
Mesya menatap ke sekeliling ruangan kamar yang akan ia tempati, seluruh dinding berwarna putih tulang dan jangan lupakan perabotan dengan kayu jati di setiap sudut.
"Sungguh jomblo ngenes ne si Om. Sampai-sampai rumahnya pun tidak berwarna hmm"
Dengan perlahan Mesya menganti pakaiannya sendiri, sebuah piyama berwarna pink dengan motif pulkadot membuat penampilannya semakin terlihat menggemaskan.
Ia membiarkan seragam oh bukan tapi pakaian kotor itu teronggok di samping lemarinya. Ya, kamar yang kini ia tempati tidak terlalu besar hanya sekitaran delapan kali tujuh meter dengan kamar mandi yang berada di dalamnya. Sangat jauh sekali dengan kamar pribadi miliknya.
"Auuh,,, "
Ringis mesya saat ia dengan kasar mendaratkan bokongnya pada pinggiran tempat tidur. Ia lupa bahwa saat ini kakinya tengah terluka.
Namun seketika Mesya tersenyum mengingat bagaimana si Om-Om yang menurutnya kaku itu memaksanya untuk ikut bersamanya. Meski sempat menolak karena merasa asing jika tinggal bersama pria yang tidak ia kenal dan lebih mengerikannya adalah laki-laki tersebut sangat aawaarkh,,,
Namun, saat panggilan video yang ia terima dari sang papa yang dengan gampangnya menitipkan anak semata wayangnya ini kepada seorang pria hingga membuat Mesya akhirnya pun setuju untuk ikut bersama si Om-Om.
Jangan lupakan perlakuannya yang manis dengan selalu mengendong tubuh Mesya dalam dekapannya sehingga membuat ia merasakan kehangatan yang membuatnya nyaman.
Pletak!
"Auh sakit,,,"
Mesya segera tersadar saat merasakan panas di jidatnya. Apa lagi jika bukan perbuatan si Om-Om itu.
"Kenapa Om menjitak kepalaku? Kalau Mesya geger otak atau Mesya lupa ingatan bagaimana? Apa Om mau tanggung jawab nikahin Mesya hu? "
Ucapnya dengan mengelus jidatnya yang masih terasa sakit.
"Dih ogah banget gue nikahin bocah ingusan macam loe. Mangkanya kalau di panggil itu nyahut. Lagian magrib-magrib gini melamun. Kesambat wewegombal loe ya?"
Ucap Sam menatap ngeri gadis di depannya ini.
"Iih,, Apaan sih Om, yakali Om kan bisa manggil Mesya baik-baik gak harus jitak ne kepala"
Sungut Mesya dengan wajah cemberutnya.
"Eh, asal loe tau ya, gue tuh uda manggil loe baik-baik tapi, loe nya aja yang gak nyahut, bawel amat sih nih bocah"
"Masa sih Om?"
"Gada untungnya gue bohong. Dahla capek gue. loe kalo mau makan ambil ndiri gih"
"Kan Om tau kaki Mesya lagi sakit. Gendongin dong Om"
Tanpa rasa malu Mesya dengan tersenyum lebar mengangkat kedua tangannya meminta Sam untuk mengendong tubuhnya.
"Asli ngerepotin ya loe"
Ucap Sam kesal namun ia tidak ada pilihan lain selain mengangkat tubuh Mesya ke ruang makan.
Sebenarnya bisa saja Sam mengambilkan makanan untuk Mesya namun Sam merupakan tipikal cowok yang tidak suka jika melihat orang makan di atas tempat tidur kecuali di rumah sakit ya, jelas itu tidak ada pilihan lain kan, dan Sam juga paling anti jika makan di dalam mobilnya.
Perubahan yang cukup besar pada diri Sam semenjak di tinggal nikah oleh wanita yang sangat ia cintai, tapi ia sadar semua itu kesalahannya hingga membuatnya memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan dan melupakan hobinya yang sering ke Club malam dan bermain wanita.
Tapi jangan lupakan Club motornya yang masih rajin ia kunjungi karena disana memiliki kenangan manis yang sulit ia lupakan.
"Om Mesya mau ayam goreng itu dong"
Ucapnya dengan tersenyum lebar menatap Sam.
"Ada tangankan. Ambil sendiri"
Ucap Sam acuh dan mulai mengisi piring miliknya dengan nasi.
"Tapi jauh Om, tangan Mesya ga sampai neh"
Sengaja ia menjulurkan tangannya ke hadapan Sam.
"Makasih Om"
"Iya nanti Mesya minum susu, tapi belikan ya Om"
Sambungnya dengan tidak tahu malu atau mungkin kini urat malunya sudah putus semenjak Sam menjitak kepalanya tadi.
"Loe kan punya duit, beli sendiri lah atau minta bokap loe yang kaya itu"
Ucap Sam acuh dengan memasukkan suapan nasi ke mulutnya.
"Yakali Om berbagi sama yang membutuhkan, kan Om sendiri yang bilang kalau Mesya harus minum susu biar tambah tinggi. Lagian nih ya Om--"
Ia menjeda omongannya sejenak dengan meminum sedikit air untuk membasahi kerongkongannya yang terasa serak.
"Om kan juga kaya. Rumah Om juga gede nih, pasti Om banyak duitnya kan. Duit juga gak di bawa mati Om"
Lanjut Mesya setelah merasa kerongkongannya kembali basah.
"Iya, tapi gada duit juga serasa mau mati kan"
Selah Sam cepat menatap sinis Mesya.
"Susah ya ngomong sama Om-Om tua gini"
Kesalnya dengan memasukkan sesuap penuh nasi ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan kasar.
Sedangkan Sam memilih acuh dengan perkataan Mesya barusan, ia lebih memilih menghabiskan makanannya dari pada harus beradu mulut dengan bocah ingusan seperti Mesya hingga suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar di ruangan tersebut.
Sam kembali mengangkat tubuh Mesya menuju kamar yang akan gadis itu tempati malam ini.
Sedangkan Mesya dengan tidak tahu malunya malah merapatkan tubuhnya pada Sam hingga ia bisa mendengar suara detak jantung Sam yang berirama teratur dan jangan lupakan otot dada yang terasa keras namun sangat nyaman untuk di peluk.
"Makasih Om"
Ucap Mesya setelah Sam menurunkan tubuhnya di atas ranjang.
Sedangkan Sam hanya diam saja tanpa berniat menjawab sedikit pun.
Ckleek
Suara pintu yang ditutup oleh Sam membuat Mesya mendengus kesal.
"Dasar si Om tua tinggal jawab 'Ia sama-sama' atau jawab 'iya' doang apa sulit banget yah? Awas aja tuh Om-Om nyebelin gue kerjain baru tau rasa. Neh juga kaki cepetan sembuhnya napa? Eh, tunggu dulu--"
Mesya kembali terdiam dengan memikirkan ide-ide yang baru saja muncul di kepalanya hingga sebuah senyuman devil pun terbit dari bibirnya.
******
Sam yang baru saja keluar dari kamar Mesya segera menuju ruang kerjanya yang bisa terhubung langsung dengan kamar pribadi miliknya.
Ia segera membuka laptop dengan logo apel di gigit tersebut.
"Begadang lagi gue malam ne"
Gumam Sam sesaat setelah ia memeriksa email masuk dari asistennya yang berada di kantor.
Sam terlalu fokus pada layar Laptopnya hingga ia tidak menyadari bahwa waktu terus berjalan hingga larut malam namun tiba-tiba Sam merasakan kering di kerongkongannya.
Namun saat hendak meminum isi gelas tersebut ternyata gelas tersebut sudah kosong. Hingga Sam akhirnya berjalan keluar menuju dapur.
Saat berjalan menuju dapur Sam berhenti sejenak tepat di depan pintu kamar Mesya. Ia menajamkan pendengarannya mencoba mencari tahu apakah bocah tersebut sudah tidur atau belum.
Namun Sam tidak ada mendengarkan suara-suara gaduh atau apapun itu hingga Sam mengambil kesimpulan bahwa bocah tersebut telah terlelap.