Oh Kayla

Oh Kayla
Rahasia Kayla Yang Diketahui Dave



Untung saja luka di tangan Kayla tidak terlalu dalam sehingga tidak perlu mendapatkan jahitan.


Luka selebar lima centi tersebut hanya perlu di perban untuk sementara waktu.


Namun berbeda dengan Dave saat mengetahui Kayla masuk rumah sakit.


Dave yang tengah meeting saat itu langsung saja meninggalkan ruangan. Baginya Kayla adalah yang terpenting.


Asisten Kris lah yang akan selalu menyelesaikan setiap pekerjaan Dave bila sudah begini.


Dengan cepat Dave memacu kendaraannya menuju rumah sakit tempat Kayla berada.


Cklaak...


"Kamu kenapa sayang?"


Ucap Dave saat baru saja memasuki ruangan inap Kayla.


Yah, Mama Martha bersikeras agar Kayla menginap semalam di rumah sakit untuk memastikan kesehatan Kayla. Padahal yang sedang terbaring saja sudah sangat bosan berada terlalu lama di dalam kamar pasien seperti ini.


"Tidak apa-apa, hanya terluka sedikit"


Ucap Kayla dengan tersenyum menatap Dave yang berjalan ke arahnya.


"Oh God, apa yang melukaimu masih hidup?"


Tanya Dave dengan menatap tangan Kayla yang di perban.


"Masih. Tapi tenanglah mereka sudah di amankan pihak yang berwajib"


Jawab Kayla dengan santai.


"Huuff,, Aku ingin membunuh dia yang telah berani melukaimu sayang"


Ucap Dave mengusap lembut wajah Kayla.


"Hahah,, Sudahla sayang jangan di bahas lagi lagian aku juga tidak apa-apa hanya luka kecil saja"


"Hmm... Jangan bicara begitu. Bagiku segala hal tentangmu itu sangat penting"


Ucap Dave yang perlahan mengecup bibir Kayla.


"Sayaangg,, Aku ingin pulang saja"


Ucap Kayla setelah Dave melepaskannya.


"Tidak. Lihatlah luka mu ini"


"Ckk,, Ini hanya luka kecil sayang. Tidak masalah"


"Tidak sayang. Biarkan kamu istirahat di sini untuk malam ini"


Ucap Dave dengan perlahan naik ke atas brankar dan memeluk tubuh Kayla.


Dengan malas Kayla memutar bola matanya mendengar ucapan Dave barusan. Ternyata Ibu dan anaknya sama saja. Lebay. Menurut Kayla.


"Ya yaa,, Terserah"


Ucap Kayla yang merasa tidak akan memang berdebat melawan Dave.


"Tidurlah sayang"


"Hmm"


Dengan perlahan Kayla mulai memejamkan matanya dengan Dave yang memeluk tubuhnya. Ya brankar milik Kayla memang lebih besar dan jauh lebih nyaman dari brankar pasien pada umumnya hingga muat dua orang untuk berbaring disana. Karena Kayla menginap di kamar VVIP dengan fasilitas yang sangat lengkap untuk sebuah luka goresan.


*****


Akhirnya setelah semalam menginap di rumah sakit Kayla di perbolehkan pulang.


Bahkan mereka seperti tidak menginap di rumah sakit saja karena mereka tidak ada Membawa barang-barang seperti pasien yang pulang umumnya.


Kayla telah masuk kedalam mobil Dave. Dengan perlahan Dave mulai meninggalkan parkiran rumah sakit dan berjalan menuju apartemennya.


Sesampainya di apartemen Kayla langsung melepaskan sepatunya dengan asal. Dave yang melihat kebiasaan Kayla yang seperti itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Sayaanngg"


Ucap Kayla manja menatap Dave.


"Iya sayang. Ada apa?"


"Aku ingin nasi goreng buatanmu"


"Kay di rumah tidak ada bahan makanan. Kita beli saja ya"


"Tidak. Aku inginnya masakanmu. Kamu sudah lama tidak memasakkanku lagi.


Ucap Kayla dengan wajah sedihnya.


"Hmmm... Baiklah tunggu sebentar"


Ucap Dave lanjut berjalan menuju dapur minimalisnya.


Satu jam kemudian.


"Sayang ini nasi gorengnya"


Ucap Dave menatap Kayla yang tengah asyik dengan ponselnya.


"Terimakasih sayang"


Ucap Kayla dengan tersenyum lebar yang di balas anggukan kepala oleh Dave.


Kayla mulai menyuapi mulutnya dengan nasi goreng spesial buatan Dave. Yah, selain kedua orang tuanya hanya Kayla lah yang berani memerintah seorang Dave.


Tak perlu waktu lama sepiring nasi goreng pun habis di lahap oleh Kayla.


"Sungguh nasi goreng buatanmu ini yang terbaik"


Ucap Kayla setelah meminum segelas air putih.


"Benarkah?"


"Ya, Karena aku sangat mencintaimu sayang"


"Aaaa manisnya "


Ucap Kayla langsung mengalungkan tangannya pada Dave.


Dengan cepat Dave mencium bibir merah Kayla.


Bagaikan candu Dave sangat menikmatinya hingga Dave mengangkat tubuh Kayla untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Dave menurunkan Kayla di atas ranjang, dengan perlahan Dave melepaskan semua benang yang ada di tubuh Kayla dan dirinya.


Dave kembali memberikan ciuman di kening Kayla lalu kedua mata Kayla hingga kembali menikmati bibir merah muda milik Kayla. Dengan tangan yang mulai aktif di bawah sana hingga olahraga panas itu kembali terulang di pagi menjelang siang.


*****


Kayla terbangun di sore hari.


Ya setelah Dave mengajaknya berolahraga Kayla tertidur dengan pulas entah karena obat yang di konsumsinya atau karena memang tubuhnya yang sangat lelah.


Kayla melihat sekeliling kamar yang kosong. Entah kemana perginya Dave ia tak memberi tahu sebelumnya namun Kayla tidak mau ambil pusing akan hal itu.


Perlahan Kayla turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan menyegarkan kembali seluruh tubuhnya.


Kayla sedikit kesusahan karena luka di tangannya yang tidak boleh terkena air agar mempercepat penyembuhannya.


Tiga puluh menit Kayla menyudahi dirinya di dalam sana.


Segera Kayla keluar dan memakai pakaiannya kembali.


Cklaakk.


"Kamu sudah bangun sayang?"


Ucap Dave saat masuk ke dalam kamarnya menatap Kayla yang tengah menyisir rambutnya.


"Hmm"


"Ini aku membelikanmu vitamin minumlah"


"Terimakasih sayang, akhir-akhir ini tubuhku terasa sangat lelah"


"Kurangi kegiatanmu di kantor sayang. Aku masih sanggup memenuhi segala kebutuhanmu"


"Iya baiklah"


'Mana mungkin aku bisa menguranginya di tambah besok aq harus meeting lagi dengan Perusahaan XX dan para Ahli Kesehatan'


"Sayang kenapa melamun hmm?"


"Tidak. Bagaimana pekerjaan mu?"


Ucap Kayla mengusap kepala Dave yang berada di pundaknya.


"Seperti biasa. Tapi klaienku kali ini sedikit rumit. Ahh biarkan saja lagian itu masalah kantor untuk apa kita membahasnya"


Ucap Dave dengan tangannya yang melingkar di perut rata Kayla.


"Hahah,,, Ya ya lagian apa sih yang tidak bisa di lakukan oleh seorang Dave"


Ucap Kayla dengan menggoda Dave"


"Of course babe.


Sayang?"


Ucap Dave dengan semyum menyebalkannya.


"Yah, ada sayang?"


"Apa kamu ingin memiliki seorang anak?"


Ucap Dave menatap lekat wajah Kayla dari balik cermin.


Kayla terdiam sejenak mengingat Mami Sarah dan Mama Martha sudah menginginkan seorang cucu.


"Yah tentu saja"


Jawab Kayla membalik tubuhnya menatap wajah Dave.


"Kalau begitu jangan minum pil itu lagi"


Ucap Dave mengusap wajah Kayla.


Deg.


'Apa Dave tahu kalau selama ini aku diam-diam mengkonsumsi obat penunda kehamilan itu'


"Sayang"


Ucap Dave lagi menyadarkan Kayla kembali.


"Iya sayang. Maaf aku tidak memberi tahumu selama ini"


"Baiklah"


Dave mulai beranjak dan berjalan menuju nakas, lalu mengambil sesuatu yang selama ini Kayla sembunyikan.


"Ini buanglah"


Ucap Dave memberikan obat penunda kehamilan milik Kayla ke tangannya.


"Hhe,, Baiklah"


Dengan perlahan Kayla berjalan menuju tempat sampah yang terdapat di dalam kamarnya dan membuang obat tersebut Dave yang menyaksikannya tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Kayla.