Oh Kayla

Oh Kayla
Tidak Biasanya



Dave tidak melepaskan tangannya dari pinggang Kayla semenjak keluar dari ruang pemeriksaan.


Bahkan senyum di bibirnya masih mengembang kala mengingat ada calon anaknya di dalam perut Kayla.


"Sayang lepasin dulu, Kay mau ke toilet"


Ucap Kayla dengan mencoba melepaskan tangan Dave.


"Ayo sayang biar aku temani"


Ucap Dave dengan tersenyum menatap Kayla dan menggiringnya menuju toilet.


"Sayang ini uda di depan toilet, lepasin dong. Kan ga mungkin kamunya ikutan masuk kedalam"


"Kenapa tidak? Rumah sakit ini milikku"


Ucap Dave dengan bersikeras.


'Oh god. Bagaimana ini?'


"Sayang, please deh, jangan lebay"


Ucap Kayla dengan memutar bola matanya.


"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja sayang"


"Aku tahu, tapi coba kamu lihat ibu-ibu disana ngelihatin kita terus. Ayolah tunggu di luar saja ya"


Ucap Kayla dengan merayu Dave.


"Ckk.. Baiklah, tapi ingat jalannya pelan-pelan saja"


"Iya bawel"


Setelah Dave melepaskan tangannya dari pinggang Kayla dengan segera Kayla masuk ke dalam toilet tersebut.


Sebenarnya dari tadi Kayla bingung bagaimana iya akan membawa pulang motor kesayangannya. Disaat dokter mengatakan ia positif hamil dan sikap Dave yang tiba-tiba berubah semakin posesif terhadapnya.


Kayla berjalan mondar mandir sambil sesekali mengetuk-ngetukkan ponselnya di tangan.


Sebuah senyuman muncul di wajah Kayla saat melihat petugas kebersihan masuk ke dalam toilet.


"Ibu, ibu kesini sebentar"


Ucap Kayla dengan tersenyum menatap petugas kebersihan tersebut.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"


Ucap ibu tersebut dengan ramah.


"Ada. Ibu saya minta tolong untuk menyerahkan kunci motor ini kepada teman saya nanti. Satu jam lagi dia akan kemari menjemputnya, bisa kan bu?"


Ucap Kayla dengan menyerahkan sebuah kunci dan beberapa lembar uang berwarna merah.


"Oh iya bisa nona. Nona tenang saja kunci motornya aman bersama saya"


Ucap Ibu tersebut dengan senang setelah menatap uang berwarna merah di tangannya.


"Baiklah terima kasih ibu Astuti"


Ucap Kayla setelah sempat melirik nama yang tercetak di baju milik ibu tersebut.


Dengan segera Kayla menghubungi seseorang untuk menjemput motor merah kesayangannya dan menyimpannya terlebih dahulu di rumah orang tua Kayla.


"Kenapa lama sekali sayang?"


Ucap Dave setelah melihat Kayla keluar dari dalam toilet.


"Iya tadi Kay buang air besar hehehe,, Sorry ya lama"


Ucap Kayla dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"It's oke baby"


Ucap Dave dengan kembali merangkul pinggang Kayla dan berjalan menuju lobby dimana Kris telah menunggunya disana.


*****


"Sayang apa kamu ingin makan sesuatu?"


Ucap Dave menatap Kayla. Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil untuk kembali ke apartemen.


"Tidak sayang, aku tidak lapar"


"Masa sih? Biasanya orang hamil itu akan ngidam dan meminta makan ini dan itu atau kamu ingin kita belanja sesuatu baju gitu?"


Ucap Dave masih menatap wajah Kayla dengan senyum mengembangnya.


"Tidak sayang. Aku sedang tidak ingin apa-apa"


"Ya sudah kalau begitu. Kris ke restoran seafood ya aku ingin makan cumi pedas"


Ucap Dave membuat Kayla seketika meliriknya.


"Baik tuan"


Ucap Kris dengan segera melajukan kendaraannya menuju restoran seafood.


Sesampainya di restoran seafood Dave langsung memesan cumi pedas dan udang saos padang, sedangkan Kayla hanya memesan ayam goreng mentega.


Dave makan dengan begitu lahapnya.


Kayla dan Kris yang melihat itu sempat melirik sebentar dan kembali cuek dengan melanjutkan makannya.


"Uhh,, Pedasnya"


Ucap Dave dengan mengusap peluh di dahinya.


"Minumlah dulu sayang"


Ucap Kayla dengan menyodorkan segelas orange jus di depan Dave.


"Terimakasih sayang"


Lanjut Dave dengan meminumnya.


"Sayang cobalah ini enak sekali"


Ucap Dave dengan menyodorkan sesendok cumi pedas.


"Aaa.... Ayolah ini enak"


Lanjut Dave saat Kayla belum membuka mulutnya.


"Nah gitu dong, gimana enakan?"


"Iya enak, kamu yakin makan ini?"


"Yakin dong, memangnya kenapa?"


"Ini pedas loh, tidak biasanya kamu ingin makan yang pedas-pedas seperti ini"


Ucap Kayla menatap Dave yang kembali mengusap peluh di dahinya.


"Sebelumnya aku juga pernah makan bakso pedas, iya kan Kris?"


Ucap Dave dengan melirik Kris sebentar lalu kembali menatap Kayla.


"Iya betul tuan, tapi setelah itu anda kembali memuntahkannya"


Ucap Kris dengan senyum mengejeknya.


"Oowhh,, Kalau begitu sudah hentikan makan cumi pedasnya"


Lanjut Kayla dengan menjauhkan piring Dave.


"Itu tinggal sedikit lagi sayang mubazir bila tidak di makan"


Ucap Dave dengan wajah sedihnya.


"Kalau begitu Kris yang akan menghabiskannya. Ini Kris habiskan"


Ucap Kayla dengan menyerahkan piring yang berisi cumi pedas di depan Kris.


Sedangkan Kris menatap horor makanan yang penuh cabai tersebut.


"Ayo tunggu apa lagi Kris cepat habiskan"


"Maaf nyonya saya alergi pedas"


Ucap Kris jujur. Ia masih sayang dengan nyawanya dari pada harus tersiksa dengan makanan yang berlumuran cabai tersebut.


"Owh begitu, yasudah biar aku saja yang makan"


Ucap Kayla dengan segera melahap cumi pedas tersebut. Sedangkan Dave dan Kris hanya bisa menatap Kayla yang tengah mengunyah cumi pedas dengan nikmatnya.


Selesai makan di restoran seafood Dave kembali mengarahkan Kris untuk membawa mereka ke taman kota.


Sesampainya di taman kota Dave menarik tangan Kayla untuk segera mendekati penjual gula kapas.


"Dua ya Pak"


Ucap Dave dengan menyodorkan selembar uang berwarna merah.


"Kembaliannya buat Bapak saja"


Ucap Dave setelah meraih dua buah gula kapas dari tangan Bapak tersebut.


"Terimakasih tuan"


Ucap Bapak penjual gula kapas dengan senyum mengembangnya.


"Ayo sayang kita duduk di kursi taman itu"


Ucap Dave dengan kembali menuntun Kayla.


"Emm,, Enak"


Ucap Dave dengan senang.


Kayla menatap bingung terhadap Dave yang dengan lahapnya menikmati gula kapas tersebut. Biasanya ia akan menolak jika Kayla ingin menyuapinya tapi sekarang ia sendiri yang semangat memakan gula kapas tersebut.


"Sayang kamu kok aneh sih?"


Ucap Kayla menatap Dave.


"Aneh kenapa?"


Ucap Dave menatap Kayla bingung.


"Biasanya kamu tidak mau makan gula kapas ini, kenapa sekarang makannya semangat sekali"


"Owhh,, Gak tau juga. Aku hanya tiba-tiba pengen makan gula kapas ini"


Ucap Dave cuek dan kembali memakan gula kapasnya. Sementara Kayla hanya mengedikkan bahunya melihat tingkah Dave.


Sepulangnya dari taman Dave kembali menempel pada tubuh Kayla. Bahkan ke kamar mandipun Dave ikut sungguh membuat Kayla merasa risih.


"Sayang sudah lepasin dong"


Ucap Kayla yang ingin berbaring bebas tanpa merasa di ikat dengan tangan Dave yang selalu melingkari pinggangnya.


"Aku kan ingin memeluk dirimu dan calon anak kita"


Ucap Dave yang tidak mau kalah.


"Jika kamu seperti ini aku rasa anak kita pun akan merasa gerah, bahkan bernapaspun ia susah"


"Benarkah?"


"Iya"


"Sayangku, maafkan daddy ya karena telah membuatmu kesulitan bernapas, daddy sangat menyayangimu sayang"


Ucap Dave setelah melepaskan tangannya dari pinggang Kayla.


"Hmm,,, Lain kali jangan menempeli Kay terus ya"


Ucap Kayla menatap wajah Dave yang tampak menyesali perbuatannya karena telah membuat calon anaknya kesulitan untuk bernapas. Sungguh ide Kayla yang sangat cemerlang.


"Iya sayang. Tapi kalau mau peluk gimana?"


"Boleh tapi jangan sering-sering dan gak sekuat tadi ya"


"Hmm,,, Baiklah"


Ucap Dave lemah.


"Yasudah tidurlah, udah malamkan besok kamu harus bekerja dan hasilkan uang yang banyak untuk calon anak kita"


"Iya sayang, tapi peluk dulu"


"Huuffhh ya baiklah"


Ucap Kayla dengan mengulurkan tanganya untuk memeluk Dave.


'Kan gue yang hamil, kenapa dia yang manja ya? Menyebalkan'