
Satu minggu kemudian,,
Suara dentingan sendok yang sesekali beradu dengan piring mengisi keheningan pagi ini.
Seperi biasa Sam akan ke kantor untuk untuk mengembangkan perusahaannya sedangkan Meysa tengah sibuk memikirkan sesuatu dengan sesekali melirik ke arah Sam.
"Om,, "
Ucap Meysa dengan menatap ke arah Sam yang duduk di depannya.
Sontak saja Sam menghentikan sejenak gerakannya, tidak mengeluarkan suara namun hanya menatap lurus ke arah mata Meysa.
'Duh gimana ne , bilang gak ya? mana tu muka flat amat ngalah-ngalahin sendal gua'
Melihat Meysa yang tidak bersuara membuat Sam kembali melanjutkan makannya.
'bodo ah,, bilang aja'
"Om, ntar malam Meysa nginap di rumah teman ya"
Akhirnya kata-kata itu pun meluncur begitu saja.
"Siapa?"
"Rosi Om"
Sontak saja Sam menghentikan makannya dan menatap selidik ke arah Meysa.
"Eh santai dulu Om, Rosi itu perempuan kok Om. Namanya aja yang mirip sama pembalap yg terkenal itu Om. Lagian ya Om, ujian akhir kan uda selesai ne, Meysa bosan Om kalo di rumah aja. Mangkanya mau nginap di rumah teman, boleh ya Om? Biasanya juga Papa ngebolehin kok Om kalo Meysa nginap di rumah Rosi"
"Oke"
'Ban*ke!! gue ngomong panjang lebar cuma jawab dua huruf doang. Bodo amat lah yang penting rencana ntar malam harus jadi'
"Makasih Om"
Ucap Meysa dengan senyuman khas miliknya.
******
Setelah berkemas Meysa segera memesan taxi online untuk menuju ke rumah Rosi. Sedangkan Sam sudah berangkat ke kantor sejak satu jam yang lalu.
Setibanya di rumah Rosi dengan segera Meysa membayar ongkos yang tertera sesuai dengan aplikasinya, namun jangan lupakan Meysa yang baik hati dan tidak sombong tapi jarang menabung itu dengan suka rela memberikan tips selembar uang berwarna merah kepada sang driver.
"Kelebihan ini dek"
"Iya pak, buat bapak aja. Oiyah doain saya menang ntar malam ya pak"
"Alhamdulillah, makasih ya dek,,
Iya dek, Semoga ntar malama adek yang menang ya amin"
"Ok pak, makasih"
"Iya dek sama-sama"
Cklek,,
Segera Meysa mengalihkan pandangannya ke arah rumah Rosi.
"Uda sampe aja lo. Kepagian deh kayaknya"
Ucap Rosi sambil menenteng sebuah pelastik hitam.
"Biarin deh, lagian di rumah juga gak ngapa-ngapaen kan mending gangguin loe hehe"
"Dasar loh, ne buangin dong sampah gue"
Ucap Rosi dengan mengulurkan tangannya.
"Idiiihh,, Ogah banget gue. loe buang sendiri sono"
Ucap Meysa dengan langsung masuk ke rumah Rosi.
Sedangkan Rosi hanya bisa menatap punggung Meysa yang telah masuk ke dalam rumahnya.
Dengan santainya Meysa langsung duduk di sofa ruang tamu sambil bermain game di ponselnya.
"Mau minum apa loe?"
Ucap Rosi menatap Meysa malas.
"Duh baik banget teman gue. Udah gak usah repot-repot deh, jus jeruk aja hehe"
Ucap Meysa dengan senyuman yang menyebalkan menurut Rosi.
"Oke, bentar"
Dengan segera Rosi berjalan ke arah dapur.
Tidak menunggu lama dua gelas jus jeruk pun tersaji di atas meja.
"Thanks zayaang"
Ucap Meysa dengan senyum menyebalkan khas miliknya.
"Iya zayaanngg"
Balas Rosi yang tidak mau kalah.
Sontak saja keduanya pun terkekeh.
"Oiyah berapa hari bonyok (bokap nyokap) loe pergi? "
Ucap Meysa menatap Rosi yang sedang menikmati jus jeruk miliknya.
"Emang kemana sih mereka kepo neh gue"
"Entah gue lupa, pokoknya ada seminar pelatihan apa gitu. Ya maklumlah orang tua gue cuma pegawai biasa gak kayak orang tua kalian yang pengusaha"
"Idihh, merendah loe? Loe kira gue gak tau bonyok loe pegawai pemerintahan"
"Kok loe bisa tau? Kan gue gak pernah cerita hehe"
Ucap Rosi dengan menggaruk tengkuknya yang sedikit gatal.
"Siapa dulu neh, Meysa!! Si cantik imut yang pintar dan pastinya imut banget!"
Dengan segera Rosi memutar bola matanya dan menatap malas ke arah Meysa.
"Loe yakin ntar malam? "
Sambung Rosi.
"Yakin dong, lagian ya uda lama gak neh"
"Okeh de kalo gitu. Sesuai perjanjian aja ntar malam"
"Siippp,, Aman dehh,, "
******
Dengan malas Sam melangkahkan kakinya memasuki sebuah restoran.
Setelah seminggu sang Mama yang terus mendesaknya untuk segera menikah.
"Sini sayang"
Ucap Mama dengan melambaikan tangannya ke arah Sam.
Sontak saja Sam langsung menganggukan kepalanya dan berjalan dengan gagah ke arah meja sang Mama.
"Kenalin sayang ini anak teman Mama namanya Celin, cantikkan? Ayo Celin kenalin nih anak tante yang kemarin tante ceritain"
"Celin"
"Sam"
Ucap keduanya dengan berjabat tangan dan jangan lupakan senyuman Celin yang catik.
Drrttt,,, Ddrrttt,,,
"Halo,, Iya jeng,,, Sebantar lagi jalan nih jeng, di tempat biasa kan jeng. Oke jeng byeee"
"Aduh sorry banget sayang Mama lupa ada arisan hari ini. Makan siangnya lanjutin dengan Celin aja ya. Kalian ngobrol-ngobrol deh Mama yakin ntar dapat chemistrynya okeh?"
Ucap Giselly Silk menatap Sam dan Celin bergantian lalu segera beranjak dari kursinya dan meninggalkan Sam dan Celin begitu saja.
Celin menatap ke arah Sam di mana Sam yang sibuk dengan ponselnya.
Segera Celin memanggil pelayan dan memesan makanan yang di ikuti oleh Sam.
Tidak lama kemudian makanan pun telah terhidang di atas meja. Namun Sam masih saja sibuk dengan ponselnya.
"Makan lah dulu. Aku rasa kamu tidak akan bangkrut hanya karena melepaskan ponsel itu sejenak"
Ucap Celin menatap Sam.
Sontak saja Sam menoleh ke arah Celin. Bahkan Sam hampir saja melupakan ada Celin di depannya karena terlalu fokus dengan ponselnya.
Sam tidak membalas perkataan Celin namun Sam melepaskan ponselnya sejenak dan beralih ke makanan miliknya.
"Aku tau kamu tidak suka dengan pertemuan kita ini"
Ucap Celin dengan memasukkan sepotong daging ke mulutnya.
"Maksudmu?"
Ucap Sam yang akhirnya mengeluarkan suara.
"Sama. Aku juga di paksa oleh Mama untuk datang kesini, tapi setelah ku pikir-pikir tidak ada salahnya untuk kita berkenalan dan menjadi temankan? "
Ucap Celin menatap ke arah Sam.
Sejenak Sam menatap dalam ke arah Celin.
Tidak ada kebohongan dari tatapan matanya.
"Oke baiklah, kita berteman sekarang"
Ucap Sam dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Kamu manis jika tersenyum, sering-seringlah tersenyum mana tau aku akan jatuh cinta kepadamu"
Ucap Celin dengan kekehan kecil.
"Oh ya? kamu akan sulit menolak pesonaku nona dan aku tidak bertanggung jawab jika nanti kamu jatuh cinta kepadaku"
Balas Sam dengan santai dan kembali melanjutkan makannya.
"Dan aku menunggu itu heheh"
Ucap Celin dengan tersenyum namun menatap tajam ke arah Sam.
'Ku rasa aku mulai menyukainya'
Sam tidak menjawab lagi perkataan Celin iya memilih untuk menyelesaikan makan siangnya.