah Sam muncul saat menyadari bahwa tas tersebut milik wanita yang barusan ia tabrak.
"Siapa nama pasien pak?"
Ucap seorang wanita petugas pendaftaran menatap Sam dengan senyum yang menurutnya sangat memuakkan. Bagaimana tidak wanita tersebut menatap Sam dari atas hingga kebagian dada Sam dengan tatapan penuh minat.
Dengan cepat Sam membuka tas tersebut, merogoh isi dalamnya hingga tangan Sam meraih sesuatu yang ia yakini itu adalah dompet.
Benar saja setelah Sam mengeluarkan benda tersebut yang merupakan dompet berwarna pink dengan merk Gucci sedikit alis Sam naik saat membaca nama di kartu pelajar milik gadis yang ia tabrak.
"Meysa Rahayu Atmadja"
Ucap Sam menatap petugas wanita tersebut.
'Atmadja? Bukankah itu nama perusahaan yang menjadi investor terbesarnya Atmadja Grub'
Ddrrttt,,,, Ddrttt,,,,
Bersamaan dengan pikiran Sam yang tengah berkelana suara ponsel menyadarkannya. Namun Sam tahu betul jika itu bukan bunyi ponselnya.
Sam kembali memfokuskan pendengarannya dengan tangan yang kembali membuka tas ransel tersebut.
Benar saja sebuah panggilan video "Papa" tertera di layar ponsel yang Sam yakini milik bocah yang tidak sengaja ia tabrak.
Dengan sekali swab Sam menerima panggilan tersebut dan alangkah kagetnya ia dan seseorang di seberang sana menatap layar ponselnya.
"Loh, tuan Sam? Kenapa ponsel anak saya ada bersama anda?"
"Maaf pak Atmadja tadi saya tidak sengaja menabraknya, namun Bapak jangan khawatir kini telah di tangani dokter dan saya berjanji akan bertanggung jawab"
Ucap Sam dengan mantap, bagaimanapun ia sebagai seorang laki-laki yang telah mencelakai anak dari rekan bisnisnya harus berani bertanggung jawab.
"Oow, kalau begitu saya titip anak saya ya, tolong rawat dia sampai sembuh karena saya harus segera berangkat, dan saya akan menghubungi kembali untuk mengetahui perkembangan anak semata wayang saya"
"Baik pak"
Ucap Sam singkat sekali menanggapi perkataan tuan Atmadja yang sangat panjang bagaikan rel kereta api.
Sam menghembuskan nafasnya kasar. Sebuah tanggung jawab yang di titipkan kepadanya terasa sedikit membebani. Bagaimana tidak ia tidak pernah merawat orang sakit dan yang lebih mengerikan lagi yang akan ia rawat adalah bocah menyebalkan. Dengan membayangkannya saja membuat Sam langsung memijit pelipis kepalanya.
"Apa kepala bapak sakit? Perlu bantuan saya untuk memijatnya?"
Ucap petugas pendaftaran tersebut menatap Sam dengan senyum yang menurut Sam sangat menggelitik isi perutnya sehingga ingin rasanya muntah.
"Tidak perlu"
Dengan segera Sam beranjak dari kursinya meninggalkan wanita yang tidak lepas menatapnya sedari tadi.
Aaaaa tampannya!!!!