
Sementara dua orang yang dulunya sangat dekat kini mulai merenggang. Membuat rasa bersalah dan tidak nyaman terus menghantui perasaan salah seorang dari mereka yaitu Samuel.
Sam terus berusaha menghubungi Laura namun selalu saja di tolaknya.
Hingga Sam mengirimkan beberapa orang untuk memata-matai Laura kemanapun ia pergi.
Drrtt,, ddrrtt,,
Suara ponsel Sam.
"Hallo. Hmmm... Lakukan sekarang"
Ucap Sam dengan segera memutuskan panggilannya. Beranjak menuju parkiran dan mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sementara seorang gadis yang kini berada di dalam mobilnya merasa tidak nyaman karena sudah beberapa hari ini dia seperti di mata-matai oleh seseorang. Hingga kini kendaraannya tengah di ikuti oleh sebuah mobil yang tidak ia kenal.
Laura semakin melajukan kendaraannya namun masih kalah cepat oleh kendaraan yang mengikutinya hingga Laura terpaksa menghentikan kendaraannya.
Ckkiitttt..
Bunyi gesekan roda mobil dan aspal ketika mobil berhenti mendadak.
Laura masih berada di dalam mobil dengan nafas yang memburu. Sembari memegang dadanya karena jika ia terlambat menginjak pedal rem maka ia akan menabrak kendaraan yang tengah berhenti tepat di depannya. Bahkan saking dekatnya kendaraan mereka seekor lalat pun sulit untuk keluar.
Laura kembali menatap kendaraan yang berhenti tersebut dengan perasaan kesal dan bertanya-tanya siapa mereka. Apa lagi setelah melihat beberapa pria berjas hitam lengkap dengan kaca matanya keluar dari mobil dan berdiri di dekat mobilnya.
"Ya Tuhan siapa mereka? Perasaan gue gak punya musuh deh"
Ucap Laura sembari mengingat-ingat siapa musuhnya.
Namun pandangan Laura beralih ke sebuah kendaraan yang baru saja berhenti di dekat mereka dan keluarlah sosok yang selalu ia hindari beberapa hari ini.
"Ooohh jadi ini ulah dia"
Ucap Laura menatap kesal.
Tok.. Tokk... Tokkk...
"Buka pintunya Lau"
Ucap Sam dari luar. Namun tidak mendapat respon dari Laura.
Tok.. Tokk.. Tookkk...
"Please Lau, buka pintunya kita harus bicara"
Ucap Sam lagi
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi"
Ucap Laura setelah menurunkan sedikit kaca mobilnya.
"Laura please buka dulu pintunya. Kita tidak bisa jika terus seperti ini Laura"
Ucap Sam menatap ke arah Laura yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sudahlah Sam, please jangan ganggu gue lagi. Gue gak bisa seperti dulu lagi. Loe tahukan gue suka sama Loe. Jadi biarin Gue ngejauhin loe agar gue bisa menghapus rasa gue buat loe.
Ucap Laura dengan sendu ia menahan sekuat mungkin agar air matanya tidak kembali menetes.
"Laura please jangan jauhin gue. Gue gak bisa loe diamin gini. Loe tahukan dari dulu gue selalu curhatnya sama loe. Bahkan saat gue udah punya pacarpun gue masih curhatnya sama loe. Semenjak kejadian hari itu. Semenjak loe ngajauhin gue, gue ngerasa seperti kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup gue. Laura please jangan menjauh dari gue. Gue gak tahu gue itu suka atau gak sama loe. Tapi yang gue tahu gue nyaman sama loe dan gue butuh loe dalam hidup gue laura"
Ucap Sam mengeluarkan seluruh perasaannya selama ini.
Sedangkan Laura sudah tidak bisa menahan lagi bendungan air matanya hingga kembali tumpah.
"Tapi gue akan semakin tersakiti Sam. Please mengertilah"
Ucap Laura dengan suara tertahannya.
"kalau loe cinta sama gue please jangan jauhin gue. Tetap berada di sisi gue. Bantu gue meyakinkan perasaan gue terhadap loe bahwa gue gak cuma nyaman sama loe tapi gue juga cinta sama loe"
Ucap Sam yang kembali menggedor pintu mobil Laura.
Klik.
Laura membuka kunci pintunya. Dengan cepat Sam membuka pintu tersebut dan menarik Laura dalam pelukannya.
"Please Lau, jangan jauhin gue ya"
Ucap Sam memeluk erat tubuh Laura yang di balas anggukan oleh Laura. Karena ia tidak bisa lagi mengeluarkan suaranya. Entah perasaan senang atau pun sedih. Yang jelas Laura akan mencoba meyakinkan Sam dengan perasaannya selama ini.
******
Kini Laura tengah berada di dalam mobil Sam. Mereka berdua masih sama-sama terdiam. Masih merasa canggung dan malu apa lagi setelah mengetahui perasaan masing-masing.
"Emmm.. Kita mau kemana?"
Ucap Laura memecah keheningan.
Ucap Sam menatap Laura dan mengulurkan tanggannya untuk mengenggam tangan Laura.
'Kita? Bahkan panggilannya langsung berubah'
Laura tersenyum tipis saat tangan Sam menggengam tangannya.
"Kok diam?"
Ucap Sam lagi membuyarkan lamunan Laura.
"Gue eh aku tidak ingin kemana-mana"
Ucap Laura pelan.
Sam tersenyum melihat Laura yang merasa canggung di dekatnya biasanya mereka tidak mengenaltuh yang namanya canggung, jaim dan malu-malu bahkan mereka dulu sering jitak-jitakan dan pukul-pukulan hihi sungguh lucu pikir Sam.
"Bagaimana kalau kita kerumah ku lagi dan mengulang kegiatan yang sempat tertunda dulu"
Ucap Sam dengan senyuman penuh arti menatap Laura.
Sontak Laura menoleh ke arah Sam dan memelototkan matanya.
"Jangan sem.... "
"Hey, aku kan cuma bercanda saja. Tapi kalau kamu tidak keberatan aku juga dengan senang hati melakukannya Hahaha,,, lagian dari tadi kok diam aja sih. Gak kayak Laura yang kukenal dulu selalu bising di telinga"
Ucap Sam memotong perkataan Laura. Sontak Laura memukul kecil lengan Sam.
"Oowhh jadi selama ini aku selalu bising ya. Yaudah deh mulai sekarang aku diam saja"
Ucap Laura yang merajuk dengan memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Hahahaha... "
Ketawa Sam pecah melihat Laura yang merajuk seperti itu. Setelah melirik kaca spion Sam menghentikan mobilnya.
Cup.
Laura membolakan matanya saat Sam tiba-tiba mengecup bibirnya.
Cup.
"Jangan merajuk ya. Aku cuma bercanda kok"
Ucap Sam mengusap pelan pipi Laura.
Semburat merah muncul di wajahnya yang putih. Laura tidak bisa lagi berpura-pura marah. Bahkan kini ia tengah menahan senyumnya sambil mengangguk.
"Bagus. Senyumnya jangan di tahan gitu dong"
Ucap Sam menatap Laura lagi.
Sontak senyum Laura langsung merekah seperti bunga yang baru mekar.
"Nah,, begitukan jadi tambah manis"
Ucap Sam kembali menggoda Laura.
Laura benar-benar tidak bisa menutupi lagi wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus.
"Kamu tidak ingin mencium pipiku?"
Ucap Sam menepuk-nepuk pipinya.
"Apaan sih Sam"
Ucap Laura dengan pelan dan tersipu malu.
"Cepatlah. Ini sudah menunggu"
Ucap Sam lagi sambil menepuk- nepuk pipinya dengan jari telunjuk.
Dengan pelan Laura mendekati Sam dan mengarahkan ke pipi kiri Sam
Cup.
Laura kembali membolakan matanya saat Sam tiba-tiba memutar tubuhnya menghadap ke arah Laura dan mengarahkan bibirnya ke bibir Laura.
"Loh kok malah cium bibir sih? kan aku mintanya pipi"
Ucap Sam dengan senyuman jahilnya.
"Hhuu. Sudahlah kamu itu curang. Bisa-bisanya mencuri-curi ciumanku"
Ucap Laura yang di balas cekikikan oleh Sam dan kembali mengemudikan kendaraannya.
Sementara Laura menatap jendela dengan senyumannya yang tertahan dan debaran jantung bagaikan maraton. Huhhaa